
"Aku tak layak mengundang Putra Mahkota Langit yang mulia," gumam singa berkepala manusia itu seraya menghentikan langkahnya di teras kuil. "Apa yang kalian dengar hanya pesan suara."
"Putra Mahkota Langit?" Semua orang di belakangnya menggumam bersamaan.
"Benar," singa itu menoleh ke belakang, memandang semua orang dengan tatapan teduh yang berwibawa. "Teman kalian adalah Kaisar Dewa di masa depan. Kaisar Langit yang maha tinggi!"
Semua orang menanggapinya dengan gumaman takjub. Terutama Jialin.
"Jangan khawatir," singa itu melanjutkan langkahnya. "Selama aku di sini, aku bisa membantu kalian menyampaikan pesan."
Jialin berlanting gembira.
Tiao dan Lim Hua membeliak sebal.
"Apa yang kau harapkan?" bisik Tiao bernada mencemooh. "Mengirim pesan pada dewa membutuhkan formasi besar. Kau kira bisa digunakan untuk mengirim surat cinta?"
"Kau—" Jialin menggertakkan giginya dan menginjak punggung kaki Tiao diam-diam.
Tiao meringis dan mengetatkan rahang.
"Urus saja dirimu sendiri!" bisik Jialin bernada geram.
"Dan satu hal lagi," singa berkepala manusia itu menambahkan sebelum masuk ke dalam kuil. "Panggil aku Shouhu!"
"Shouhu!" Semua orang yang mengikutinya serentak membungkuk memberikan salam soja.
"Sekarang jangan menggangguku!" sergah Shouhu tanpa menoleh. "Aku harus bermeditasi."
Semua orang membungkuk sekali lagi, kemudian menutup pintu kuil.
Sementara itu…
Di depan gerbang Markas Besar Aliansi Ksatria, ledakan pertempuran sudah membuncah sejak Long Qiuyun kembali.
"Tak peduli apakah dia cucuku, siapa pun yang memberontak harus ditangkap!" geram Ketua Aliansi.
Berondongan anak panah menghujan dari puncak benteng.
Ledakan meriam berdentum-dentum di luar benteng.
Pekik-jerit para tentara kekaisaran yang terluka menggema di antara hardikan-hardikan kasar dan teriakan semangat tentara lain yang masih bertahan.
"Lindungi Kaisar!" teriak lantang seorang jenderal.
Satu legiun tentara menyisakan enam divisi yang kewalahan.
Sekelompok tentara berkutat di depan gerbang dengan sebuah alat berat untuk mendobrak pertahanan. Di sekeliling mereka, sejumlah tentara menggeliat-geliut dalam pertarungan satu lawan satu atau bergerombol.
Peri merpati yang berperan sebagai pembawa pesan kembali ke Sekte Liu untuk meminta bantuan.
__ADS_1
"Divisi prajurit berangkat! Kelompok Sicarii bersiap-siap!" instruksi Yanxi mewakili tugas Liu Tang.
Divisi prajurit dari gabungan keempat sekte yang telah dilatih para Sicarii serentak bergegas dan bersiap-siap. Lalu berkumpul di pekarangan.
Qianxi dan Li Qinfeng memimpin pasukan itu.
Bersamaan dengan itu, di Kota Pangkalan, ratusan tunggangan spiritual tiba-tiba menyerang.
"Apa yang terjadi?" para ksatria berteriak panik di sana-sini.
"Dari mana datangnya binatang-binatang ini?"
"Mereka bukan klan iblis!" teriak beberapa orang. "Mereka semua dari Tanah Perjanjian Darah!"
Balas dendam yang manis! pikir Liu Tang seraya tersenyum diam-diam. Aku akan membantu kalian.
Tapi seseorang meniup terompet perang.
Celaka! pikir Liu Tang. Terompet perang itu bisa memancing klan iblis. Hanya dia yang tahu rahasia itu. Para ksatria penjaga menara tidak mengetahuinya.
Liu Tang bergegas ke barak anak buahnya, kemudian mengumpulkan semua anggota rahasianya dan menyebarkan perintah terselubung melalui kalimat sandi yang hanya dimengerti oleh pasukan khusus.
"Kenakan perangkat suci!"
Di luar sana, di tiap sudut dalam benteng pertahanan, pertempuran sudah bergolak.
Liu Tang tersenyum miring, kemudian melesat ke tepi benteng.
Bukankah itu terdengar seperti bunuh diri?
Beruntung Liu Tang mengetahui rahasia lainnya, tunggangan spiritual dari klan dewa dilengkapi kebajikan dan pengertian untuk menilai hati. Sedikit aura ketulusan bisa membuat mereka memihak. Jadi Liu Tang memilih melawan klan iblis.
Para ksatria itu akan habis dengan sendirinya tanpa harus repot-repot menyelinap diam-diam di belakang mereka dan menunggu kesempatan untuk menghabisi mereka tanpa dicurigai seperti biasa.
Celakanya, terompet perang juga tak hanya memancing klan iblis, tapi juga mengirimkan sinyal pada semua orang di seluruh benua yang terdaftar di aliansi ksatria sebagai pasukan bantuan melalui Rune Perjanjian Aliansi Ksatria.
"Seseorang harus menyelinap keluar," bisik salah satu mata-mata yang menyamar sebagai ksatria. "Seseorang harus membawa kabar ke Sekte Liu."
"Tidak perlu," tukas Liu Tang balas berbisik. "Beberapa anggota baru memiliki Rune Perjanjian Aliansi Ksatria."
Tepat pada saat itu, rune perjanjian di punggung tangan Tiao dan yang lainnya menyala serentak.
Tapi sayangnya mereka tidak mengerti situasi yang sebenarnya. Hanya tahu bahwa di Kota Pangkalan juga pertempuran sedang berlangsung.
"Tampaknya Langit membantu Jiangnan," komentar Shi Tan.
Tiba-tiba saja pintu Kuil Zainan berderak membuka. Shouhu menerjang keluar dan mengaum di beranda. "Ada yang salah dengan Benua Xuang!" teriaknya setelah mengaum.
Semua orang serentak menghambur ke pekarangan kuil.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" teriak Jyu Jieru.
"Perang besar!" jawab singa berkepala manusia itu bernada gusar.
"Dan apa artinya itu?" tanya Jialin tak mengerti.
"Seluruh benua akan berperang!" jelas Shouhu setengah menghardik.
"Apa?" Pekik semua orang bersamaan.
Lalu semuanya bergegas ke barak mereka masing-masing, mengenakan pakaian perang, menyiapkan senjata dan berkumpul di pekarangan dengan membawa tunggangan masing-masing.
"Semuanya berangkat ke ibukota," instruksi Yanxi. "Atur formasi paling aman."
Semua orang menegang dengan perasaan tak tenang. Membayangkan perang satu benua membuat mereka tak bisa berpikir jernih.
"Strategi yang biasa tampaknya takkan berhasil," gumam Shi Tan tak yakin. "Seluruh ksatria dari seluruh penjuru benua akan berkumpul di Jiangnan. Aku tak bahkan tak bisa membayangkan situasinya."
"Benar!" sela Lim Hua. "Ada baiknya kita siapkan strategi dulu. Kali ini jangan gegabah."
"Aku mengerti," Yanxi mendesah pendek. "Kalau begitu, semua pemimpin pasukan berkumpul di aula."
"Shouhu!" Jyu Jieru membungkuk ke arah singa berkepala manusia yang bertengger di teras kuil. "Mohon buat formasi besar untuk menghubungi Dewa Zhu."
"Baiklah," singa itu berbalik dan kembali ke dalam kuil.
Beberapa ahli kitab mengekor di belakangnya.
Singa itu meniti tangga menuju altar, kemudian menjejakkan satu kakinya di lantai sembari mengaum nyaring ke arah langit.
Kuil itu langsung berguncang dan bergemuruh.
Lingkaran sihir membuncah dari lantai.
Tapi singa itu malah menghilang.
"Apa yang terjadi?" Semua orang di dalam kuil terpekik bersamaan.
Dan sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, seorang pemuda berpakaian biksu muncul di tengah-tengah lingkaran sihir itu. Duduk bersila dalam posisi lotus, mengambang beberapa kaki di atas lantai. Tapi kepalanya tidak botak. Rambutnya panjang terurai hingga ke pinggang. Wajahnya lancip seperti Shen Zhu.
"Dia…" Jieru membeku dengan mata terpicing. "Siapa…?"
Tiba-tiba kubah di atas lingkaran itu terbuka, cahaya terang keemasan memancar dari langit.
"Ksatria Pilar Dewa!" seru seseorang.
"Bagaimana mungkin?" pekik semua orang.
"Mana ada orang tumbuh dewasa dalam hitungan hari?" gumam ahli kitab dari Sekte Majusi.
__ADS_1
"Aku ingat dia mengatakan satu hari di Dunia Manusia, seribu hari di Dunia Bawah!" seru seorang gadis dari Sekte Shu.