Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
72


__ADS_3

"IMUUUUUUUUUT…!"


Pekik jerit para wanita membahana di pekarangan gedung arena. Derap kaki berdebam ribut di teras gedung arena berlantai batu kuno kotak-kotak di bawah kubah tinggi menjulang.


Rancangan arsitektur bangunan yang besar itu menonjolkan kesan mistis peninggalan kuno. Dinding-dindingnya yang gelap menjadi latar yang indah di sore yang cerah.


Patung-patung ksatria dengan pedang berwarna emas dan zirah perak berderet indah dan berkilauan di sisi tembok.


Koridor yang berisi patung-patung pajangan itu dibuka mengarah ke taman besar. Pagar tanaman setinggi lutut dengan bunga-bunga ditata dengan desain yang memukau.


Matahari masih bersinar terang, namun lampion-lampion taman yang ditata sedemikian indah menggantung di atas kepala para tamu yang berkelompok-kelompok di bawah pohon-pohon persik di sekeliling kolam yang di tengah-tengahnya terdapat menara berbentuk pedang berukuran raksasa berbahan emas.


"Ujian Ksatria kali ini benar-benar menarik," komentar seorang tamu dari kalangan pejabat yang berkerumun di tepi kolam.


Tamu lainnya terkekeh menanggapi, "Maksud Anda… Aneh?"


Terdengar desis tawa tertahan.


"Seorang Ksatria Pedang yang hampir tak pernah menggunakan pedang, seorang Pemanggil yang selalu gagal memangil dan tidak bisa mengendalikan monster yang dipanggilnya, seekor tunggangan yang melarikan diri meninggalkan rekannya…"


"Alkemis berotot yang jago tinju, penyihir yang tidak bisa menggunakan sihir serangan!" tamu yang pertama menambahkan. "Entah siapa nanti yang akan sial menjadi rekan tim mereka?"


"Jangan lupa soal ksatria yang tak terkalahkan dengan tunggangan seekor kucing kecil yang pencemburu!" yang lainnya lagi menimpali.


Terdengar gelak tawa.


Shen Zhu melesat melewati para tamu itu, berlari terbirit-birit sembari berteriak, "GURUUUUUUUU…!"


Para wanita menyeruak bergerombol di belakangnya memburu Shen Zhu dengan histeris.


Hiruk-pikuk kesibukan para wanita yang merusak suasana itu sudah menjadi pemandangan rutin setiap pagi dan sore, sebelum dan sesudah pertandingan. Kekuatan teleportasi dan kecepatan menjadi tidak berguna mengingat mereka juga rata-rata menguasainya.


Lalu semakin menggila selama dua hari terakhir.


Membuat lelah dan frustrasi!


Awalnya Shen Zhu keluar untuk mengejar kucing kecilnya. Kucing kecil itu melarikan diri setelah menerjang kucing kecil lainnya yang baru keluar dari Gerbang Rimba Ilahi yang dipanggil Anio.


Seperti seorang kekasih yang sedang merajuk, kucing kecil itu tiba-tiba mengamuk dan mengacau-balaukan seluruh arena.


Shen Zhu mencoba mengejarnya untuk menenangkannya, tapi kucing kecil lainnya malah mengejar Shen Zhu hingga keluar gedung. Tak disangka para wanita di bangku penonton juga tiba-tiba menghambur meninggalkan gedung arena dan mengejar Shen Zhu.


Menarik perhatian semua orang. Membuat frustrasi para petinggi.


Para pengawal tersentak dan berhamburan untuk mengejar mereka.


Ketua Aliansi tampak terguncang.

__ADS_1


Bao Yu mengerang frustrasi di tempat duduknya.


"Apa bagusnya bocah tengik itu?" rutuk Hua Ze tak sabar. "Tidak manusia tidak binatang, semuanya berebut untuk mengejarnya!"


"Minimal sekarang kita sudah tahu apa yang membuat Ksatria Tak Terkalahkan lari terbirit-birit!" komentar peserta lain.


"Kucing kecil dan wanita!" timpal peserta lainnya lagi.


Lalu semua peserta di deretan itu tergelak dan terbahak-bahak.


Celakanya, hal itu berlangsung hingga keesokan harinya.


Xiao Mao dan kucing kecil lainnya menghilang setelah saling baku-hantam di beranda gedung arena. Kucing kecil lainnya melarikan diri dan Xiao Mao mengejarnya. Sampai sekarang belum kembali.


Mau tak mau Shen Zhu harus terus mencarinya. Tapi setiap kali ia keluar, para wanita itu selalu mengganggunya.


Pada akhirnya, untuk kesekian kalinya, Shen Zhu menyerah dan kembali ke kamarnya untuk menghindari para wanita itu, dan terpaksa menunda lagi pencariannya.


Shen Zhu melesat di gang dan menerjang pintu kamarnya, menerobos masuk seperti orang gila, kemudian menutup pintu itu dan mengganjalnya dengan punggungnya sembari terengah-engah.


Bao Yu tersentak di depan meja teh di tengah ruangan.


"Guru benar," kata Shen Zhu sambil menjatuhkan dirinya ke lantai, duduk terpuruk bersandar pada pintu dengan raut wajah memelas. "Perempuan makin tua makin mengerikan!"


Bao Yu mendesah berat seraya memijat-mijat pelipisnya.


Malam harinya, Bao Yu meninggalkan kamar Shen Zhu karena harus mendampingi Tiao berlatih.


Ia mencoba berkonsentrasi untuk bermeditasi. Tapi suara dalam kepalanya mengusik ketenangannya.


"Kakak!" Suaranya seperti suara seorang gadis. Tapi berasal dari dalam kepalanya.


Apa yang terjadi? pikir Shen Zhu. Apa aku terlalu frustrasi menghadapi para wanita itu sampai aku jadi sinting?


"Kakak!"


Suara itu terdengar lagi.


Tidak benar! batin Shen Zhu. Lalu memutuskan untuk menyelidiki asal suara itu di dalam kepalanya. Ia kembali bermeditasi dan mendorong dirinya ke ruang kesadaran hingga ke tempat yang paling dalam.


Dahinya berkeredap dan simbol perjanjian darah menyala berkedut-kedut seperti sinyal peringatan.


Apa itu suara Xiao Mao? ia bertanya-tanya dalam hatinya.


"Tolong aku!" panggil suara itu sekali lagi. Suaranya sekarang terdengar lemah seperti orang terluka.


"Xiao Mao!" panggil Shen Zhu melalui pikirannya. "Apa itu kau?"

__ADS_1


"Benar," jawab suara dalam kepalanya.


Tak kusangka kau juga wanita, erangnya dalam hati.


"Kakak…" suara itu kian melemah.


Suara berkeriut di jendela menarik Shen Zhu ke dalam kenyataan.


Shen Zhu mengedikkan kepalanya, seakan coba mengenyahkan sesuatu dari kepalanya. Lalu kembali berkonsentrasi.


Suara mencakar terdengar di bingkai jendela.


Shen Zhu mengerjap dan memicingkan matanya. Menyimak dengan waspada.


Terdengar suara napas menggeram di jendela. Seperti napas lemah seekor kucing yang terluka.


"Xiao Mao!" Shen Zhu melompat dan menghambur ke jendela.


Kucing kecilnya menggantung di jendela dengan gemetar. Cakar kaki depannya menancap di bingkai jendela untuk menahan tubuhnya supaya tak jatuh.


Shen Zhu segera meraup kucing itu dan membawanya ke tengah ruangan. Kemudian memeriksa kucingnya dengan teliti.


Hidung mungil kucing itu berdarah. Tubuhnya gemetar dalam genggaman Shen Zhu.


"Kalian bertengkar sampai begini?" Shen Zhu mendesis lirih.


"Tidak apa-apa," jawab suara di dalam kepala Shen Zhu.


"Kau bisa bicara?" Shen Zhu tergagap dan terperangah.


"Bisakah kau sembuhkan saja aku dulu," pinta Xiao Mao dengan suara semakin lemah. Matanya mengerjap pelan. Lalu mendongak menatap Shen Zhu dengan raut wajah memelas.


Shen Zhu menaruh kucingnya di lantai, kemudian duduk bersila dengan posisi lotus menghadap ke arah kucing itu dan mulai berkonsentrasi. Ia menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah, kemudian menekan dahi Xiao Mao dengan ujung telunjuk dan jari tengahnya.


Simbol perjanjian darah di dahi mereka menyala bersamaan.


Cahaya berwarna merah darah berpendar dari tubuh mereka seperti kobaran api.


Tak lama kemudian, kucing kecilnya terbatuk-batuk dan memuntahkan segumpal darah.


Tak bisa begini terus! pikir Shen Zhu. Kemudian mengeluarkan pedangnya. Pedang aslinya. Lalu menikam dadanya sendiri.


"Kakak—" Xiao Mao terpekik dalam kepalanya. Berusaha mencegah Shen Zhu. Tapi lalu hanya mengerang tanpa daya.


Sudah terlambat!


Shen Zhu sudah terkulai dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Asap gelap mengepul keluar dari tubuh Xiao Mao dan meresap ke dalam luka Shen Zhu.


"Dasar bodoh!" gumam Xiao Mao dengan prihatin. "Apa harus sampai sejauh ini? Aku kan belum sekarat!"


__ADS_2