
TRAAAAANG!
TRAAAAANG!
DUAAAAARRRR!
Tianjin terbang memutar dan memantul-mantul di tengah kepulan asap debu dan gejolak pertempuran antara manusia dan monster serigala. Setiap ayunan pedangnya meninggalkan keredap cahaya. Setiap gerakannya meninggalkan angin kencang yang membuat seluruh tempat terlihat seperti badai di antara kilat.
Xiao Mao mendampingi anak laki-laki itu sambil menyerampang ke sana-kemari seraya mengayun-ayunkan cakarnya.
Tapi semakin banyak serigala dikalahkan, semakin banyak pula yang datang.
Kenapa rasanya seperti memenggal kepala monster jenis hydra? pikir Shen Zhu. Tidak benar! Ia menyadari.
Shen Zhu mengeluarkan pedangnya, dan seluruh tempat bergemuruh dilanda angin kencang. Tanah di bawah kaki mereka berguncang. Batu-batu gunung berguguran seperti tengah erupsi.
Dunia seolah ditunggangbalikkan. Bergemuruh dan berguncang semakin hebat.
Semua orang berteriak seperti orang gila seakan dunia sedang kiamat.
Shen Zhu mendarat di puncak salah satu bukit batu dan menancapkan pedangnya.
Sebuah formasi sihir tercipta dari ujung pedangnya membentuk atap transparan yang menaungi semua orang.
Semua orang mendongak dan terperangah.
Asap gelap keluar melalui celah di permukaan batu di mana pedang itu tertancap, membentuk pusaran besar seperti tornado, kemudian memunculkan sulur-sulur berbentuk rantai seperti bunga karang di dasar lautan.
Sesosok tubuh raksasa berjubah gelap bertudung dengan untaian rantai melilit pinggang dan bahunya seperti selendang muncul dari pusaran gelap yang mirip tornado itu, seperti kembaran Shen Zhu dalam ukuran raksasa.
Shen Zhu berlutut di bawah kaki raksasa itu, membeku menggenggam gagang pedangnya dengan kedua tangan, kepalanya tertunduk di bawah tudung jubahnya seperti sedang memberi hormat pada raksasa itu.
Tak lama raksasa itu mengangkat kedua tangannya di depan dada, menaruh ujung seruling di bibirnya yang gelap, memainkan musik misterius yang mendirikan bulu kuduk. Merdu sekaligus mengerikan. Suaranya melengking seperti sinyal perang, namun bernada lembut seperti pengantar tidur.
Semua makhluk dibuat tertegun. Membeku serentak seakan mendadak berubah jadi batu.
Rantai gelap yang meliliti pinggang dan bahu raksasa itu memanjang dan menjalar ke seluruh tempat melewati celah-celah kosong di antara kerumunan seperti sulur asap, kemudian melilit semua monster seperti selendang tipis.
__ADS_1
Alunan musik yang menyayat itu mengalun semakin lembut namun semakin menusuk, membuat monster-monster itu tak berdaya. Begitu juga dengan semua orang.
Lima menara Pilar Dewa di Kota Pangkalan yang menjadi benteng pertahanan Aliansi Ksatria sekaligus perbatasan antara wilayah iblis dan manusia menyala serentak seperti suar.
Para ksatria di Kota Pangkalan bereaksi seperti mendapat panggilan darurat.
Markas Besar Aliansi mendadak gaduh oleh kesibukan ekstrem melihat pertanda itu. Beberapa orang pun diutus untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Pilar Dewa yang menyala menandakan turunnya dewa. Namun lima kuil pilar dewa yang terikat dengan Aliansi Ksatria itu menyala semua.
Kemunculan lima dewa sekaligus bisa mengguncang dunia.
Semua orang bisa melihat tiang-tiang cahaya menembus langit, membuat gempar seluruh wilayah.
"Ini…" Xie Ma menggumam seraya mengerutkan keningnya. Lalu bertukar pandang dengan Juang Ryu.
Sejurus kemudian, Jyang Ryu sudah melesat keluar aula. Beberapa tetua mengikutinya.
Bao Yu dan Jyang Yue di Sekte Bao juga melesat keluar tanpa aba-aba.
"Apa hanya perasaanku saja?" gumam salah satu penjaga Tanah Perjanjian Darah. "Sepertinya ada kemunculan dewa di luar Bukit Perjanjian."
Semua tetua di setiap sekte, semua pendeta di setiap kuil, semua orang yang mengerti bereaksi sama di seluruh tempat kecuali Kuil Zainan.
Pendeta suci mereka yang baru berumur sebelas tahun ini tetap duduk bersila dengan posisi lotus, tetap tenang dan tidak terganggu.
Karena pendeta suci itu masih kecil, orang-orang klan Liu menilai Jingwei belum mengerti apa-apa. Lalu mereka mulai mengecam Jingwei.
Para penduduk menyerbu kuil dan mulai mempersulit para penjaga. Mereka berteriak-teriak di luar pintu ganda dari logam yang membatasi mereka dengan bait suci di mana Jingwei berlatih.
"Lakukan sesuatu!" ratap mereka.
"Lima dewa akan turun!"
Jingwei tersenyum samar dan menggeleng-geleng. Kemudian menyentil udara kosong. Sebuah bola cahaya seukuran kelereng melesat dari ujung jarinya ke arah pintu.
GRAAAAKKK!
__ADS_1
Pintu ganda dari logam itu terkuak membuka.
Para penduduk hampir menyeruak ke dalam.
Tapi Jingwei tahu-tahu sudah berdiri di ambang pintu menghadang mereka.
Anak laki-laki itu berpakaian seperti biksu, lengkap dengan tongkat dan manik-manik. Berdiri tenang menghadap semua orang yang mendadak beku seiring kemunculannya. "Tidak ada yang perlu dilakukan," katanya tanpa ekspresi. "Tidak ada dewa yang akan turun!"
"Kau jelas belum mengerti apa-apa!" Seorang pria tua berteriak seraya menudingkan telunjuk ke arah anak laki-laki berkepala botak yang disebut-sebut sebagai calon Ksatria Pilar Dewa itu dengan sikap mencela.
Jingwei hanya menoleh ke arah pria tua itu, dan seluruh tempat mendadak dihempas angin kencang yang membuat semua langsung terdiam.
"Tuan sedang menjalankan formasi besar," Jingwei memberitahu, kemudian berbalik dan kembali ke tempatnya. Bersamaan dengan itu, pintu ganda di belakangnya serentak menutup dan menyentakkan semua orang.
"Formasi besar?" Seorang biksu tua mengerutkan keningnya. Sejumlah biksu lainnya menggumam di pelataran.
Para penduduk menatap mereka dengan sorot menuntut.
"Formasi besar hanya dilakukan untuk satu hal," salah satu biksu tetua memberitahu mereka. "Mengirim monster keluar atau kembali ke Rimba Ilahi."
"Aku akan memeriksanya!" Seorang ninja dari kelompok pengawal bayangan menawarkan diri. Lalu menghilang dalam sekejap.
Sesampainya di perbatasan wilayah Sekte Bao dan Sekte Majusi, ninja itu mengendap diam-diam di dahan pohon, mengawasi desa di lembah dari tempat tersembunyi.
Sejumlah ninja lainnya melesat seringan tiupan angin di beberapa tempat tersembunyi lainnya.
Mereka bukan klan Liu, pikir pengawal bayangan itu. Kemudian melirik pelat yang menggelantung di ikat pinggang salah satu ninja. Aliansi Ksatria! geramnya dalam hati.
Ninja dengan pelat Aliansi Ksatria itu menggerak-gerakkan tangannya memberikan sejumlah instruksi dalam bahasa isyarat.
Pengawal bayangan itu mengikuti mereka diam-diam. Kemudian sampai di tempat persembunyian yang paling dekat dengan posisi Shen Zhu. Ia mengawasi para ninja itu dengan waspada. Tapi sampai sejauh ini, mereka juga hanya diam dan mengamati.
Sosok raksasa yang lebih dikenal dalam istilah proyeksi dewa itu masih memainkan seruling yang membuat siapa pun yang mendengarnya terhipnotis.
Di sekelilingnya, monster-monster serigala mengendap naik dari permukaan tanah dalam lilitan rantai yang melecut-lecut seperti selendang, melayang ringan seperti mengambang di dalam air.
Satu per satu monster-monster itu menguap dan hanya menyisakan asap gelap.
__ADS_1
Ninja dengan pelat Aliansi Ksatria mengerakkan tangannya lagi, lalu secara serentak semua ninja yang dipimpinnya berbalik meninggalkan tempat itu.
Divisi mata-mata! Pengawal bayangan dari klan Liu itu menyimpulkan. Lalu memutuskan untuk membuntuti mereka.