Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
122


__ADS_3

TRAK!


TRAK!


Suara ketukan di lantai aula singgasana mendominasi. Istana Liuwang berubah hening.


Khidmat.


TRAK!


Suara yang sama juga terdengar di penjara bawah tanah Markas Besar Aliansi Ksatria.


Xiao Mao berlutut dengan kedua tangan terentang di sisi tubuhnya, terikat pada rantai di tengah ruangan, kepalanya terkulai dan tertunduk lemas.


TRAK!


Shen Zhu melangkah pelan memasuki aula singgasana, mengenakan hanfu sutera putih terang berhias sulaman sutera emas. Mahkota rambut dan pelindung bahunya berwarna emas, begitu juga dengan pelindung tangannya. Jubahnya yang berwarna emas terseret di lantai di belakangnya. Ikat pinggang sutra emas melilit pas dipanggang rampingnya.


Peri-peri kecil menari-nari di sekelilingnya menaburkan serbuk cahaya berwarna emas. Membuat sosok Shen Zhu semakin memukau dan berkilauan.


Kakeknya menunggu di atas podium didampingi Ksatria Pengawalannya yang sama-sama telah lanjut usia.


TRAK!


Pintu jeruji berderak dan membuka. Sesosok bayangan gelap menyelinap ke dalam dan memutus rantai yang membelenggu Xiao Mao, kemudian merenggut pinggang gadis itu dan melarikannya dengan menggunakan kekuatan teleportasi.


WUSSSHHH!


Para pengawal dan para pejabat kekaisaran bertekuk lutut di sepanjang tepi karpet beludru yang membentang dari pintu masuk hingga ke tangga podium.


Setiap pijakan kaki Shen Zhu menjatuhkan mereka satu per satu.


Derap kaki para ksatria berdebuk ribut di sepanjang koridor di penjara bawah tanah Markas Besar Aliansi Ksatria.


"Ada penyusup!" teriak beberapa penjaga yang ditempatkan di sekitar ruang tahanan Xiao Mao.


Tapi Xiao Mao telah menghilang tanpa jejak.


Mencapai altar singgasana, Shen Zhu berlutut di depan kakeknya dengan bertumpu pada Tongkat Kaisar Dewa yang berhasil ditaklukkannya. Lalu kakeknya memasangkan mahkota kaisar di kepalanya.


Di altar lain yang sunyi di Kuil Zainan, sesosok bayangan gelap mendarat ringan di lantai, kemudian membaringkan Xiao Mao.


Peri-peri kecil beterbangan memasuki aula singgasana, menebarkan serbuk cahaya berwarna-warni dan alunan musik, membuat suasana ruangan berubah meriah dan berkilauan.


Para pejabat di dalam aula bertepuk tangan. Memberikan salam soja dan mengucapkan selamat pada Shen Zhu.


Shen Zhu menarik bangkit tubuhnya dan berbalik.


Semua orang tersungkur mulai dari aula hingga ke pekarangan, bahkan hingga keluar gerbang.


Itu adalah hari pemberkatan yang dinantikan rakyat Liuwang. Hari penobatan Shen Zhu sebagai Kaisar Baru.


Rakyat Liuwang berkumpul di luar benteng, tak sabar untuk melihat wajah kaisar mereka untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun.


Shen Zhu melangkah keluar aula diapit kakeknya dan Ksatria Pengawal sepuh yang sangat setia.


"Rakyat Liuwang!" Suara kakek Shen Zhu menggema dari pelataran aula singgasana. "Inilah kaisar kalian!"

__ADS_1


Kembang api pertama meledak di puncak menara, disusul letusan kembang api lainnya di seluruh penjuru negeri.


Beberapa saat kemudian, jutaan lampion melayang dan beterbangan memenuhi langit jingga kelabu menyambut malam.


Suasana berubah spektakuler.


Bertolak belakang dengan situasi di seberang lautan.


Ledakan pertempuran masih berlangsung di Benua Xuang.


Seluruh penjuru tempat hiruk-pikuk.


Asap tebal membumbung dari sejumlah titik dataran tinggi di seluruh penjuru negeri Jiangnan.


Sebagian wilayah terlihat gersang, kering dan hitam.


Mayat-mayat bergelimpangan di antara puing bangunan yang telah rata dengan tanah.


Sekte Bao menjadi lautan api.


Sekte Majusi banjir darah.


Murid-murid Sekte Shu merintih. Para wanita meratap seraya memeluk anak-anak mereka yang menjerit ketakutan.


Sekte Dewa Pemburu porak-poranda.


Warga desa menyerang keempat sekte, menggasak dengan beringas.


Kuil Zainan di pemakaman desa kelahiran Shen Zhu dihancurkan.


Beberapa anggota berhasil diselamatkan dan diamankan di Sekte Liu.


Seusai makan malam, Shen Zhu melucuti pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan pakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat berlapis armor baja hitam, kemudian melapisinya dengan jubah gelap dengan tudung kepala.


"Baru sehari menjadi kaisar, sudah ingin pergi?"


Suara di pintu kamarnya menyentakkan Shen Zhu. "Kakek?"


Kakeknya menghela napas dan bersedekap seraya menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu.


Melihat gurat kecemasan di wajah Shen Zhu, pria tua itu mendesah lagi. Kemudian memerintahkan Ksatria Pengawalnya untuk tetap menjalankan tugas seperti selama dua puluh tahun terakhir.


"Terima kasih, Kakek!" Shen Zhu membungkuk hormat pada kakeknya dan memohon diri.


Kakeknya mengibaskan tangannya.


Sejurus kemudian, Shen Zhu sudah menghilang dari tempatnya.


Kakeknya tersenyum masam seraya menatap hampa udara kosong di dalam kamar cucunya.


Beberapa saat kemudian, Shen Zhu sudah mendarat di Kuil Zainan.


Sebuah lingkaran sihir tercipta di lantai altar persembahan. Semua orang dalam ruangan tercengang.


Bao Yu, Jyang Yue dan putra mereka sedang berhimpun di dalam kuil itu bersama Liu Tang, Xie Ma, Jyang Ryu dan semua orang yang berhasil diselamatkan dari keempat sekte yang dihancurkan.


Sosok Shen Zhu mengendap turun dari kubah tinggi menjulang yang mendadak terbuka memancarkan cahaya berwarna emas berbentuk tabung yang turun dari langit.

__ADS_1


Seisi ruangan berubah terang benderang.


"Xiao Zhu!" Xie Ma mendesis lirih dengan ekspresi senang dan haru.


Shen Zhu mengerjap dan mengedar pandang, terkejut melihat semua orang yang dikenalnya berada di satu tempat yang sama.


Semua orang balas menatapnya dengan takjub dan cemas.


Apa yang terjadi? pikir Shen Zhu curiga. Lalu melirik Ksatria Pengawalnya.


Jingwei mengerling ke arah altar di depan Shen Zhu.


Shen Zhu tertunduk dan terhenyak mendapati tubuh Xiao Mao tergolek di altar persembahan itu dengan kulit wajah pucat. "Xiao Mao?" Shen Zhu terpekik dan meraup tubuh gadis itu ke dalam rengkuhannya.


Xiao Mao tak bereaksi.


"Xiao Mao!" Shen Zhu mengguncang tubuh gadis itu.


Tetap tak ada reaksi.


"Apa yang terjadi?" Shen Zhu mengalihkan pandangannya ke arah gurunya, lalu menatap semua orang satu per satu.


Semua orang hanya terdiam dengan raut wajah bersalah.


"Bajingan mana yang berani mencelakai wanitaku?" hardik Shen Zhu bernada murka.


Kuil itu berguncang dan bergemuruh.


Semua orang terperanjat dan menelan ludah.


"Long Qiuyun," jawab Liu Tang dengan suara tercekat. Lalu berpaling dan tertunduk. Tidak berani menatap wajah Shen Zhu yang sudah sepenuhnya diliputi aura dewa.


Shen Zhu memicingkan matanya, melontarkan tatapan tajam pada pamannya.


WUSSSHHH!


Angin kencang terhempas dari lirikan matanya.


"Dia sudah menjadi dewa," Liu Tang menambahkan.


Shen Zhu mengetatkan rahangnya dan membeku.


Semua orang mengerjap dan tertunduk dengan gelisah.


"Salahku tak bisa menjaganya," sesal Bao Yu getir. "Aku terlambat menyadarinya."


Shen Zhu tetap bergeming.


"Empat sekte kita sudah dihancurkan," Jyang Ryu memberitahu. "Sekutu di Kota Pangkalan dipenjarakan. Begitu juga dengan beberapa Sicarii dan dewa pemburu."


"Long Qiuyun…" Shen Zhu menggertakkan giginya. Kemudian menurunkan Xiao Mao dan membaringkannya kembali ke tempat semula. Lalu mengepalkan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar menahan geram.


Lantai di bawah kakinya bergetar dan bergemeretak.


Liu Tang mendesah dan bertukar pandang dengan Bao Yu.


Shen Zhu mengetatkan kepalan tangannya, sebilah belati dari elemen kristal tercipta dalam genggamannya. Ia menghunus belati itu di depan wajahnya. Belati itu berkilat-kilat seperti petir.

__ADS_1


Semua orang memekik tertahan.


Dan sebelum semua orang menyadari apa yang terjadi, sebelum semua orang dapat bereaksi, Shen Zhu menghujam dadanya sendiri.


__ADS_2