Replacement Lover

Replacement Lover
Vynt Story : TIDAK TERIMA


__ADS_3

@Aparthotel SOMERSET


Vynt menyampirkan mantelnya di sandaran sofa tanpa tenaga. Sejak pulang dari flat milik Fady ia jadi terus kepikiran senior pembimbingnya itu.


Wanita itu entah kenapa tampak begitu kuat di hadapannya dan di hadapan orang lain, tetapi tiba-tiba saja jadi berubah lemah di hadapan kekasihnya sendiri.


Seperti orang bodoh. Pikir Vynt.


Vynt menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan begitu saja. Entah kenapa ia begitu kesal memikirkan kejadian yang dialami Fady tadi. ‌


Vynt sangat marah saat melihat Fady dilempar keluar dari mobil pacarnya, tapi Vynt sadar ia hanyalah orang luar dalam hubungan mereka. Ia tak berhak ikut campur.


Vynt menyandarkan kepalanya ke belakang. Wajahnya terdongak ke atas menatap langit-langit apartemennya. Ia lelah, tapi bukan karena aktivitas magangnya seharian ini. Ia lelah karena emosinya berpacu memenuhi rongga dadanya. Membuatnya sesak luar biasa.


Dalam keheningan kamarnya, tiba-tiba Vynt dikejutkan oleh dering telepon dari ponselnya. Vynt yang mengira itu adalah telepon dari Hyung Jun-nya pun dengan malas dan menarik ponselnya dari dalam saku mantel secara perlahan.


Namun ternyata itu adalah panggilan video call dari nomor kontak Beth. Mengetahui hal itu, Vynt buru-buru menjawabnya.


📱VYNT DAE-HO


Halo Beth


📱BETHSA PUTRY


Vyyynnnttttt


Seketika Vynt melihat wajah Said, Beth dan Keira langsung kompak berjubel di depan layar ponsel milik Beth itu.


Vynt tertawa geli melihat tingkah ketiga sahabatnya dari layar ponsel. Dan merasa lega kala melihat wajah Keira yang turut nongol dalam video call ini. Itu artinya Keira sudah berani menghadapi Beth dan Said.


📱VYNT DAE-HO


Heii Bumil, dah balik lo? Sialan lo ninggalin gue sendirian waktu di klinik!


Vynt yang mendadak ingat bahwa dirinya dulu ditinggalkan seorang diri oleh Keira di klinik kandungan jadi kembali sewot dibuatnya.


"Elo tuh yang pengkhianat, salah sendiri!" balas Keira tak kalah sewotnya mengingat pengkhianatan Vynt yang ternyata lebih memilih berkomplot dengan Tyo.


📱VYNT DAE-HO


Laki lo mana?


Beth pun langsung mengarahkan layar ponselnya agar kamera depannya bisa menyorot ke arah Tyo yang sedang duduk di sebelah Keira.


📱BETHSA PUTRY


Iniiihh!!!


Tyo yang sedang menikmati kopinya spontan menoleh ke layar ponsel Beth yang mengarah padanya. "Heh, Bocah! Awas lo ya, ntar pulang magang gue bikin perhitungan sama lo!" Tyo tiba-tiba mengancam Vynt.


📱VYNT DAE-HO


Set dah, apa salah hamba?


"Elo kan yang bilang ke Keira kalo gue Bos Mafia!" tuduh Tyo langsung.


Seketika suasana dari seberang telepon sana menjadi riuh. Kecuali Tyo, semuanya tertawa terbahak termasuk Vynt sendiri.


📱VYNT DAE-HO


Hehehe, iya-iya sorry-sorry! By the way, tuh bumil ketemu dimana kemaren?


"Di Jogja," jawab Tyo singkat sambil melengos menyembunyikan rasa kesalnya.


📱VYNT DAE-HO


Wuidiiiihh, niat banget lo kaburnya Kei, pake ke Jogja segala?!


"Apaan sih, orang gue beli tiket Go-Show seadanya aja kok," ujar Keira terus terang.


📱VYNT DAE-HO

__ADS_1


Tapi gue udah lega sekarang. Karena lo dah ketemu. Jangan kabur lagi! Kesian Tyo, kesian anak lo juga ntar!


"Iyaa!" jawab Keira memutar bola matanya pura-pura jengah.


Lalu Said mengambil alih ponsel Beth untuk berbincang dengan Vynt via video call itu. Dan Vynt yang sedang membutuhkan pengalihan pikiran pun menikmati obrolannya dengan Said yang sudah cukup lama tak dilakukannya.


***


Meski semalam ia sempat melupakan pengalaman buruknya dengan Adent karena baper oleh ketulusan dan perhatian Vynt.


Tapi pagi ini seolah semua kenyataan pahit itu kembali terulang di otak Fady. Ia teringat kembali kejadian di dalam mobil Adent semalam, ketika ia mencoba memancing kejujuran Adent dengan menanyakan keberadaan pria itu saat tanpa sengaja ia melihat perselingkuhan Adent di hotel.


"Kemaren kamu kemana, Yang? Kok enggak jemput aku, trus aku chat juga enggak kamu baca. Aku telepon, enggak nyambung. Kenapa?"


Padahal Fady bertanya dengan intonasi yang rendah, tenang, bahkan cenderung datar demi mengkondusifkan situasi. Tapi nyatanya Adent malah langsung menjawab dengan kasar dan intonasi yang tinggi.


"Jangan tanya-tanya begitulah! Aku enggak suka! Kesannya kamu sekarang posesif sama aku. Aku enggak mau ya dikit-dikit diinterogasi. Apalagi sama kamu!" balas Adent nyolot.


"Maaf, Yang. Aku enggak ada maksud nyinggung kamu, aku cuman khawatir aja tiap kamu enggak bisa dihubungi gitu," Fady mencoba memberikan alasan.


"Hallaahhh, bullshit! Kamu tahu enggak, kamu itu lebih sibuk dari aku, ngapain kamu ngurusin jadwalku yang enggak seberapa ini. Kalo aku enggak bisa dihubungi, ya udah... berarti aku di rumah dan lagi tidur. Anggep aja ponselku mati karena lobet. Beres kan!" Adent bersungut-sungut.


"Ya enggak bisa gitu dong, Yang," balas Fady cepat. Namun ketika ia hendak berkata lagi, Adent tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.


"Enggak bisa gimana? Kamu enggak terima kalau enggak bisa terus-terusan mantau aku, ngatur-ngatur aku, gitu? Hahh?" Adent makin emosi.


"Yang mau ngatur-ngatur kamu juga siapa? Aku kan cuman tanya, kok kamu jadi marah-marah gini sih? Aku kemarin kaya ngeliat kamu di Hotel Sathorn, makanya aku bermaksud nanyain baik-baik. Apa kamu emang beneran kesana?"


"Emang yaa kamu tuh paling pinter balesin omongan, paling pinter segala-galanya lebih dari pada aku. Makanya kerjaan kamu juga lebih mapan dari aku. Dan sekarang kamu mau fitnah aku gitu? Sok hebat banget kamu?" omongan Adent makin ngelantur.


Fady yang tak habis pikir hanya terdiam dengan ekspresi heran, tetapi di mata Adent, justru ekspresi Fady tampak merendahkannya. Dan itulah yang membuat Adent muntab hingga dengan tega menarik paksa Fady dari dalam mobilnya.


"Berani banget kamu ngeliat aku kaya' gitu! Udah lah, aku muak! Keluar kamu sekarang dari mobilku. Jangan hubungi aku dulu sampai aku yang hubungi kamu duluan. Selama itu kamu instrospeksi diri, koreksi itu sikap kamu yang sok tau dan sok segalanya. Perempuan itu harusnya nurut, bukannya sok paling bener kaya' kamu," maki Adent sambil berlalu meninggalkan Fady yang tersuruk seorang diri di pinggir jalan.


Saat itu, Fady bahkan belum sempat menunjukkan bukti foto yang telah didapatnya. Tapi nyatanya ia sudah seperti dibuang begitu saja oleh kekasihnya sendiri.


‌Fady sakit hati, tapi ia tak berdaya, ‌karena dalam hatinya ia masih sangat sayang pada Adent dan tidak ingin kehilangan pria itu. Lelaki yang baru dipacarinya selama enam bulan ini.


***


Dan sejak beberapa hari itu pula, perhatian Vynt seolah tersihir untuk sepenuhnya beralih pada Fady. Setiap gerak dan kegiatan Fady selalu diperhatikannya. Bahkan jika Fady hendak pulang, Vynt tidak serta merta langsung pulang begitu saja.


Ia bahkan mengkroscek Fady terlebih dulu apakah wanita itu pulang sendiri atau dijemput kekasihnya. Dan memang setelah malam itu, hampir setiap hari Fady pulang sendiri. Itu artinya wanita itu masih belum berbaikan dengan kekasihnya.


Dan hampir setiap hari pula Vynt menawarkan diri untuk mengantar seniornya itu tetapi tidak setiap hari Fady bersedia diantar pulang oleh Vynt. Wanita itu hanya mau diantarkan pulang oleh Vynt hanya jika Fady kehilangan alasan untuk menolak tawaran Vynt.


Hingga tiba saatnya hari eksekusi City Tour yang akan diikuti para pekerja di sebuah perusahaan dari Timor Leste sebagai tamu Tim Dua. Namun hari itu, tak biasanya Fady sedikit terlambat datang ke kantor.


Tapi karena keterlambatan Fady tidak mempengaruhi jadwal City Tour, alhasil tidak ada anggota Tim Dua lainnya yang terlalu mempermasalahkannya.


Sementara ‌Vynt sendiri menjadi heran atas keterlambatan Fady yang tak biasanya. Ia pun mulai berpikir yang tidak-tidak dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu.


"Tumben terlambat?" Vynt mencoba berbasa-basi.


Sayangnya Fady tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Vynt. Membuat Vynt menaikkan alisnya tanda curiga. Dan semakin Vynt memperhatikan wajah Fady, semakin ia sadar jika wanita itu lebih pucat daripada biasanya.


Apa dia sakit? tanya Vynt dalam hati.


Ketika mereka bekerja sama memasukkan beberapa barang ke dalam bagasi bus, tanpa sengaja Fady terpeleset. Untungnya Vynt dengan cepat menangkap pinggang Fady.


Namun, bukannya ekspresi kelegaan yang muncul di wajah seniornya, Vynt malah menangkap raut wajah Fady yang seakan sedang menahan sakit.


Kecurigaan dan rasa penasaran Vynt yang memuncak membuatnya nekat membopong tubuh Fady masuk kembali ke dalam gedung.


Fady yang meronta-ronta tak dihiraukan oleh Vynt. Teman-teman satu Tim Dua lainnya hanya bisa melongo melihat tingkah keduanya. Vynt terus melangkah membawa Fady hingga ke dalam ruang kesehatan di lantai dasar gedung ASTRO Tours.


Sesampainya di dalam ruang kesehatan itu, Vynt menurunkan Fady di ranjang single yang ada di sana dalam posisi miring. Lalu tanpa permisi ia langsung menyibak kaos yang dipakai Fady hingga bagian perut wanita itu terbuka.


"Vyyynntt! Apaan sih kamu?" teriak Fady kaget sekaligus malu.


Vynt mematung begitu ia melihat ada memar besar di pinggang bagian belakang Fady hingga kulitnya yang putih berubah membiru bercampur ungu. Rahang Vynt langsung mengeras seketika.

__ADS_1


"‌Siapa yang melakukan ini? Apa pacarmu yang brengsek itu?" Vynt yang saking geramnya hingga kedua tangannya terkepal.


Fady melongo melihat reaksi Vynt. Kenapa dia semarah ini? batinnya. Tapi Fady masih tidak terima jika Vynt mengatai Adent dengan sebutan brengsek.


"Atas dasar apa kamu menyebut pacarku brengsek? Kamu tidak berhak menyebutnya begitu!" balas Fady masih membela Adent.


Vynt mengernyitkan alisnya. Bisa-bisanya dia masih membela baj*ngan itu. Pikir Vynt tak percaya. Ia lalu mundur selangkah dari hadapan Fady lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Walaupun aku tidak berhak menyebutnya begitu tapi faktanya dia memang laki-laki brengsek," Vynt menekankan ucapannya. "Laki-laki yang baik tidak akan selingkuh apalagi sampai membuang pacarnya sendiri di tepi jalan. Dan setelah dia menyakitimu sampai seperti ini, kau masih saja membelanya. Apa kau BODOH?" teriak Vynt di depan Fady.


Fady kembali melongo setelah Vynt membeberkan fakta tentang keburukan Adent. Kok Vynt bisa tahu? Bagaimana bisa? Fady tak habis pikir. Dan ia juga terkejut saat mendengar Vynt menyebutnya 'Bodoh' dengan penekanan pada kata itu.


Namun, ia tak bisa membantahnya karena semua itu benar. Ia memang bodoh karena masih saja mencintai pria yang telah begitu banyak menyakitinya.


"‌Dia tidak sengaja Vynt, aku yang menerobos masuk ke rumahnya lalu aku terjatuh sendiri saat dia hanya mencoba menutup pintunya ketika melarangku masuk dan itu membuatku terbentur pegangan pintu pagar besi di depan rumahnya."


Fady mencoba beralibi. Tapi ia masih belum berani mengangkat kepalanya. Ia malu pada Vynt. Teramat malu sampai tak berani bertatap muka dengan pemuda itu.


‌Vynt lagi-lagi terdiam mendengar Fady yang masih mencoba menutup-nutupi kesalahan Adent, ia tak percaya pada Fady. Memangnya terbentur separah apa hingga menimbulkan bekas memar yang membiru campur ungu begini? Vynt bertanya-tanya sendiri.


Tiba-tiba Revi masuk untuk memanggil keduanya. "Hei kalian, ayo berangkat! Sudah waktunya jemput tamu-tamu dari bandara," kata Revi mengingatkan.


Bukannya mengiyakan peringatan Revi, Vynt malah menyuruh gadis itu untuk membantu merawat luka Fady.


"Haahh, lo luka di mananya, Fa?" tanya Revi bingung. Pasalnya ia melihat Fady dari tampak luar kelihatan baik-baik saja.


"Di pinggang belakangnya ada memar besar, tolong kamu obati, Rev," pinta Vynt dengan lebih jelas.


‌Ia lalu berbalik badan dan berjalan mendekati pesawat telepon yang ada di ruangan itu lalu menekan nomor line ke ruang HRD.


📞VYNT DAE-HO


‌"Mr. Seo, Fady cidera. Mohon izinkan dia untuk pulang lebih cepat. Soal City Tour hari ini biar saya dan teman-teman lain yang handle."


📞SEO KANG JUN


"OKE, Vynt. Terima kasih atas informasinya. Akan kutuliskan surat izin untuk Fady pulang cepat hari ini.


📞VYNT DAE-HO


"Terima kasih, Pak!"


📞SEO KANG JUN


"Oia, bawalah dua orang dari Tim Tiga bersama kalian sebagai tenaga bantuan. Mereka kebetulan sedang nganggur karena tamu-tamu mereka dari China entah kenapa dilarang masuk ke Thailand sementara ini tanpa peringatan lebih dulu dari pihak Imigrasi."


📞VYNT DAE-HO


"Baik, Pak!"


Ternyata tanpa koordinasi dengan Fady terlebih dulu, Vynt langsung memintakan izin atas nama Fady kepada HRD. Jelas saja Fady tidak terima Vynt bertindak secara sepihak, apalagi dia hanya anak magang.


"Kamu kok seenaknya gitu ngatur-ngatur pekerjaanku sih? Aku tidak mau pulang cepat! Aku mau tetap ikut City Tour!" Fady ngotot.


Lalu tanpa ia duga Vynt langsung berteriak, "LAKUKAN SAJA APA YANG KUKATAKAN DAN PULANGLAH!" perintah Vynt dengan marah.


Fady dan Revi yang ada di ruangan itu jadi terkejut dan takut. ‌Vynt menatap tajam pada Fady sejenak lalu keluar dari ruang kesehatan dengan emosi yang memuncak.


Di dalam toilet pria, Vynt yang baru saja menyeka wajahnya dengan air dingin masih saja merasa emosi. Ia lalu melampiaskannya dengan memukul tembok beberapa kali. "BRENGSEK! Sialan!" makinya kesal.


‌Entah kenapa ia bisa jadi begitu marah, padahal Fady hanya sekedar senior di tempat magangnya saja. Sekedar pembimbing sementaranya.


Hubungan mereka tidak terlalu dekat hingga dia sampai harus bersikap berlebihan saat mengetahui wanita itu terluka karena pria lain.


Vynt tidak mengerti akan perasaannya sendiri. Ia hanya benar-benar tidak terima seseorang melukai Fady hingga sedemikian parahnya. Ia sangat tidak terima.


To Be Continue...


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2