
Ketua Aliansi berjalan mondar-mandir di dalam ruang bacanya.
Seorang pengawal bayangan menyelinap masuk tanpa suara dan berlutut di tengah ruangan.
"Cari tahu di mana lokasi formasi besar itu!" perintah Ketua Aliansi.
"Baik!" jawab pengawal bayangan itu seraya menautkan kedua tangannya di depan wajah. Lalu beranjak dan berbalik juga tanpa suara.
Di ruang persiapan para peserta, Xiao Mao sedang berhimpun dengan rekan-rekannya di sekeliling meja bersama Tiao—berlaku sebagai guru pendamping dari Sekte Bao.
"Kakak sudah berhasil melewati Ujian Kedua Pewarisan. Kita juga tak boleh gagal!" Xiao Mao menyemangati. "Meski sebagian besar peserta telah berhasil dimanipulasi, perebutan tujuh puluh kursi tetap bergantung pada usaha kita."
Di ruang persiapan lain, Liu Xie Ma juga sedang menyemangati sekelompok gadis bercadar dengan hanfu elegan dari klan peri yang menyamar sebagai kelompok peserta dari Sekte Majusi.
Di ruang persiapan lainnya lagi, sekelompok dewa pemburu yang menyamar sebagai kelompok peserta dari Sekte Shenlu yang telah berganti nama menjadi Sekte Dewa Pemburu, klan Liu yang menyamar sebagai kelompok peserta dari Sekte Shu, juga sekte lainnya yang telah disusupi sekutu Shen Zhu, semuanya terlihat bersemangat.
Bahkan Kaisar Jiangnan, Long Hua Ze, tampak tak sabar untuk melihat bagaimana revolusi akan dimulai. Kebebasan umat manusia bergantung padamu, katanya dalam hati, ditujukan kepada Shen Zhu di luar sana.
Begitu juga harapan semua orang di benua Xuang.
Lima Pilar Dewa telah menjadi pion Aliansi Ksatria.
Hukum langit tak pernah lagi berpihak pada yang lemah.
Dewa-dewa baru yang congkak bermunculan. Dewa-dewa kuno telah lama dilupakan.
Setelah ribuan tahun, aura kekuatan kuno itu akhirnya muncul kembali.
Semoga ini pertanda baik! harap semua orang tertindas.
"Tuntun kami ke jalan keselamatan!"
"Selamatkan kami!"
"SELAMATKAN KAMI!"
Suara-suara itu menggemuruh seperti mesin raksasa dalam kepala Shen Zhu.
Kepala Shen Zhu bergerak-gerak gelisah di tempat tidurnya, kelopak matanya bergetar, napasnya tersengal-sengal, dadanya turun-naik tak beraturan, keringat membanjir di wajahnya.
"Bangunlah!"
"Selamatkan kami!"
Shen Zhu tersentak dan terduduk di tempat tidurnya, tatapannya yang panik menyapu sekeliling.
"Tuan!"
__ADS_1
Suara lembut itu membuatnya menyentakkan kepalanya ke samping dan tergagap.
Jingwei duduk membungkuk di tepi tempat tidurnya, menatap cemas bercampur lega seraya memaksa senyum.
"Kali ini berapa lama aku tertidur?" Shen Zhu berbisik gusar.
"Hanya beberapa jam," jawab Jingwei menenangkannya.
"Berapa jam di mana?" Shen Zhu bertanya lagi.
"Beberapa jam di ranah bumi," Jingwei meyakinkannya. "Surga Petaka memiliki perbedaan waktu terbalik dengan Surga Tertinggi. Satu hari di Dunia Fana, seribu hari di Dunia Bawah."
Shen Zhu mendesah berat dan mengusap keringat dari dahinya. "Aku ingin bertemu Xiao Mao," katanya seraya menyingkap selimutnya.
Jingwei segera menahannya, "Misi Tuan belum selesai!" Ia memperingatkan. "Benua Jingling menunggu Tuan."
"Benua Jingling?" Shen Zhu mengerutkan keningnya.
Benua Jingling adalah benua paling misterius di dunia. Benua kecil tersembunyi di mana ras peri tinggal pada masa awal penciptaan alam semesta.
Sebuah negeri yang hilang dari peradaban pada masa kejayaannya. Disebut negeri Ziran.
Sebagian orang meyakininya sebagai negeri sihir dan surga yang hilang.
Tidak seorang pun dapat menyusup. Bahkan Aliansi Ksatria.
Dikatakan kaisar mereka juga tak kalah misterius. Tidak seorang pun rakyatnya pernah melihat wajahnya. Singgasananya sulit didekati. Istananya hanya dapat dimasuki pejabat suci dengan kekuatan spiritual tinggi.
"Tongkat Kaisar Dewa Petaka berada di tangan Kaisar Ziran," Jingwei memberitahu.
"Apa?" Shen Zhu terpekik dan menatap Jingwei dengan mata terpicing.
"Ujian Kedua Pewarisan seharusnya sudah membuat Tuan mengenal semua pusaka dewa petaka," Jingwei balas memicingkan matanya.
"Bukan itu yang menjadi poin pentingnya," tukas Shen Zhu bernada tajam. "Maksudku—"
"Aku mengerti," potong Jingwei. "Merebut Tongkat Kaisar sama artinya dengan merebut kekaisaran."
"Benar," Shen Zhu menimpali sedikit ketus.
"Namun itulah misi Anda," sanggah Jingwei.
Jingwei merogoh ke dalam dada hanfu-nya dan mengeluarkan surat gulung yang tidak terlihat seperti dari dunia manusia, kemudian mengulurkannya pada Shen Zhu.
Shen Zhu menerima gulungan itu dan membukanya.
Huruf-huruf berwarna emas merebak keluar dari gulungan itu seperti sekawanan kupu-kupu, lalu berbaris mengambang di depan wajah Shen Zhu membentuk sederet pesan yang lebih tepat disebut wasiat karena ditandai simbol dewa kuno sebagai materai.
__ADS_1
"Dengan kata lain, misiku adalah memerangi satu benua!" Shen Zhu mengerang tak berdaya.
"Anda berhasil menaklukkan sejumlah sekte di tingkat enam," Jingwei mengingatkan. "Sekarang Anda sudah sepenuhnya menjadi dewa, hanya saja belum resmi menjadi Kaisar Dewa."
"Jangan lupa soal Ksatria Tingkat Enam Ranah Surgawi yang hampir mati tak jauh dari gerbang," sergah Shen Zhu tak sabar.
"Kalau begitu Anda juga tak boleh lupa Ksatria Tingkat Enam Ranah Surgawi itu telah menguras sebagian besar kekuatan spiritualnya untuk sekian banyak orang!" tukas Jingwei.
Shen Zhu langsung terdiam.
"Tuan," Jingwei melanjutkan dalam bujukan tegas yang membuat Shen Zhu memandangnya dengan serius. "Merebut kekaisaran tidak selalu berarti perang. Terkadang sebuah identitas berarti hukum."
Shen Zhu mengerjap dan menelan ludah, menatap ke dalam mata Jingwei dengan kekaguman yang mengejutkan. Apa kau benar-benar berumur sebelas tahun? batinnya sedikit geli.
"Kalau boleh jujur…" Shen Zhu memalingkan wajahnya dan tercenung. "Menjadi Kaisar Dewa bukanlah ambisiku," katanya seraya tersenyum samar.
"Itu sebabnya Tuan layak mengatur semesta," timpal Jingwei. "Hukum tanpa ambisi melahirkan tatanan netral!"
Shen Zhu kembali menoleh dan menatap tajam ke dalam mata Jingwei. Seulas senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya. "Terima kasih, Pak Tua," katanya.
Jingwei tersenyum tipis menanggapinya. "Benua Jingling dilindungi segel garis keturunan," ia memberitahu. "Sama seperti gunung kita. Jika bisa melewatinya tanpa benturan energi, tak perlu ada perang."
"Benua Jingling dihuni ras peri," tukas Shen Zhu.
"Ras peri adalah makhluk alamiah yang memiliki kekuatan spiritual penuh seperti dewa. Tapi tidak mengenal hukum seperti dewa. Mereka hidup mengandalkan insting seperti iblis," tutur Jingwei menjelaskan. "Bisa dikatakan setengah dewa setengah iblis. Dari merekalah ras nefilim terlahir."
Ras Nefilim adalah manusia setengah dewa yang dilahirkan dari perkawinan silang antara manusia dan peri.
"Dari merekalah Pilar Dewa pertama diciptakan," Jingwei menambahkan. "Pewaris dewa tidak pernah benar-benar berasal dari perkawinan silang antara dewa dan manusia. Tapi dari ras peri. Dewa-dewa baru hanyalah peri mulia. Dewa sejati hanya dewa-dewa kuno."
"Aku sudah mengerti," Shen Zhu menandaskan. Lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai dan menghela tubuhnya berdiri. Lalu berjalan keluar dari kuil ke paviliunnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Ketika ia selesai berpakaian dan mencoba menata rambutnya, tiba-tiba ia teringat pada Xiao Mao.
Dia melakukan banyak hal untukku, ia menyadari. Dari hal-hal yang besar hingga hal-hal kecil yang sangat berarti. Sejak awal sampai sekarang dia tak pernah meninggalkanku. Tapi aku tak pernah sekali pun menghargainya.
Tetap memperlakukannya seperti binatang peliharaan…
Menganggapnya sebagai rekan monster!
Sekarang ia tahu hal kecil seperti menata rambut saja sudah membuatnya merasa seperti anak ayam hilang induknya tanpa Xiao Mao.
Seluruh perawatan dirinya selama ini biasa diurus oleh Xiao Mao.
Ia tak bisa mengurus dirinya sendiri sebaik Xiao Mao mengurusnya.
"Kucing Kecil… aku merindukanmu," bisiknya dengan ekspresi hampa.
__ADS_1