
"Gaes...kalo gue pindah ke apartemen yang di kasih Papaku gimana?" tanya Keira lirih.
Krik..krik..krik...
Hening seketika. Dan tak lama...
"WHAAATTT??? WHYYY???" Beth berteriak lantang sambil tiba-tiba berdiri dari kursi rotan yang di dudukinya sedari tadi. Telapak tangannya terlihat menempel d kedua pipinya dengan mulut yang menganga saaaangaaattt lebar.
"HHhhhh..." Keira menghela nafasnya agak berat. Ia refleks memegang keningnya. Sudah bisa dia duga, Beth adalah orang yang paling shock ketika mendengar pernyataannya itu.
Karena Beth pun yang paling bahagia ketika Keira memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kosong di rumah Beth.
Dengan cekatan Said menepuk-nepuk kedua bahu Beth sambil sedikit memijat-mijatnya lalu membimbing gadis berambut keriting itu supaya kembali duduk tenang seperti sedia kala.
Untungnya Beth menurut saja, namun ekspresi terkejut campur heran masih belum hilang dari wajahnya yang bulat.
"Alasannya?" tanya Vynt kalem, kembali ke mode cool bin maskulinnya yang biasa.
Mungkin pemuda itu sudah menyerah mencoba mode kocak dan lebih menerima kenyataan bahwa author novel ini memang menciptakannya untuk berperan dengan karakter super cool seperti karakter tokoh-tokoh utama di drama Korea yang biasanya menjabat sebagai CEO kaya raya.
"Pertama..." Keira memulai. "Biaya perawatan apartemen kan mahal, dan ada pajak yang tetep kudu dibayar walaupun apartemen itu gak ditempatin. Kalo aku biarin kosong rasanya mubadzir banget. Mending aku huni aja. Jadi aku bisa sedikit menghemat, gak dobel-dobel bayar sini sama bayar sana." Keira memberi jeda sejenak.
"Kedua...kan nyokap lo pernah bilang sendiri Beth, kalo adek lo mau nerusin kuliah di kota ini juga. Jadi biar kamar yang awalnya gue pake bisa jadi kamar buat adek lo nanti kalo dia udah pulang kesini." jelas Keira panjang tanpa melebar.
Sejak Mamanya Beth---Tante Maria, pernah menyinggung soal itu disuatu malam ketika Tante Maria yang tumben-tumbennya pulang kerja lebih cepat, Keira memang langsung mulai merencanakan untuk mencari tempat kos yang baru.
Dan entah mendapat bisikan dari siapa, seolah-olah Papanya itu mengerti kebutuhannya hingga menawarkan kesepakatan yang hari ini telah diterima Keira dengan berat hati.
Beth dan Said cuman manggut-manggut mendengar penuturan Keira, entah apa yang mereka pikirkan dalam benak masing-masing. sementara Vynt terlihat berpikir dengan sebelah tangan menopang dagunya.
"Tapi deposito atas nama lo ini juga gak sedikit lho, Kei." ujar Vynt mengingatkan. "Harusnya lo gak usah mikirin soal biaya perawatan lagi dengan nominal segede itu." tambah Vynt.
"Iyaaa..tauu...tapi gak mungkin juga kan gue langsung hambur-hamburin gitu aja, Vynt. Biarin itu jadi tabungan masa depan gue. Pasti bakal gue pake kok kalo gue bener-bener butuh urgent." jabar Keira serius.
Vynt tersenyum lega sekaligus puas mendengar jawaban demi jawaban Keira. Dia memang sudah tahu jika gadis itu selalu bisa berpikir jauh lebih dewasa dari pada usianya yang sebenarnya.
"Trus kapan rencana lo mau pindah?" tanya Beth pasrah. Walaupun berat tapi kedua alasan Keira tadi memang masuk akal.
"Naaahh, itu yang gue juga belum tau." jawab Keira sambil mengedikkan bahunya pelan.
_______________________________
@Pakubumi Apartemen
Keira melongo melihat bangunan gedung apartemen calon tempat tinggal barunya. Dirinya tak menyangka Papanya akan menghibahinya satu unit hunian di kawasan yang baginya mewah itu.
__ADS_1
Beth pun tak kalah terkesima dengan penampakan luar gedung apartemen itu. Sampai-sampai mulutnya membentuk huruf O besar saat matanya menyusuri stiap bagian gedung hingga ke titik teratas.
"Busyeetttt tinggi banget, Kei. Sampe gak keliatan gentengnya." seru Beth polos sambil memicingkan mata karena silau terkena cahaya matahari saat mendongakkan kepalanya semakin ke atas.
Said yang sedari tadi sibuk komat kamit mengunyah permen karet langsung mendorong kening Beth dengan telunjuknya.
"Yakalik gedung apartemen punya genteng, yang ada Rooftop wooyy...ROOFTOP!" terangnya membalas kepolosan Beth.
"Woleess napaaaa!!! Ya meneketehe kalo kagak ada gentengnya, orang gue juga gak ikutan nguli waktu ini dibangun." Beth tak mau kalah.
"Makanya jangan sotooyyy!" timpal Said lagi.
"Gue gak sotoyy, cooyyy. Cuman kurang updet dikiittt emang masalah buat lo?!" Beth mencebik tidak terima.
"Isshh, gue remet-remet juga tuh mulut." Said makin gemas pada Beth yang memonyong-monyongkan bibirnya.
Keira hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah melihat tingkah kedua temannya itu.
"Udah..udah masuk yuk. Keburu sore nih kita." ajak Keira membuyarkan perang mulut antara Beth dan Said.
"Vynt kemana kok gak ngampus tadi?" tanya Keira pada Said yang berjalan paling belakang diantara dirinya dan Beth.
"Katanya tadi ada urusan sih, tapi gak ngomong juga ke gue urusan apaan." jawab Said santai dengan mulut yang lagi-lagi komat kamit mengunyah permen karetnya yang entah sudah ke berapa.
Ketiganya akan melihat-lihat isi apartemen Keira untuk menentukan apa saja yang mungkin dibutuhkan gadis itu sebelum pindah.
"212". Jawab Keira singkat. Dipencetnya angka dua pada salah satu tombol yang berjajar di dinding bagian dalam lift sebagai lantai tujuan mereka bertiga.
"Kamarnya Wiro Sableng donk. Hehee" Beth kembali berceloteh sambil meringis memamerkan deretan giginya yang putih.
Keira cekikikan mendengar celotehan Beth. Hatinya cukup lega mendengar temannya itu seperti sudah melupakan kegundahannya tentang rencana kepindahan Keira dari rumahnya.
Sementara Said memilih bungkam tidak peduli pada ocehan Beth dan hanya memutar bola matanya jengah.
πTING!!!
Terdengar bunyi dentingan di dalam lift yang menandakan bahwa kotak bergerak itu sudah tiba pada lantai yang mereka tuju. Keira dan teman-temannya segera keluar dari lift saat pintu geser itu terbuka.
Tanpa dikomando, Said dan Beth mulai celingukan mencari pintu dengan tulisan nomor dua satu dua seperti yang disebutkan Keira tadi sebagai nomor unit kamar miliknya.
Ternyata mudah saja mencarinya karena kamar itu tak jauh dari lift lantai tersebut. Hanya selisih satu kamar saja dari sisi kanan pintu lift karena memang hanya terdapat delapan unit dalam setiap satu lantai gedung.
Empat unit di sisi kanan lift dan empat unit lainnya di sisi kiri pintu lift yang masing-masing unit saling berhadapan dua-dua. Benar-benar eksklusif.
"Bener yang ini, Kei?" tanya Said ragu. Kepalanya masih menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan.
__ADS_1
"Kayanya bener deh, coba aku masukin Card access system-nya dulu, kalo pintunya kebuka berarti gak salah." ujar Keira.
"Dari dulu kalo gak salah berarti bener, Kei." gurau Beth lagi.
Belum sempat Keira memasukkan kartu yang ditengarai sebagai pengganti kunci itu pada lubang tipis yang berada tepat di atas handle pegangan pintu tiba-tiba terdengar suara pip-pip-pip dari unit sebelah yang disusul dengan suara pintu terbuka.
πͺCKLEK!
Sekonyong-koyong sebuah kepala yang tak asing melongok keluar dari pintu kamar sebelah yang baru saja terbuka itu.
"Yo!" sapa seseorang dengan suara khas yang sangat ketiganya kenal.
"VYNT??!!" koor Keira, Beth dan Said kompak.
GLEG...uhuk..uhuk..uhukkk...
"Sialan, permen karet gue ketelen!" Said misah-misuh.
"Hahahahahaha." tawa Beth langsung berderai ketika melihat kesialan Said itu.
Said pun langsung mendelik tajam pada gadis itu, namun Beth cuek saja dan terus menikmati tawanya.
"ELO NGAPAIN DISINI??!! tanya Said lantang pada Vynt yang menganggapnya sebagai penyebab kesialannya barusan.
Vynt tersenyum lalu mengeluarkan seluruh anggota badannya dari pintu kamar sebelah.
Disandarkannya sebelah pundak pada daun pintu yang sudah tertutup itu sambil memasukkan kedua tangannya pada kantong saku celana panjang abu-abunya. Berdiri santai menumpu pada satu kaki sementara satu kaki lainnya disilangkan.
"Kenalin...gue tetangga sebelah Keira yang baru." ucapnya enteng.
To Be Continue...
.
.
.
.
Waahh, ada apa niicchh koQ si Vynt tau-tau nongol di apartement Keira???
Adakah maksud terselubung???
We'll see, readers tersayaanngg....
__ADS_1
MAKASII BANYAK buat yang dah Like, moga lancar rejeki & sehat selalu πππ
Like kalian tuh sukseess bkin hatiQ berbunga-bunga ππππ