
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Peserta nomor seratus delapan belas dari sekte belati itu melejit bersama tunggangannya, tunggangannya menerjang ke arah Tiao sementara pemuda itu melompat dan memutar di udara sambil melontarkan empat belati dari sela-sela jemarinya.
Tunggangan Tiao menerjang ke arah tunggangan peserta itu sementara Tiao tetap berdiri tenang di lantai. Ia mengayunkan pedangnya untuk menepis serangan dengan energi cahaya berbentuk sabit dari kibasan pedangnya. Sebelah tangan lainnya melontarkan jarum es dari sela-sela jemarinya.
Bao Hu mengerjap dari tempat duduk ketua sekte. Dia sudah bisa membuat manna elemen, pikirnya. Apakah Bao Yu yang mengajarinya?
Sementara itu di bangku penonton, Shen Zhu tersenyum samar. Dia benar-benar mempelajarinya, katanya dalam hati. Ternyata dia tidak terlalu arogan!
Lalu ketika lawannya melontarkan lagi sejumlah belati, Tiao juga menciptakan belati salju untuk menepis serangan.
Para peserta di bangku penonton berseru takjub.
"Menghemat tenaga dengan memanfaatkan manna elemen," komentar salah satu tetua. "Sungguh cerdas!"
Bao Hu mengerjap dan tersenyum samar dengan raut wajah sedih. Tak disangka dia berkembang pesat setelah mengikuti Bao Yu, batinnya getir. Ia melirik sekilas pada adiknya dan merasa malu.
Bao Yu tidak menyadarinya. Perhatiannya terfokus pada pertarungan.
Siulan nyaring peserta nomor seratus delapan belas itu menarik perhatian semua orang. Elang peraknya menukik dan melesat ke arahnya, dan pada waktu bersamaan, peserta itu juga melompat ke punggung elangnya.
Tiao juga melompat ke atas tunggangannya.
Lalu secara bersamaan keduanya melesat ke tengah arena dengan posisi tubuh siap menyerang.
SLAAAASSSH!
TRAAAAANG!
Suara benturan logam menyatu dengan gemuruh angin dan kilatan cahaya.
Arena meledak oleh semburat cahaya terang, disusul gelegar halilintar.
Peserta nomor seratus delapan belas itu mengerahkan elemen petir. Tubuhnya dan tunggangannya menyala menebarkan keredap cahaya yang menyambar-nyambar.
Bersamaan dengan itu, tunggangan Tiao sudah melejit ke udara dan ledakan cahaya kembali membuncah.
Sejurus kemudian, kedua peserta membeku dengan tanduk rusa milik Tiao menancap di tenggorokan elang peserta nomor seratus delapan belas sementara pedang Tiao terhunus di tenggorokan peserta itu.
"Peserta nomor enam-enam memenangkan pertarungan!" Pemandu acara mengumumkan.
__ADS_1
Sekeliling arena meledak oleh tepuk tangan dan sorakan para penonton.
Bao Yu menghela napas panjang dan bersedekap. Menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku.
Bao Hu menatapnya seraya tersenyum tipis, sementara dahinya berkerut-kerut karena terharu.
Shen Zhu melompat berdiri sambil mengacungkan tinjunya di sisi wajah.
Tiao membungkuk dengan hormat tentara dan berbalik. Lalu berjalan keluar arena sementara tunggangannya berkeredap menghilang.
"Selamat kepada para peserta yang lolos ke putaran kedua!" pemandu acara mulai berceloteh di antara hiruk-pikuk para hadirin yang bersemangat. "Putaran kedua adalah pertarungan acak antar aliran. Kepada para peserta, diharapkan untuk beristirahat dan berlatih. Persiapkan diri untuk pertarungan putaran kedua!"
Para hadirin beranjak dari tempat duduknya masing-masing seraya bertepuk tangan.
Lalu satu per satu semua orang mulai meninggalkan arena.
Seorang ksatria yang berlaku sebagai panitia selama Ujian Ksatria, menghampiri Tiao di koridor ketika semua orang meninggalkan arena. "Tuan Muda Bao! Kunci kamar Anda!" katanya seraya membungkuk menyodorkan nampan berisi kunci kamar bernomor enam-enam.
"Terima kasih!" Tiao balas membungkuk dengan salam soja setelah mengambil kunci kamarnya.
Ksatria itu membungkuk pada Bao Yu dan murid-muridnya dengan hormat tentara, dibalas hormat tentara yang sama. Lalu berbalik dan bergegas kembali ke balai panitia.
"Aku dan yang lainnya sudah menyewa penginapan tak jauh dari sini," Bao Yu memberitahu. "Kalian bertiga mulailah berlatih!"
"Tidak bisakah kita makan siang bersama dulu?" protes Shen Zhu sambil menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak terasa gatal dengan sikap kekanak-kanakan. "Anggap saja kita merayakan kemenangan Kak Tiao!"
Bao Yu tersenyum geli. "Baik," katanya. "Kita makan di luar!"
Murid-muridnya bersorak gembira.
"Huh!" Seorang tetua sekte mendengus saat rombongan mereka berpapasan di koridor. "Nona Bao…" ejeknya. "Apa tidak ada yang memberitahumu kalau di sini bukan taman bermain? Kenapa mengasuh anak di sekitar sini?"
Murid-muridnya tergelak di belakangnya.
"Bicara lancang apa?" Shen Zhu spontan menggeram sambil menudingkan telunjuk ke arah tetua itu. Merasa tersengat mendengar gurunya disebut Nona.
Bao Yu merentangkan sebelah tangannya di depan dada Shen Zhu untuk menghalanginya.
"Kenapa?" tetua itu mendelik pada Shen Zhu. "Kau tak senang? Xiao Meimei!" ejeknya sambil tersenyum miring.
"Kau—" Shen Zhu hampir menerjang ke arah pria itu, tapi lagi-lagi Bao Yu merentangkan tangannya di depan dada Shen Zhu.
Pria itu menatap Shen Zhu dengan mata terpicing, lalu kembali menyeringai. "Wah!" serunya masih dengan sikap mengejek. "Dia mirip sekali denganmu! Apa dia putrimu?"
__ADS_1
"Apa—" Shen Zhu hampir tak bisa menahan diri.
"Shen Zhu!" Bao Yu menahannya lagi. Masih tetap bersikap tenang dan tidak terpancing. "Jangan terlalu impulsif," ia memperingatkan. "Kau bisa didiskualifikasi dari ujian ini!"
Rombongan itu menyeruak melewati mereka dengan arogan dan tampak lancang.
Bao Yu menggeleng samar pada murid-muridnya memberikan isyarat peringatan. "Ayo kita makan!" ajaknya bernada mendesak.
Murid-muridnya dengan patuh mengikutinya. Bahkan Jialin dan Jiangwu. Kedua remaja itu sudah seperti bagian dari Asrama Tujuh. Ke mana pun gerombolan Shen Zhu pergi, mereka mengikutinya seperti budak taklukan perang.
Bersamaan dengan itu, suara cekikikan di belakang menarik perhatian mereka.
Mereka serentak menoleh ke belakang.
Gadis Pemanggil berpakaian mungil serba pink membekap mulutnya dengan jemari tangan di bawah payungnya yang terlihat seperti kubah kastil penyihir yang terbuat dari makanan dalam dongeng fantasi barat.
Kenapa dia lagi? Shen Zhu mengerang dalam hatinya sambil memutar-mutar bola matanya dengan tampang sebal.
Jialin memelototi gadis itu dengan tak sabar. Penyihir Kecil ini benar-benar penggoda tak masuk akal! gerutunya dalam hati.
Dengan sikap kekanak-kanakan, Gadis Pemanggil itu melewati mereka dengan langkah melonjak-lonjak seperti sedang menari. Ia melirik Shen Zhu sembari cekikikan.
"Kurasa dia menyukaimu," goda Bao Yu yang secara otomatis ditanggapi gelak tawa murid-muridnya.
"Guru—" Shen Zhu tergagap-gagap sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak terasa gatal dengan wajah tersipu-sipu.
Tiba-tiba saja kucingnya mencelat keluar dan melompat ke arah gadis mungil itu sambil menggeram.
"Xiao Mao!" Shen Zhu dan kakak-kakak seperguruannya terpekik bersamaan.
Kucing itu melesat ke arah Gadis Pemanggil seraya mengayunkan cakarnya.
Shen Zhu segera menangkapnya.
Kucing itu memberontak dengan kaki meronta-ronta mengais udara kosong.
Apa yang terjadi? Apa kucingnya juga cemburu? Gadis Pemanggil itu mengerling melewati bahunya dan mengerjap. Apa? pekiknya dalam hati. Gorgon Permaisuri!
Dengan panik ia menoleh ke arah kucing itu dan tergagap-gagap. Lalu menjerit dan melarikan diri.
Rombongan Sekte Bao membeku bersamaan, memandangi punggung gadis itu dengan dahi berkerut-kerut.
Shen Zhu bertukar pandang dengan gurunya. Lalu tertunduk menatap kucingnya sambil mengusap kepalanya.
__ADS_1
Kucing itu mendengus dan memalingkan wajah seperti gadis yang sedang merajuk.
"Xiao Mao, kau kenapa?" tanya Shen Zhu kebingungan.