Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
118


__ADS_3

Shen Zhu membaringkan kakeknya dan menyelimutinya dengan hati-hati. Kemudian duduk membungkuk di tepi tempat tidurnya.


Sejumlah pelayan pria dan wanita menyeruak masuk ke dalam kamar itu dengan tergopoh-gopoh.


Shen Zhu menyentakkan kepalanya ke samping dan melontarkan tatapan tajam pada mereka.


Ksatria Pengawal Kaisar mengangkat sebelah tangannya memperingatkan para pelayan itu untuk memberi waktu.


Para pelayan itu membungkuk serentak dan berjalan mundur saat keluar.


"Kau juga," kata Kaisar pada Ksatria Pengawal-nya. "Tinggalkan kami!" perintahnya bernada tegas.


"Baik!" Ksatria Pengawal itu membungkuk dan memohon diri.


Shen Zhu menggores ujung telunjuknya dengan kuku ibu jarinya hingga berdarah, kemudian menggores ujung jari tengah, jari manis dan kelingkingnya.


Asap tipis berwarna gelap mengepul dari tubuh kakeknya dan terhisap ke dalam luka di tiap ujung jarinya.


Pria tua itu mengamati jemari Shen Zhu dengan mata terpicing. Jemari tangannya mulai bergerak dan berangsur pulih. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu menarik duduk tubuhnya seraya membolak-balik kedua telapak tangannya dengan tercengang. "Ini—"


"Kolam Nirwana!" jawab Shen Zhu memotong pertanyaan kakeknya.


Kolam Nirwana adalah samudera purba yang tercipta dari bayangan Dewa Roh Agung, dewa kuno pertama yang menciptakan alam semesta. Dikatakan Kolam Nirwana adalah sumber partikel kehidupan. Disebut juga kolam genetik.


Seiring berjalannya waktu, Kolam Nirwana bergolak dan mengental, kemudian mengepulkan uap gelap dalam bentuk kabut gas yang menutupi samudera raya, membuat alam semesta gelap gulita dan membuat kekacauan.


Periode itulah yang disebut-sebut sebagai Zaman Kegelapan.


Zaman kegelapan itu berlangsung hingga enam periode penciptaan alam semesta, dan berakhir di abad ketiga peradaban manusia di mana dewa petaka menurunkan air bah untuk menghapus dosa dunia.


Kolam Nirwana disegel dalam cawan dewa petaka yang kemudian dikenal sebagai Cawan Murka atau Segel Dewa Petaka.


Cawan itu sekarang tertanam di tubuh Shen Zhu setelah ia memecahkannya tanpa sengaja.


Bisa dikatakan sebagai anugerah sekaligus kutukan!


"Aku merasa sekuat kuda sekarang," kata kakeknya. "Kau harus bertanggung jawab menemaniku berjalan-jalan!"


"Baik!" jawab Shen Zhu seraya tersenyum dengan antusias. Lalu beranjak dari tempat tidur kakeknya.


Pria tua itu menyingkap selimutnya dan menurunkan kedua kakinya ke lantai.


Shen Zhu menggamit sebelah lengannya dan menuntunnya keluar kamar.


Para pelayan dan sejumlah pengawal yang berderet di sepanjang koridor membungkuk ke arah mereka.


Seolah dapat membaca pikiran Shen Zhu, Kaisar tua itu berbicara langsung pada intinya.


"Tongkat Kaisar tersimpan di ruang bawah tanah, tepat di balik lantai di mana kursi singgasana berada," tuturnya setelah mereka berada di taman bunga yang bercahaya berwarna-warni.

__ADS_1


Pohon-pohon peri berderet seperti bonsai raksasa di sepanjang taman sebagai pagar yang membatasi setiap jalan.


Seperti hutan pemeliharaan monster spiritual di Tanah Perjanjian Darah.


Serbuk cahaya berwarna emas bertebaran di udara bersama bola-bola cahaya berwarna-warni seperti dandelion.


Seluruh tempat di sekeliling istana dipenuhi energi spiritual alami yang hampir setara dengan Istana Langit.


Memang layak disebut Taman Surga! Shen Zhu membatin takjub.


Benua Jingling diyakini sebagai surga yang hilang, juga dikenal sebagai Taman Surga.


Kekuatan spiritual setiap makhluk di negeri ini hampir setara dengan aura dewa.


Peri-peri tanaman berseliweran di seluruh taman seperti kupu-kupu. Ukuran tubuh mereka tak lebih besar dari ukuran jari orang dewasa. Sayap mereka bercahaya seperti permata yaspis. Setiap gerakan mereka meninggalkan bunyi seperti ceracap. Menciptakan alunan musik segar.


Beberapa dari mereka melayang berputar-putar di sekeliling Shen Zhu, menebarkan serbuk cahaya berwarna emas yang menjadikan sosok Shen Zhu terlihat semakin memukau, memancarkan pesona dewa yang sesungguhnya.


"Hanya orang terpilih yang bisa menyentuh Tongkat Kaisar," Kaisar menambahkan.


"Aku mengerti," Shen Zhu menanggapi. "Itulah sebabnya kenapa tidak seorang pun mampu mencapai altar singgasana kecuali Ksatria Pilar Dewa."


"Hanya kau yang bisa mencabutnya!" Kaisar meyakinkan Shen Zhu. "Itu pun tak akan mudah!"


Shen Zhu menoleh dan menatap kakeknya dengan sorot penasaran.


"Dengan kata lain, mencabut Tongkat Kaisar merupakan rangkaian metode kultivasi?"


"Benar!"


Shen Zhu langsung terdiam.


"Aku akan mendampingi pelatihanmu!" Kaisar menepuk lembut bahu Shen Zhu seraya tersenyum tipis.


Shen Zhu mengerjap dan balas tersenyum tipis. Kemudian mengedar pandang ketika peri-peri kecil mengitarinya sambil menari.


"Sudah berjalan sejauh ini," kakeknya menasihati. "Terlalu jauh untuk kembali."


"Aku mengerti," Shen Zhu menjawab santun.


"Sesulit apa pun, kau sudah ditakdirkan," kata Kaisar. "Jadi tak mungkin gagal!"


Tak ingin menunda waktu, Kaisar memutuskan untuk memulai pelatihan Shen Zhu keesokan harinya.


Lantai di bawah kursi singgasana berputar dan bergeser ketika Kaisar menekan lengan kursinya. Sebuah lubang besar terkuak. Tangga batu membentang di lubang itu mengarah ke bawah.


Kaisar memimpin jalan ke ruang bawah tanah.


Sebuah ruangan besar seperti kuil membentang di dasar tangga.

__ADS_1


Tongkat Kaisar Dewa itu tertancap di atas altar, memancarkan cahaya terang benderang berwarna emas di tengah empat pilar berwarna gelap dengan ukiran lukisan timbul.


Shen Zhu menoleh pada kakeknya dengan tatapan ragu.


Pria tua itu mengangguk menyemangatinya.


Shen Zhu menghela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Lalu melangkah ke arah altar.


Aura tekanan di altar itu jauh lebih besar dibanding altar singgasana kaisar.


Baru mencapai dasar tangga, langkah Shen Zhu sudah terasa berat seperti dicekam belenggu di pergelangan kakinya.


Ketika kakinya menapaki tangga pertama, perut Shen Zhu tertekuk hingga sesak.


Tangga kedua membuat telapak kakinya terseret beberapa inci ke belakang.


Tangga ketiga membuat tubuhnya serasa tergencet di celah gunung.


Tangga keempat terasa seperti hantaman palu godam.


BLAAAASSSH!


Shen Zhu terpental ke belakang dan jatuh berlutut dengan tumit terseret di lantai.


Kakeknya menahan punggungnya dari belakang.


Shen Zhu menarik bangkit tubuhnya dengan susah payah, kemudian berdiri terhuyung sembari menekuk perutnya. Sekujur tubuhnya terasa berdenyut-denyut seolah akan meledak.


Itu adalah gejala kekuatan spiritual sedang menerobos tingkat di mana ia harus segera bermeditasi.


"Aku akan menjagamu," Kaisar menguatkannya.


Shen Zhu mendesah berat dan mengangguk pada kakeknya seraya memaksakan senyum. Lalu duduk bersila di lantai di tengah ruangan besar yang kosong melompong.


Selain lukisan timbul di sepanjang dinding dan sejumlah pilar, tidak ada apa-apa lagi dalam ruangan itu kecuali Tongkat Kaisar.


Shen Zhu bermeditasi di dalam ruangan itu hingga sehari penuh.


Kemudian melanjutkan pelatihnya.


Hari kedua ia berhasil mencapai puncak tangga, lalu terpental lagi ketika mencapai tepi altar.


Lalu tubuhnya menuntut meditasi lagi.


Begitu seterusnya hingga berulang-ulang, mencoba menggapai tongkat, kemudian terpental dan bermeditasi lagi.


Dalam tujuh hari, mahkota rambutnya berubah menjadi perak.


Sekarang ia sudah bisa menyentuh tongkat itu dan mulai berjuang untuk mencabutnya.

__ADS_1


__ADS_2