
Shen Zhu sedang berlatih sendiri ketika kakaknya tiba di perguruan, jauh terpencil dari tempat yang biasanya.
Sejak mengetahui kekuatan spiritualnya sudah menerobos ke ranah galaksi, Shen Zhu tak pernah lagi berlatih dengan yang lain.
Menjadi terlalu unggul, membuat Shen Zhu semakin dikucilkan. Tidak seorang pun ingin berurusan dengan manusia setengah dewa. Semua orang menghindar, semua orang menjauh. Bahkan kakak-kakak seperguruannya sedikit menjaga jarak. Membuat Shen Zhu semakin kesepian.
Ia bahkan didiskualifikasi dari turnamen perguruan. Meski tetap mendapat kuota untuk mengikuti Ujian Ksatria.
"Kau dianggap juara pertama!" kata Bao Hu.
"Gunakan waktumu untuk berlatih sendiri selama kompetisi di perguruan," pesan Bao Yu. "Persiapkan saja dirimu untuk Ujian Ksatria."
Jadi, di sinilah dia sekarang!
Berlatih dan terus berlatih, namun semuanya masih terasa kurang.
Sementara perkembangannya sudah membuat orang lain merasa terlalu ngeri, Shen Zhu masih merasa perkembangannya terlalu payah.
Masih jauh dari target! pikirnya.
"Hanya dengan latihan terus menerus baru bisa mencapai target," kata Zainan waktu itu. "Dan targetmu adalah menjadi ksatria terkuat dalam sejarah!"
Menyapu satu benua dengan satu kibasan pedang! Shen Zhu mengulang-ulang kalimat itu dalam benaknya setiap kali ia mengibaskan pedangnya dengan berbagai teknik. Tapi selalu berakhir dengan erangan kecewa.
Tebasan pedangnya sudah bisa memangkas gunung dan meratakan dataran tinggi. Tapi itu masih tak cukup baginya.
Menyapu satu benua dengan satu kibasan pedang adalah targetnya!
"Targetku terlalu tak masuk akal!" gerutu Shen Zhu sambil mengibaskan pedangnya lagi, ditujukan pada Zainan. "Apa bisa manusia melakukannya?" hardiknya pada langit. Lalu mendesah kasar, merasa konyol.
Suara gemuruh di pekarangan perguruan menarik perhatiannya.
Shen Zhu membeku dan menyimak dengan mata terpicing, mencoba mengurai suara yang tercampur aduk itu secara mendetail.
Gemuruh itu terdiri dari campuran suara berderak, berdebuk dan berdebam ribut yang disertai pekik jerit ketakutan, gumaman gelisah, hardikan dan teriakan geram di antara ledakan energi dan benturan senjata yang bertautan.
Pertempuran! Shen Zhu menyimpulkan.
Ia memejamkan matanya sesaat dan terkesiap. Aura dewa iblis! pekiknya dalam hati. Lalu terbang melesat ke arah perguruan.
Mencapai puncak bukit di belakang perguruan tempat di mana ia biasa berlatih dengan kakak-kakak seperguruannya, ia melihat gelombang kelelawar membentuk pusaran gelap yang menggulung perguruannya.
Seluruh bangunan dan semua orang tidak terlihat dikungkung kegelapan itu.
Kelelawar? Shen Zhu mengerutkan keningnya.
Tidak! Bukan kelelawar biasa. Ini terlalu banyak! pikirnya.
__ADS_1
Menyerang begitu banyak, pasti ada yang mengendalikannya! Shen Zhu menyimpulkan. Lalu terbang melesat sambil mengibaskan pedangnya.
SLAAAASSSH!
DUAAAAARRRR!
Pusaran gelap itu terpotong dan tersapu sebagian.
Pada saat itulah ia melihat sosok raksasa berjubah gelap setinggi menara, melayang diam sembari bersedekap di atas pusaran gelombang kelelawar. Jauh di atas kepala semua orang.
Dialah yang mengendalikan gelombang kelelawar itu.
Raja Vampir Dewa Iblis Pilar Kedua Puluh.
Kedudukannya setingkat dengan raja wilayah di kekaisaran manusia.
Setiap wilayah kekuasaan iblis memiliki pemimpin yang sama kuatnya dengan dewa. Disebut Pilar Dewa Iblis.
Selama ada Pilar, klan iblis di bawahnya tak bisa dimusnahkan.
Tanpa pikir panjang, Shen Zhu segera melesat ke arah raja vampir itu sambil menghunus pedang.
Bertepatan dengan itu, Xie Ma melihat Shen Zhu melintas, dan seketika ia teringat pada mimpinya. "Adik! Jangan!" jeritnya mencoba mencegah Shen Zhu.
Bao Yu dan Jyang Yue serentak menoleh ke arah Shen Zhu. Begitu juga dengan semua orang.
SLAAAASSSH!
Raja vampir memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Shen Zhu. Ia melontarkan energi cahaya berwarna merah seukuran kelereng di ujung jemarinya, tapi sebesar kepala orang dewasa di hadapan Shen Zhu.
Shen Zhu pun akhirnya terpental ke belakang.
"Shen Zhu!" Bao Yu melesat dengan cepat dan berhasil menangkap tubuhnya.
"Pilar Dewa Iblis!" gumam para tetua menyadari. Sejak tadi mereka tidak melihat keberadaannya karena terlalu gelap. Lalu dengan tanpa aba-aba mereka menerjang bersamaan.
Bibir gelap sang raja vampir melengkung membentuk senyuman miring. Kemudian melontarkan empat butir energi cahaya yang sama dari ujung jemarinya ke arah para tetua. Dan para tetua itu pun terhempas ke segala arah.
DUAAAAARRRR!
Gelombang vampir turut tersapu bersama murid-murid perguruan akibat serangan itu.
Bao Yu mendarat bersama Shen Zhu di dekat Xie Ma dan Jyang Yue.
"Adik! Kau baik-baik saja?" Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu menghambur ke arah mereka dan mengerumuninya.
"Aku tak apa-apa!" jawab Shen Zhu cepat-cepat. "Kalian baik-baik saja?"
__ADS_1
"Hmh!" Kakak-kakak seperguruannya mengangguk bersamaan.
Tapi salah satu dari mereka memegangi sebelah tangannya yang berlumuran darah. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat membanjir di dahinya. Terlihat sekali bahwa ia memaksakan diri untuk tersenyum dan mencoba untuk tetap terlihat bersemangat.
Shen Zhu melihat tetesan darah merembes di sela-sela jemari kakak seperguruannya itu. Seketika ia mengetatkan rahang, menggertakkan giginya dan menghujamkan tatapan tajam ke arah raja vampir. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Detik berikutnya, ia sudah melesat ke arah raja vampir itu sambil berteriak murka.
"HIAAAAAAAT!"
BUUUUM!
BUUUUM!
BUUUUM!
"Adik—" Xie Ma tergagap dengan wajah pucat. Sebelah tangannya terulur menggapai udara kosong. Membayangkan adiknya akan tertikam membuatnya merasa lebih ngeri dibanding melihat iblis itu sendiri. "Kau tak boleh mati!" ratapnya mulai gusar. Hampir melesat ke arah Shen Zhu.
Tapi Jyang Yue sudah lebih cepat menyergap bahunya dan berusaha menenangkannya lagi.
Sementara itu, semua orang di sana-sini berjuang melawan gelombang kelelawar yang tak ada habis-habisnya.
Semua orang di sana-sini menggeliat-geliut sambil mengayun-ayunkan pedang mereka. Ledakan cahaya berkeredap seperti kilat dari setiap ayunan pedang semua orang.
Semua orang berjibaku. Semua orang bertarung mati-matian. Tapi gelombang serangan itu seolah tidak ada habisnya. Membuat lelah dan frustrasi. Membuat semua kewalahan.
Beberapa dari mereka berhenti melawan, dan lebih memilih berlindung di balik manna pelindung—energi cahaya berbentuk kubah yang tercipta dari kekuatan spiritual. Tapi itu pun menguras banyak energi spiritual. Lebih melelahkan daripada bertarung dengan senjata.
Guru-guru dan para tetua lebih banyak yang terluka karena melindungi lebih banyak orang.
Xie Ma dan Jyang Yue berhimpun bersama Bao Yu dan murid-muridnya, saling membelakangi satu sama lain untuk saling melindungi.
Badai kelelawar merubung mereka seperti kawanan lebah di sarang madu.
Serangan demi serangan menerjang di sana-sini. Pusaran gelombang semakin menggemuruh di antara pekikan semua orang.
Tidak ada habis-habisnya!
Xie Ma mulai terhuyung dengan napas terengah-engah. Keringat membanjir di pelipisnya.
Di pekarangan depan, Bao Hu dan istrinya juga sudah terhimpit di bawah manna pelindung mereka sendiri. Menahan serangan dengan lutut gemetar.
Di sisi lain pekarangan, putri mereka sudah terbatuk-batuk sambil membungkuk menekuk perutnya. Setetes darah bergulir di sudut bibirnya.
Di sisi lainnya lagi, putra mereka memantul-mantul sambil mengayun-ayunkan pedangnya menarikan tarian maut. Masih tampak gagah dengan sedikit arogan.
Gerombolan keduanya terpencar-pencar karena terlalu gegabah. Lalu berakhir babak belur seperti murid-murid junior.
__ADS_1