Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
44


__ADS_3

"Siapa yang berani membuat kekacauan tengah malam? Tangkap dia!" Teriakan lantang seseorang menggelegar, memecah keheningan.


Tianba serentak membeku dan memucat.


Suara-suara sepatu tentara yang beradu dengan lantai berderap seragam di lantai batu kuno kastil yang dipenuhi ceceran darah.


Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, terbaring dalam kubangan darah, beberapa lainnya masih bernapas terengah-engah, yang lainnya lagi tidak sadarkan diri.


Namun pada saat yang sama, secara keseluruhan terlihat sama—gambar bisu yang sama, rupa dunia kematian yang sama, sebuah pembunuhan massal yang sama.


Luka yang sama…


Senjata lawan yang sama…


Dan…


Para korban…


Mereka semua memandang nanar.


Mereka semua berwajah pucat.


Seolah-olah kepucatan mereka, berkas rambut kotor yang menempel di dahi mereka, tatapan kosong mereka, sekarang tampak seperti membayangkan kematian mereka yang sudah pasti. Seolah takdir mereka tersembunyi di dalam detail itu, dan pada setiap pasang mata yang terbelalak tanpa cahaya kehidupan takdir itu tampak muncul ke permukaan seperti sebuah tayangan reka ulang---kematian seluruh anggota pembunuh bayaran.


Tianba jatuh terduduk seraya menjatuhkan pedangnya.


Seorang kepala pengawal menghampiri Shen Zhu dan Tiao, lalu membungkuk pada mereka dengan hormat tentara, "Maaf membuat kalian terkejut!"


"Kau—" Shen Zhu tergagap menunjuk kepala pengawal itu.


Kepala pengawal itu adalah pengawal yang telah ditolong Shen Zhu. "Namaku Li Wei," katanya.


"Merepotkanmu," Shen Zhu balas membungkuk dengan hormat tentara.


"Tangkap pengacau itu!" instruksi Li Wei pada anak buahnya.


Detik berikutnya, sejumlah pengawal sudah mengepung tempat itu dan menangkap Tianba.


Pintu asrama berderak membuka, Bao Yu muncul dengan terkantuk-kantuk. Ia menguap dan menggeliat, kemudian bersedekap dan berdiri miring menyandarkan sebelah bahunya ke pilar beranda. Rambut panjangnya yang tidak diikat tergerai sampai ke pinggang. Jubah tidurnya terbelalak di bagian dada.

__ADS_1


Beberapa pengawal nyaris tersedak karena mengira dia perempuan.


Wajah cantiknya tampak memukau di bawah cahaya bulan.


Shen Zhu dan Tiao segera menghampirinya.


"Guru, kembalilah tidur!" kata Shen Zhu sambil menggamit lengan gurunya.


"Aku hanya ingin tahu siapa yang ditangkap," kata Bao Yu sambil menguap lagi.


Tak lama kemudian, murid-murid lainnya menyeruak keluar dan terperangah menatap para pengawal yang sedang mengevakuasi mayat-mayat orang asing. Lalu secara serentak mereka menoleh pada Shen Zhu. "Adik!" teriak mereka nyaris bersamaan. Wajah mereka berkerut-kerut khawatir.


"Tak ada yang perlu dikhawatirkan!" tukas Bao Yu sambil berbalik ke dalam asrama. "Dia tak mudah mati!" katanya sambil mengibaskan sebelah tangannya.


Keesokan harinya, Tianba dikirim bersama Jianyin ke reruntuhan kuno dalam pengawalan ketat.


Jialin dan Bao Hu tidak keluar dari kamarnya untuk melepas kepergian Jianyin. Begitu pun setelahnya. Mereka tetap mengurung diri selama berhari-hari, sementara waktu terus berjalan dan Ujian Ksatria sudah semakin dekat.


Pengumuman hasil perhitungan poin para peserta hampir terlupakan.


Para tetua akhirnya sepakat untuk melanjutkan prosedur tanpa ketua dan memberikan kuota Tianba pada juara kesebelas.


Akhirnya, sekarang semua murid Asrama Tujuh mendapat kuota Ujian Ksatria.


Ritual pembangkitan ilahi pun dilaksanakan.


Jialin tak juga muncul!


Bao Yu mendesah pendek dan memijat-mijat pangkal hidungnya. Lalu berbalik dan menyelinap pergi tanpa sepengetahuan semua orang.


Beberapa saat kemudian, pria itu sudah mendarat di beranda wisma Jialin. "Mau berapa lama kau mengurung diri?" geram Bao Yu sambil mengibaskan kipasnya ke arah pintu kamar gadis itu, dan seketika pintu geser itu membentang terbuka.


Jialin tersentak dari keterpurukannya dan terperangah mendapati pamannya sudah berdiri di tengah ruangan dalam kamarnya.


Gadis itu sedang duduk di lantai memeluk kedua lututnya dan bersandar pada tepi tempat tidur ketika Bao Yu membuka paksa pintu kamarnya.


Para pelayan wanita menghambur ke arah mereka dengan tergopoh-gopoh.


Lalu entah bagaimana caranya, tahu-tahu Bao Yu sudah mengeluarkan sebatang dupa yang sudah menyala di sela-sela jari tengah dan telunjuknya, kemudian melontarkan dupa itu ke meja kecil di sisi kepala tempat tidur Jialin dan menancapkannya di sana.

__ADS_1


Jialin dan para pelayannya serentak terpekik dan menahan napas.


"Kuberi waktu setengah dupa untuk kau membersihkan diri dan berganti pakaian," kata Bao Yu bernada tajam dengan ekspresi wajah dingin. "Kalau tidak, jangan salahkan aku bertindak tegas!" ancamnya.


Para pelayan Jialin serentak menggelandang Jialin ke ruang pemandian.


Tak sampai setengah dupa, mereka sudah kembali dengan menggamit lengan Jialin di kiri-kanan.


Gadis itu sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian hingga merias tipis wajahnya yang tidak bisa menutupi kepucatannya.


Jialin tertunduk dengan raut wajah tak berdaya.


Bao Yu menunggunya di depan sebuah meja rendah dengan pipi bersandar pada kepalan tangan, dan sebelah siku bertopang pada meja. Semangkuk bubur telah tersaji di atas meja di depan pria itu. "Makanlah!" instruksinya dalam bujukan tegas yang membuat Jialin menjatuhkan dirinya di seberang meja sambil tertunduk menatap mangkuk bubur itu dengan campuran rasa haru dan bingung.


Pria itu memberinya tatapan yang menenangkan. Sinar matanya yang dingin melembut, dan Jialin ingat untuk menarik napas.


Aku tahu kau belum makan, tatapan Bao Yu meyakinkannya. Perhatian yang tak terucap dari pendekatan yang lembut dan tak terduga itu, menggoyahkannya. Membuat Jialin terharu.


Namun, secara perlahan dan hati-hati, otot-otot dada dan bahu Jialin yang tegang mulai mengendur.


Beberapa saat kemudian, Bao Yu sudah berhasil menyeret gadis itu ke kuil suci di puncak salah satu gunung di luar bangunan perguruan, di mana para tetua sedang melakukan ritual pembangkitan ilahi untuk para murid yang akan dikirim untuk Ujian Ksatria.


Kuil itu berupa reruntuhan kuno seperti bekas menara lonceng berbentuk tabung tanpa atap dan tanpa dinding. Sepuluh pilar batu yang sangat kuno berderet memutar seperti pedang yang ditancapkan ke lantai.


Di tengah-tengah lingkaran pilar-pilar itu terdapat lantai batu yang tak kalah kuno berlapis lingkaran sihir berpola simbol-simbol ilahi ketujuh dewa.


Seorang murid melayang diam di atas lantai berlapis lingkaran sihir itu dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Pilar-pilar itu adalah pilar pengukur dan pembangkit kekuatan spiritual. Hampir sama seperti yang ada di aula perguruan. Tapi tidak mengandung unsur logam. Hanya batu kuno berwarna hitam yang akan berubah menjadi kristal saat ritual dilakukan.


Delapan pilar itu sekarang telah berubah menjadi kristal, satu di antara berubah setengah dan satu lagi tetap bergeming sebagai batu hitam.


Itu adalah pertanda bahwa kekuatan spiritual bawaan murid itu hanya melewati delapan puluh.


Itu adalah kekuatan spiritual bawaan Jiangwu.


Tersisa dua orang yang belum mendapat giliran ketika Jialin datang. Kini giliran Tiao.


Semua mata bergulir ke arah Jialin dan seketika gadis itu langsung tertunduk, secara tak langsung berlindung di balik bahu pamannya. Wajahnya serasa terbakar ketika ia melihat Shen Zhu berdiri di barisan paling depan dalam kerumunan.

__ADS_1


Pemuda itu meliriknya sekilas dengan ekspresi datar yang tidak mencerminkan pandangan istimewa meski sedikit. Tetap tenang dan sebenarnya sedikit polos. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya dengan sikap arogan seorang ksatria.


__ADS_2