Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
95


__ADS_3

"Menarik!" Suara pria di belakang itu terdengar familier.


Pria itu juga mengenakan seragam ninja, memakai selubung wajah seperti yang lain, namun dilengkapi jubah gelap bertudung seperti milik Shen Zhu.


"Bagaimana bisa kalian menemukan gunung ini?" Pria itu melangkah pelan ke arah Shen Zhu sambil melipat kedua tangannya di belakang.


Shen Zhu tidak menjawab. Hanya menatap ke dalam mata pria itu, satu-satunya bagian wajah yang dapat dilihat. Namun, entah kenapa Shen Zhu merasa familier dengan sepasang mata itu.


"Lama tidak bertemu!" Pria itu menambahkan seraya menarik sebelah tangannya dan menjulurkan Xiao Mao dalam cengkeramannya.


Shen Zhu mengerjap dan menelan ludah, namun tetap memasang wajah datar meski cahaya matanya berkilat-kilat gelisah.


Tapi Shen Zhu akhirnya ingat di mana ia pernah bertemu pria itu.


Penyerangan Sekte Bao sebelum berangkat ke Markas Besar Aliansi Ksatria dipimpin oleh pria ini. Lebih dari itu, ia juga merasa familier dengan aura pria itu. Pada pertandingan final Ujian Ksatria, pria itu muncul dengan baju besi dan helm baja tertutup.


Pemimpin pasukan pemburu iblis juga pemimpin kelompok pembunuh bayaran. Menarik! pikir Shen Zhu.


"Apa kau masih belum melupakan dendam lama?" tanya pria itu lagi. "Atau karena hal lain? Mungkin sebuah takdir?"


Shen Zhu tetap bergeming.


Pria itu mendesah pelan dan mendekat ke arah Shen Zhu. Merenggut salah satu tangan pemuda itu dan meletakkan Xiao Mao ke dalam genggamannya.


Shen Zhu kembali mengerjap gelisah dan menelan ludah.


"Jika bukan karena kau bisa menerobos segel garis keturunan…" pria itu melipat tangannya lagi ke belakang dan berdeham. "Kalian pasti sudah mati!"


Segel garis keturunan adalah segel pelindung yang hanya bisa ditembus oleh keturunan tertentu atau orang yang ditakdirkan. Bisa membuat ilusi suatu wilayah menghilang dari peradaban dan tidak pernah ditemukan seperti alam gaib.


"Alasan lain yang membuatku melepaskanmu untuk kedua kalinya…" pria itu balas menatap ke dalam mata Shen Zhu. "Karena kau pernah membunuh klanmu sendiri. Itu perlu dibicarakan."


"Apa maksudmu?" Shen Zhu akhirnya bersuara. Meski hanya bisikan tajam.


"Kau bisa menerobos segel garis keturunan, bukankah ini hanya berarti satu hal?"


"Aku tidak mengerti!"


"Kau berdarah Liu!" pria itu menegaskan.


Shen Zhu spontan tersenyum masam, kemudian melirik ke arah pemuda di sampingnya. "Dia tidak berdarah Liu," katanya, lalu menunjuk ke belakang melalui ekor matanya. "Begitu juga dengan beberapa orang lainnya!"

__ADS_1


Para ninja itu spontan menoleh ke seberang jembatan.


"Tapi kau tidak bilang bahwa kau tidak berdarah Liu," tukas pemimpin Sicarii itu. "Begitu juga dengan beberapa orang lainnya!" sindirnya.


"Jangan bilang aliran hitam berasal dari klan Liu yang bermartabat," gumam Shen Zhu bernada getir.


"Apa yang salah dengan itu?" sergah pemimpin Sicarii itu. "Klan kita dihancurkan oleh suara rakyat: Penyembahan Dewa Petaka adalah aliran hitam. Mereka sendiri yang mengatakannya!"


"Dan kau mewujudkannya?" tanya Shen Zhu bernada pahit.


Pemimpin Sicarii itu tersenyum getir. "Citra itu tetap terwujud meski kita tak melakukan apa-apa," ia berkilah. "Bukankah karena alasan itu klan Liu dihancurkan?"


"Meski begitu, kau cukup sukses di Aliansi!" sindir Shen Zhu. Kemudian mengangkat wajahnya, melontarkan tatapan tajam pada pemimpin Sicarii itu. "Jangan kira aku tak mengenalimu!"


"Kami membunuh untuk bertahan hidup," gumam pemimpin Sicarii itu dengan suara sedikit tercekat. "Menyamar untuk membalas dendam, memberontak secara diam-diam untuk membalikkan keadaan. Bukankah beberapa pengecut lebih memilih menjadi budak? Kami kalah jumlah!"


Shen Zhu tertunduk dengan raut wajah muram.


"Jika aku ingin bertindak kejam, selain dirimu, yang lainnya tak boleh masuk!" Pria itu menambahkan seraya menunjuk rombongan di seberang jembatan dengan dagunya.


Shen Zhu mengerling melewati bahunya dengan raut wajah prihatin.


"Saat aku melihat kucingmu pertama kali, aku sudah tahu takdirmu," aku pemimpin Sicarii itu.


"Selamat pulang ke rumah!" Pemimpin Sicarii itu menepuk sebelah bahu Shen Zhu.


Shen Zhu mengangkat wajah dan mengerjap.


"Karena ketidaktahuanmu… aku mengampunimu!" pria itu menambahkan seraya berbalik dan memimpin jalan.


Shen Zhu masih bergeming, bertukar pandang dengan pemuda di sampingnya.


"Karena kau yang membawa mereka, kalian semua kuizinkan masuk!" Pemimpin Sicarii itu berteriak tanpa menoleh.


Shen Zhu mengangguk ke arah pemuda di sampingnya, mengisyaratkan supaya yang lainnya dibawa masuk.


Pemuda itu berbalik dan bergegas menjemput semua orang, sementara Shen Zhu mengekor di belakang pemimpin Sicarii.


"Panggil aku Paman Tang!" Pemimpin Sicarii itu memperkenalkan dirinya.


Mereka meniti tangga batu menuju puncak gunung di mana terdapat gerbang tua bertulisan: Sekte Liu.

__ADS_1


"Suka tak suka aku adalah adik Liu Hanzou," pria itu menambahkan. "Pamanmu!"


Shen Zhu menelan ludah dengan susah payah. Rasa hangat sekaligus getir menyergap dirinya.


"Aku tahu kau memiliki banyak keraguan dan pertanyaan," pria itu menoleh. Sepasang matanya berkilat-kilat penuh kegetiran seperti tatapan seorang ayah yang kecewa pada anaknya. "Tapi kau pasti lelah. Beristirahatlah saja dulu."


Dua orang ninja menyambut mereka di dekat sebuah meja rendah ketika Liu Tang menuntun Shen Zhu ke sebuah pondok dengan atap berbentuk seperti kepala kilin dengan empat pilar kayu mengkilap tanpa dinding seperti gazebo bertulisan: Wisma Tamu.


"Atur beberapa paviliun untuk semua orang!" Liu Tang memerintahkan seraya menunjuk rombongan di kaki bukit.


Shen Zhu duduk bersila di depan meja teh di wisma tamu dan mengedar pandang ke sekeliling.


Banyak pondok berderet dan berkelompok-kelompok dengan taman yang ditata artistik seperti sebuah kerajaan.


"Pondok-pondok itu sudah lama kosong," Liu Tang memberitahu, seolah bisa membaca pikiran Shen Zhu. "Aku membangunnya secara bertahap setiap bulan."


Shen Zhu menatap pria yang mengaku pamannya itu dengan mata terpicing.


"Aku tahu klan Liu akan kembali," jelas Liu Tang.


Shen Zhu terkekeh tipis dan menggeleng-geleng.


Seorang ninja membawakan sepoci teh dan menuangkannya untuk mereka.


Shen Zhu melirik ke arah ninja itu dan memaksakan senyum.


"Beberapa dari mereka diambil dari penjara," kata Liu Tang setelah ninja itu pergi. "Tahanan yang tidak seharusnya."


"Tidak seharusnya?" Shen Zhu tidak mengerti.


"Seperti kau diburu sebagai buronan Aliansi!"


"Aku mengerti," Shen Zhu kembali tertunduk dan mengusap-usap kepala Xiao Mao.


Suasana itu terasa canggung sekaligus nyaman. Sedikit sangsi namun lebih banyak yakinnya.


"Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu!" Liu Tang berkata setelah lama terdiam. Lalu beranjak dan menuntun Shen Zhu ke sebuah bangunan paling besar yang ditutup pintu ganda berbahan logam.


Seluruh arsitektur dirancang khusus seperti aula singgasana di dalam sebuah kerajaan.


"Kuil Zainan!" Liu Tang melayangkan sebelah tangannya ke dalam aula dengan kubah tinggi menjulang, mempersilahkan Shen Zhu masuk setelah pintu ganda itu terkuak. "Di tempat inilah kelak kau akan menjalani Ujian Pewaris!"

__ADS_1


Shen Zhu spontan berhenti dan menoleh ke arah pemimpin Sicarii itu dengan mata terpicing.


__ADS_2