Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
84


__ADS_3

Dalam kebutaan akibat cahaya yang menyilaukan, terdengar suara bergemuruh dan bergeluguk.


Para penonton menahan napas.


Cahaya yang membutakan berangsur-angsur mulai meredup. Ranah pelindung terlihat seperti akuarium raksasa, di mana kedua peserta mengambang di dalamnya di antara ikan-ikan raksasa yang berkeriapan.


Jyang Ryu duduk bersila di dalam tiram raksasa yang terbuka seperti kursi singgasana. Berkilau dan bercahaya.


Shen Zhu melayang diam di hadapannya seperti salah satu dari ikan yang mengelilinginya.


Sebuah lingkaran sihir tercipta di belakang Jyang Ryu, kemudian memunculkan proyeksi dewa berwarna biru laut. Sosok perkasa dengan mahkota berbentuk sirip ikan di belakang kedua telinganya. Armor pelindung bahunya mencuat seperti sepasang sabit yang bersilangan di punggungnya. Pelindung tangannya juga seperti sirip ikan. Tombaknya berbentuk sama seperti milik Jyang Ryu namun ukurannya jauh lebih besar dan auranya lebih menekan.


"Proyeksi Dewa Laut!" pekik beberapa orang.


Shen Zhu mengetatkan genggamannya di batang pedangnya.


Bao Yu terlihat sedikit cemas.


Xie Ma sudah gemetar dengan keringat dingin dan wajah pucat.


Shen Zhu mengerling sekilas pada gurunya dan menggeleng-geleng. Apa pun yang terjadi, jangan pernah gunakan segel dewa! Shen Zhu mengingatkan dirinya. Kemudian menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya seraya mengacungkan pedang di depan wajahnya. Jangankan proyeksi dewa, tekadnya dalam hati. Meskipun dewa laut turun sendiri aku akan mengalahkannya!


Proyeksi Dewa Laut di belakang Jyang Ryu menggerakkan jemari tangannya di sisi wajah, sementara Jyang Ryu tetap bergeming dalam posisi lotus dengan mata terpejam.


Kolam air di sekelilingnya berputar dan bergejolak. Ikan-ikan di dalamnya mengelilingi Shen Zhu.


Bukan ikan biasa.


Semua ikan dalam akuarium raksasa itu sejenis ikan purba berkulit keras. Jenis ikan buas dan ikan petarung. Tubuh mereka sekeras kulit buaya dengan sirip setajam pisau.


Shen Zhu berputar-putar di tengah kepungan itu, berusaha sebisa mungkin keluar dari kepungan dan berenang ke arah Ryu. Ia tahu ikan-ikan itu dikendalikan oleh proyeksi dewa. Dan satu-satunya kelemahan mereka adalah mengacaukan konsentrasi Jyang Ryu.


Tapi itu tak mudah mengingat semua ikan yang mengepungnya tak tinggal diam. Dengan agresif ikan-ikan itu menerjang ke arah Shen Zhu dan menghalanginya.


Shen Zhu menukik ke dasar dan menancapkan pedangnya di lantai. Gerakannya terlihat pelan karena tekanan air. Tapi ia berhasil menancapkan pedangnya setelah beberapa kali mencoba sementara ikan-ikan terus menerjang di sana-sini.


Asap gelap mulai menyembur dari ujung pedangnya.


Bao Yu mulai menegang.


Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu bertukar pandang dengan gelisah.

__ADS_1


Para penonton mengerutkan keningnya dan menunggu.


Tak lama kemudian, untaian rantai tercipta dari asap gelap yang meluap dari lantai seperti rumput laut. Rantai-rantai itu memanjang dan memburai seperti rambut, kemudian menyergap sejumlah ikan di sekelilingnya. Detik berikutnya, rantai-rantai itu menyala seperti bara, kemudian berkobar-kobar mengeluarkan lidah-lidah api berwarna merah darah.


Seisi kolam mulai bergolak seperti lahar yang dalam sekejap sudah memanggang semua ikan di dalamnya.


Ryu menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah. Proyeksi dewa di belakangnya mengacungkan tombaknya ke atas. Kemudian air di sekelilingnya berputar membentuk pusaran.


Shen Zhu menjulurkan tangannya ke atas dengan jemari membentuk cakar. Air yang telah berubah menjadi lahar juga berputar di sekelilingnya membentuk pusaran.


Sedetik kemudian, kedua pusaran itu beradu dan saling menekan.


Shen Zhu mencabut pedangnya dari lantai dan melesat ke arah Ryu. Kemudian berputar-putar di sekeliling sosok raksasa yang disebut proyeksi dewa dengan teleportasi seraya menghujamkan pedangnya di sana-sini.


Tak lama kemudian, proyeksi dewa itu retak dan meledak bersama pusaran air yang telah berubah seluruhnya menjadi pusaran lahar.


Para penonton berteriak ketika ranah pelindung akhirnya jebol dan memuntahkan lahar di sana-sini.


Shen Zhu tersentak dan dengan cepat ia mengulurkan tangannya ke atas kemudian mengepal.


GLAAAAAARRR!


Para penonton terperangah dan mendesah lega.


Jyang Ryu terlempar ke tepi dengan punggung membentur dinding, lalu merosot dan terpuruk. Satu tangannya menekankan tombaknya ke lantai untuk berpegangan, sementara tangan lainnya menekuk perutnya.


Xie Ma mengerjap dan terperangah.


"Sudah berakhir! Nomor Tujuh-tujuh memenangkan pertandingan!" Ketua Aliansi mengumumkan, sedikit terlalu antusias. Sebenarnya merasa lega kompetisi berakhir. Kekhawatiran mereka akhirnya tidak terbukti. Ramalan majusi sudah terlewati.


Arena meledak oleh tepuk tangan spektakuler.


Shen Zhu menghampiri Jyang Ryu dan membantunya berdiri. Kemudian mengacungkan tinjunya ke udara.


Para penonton merespon dengan tepuk tangan lebih spektakuler sambil berdiri dan bersorak-sorak memanggil namanya. Beberapa melompat-lompat.


"Selamat kepada tiga teratas!" suara Ketua Aliansi menggema tanpa bantuan pengeras suara. "Juara pertama, Liu Shen Zhu!"


Profil Shen Zhu muncul di layar sihir.


"Juara dua, Jyang Ryu! Juara tiga, Bao Tiao!"

__ADS_1


Arena membuncah oleh euforia spektakuler, disusul ledakan kembang api yang bersemarak.


Bao Tiao melompat ke lantai arena dengan bersalto. Kemudian bergabung dengan Ryu dan Shen Zhu.


"Dengan ini, aku nyatakan Ujian Ksatria berakhir dengan sempurna!" Ketua Aliansi mengetukkan tongkatnya di lantai.


Para hadirin kembali bersorak dan bertepuk tangan.


"Selanjutnya," Ketua Aliansi menambahkan. "Kepada ketujuh juara teratas dipersilahkan memasuki arena untuk menerima hadiah!"


Ketujuh juara teratas berkumpul dan saling mengucapkan selamat, lalu berbaris menghadap ke arah ketua dan ketujuh kaisar.


Kaisar Jiangnan mengangkat sebelah tangannya di sisi wajah dengan jemari membentuk cakar. Cahaya putih lembut berpendar di telapak tangannya. Ia mengulurkan tangannya ke arah Ryu dan menyalurkan manna pemulih.


Ryu membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya, "Terima kasih, Yang Mulia!"


Kaisar mengangguk singkat dan tersenyum tipis.


"Silahkan kepada ketujuh kaisar untuk memberikan hadiah!" Ketua Aliansi melayangkan sebelah tangannya ke arah para peserta dan mengangguk ke arah para kaisar.


Ketujuh kaisar itu melayangkan sebelah tangan mereka bersamaan, dan seketika, tujuh benda berkilauan melayang ke arah para peserta.


Para penonton dan peserta terperangah dengan ekspresi takjub.


Shen Zhu membeku dengan dahi berkerut-kerut. Ia menatap benda pusaka yang melayang di depan wajahnya, kemudian mengedar pandang ke kiri-kanan dengan mata terpicing. Dadanya seketika bergemuruh, isi kepalanya serasa terbakar. Ia mengetatkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar. Kemudian meraung dengan suara yang menggelegar.


Para hadirin tersentak dan menatapnya.


"Apa yang terjadi?" Semua orang bertanya-tanya.


Shen Zhu menjatuhkan dirinya dan berlutut di lantai. Kedua tangannya terkepal di lantai. Bahunya berguncang dan sekujur tubuhnya bergetar hebat.


Xie Ma, tersentak selangkah ke belakang. Ia menatap deretan pusaka yang melayang di depan mereka dengan nanar.


Bao Yu mengerling ke seberang ruangan dan bertukar pandang dengan Jyang Yue.


"Adik!" Ryu menyentuh bahu Xie Ma dengan lembut. "Apa yang salah?"


Xie Ma tetap bergeming. Kelopak matanya bergetar. Bola matanya bergerak-gerak dengan gelisah. Tiba-tiba merasa dirinya dilempar ke ruang bawah tanah dan mendapati dirinya sedang berdiri di tengah ruang penyimpanan pusaka ayahnya.


Pusaka Liu!

__ADS_1


__ADS_2