Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
82


__ADS_3

Final Ujian Ksatria…


Gedung arena dibuka untuk umum, sehingga situasinya menjadi jauh lebih spektakuler.


"Ini pertama kalinya dalam sejarah Aliansi Ksatria," komentar salah satu ketua sekte.


"Mereka adalah generasi terbaik yang pernah ada," tukas Ketua Aliansi. "Mereka adalah harapan baru bagi umat manusia. Semua orang perlu melihatnya."


Namun bukan itu alasan yang sebenarnya.


Mereka adalah pesulap!


Pesulap membutuhkan penonton untuk melancarkan trik mereka.


Pada hari monster tingkat delapan merangkak keluar dari dalam tanah, seorang majus meramalkan: "Suatu petaka akan terjadi. Dan satu-satunya yang tidak akan dilanda adalah rakyat sipil!"


"Selamat kepada Dua Teratas!" Ketua Aliansi membuka sambutannya. "Hari ini, aku sendiri yang akan menjadi wasit!"


Arena menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler, sepuluh kali lipat lebih meriah.


Para pejabat kehormatan berdiri di tingkat kedua di belakang Ketua bersama para tetua. Ketujuh Kaisar hadir semuanya, begitu juga para ketua sekte yang tidak pernah datang.


Jyang Ryu mengerling ke arah barisan ketua sekte. Ketua sekte yang tidak pernah muncul itu adalah Jyang Bingje, ayahnya.


Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu juga kembali untuk menonton bersama para tetua dan guru-guru.


Shen Zhu mengerling ke arah mereka dan mereka semua mengacungkan tinju mereka memberikan semangat.


Lantai arena dirancang lebih mutakhir. Lantainya dilapisi formasi sihir untuk mengurangi risiko kerusakan fatal. Dinding pembatas dilengkapi ranah pelindung atau tabir pembatas.


Kedua peserta sudah berdiri di lantai arena, berseberang-seberangan dengan saling memandang.


Keduanya berdiri sigap dengan pembawaan seorang ksatria. Dada membusung, tangan terkepal dan kaki terbuka.


"Nomor Tujuh-tujuh itu selalu serius saat berhadapan dengan majusi," komentar seorang tetua.


"Kalau begitu dia termasuk bijak," sanggah tetua lainnya. "Dia tahu persis yang perlu diwaspadai adalah mata-mata. Terutama yang ini, kabarnya memiliki Mata Ganda. Mata Ganda bisa menembus semua kepalsuan,"


Bao Hu mengerjap dan menyimak dengan dahi berkerut-kerut. Mata Ganda? pikirnya. Semakin menarik!


"Kau adalah lawan yang paling kunantikan dalam turnamen ini," kata Jyang Ryu dengan ekspresi tenang. "Sayangnya…" ia menggerakkan jemari tangannya di sisi wajah. Telapak tangannya bercahaya dan tombak dewa lautnya kemudian muncul dalam genggaman. "Pedangmu sudah patah," katanya. "Kau sedikit mengecewakanku!"


"Kau tenang saja," jawab Shen Zhu tak kalah tenang. "Sebenarnya…" Ia merentangkan sebelah tangannya ke samping dan seketika cincinnya menyala. "Aku belum mengeluarkan pedangku!"


SLAAAASSSH!


DUAAAARRR!

__ADS_1


Arena menggelegar dan bergemuruh. Ledakan cahaya berwarna-warni membuncah dan berpusar di sekeliling Shen Zhu. Rambut dan jubahnya melecut-lecut di sekeliling tubuhnya.


Pedang itu akhirnya terhunus dan menyala seperti pelangi!


Jyang Ryu mengerjap dan terkesiap. Ternyata memang Dewa Petaka! batinnya bersemangat. Matanya berbinar-binar. Rambut dan tepi jubahnya juga berkibar-kibar akibat hempasan angin kencang yang ditebarkan aura pedang Shen Zhu.


Para penonton terperangah antara takjub dan ngeri. Memandang ke bawah seakan dibawa terbang melayang ke galaksi. Pusaran cahaya berwarna-warni itu terlihat seperti Messier 51 atau galaksi spiral.


"Aura yang sangat kuat!" gumam salah satu kaisar.


"Ternyata dia juga pewaris pusaka dewa!" pekik seorang tetua.


Bao Hu tersenyum samar secara diam-diam.


"Baguslah!" sambut Jyang Ryu seraya mengetukkan tombaknya di lantai. "Akhirnya tidak menyembunyikannya lagi!" Lantai arena semakin bergemuruh seperti gelombang pasang. Luapan air membuncah dari ujung tongkatnya dan berpusar di sekelilingnya.


Para penonton kembali terperangah dalam gumaman takjub.


"Wah… ternyata majusi ini sangat perkasa!" gumam seorang pejabat. "Berdasarkan momentum ini, Nomor Tujuh-tujuh tampaknya akan kalah hari ini!"


Ternyata memang lumayan besar! batin Ketua sedikit gusar. Petaka apa yang mungkin terjadi? ia bertanya-tanya. Mungkinkah ranah pertahanan ini akhirnya akan jebol? Ia mengangkat sebelah tangannya dan seorang ksatria segera menghampirinya.


"Giring penonton ke barisan terdepan di lantai satu, tempatkan para peserta di tingkat dua dan barisan ksatria pelindung di tingkat tiga!" bisiknya pada ksatria itu.


"Apa?" Ksatria itu tergagap. Tapi lalu membungkuk dengan hormat tentara dan segera menghambur ke lantai satu.


"Karena sudah menunjukkan identitasmu sebagai pewaris pusaka dewa, sebaiknya tunjukkan serangan yang berbobot!" Ryu mengayunkan tongkatnya ke samping. Pusaran air disekelilingnya terhempas seperti ombak.


Shen Zhu tersenyum miring dan menggenggam pedangnya dengan kedua tangan, kemudian mengangkatnya di sisi wajah dalam sikap kuda-kuda..


Ryu memantulkan tubuhnya ke udara dan melayang diam.


Lantai arena kembali bergetar dan berguncang. Sejumlah kartu berukuran raksasa mencuat keluar dari lantai yang telah berubah menjadi lautan. Kartu-kartu itu seukuran pintu istana sebuah kerajaan dengan gambar-gambar timbul. Tebalnya sekitar dua jengkal.


Dua belas zodiak! pikir Shen Zhu. Itu sama saja dengan melawan dua belas Ksatria Ranah Galaksi Tingkat Menengah.


Shen Zhu menyentil mata pedangnya.


TING!


Suara berdenting itu juga menggetarkan seluruh arena seperti lonceng raksasa.


Para penonton mengernyit dan menutup telinga.


Pedang Shen Zhu bergetar dan berkeredap. Kemudian menjadi tujuh. Setiap warna pelangi memisahkan diri dan membentuk pedang sendiri. Lalu ketujuh pedang itu merekah seperti kipas milik Bao Yu.


GRAAAAKK!

__ADS_1


Bocah Tengik! pekik Bao Yu dalam hatinya. Baru melihat sekali sudah bisa meniru!


Shen Zhu membagikan ketujuh pedang itu menjadi dua. Tiga di tangan kiri, empat lainnya di tangan kanan.


Pedang-pedang itu sekarang mulai terlepas satu per satu, menggelantung pada untaian rantai gelap yang berpangkal dalam genggaman Shen Zhu. Masing-masing rantai terselip di sela-sela jarinya.


"Rantai petaka!" Para juri terpekik bersamaan.


"Pedang petaka, ditambah rantai petaka…" salah satu kaisar menggumam cemas.


Petaka? Ketua Aliansi mengerling ke arah Shen Zhu dengan tatapan ngeri. Kukira majusi itu, katanya dalam hati. Aku terlalu meremehkan pemuda ini!


"Kalau begitu aku tak akan segan!" kata Jyang Ryu seraya menyentakkan tombaknya dan mengayunkannya ke samping. Tembok-tembok berbentuk kartu tarot di sekelilingnya serentak menyala. Gambar-gambar di dalamnya menyembul keluar dan melesat ke arah Shen Zhu.


Shen Zhu melontarkan empat pedang di tangan kanannya seraya melambungkan tubuhnya, kemudian berputar dan melontarkan pedangnya di tangan kiri.


GRAAAAAAKKK!


Rantai-rantainya berderak hebat.


GLAAAAARRRR!


GLAAAAARRRR!


Ledakan mahadahsyat membuncah dari arena.


Lantai arena sekarang terlihat seperti badai tsunami di antara keredap kilat dan gelegar halilintar yang sambung-menyambung. Menjadikan semuanya seperti bukan dalam kenyataan.


Para penonton membeku dan menahan napas. Hampir terhuyung dan jatuh pingsan.


"Ini terlalu mengerikan!" pekik para wanita.


"Ini tidak terlihat seperti pertarungan manusia!" pekik penonton pria.


Para pejabat dan raja-raja menegang tanpa berkedip.


Para ksatria menunggu dengan waspada.


Seekor singa berwarna biru transparan menerjang ke arah Shen Zhu, disusul seekor banteng dengan tanduk menyala.


Pedang merah dan biru menghadang mereka seperti sambaran petir.


Pada saat yang sama pedang hijau dan kuning melesat ke arah ular raksasa hijau berkepala banyak dan sesosok wanita setengah manusia setengah ikan.


Sosok lainnya menyeruak dari atas dan bawah.


Shen Zhu berputar-putar dan memantul-mantul dalam tarian mematikan dalam paduan kecepatan tangan dan kaki. Pedang-pedangnya berpindah-pindah tempat dalam sekejap dengan masing-masing melawan dua sosok transparan berukuran besar secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2