
Gadis itu berusia kira-kira tiga belas tahun, memiliki wajah mungil dengan hidung lancip dan bibir tipis. Mata rubahnya memberikan tampilan mata seorang pemburu padang belantara yang biasa digunakan untuk meneropong jauh ke medan gelap. Rahangnya yang tinggi menegaskan wajah kokoh yang pantang menyerah. Proporsi tubuhnya terlihat keras dan lentur. Semua itu menggambarkan kekuatannya sebagai seorang petarung yang patut diperhitungkan di medan laga.
Bisa dikatakan… sangat mematikan!
Rambutnya yang hitam mengkilat selurus penggaris tergerai hingga melewati paha, melecut lembut seperti jubah.
Baju jirahnya terbuat dari baja hitam. Sepatu armor selutut, pelindung tangan, pelindung dada, ikat pinggang dan pelindung bahu yang mencuat di bagian ujungnya seperti telinga kucing, melekat pas di tubuh langsingnya yang membuat iri para wanita. Semuanya terbuat dari baja hitam dengan ukuran rumit yang tampak memukau seperti bukan berasal dari alam manusia.
Semua orang sekarang menatap gadis itu dengan tertegun, memberikan pandangan antara bingung dan kagum. Beberapa bahkan terkesiap.
Para wanita bergelimpangan di sana-sini ketika semakin banyak orang yang datang dan berkerumun seraya menggumam rendah seperti lebah yang sedang gelisah. Wajah-wajah mereka terlihat bingung dan penasaran.
"Mereka mengganggu rekanku!" geram gadis misterius itu sambil mengedar pandang memelototi para wanita yang bergeliat-geliut di lantai, berusaha menarik bangkit tubuh mereka sambil mengerang kesakitan.
"Apa kau salah satu peserta Ujian Ksatria?" tanya salah satu ksatria patroli pada gadis misterius itu.
"Aku Ksatria Pengawal," jawab gadis itu tanpa ekspresi.
Dan setengah dari kerumunan itu terpekik bersamaan.
Ksatria Pengawal adalah ksatria yang memiliki perjanjian darah dengan Ksatria Master. Mereka adalah perisai yang kokoh. Merupakan rekan yang sangat setia. Selamanya akan berjaga di sisi ksatria master. Jika majikannya dalam bahaya, Ksatria Pengawal akan mengorbankan dirinya. Jika majikannya mati, Ksatria Pengawal akan ikut mati. Tapi jika Ksatria Pengawal mati, Ksatria Master tak ikut mati.
Tentu saja Ksatria Master yang memiliki Ksatria Pengawal bukan orang yang bisa disinggung!
Ksatria Pengawal semuda ini? pikir kepala pasukan ksatria patroli tak percaya. Keliatannya baru berusia dua atau tiga belas tahun.
Shen Zhu tak pernah menjalin perjanjian darah dengan Ksatria Pengawal, pikir Bao Yu merasa tergelitik. Jangan-jangan gadis kecil ini kekasihnya?
"Omong kosong!" Seorang wanita menginterupsi. "Apa kau bisa membuktikan kalau kau Ksatria Pengawal?"
Gadis itu menoleh ke arah wanita yang berteriak itu dan seketika dahinya menyala memunculkan simbol perjanjian darah berpola sama persis seperti milik Shen Zhu.
Para ksatria patroli serentak membungkuk dengan hormat tentara. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya!"
Wanita yang berteriak tadi terperangah dengan raut wajah tak puas.
Bao Yu menatap tanda di dahi gadis itu dengan mata terpicing. Kenapa simbol itu terlihat seperti simbol perjanjian darah milik Xiao Mao? pikirnya.
Tak banyak orang yang mengerti arti simbol di dahi gadis itu. Hanya para ksatria yang telah resmi tergabung dalam Aliansi Ksatria yang memahaminya.
Dan itu sudah semacam pelat khusus atau lencana seseorang yang tidak boleh disinggung, atau dekret kaisar yang tidak dapat diganggu gugat.
__ADS_1
Para ksatria patroli itu tidak berdaya.
Tampaknya aku harus lebih banyak bicara dengan anak nakal itu, pikir Bao Yu. Lalu bergegas menuju kamar Shen Zhu diikuti Bao Yuwen dan murid-murid mereka.
Bocah Tengik! geram Bao Yu dalam hati. Sebaiknya kau punya jawaban bagus!
Kerumunan berangsur-angsur mulai memudar. Gadis misterius itu menghilang entah ke mana.
Para ksatria tidak merasa heran. Bagaimanapun Ksatria Pengawal memang tidak ada bedanya dengan Pengawal Bayangan. Tak boleh mengekspos diri kecuali situasinya benar-benar mendesak.
Kemunculan Ksatria Pengawal di tengah keramaian itu pasti tak sederhana, pikir mereka.
"Cari tahu apa yang dilakukan para wanita itu sebelum Ksatria Pengawal itu mucul!" instruksi kepala pasukan ksatria patroli.
Para ksatria patroli itu membungkuk serempak dengan hormat tentara. Lalu berpencar dan mulai menginterogasi para wanita tadi satu per satu dengan cara terpisah.
Tak sampai satu dupa, kabar itu akhirnya sampai di Meja Ketua. Lalu menjalar ke Meja Kaisar.
"Awasi anak laki-laki itu!" Perintah kedua penguasa itu dari dua tempat yang berbeda.
"Jangan pernah bocorkan informasi apa pun tentang peserta nomor tujuh-tujuh ini keluar!" Ketua Aliansi memperingatkan.
"Baik!" Para ksatria membungkuk serempak dengan hormat tentara.
Kamar itu dicekam ketenangan gaib.
Shen Zhu duduk terpuruk menyandarkan punggungnya ke daun pintu dengan napas tersengal.
Kucing kecilnya melompat dari jendela dan mendarat di lantai.
"Xiao Mao, kau dari mana?" tanya Shen Zhu dengan dahi berkerut-kerut.
Kucing itu menanggapinya dengan mengeong pelan dan mendongak. Matanya mengerjap dengan ekspresi lugu dan sedikit memelas.
Shen Zhu meraup kucingnya dari lantai dan mengusap-usap kepalanya sambil tersenyum penuh rasa sayang. "Dasar rakus," katanya pura-pura marah. "Kau baru makan beberapa jam yang lalu. Kenapa sudah ribut makan lagi?"
Shen Zhu baru saja meletakkan kucingnya di atas meja di sisi kepala tempat tidurnya ketika pintu kamarnya digedor dari luar.
Shen Zhu tersentak dan gelagapan. Mendadak khawatir para wanita tadi mengejarnya sampai ke sini. Dengan cepat ia menghambur ke arah pintu dan menahan pintu itu dengan bahunya.
"Shen Zhu!"
__ADS_1
"Adik!"
Ternyata suara guru dan kakak-kakak seperguruannya.
Shen Zhu mendesah pendek dan membukakan pintu. Lalu membungkuk pada gurunya memberikan salam soja. "Guru!" sapanya dengan sopan.
"Halo, Imut!" Lim Hua melongok dari balik bahu gurunya sambil cengengesan. Adik-adik seperguruannya tergelak menanggapinya.
Shen Zhu mengerang sambil memutar-mutar bola matanya.
Bao Yu melangkah ke dalam dan mengerjap mendapati Xiao Mao sudah bertengger di meja dalam ruangan.
Kucing itu mendongak menatap Bao Yu dan menelengkan kepalanya sedikit.
Bao Yuwen muncul di belakang Bao Yu, diikuti Jialin dan Jiangwu.
Shen Zhu membungkuk ke arah guru wanita itu.
Bao Yu mendesah berat dan menggeleng-geleng. Kemudian menjatuhkan dirinya di depan meja rendah di tengah ruangan. Wajahnya berkerut-kerut khawatir.
Shen Zhu menghampiri gurunya dan memijat bahu pria itu dengan riang. "Guru, kenapa tidak beristirahat?" katanya. "Guru terlihat begitu lelah."
Xiao Mao melompat dari meja dan menghambur ke arah mereka, kemudian memanjat punggung Bao Yu dengan bersemangat dan ikut memijat bahu Bao Yu seperti biasa. Lebih terlihat seperti mencakar-cakar daripada memijat.
Seisi ruangan tergelak melihat kucing itu.
Bao Yu mengamati kucing itu melalui sudut matanya. Lalu tercenung dalam waktu yang lama. Siapa kau sebenarnya? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah gadis tadi benar-benar Xiao Mao?
Kucing macam apa yang bisa berubah bentuk menjadi manusia? pikirnya frustrasi.
Bahkan jika dia monster dewa!
Tidak ada monster yang bisa berubah bentuk menjadi manusia.
Hanya dewa yang bisa berubah bentuk menjadi manusia maupun monster. Tapi monster dewa tetaplah seekor monster.
Kecuali… sebaliknya.
Dewa yang berubah bentuk menjadi monster.
Bao Yu mengerjap dan menoleh pada Xiao Mao.
__ADS_1
Kucing itu menelengkan kepalanya seolah sedang tersenyum.
Kau bukan monster dewa! ia menyadari. Bukan pusaka dewa!