Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : CURHAT


__ADS_3

.


.


.


Selama tiga hari lamanya Beth terjebak dalam kegalauan di antara perasaannya terhadap Rizzi serta realita hidup yang nampaknya tak sedang berpihak padanya.


Gadis berparas imut dengan lesung pipi yang kini menghilang ditelan kegundahan itu tengah duduk di balik kubikelnya. Mencuatkan ekspresi sendu dari wajah khas Asia-nya. Matanya yang kecoklatan nampak meredup.


Seharusnya siang itu ia tengah mengerjakan bookingan tiket grup internasional yang tempo hari telah fix ia terima dari pihak kedutaan Singapura di Indonesia. Tapi nyatanya ia hanya duduk sambil menopang dagunya dengan tangan yang ia tumpukan di atas meja.


Moodnya untuk bekerja menguap entah kemana. Meksi segelas coffee latte panas telah ia siapkan untuk menemaninya bekerja hari itu, namun sampai kopi itu mulai dingin pun Beth seakan tak mampu menemukan kembali semangat kerjanya yang terlanjur lenyap tak bersisa.


Ahh bodo' amat lah...sekali-sekali makan gaji buta aja daripada ngerjain tiket nggak pake konsen, ntar kalo sampe salah issued tekornya bikin nyesek berlipat-lipat. Huuufffttt....


Beth meniup poninya dengan lesu. Di putarnya playlist lagu-lagu favorit yang selama ini ia kumpulkan secara teratur saat waktu senggangnya di kantor. Sengaja ia mengatur volume yang tidak terlalu kencang agar suara dari speaker di komputernya tidak sampai menganggu kinerja tetangga sebelah kubikelnya.


Sayup-sayup suara merdu Monita Tahalea---penyanyi wanita jebolan ajang pencarian bakat Indonesia Idol pada tahun dua ribu lima---terdengar melantunkan salah satu lagu hitsnya yang berjudul Kekasih Sejati dari playlist lagu-lagu favorit Beth.


🎶Aku yang memikirkan


Namun aku tak banyak berharap


Kau membuat waktuku


Tersita dengan angan tentangmu🎶


🎶Mencoba lupakan


Tapi 'ku tak bisa


Mengapa begini🎶


🎶Oh, mungkin aku bermimpi


Menginginkan dirimu


Untuk ada di sini menemaniku


Oh, mungkinkah kau yang jadi


Kekasih sejatiku


Semoga tak sekedar harapku🎶


🎶Mencoba lupakan


Tapi 'ku tak bisa


Mengapa begini🎶


🎶Oh, mungkin aku bermimpi


Menginginkan dirimu


Untuk ada di sini menemaniku🎶


🎶Oh, mungkinkah kau yang jadi


Kekasih sejatiku


Semoga tak sekedar harapku🎶


🎶Bila tak menjadi milikku


Aku takkan menyesal telah jatuh hati🎶


🎶Oh, mungkin aku bermimpi


Menginginkan dirimu


Untuk ada di sini menemaniku


Oh, mungkinkah kau yang jadi


Kekasih sejatiku

__ADS_1


Semoga tak sekedar harapku🎶


Lirik lagu yang pas dengan kondisi hatinya saat itu, membuat keputus asaannya kian menumpuk semakin tinggi. Keputus asaan yang sedikit demi sedikit mulai menggunung sejak beberapa hari yang lalu ia mulai menyadari bahwa pujaan hatinya terlalu muluk untuk digapainya.


Gini amat yaa dilemanya naksir anak orang kaya sementara kita sendiri bukan siapa-siapa!!! Belum apa-apa udah tertekan duluan gue, Siaaallll!!!


Tiba-tiba Beth teringat pada sahabat wanitanya---Keira. Yang kurang lebih sepertinya pernah mengalami dilema serupa.


Walaupun Keira aslinya bukan anak orang biasa kaya gue, tapi dulu waktu dia ketemu Argha dan Tyo kan dia masih sebatang kara statusnya, gimana ya perasaannya waktu tau cowok yang ngehamilin dia ternyata anak konglomerat? Jadi kepo gue! Kayanya gue mesti curhat deh ama Keira!


Dan kini...hingga di hari ketiganya kembali ke Indonesia, ia baru kepikiran untuk curhat pada satu-satunya sahabat wanitanya itu. Beth lalu mengeluarkan ponselnya dari laci meja kerja dan mulai mengirimkan pesan chat kepada Keira.


📮 BETHSA PUTRY


Woooiii, Buk! Lo dah balik Indo belom sih?


📩 KEIRA PERMATA


Woooii jugak! Udah, nyampe rumah semalem gue. Kenapa emangnya?


📮 BETHSA PUTRY


Gue lagi butuh banget curhat niihhhh, boleh ketemuan gak?


📩 KEIRA PERMATA


Boleh aja sih, tapi di rumah gue aja yaa. Si Argha lagi mau tumbuh gigi susu nih. Mungkin beberapa hari ini bakalan naik turun suhu badannya. Gue takut anaknya enggak nyaman kalo diajakin keluar-keluar.


📮 BETHSA PUTRY


Ohh, okeyy. Tapinya jam berapa lo bisanya?


📩 KEIRA PERMATA


Sore-sore aja kalo lo pulang ngantor, tinggal mampir. Jam segitu biasanya gue udah pasti di rumah sih. Kalo jam laen takutnya gue pas belom di rumah, masih ada kuliah atau masih di kampus ngerjain tugas.


📮 BETHSA PUTRY


Kalo entar sore bisa enggak?


📩 KEIRA PERMATA


Bisa aja sih kalo lo maunya langsung entar sore!


📮 BETHSA PUTRY


Ya udah lah, fix entar sore, pulang kerja gue langsung otw rumah lo. Daripada gue terus-terusan enggak konsen kerja, bisa-bisa kerjaan gue enggak kelar-kelar.


📩 KEIRA PERMATA


LOL. Wah klo dah gini boleh minta sajen dong gue 😁😎


📮 BETHSA PUTRY


Hmmm, dasar rampok lo!!! Yaudeh, mo gue bawain apaan??? 😣


📩 KEIRA PERMATA


Rollcake pandan kejunya Roti Bunda boleehhh tuhhh, dah lama gue enggak makan itu.


📮 BETHSA PUTRY


Bereesss kalo cuman itu mah, siaapp!!!


📩 KEIRA PERMATA


Asyeekkkk...Okey deyy, gue tunggu😆👍


Baru janjian begitu saja dengan sang sahabat, sudah membuat hati Beth sedikit lega. Ia jadi teramat yakin, jika curhatnya dengan Keira nanti akan segera mengusir syantiikkk kegalauan yang menderanya tiga hari ini.


***


@Kantin PT. PERKASA


"Jadi...lo ngapain siang-siang udah nongol di kantor gue??? Tumben bangeettt!!! Biasanya juga kalo lo ada perlu ngechat dulu, ngajak janjian dulu, nggak langsung tiba-tiba datang tak diundang pulang tak diantar gini!" Tyo bersungut-sungut.


"Sialaannn, emangnya gue jelangkung???" balas Rizzi tak kalah senewen. "Gue galau banget nih, butuh curhat ASAP ke elo!" dan tiba-tiba ekspresi serta nada suaranya berubah sendu.

__ADS_1


Rizzi yang berpisah dengan Beth di Bandara dengan menyisakan sebuah tanda tanya besar di kepalanya, selama berhari-hari menjadi tersiksa karenanya.


Kondisinya sebelas dua belas dengan Beth di tempat yang berbeda, namun bedanya...Beth tahu apa yang membuatnya galau sementara Rizzi tidak tahu apa yang menjadikan alasan gadis itu bersikap demikian padanya.


Berkali-kali Rizzi mengirim chat maupun mencoba menelpon gadis itu, namun tak satupun yang berbalas. Yang paling pertama adalah chat yang dia kirim di hari yang sama mereka tiba di Tanah Air.


Rizzi mengirim pesan kepada Beth sesaat setelah dirinya sampai di rumah. Untuk menanyakan apakah gadis itu juga sudah tiba di rumahnya dengan selamat. Rizzi menunggu dan menunggu, namun sama sekali tak ada balasan. Bahkan tak ada tanda terbaca pada pesan yang dikirimnya.


Siang itu, Rizzi berpikir jika Beth masih lelah atau langsung disibukkan oleh pekerjaannya jadi tidak sempat membaca pesannya. Namun setelah beberapa hari berlalu dan status pesannya masih sama, yaitu tak terbaca. Rizzi jadi mengerti jika gadis itu memang tidak berniat membacanya.


Terputusnya komunikasi dengan Beth sejak perpisahan mereka di Bandara, membuat Rizzi penasaran. Ia ingin mencari cara untuk menemui gadis itu dengan berpura-pura bertemu secara tidak sengaja, tapi tidak tahu bagaimana.


Dan akhirnya di sinilah dia. Mendatangi kantor tempat Tyo bekerja tanpa janji dan begitu tiba-tiba. Hanya karena di dorong rasa penasaran terhadap si gadis pujaan yang entah kenapa tiba-tiba berubah sikap terhadapnya.


"Awalnya gue pikir, mau sampe kapaaannn gue jomblonyaa??? Masa' iya gue mau terus ngejomblo sampe sangkakala bertiup!" Rizzi memutar-mutar sedotan pada lemon tea yang dipesannya.


Bukannya prihatin tapi Tyo malah tertawa lebar, saking lebarnya sampe Rizzi langsung keki dibuatnya.


"Sialan lo, gue serius ini, Tyooo!!!" rajuknya.


"Hahahaa, iya-iya, maapphh!!! Trusin-trusin...!!!" ujar Tyo sambil menyeka bulir air disudut matanya yang muncul akibat terlalu lebar tertawa barusan.


"Lo tau saking lamanya gue ngejomblo sampe gue pengen give away-in hati gue sendiri!!!" tambah Rizzi masih dengan suara sendunya.


Lagi-lagi tawa Tyo langsung meledak tanpa bisa ditahan lagi. "Elo tuh mau curhat atau mau ngelawak sih sebenernya!!!" Tyo memprotes di sela tawanya yang membahana.


Membuat beberapa staff kantornya yang juga berada di kantin saat itu langsung menoleh ke arah dua sohib itu.


"Gue mau curhat, Tyoooo!!!" teriak Rizzi gemas.


"Okeehh, lanjutin curhat lo!!!" sahut Tyo setelah mampu meredam tawanya.


"Gue liat lo dah nikah, liat Vynt dah nikah, jujur iri banget gue. Boro-boro nikah, calon aja gue enggak punya sampe sekarang. Gue sampe pernah ada di titik di mana gue mau nerima siapapun asal cewek itu mau jadi pasangan gue." ungkap Rizzi lesu.


"Makanya gara-gara pikiran lo yang rancu begitu sampe cewek-cewek yang ngedeketin lo niatnya cuman buat manfaatin lo doang, bukan karena emang suka secara personal ama lo!" balas Tyo tegas.


"Iya gue tahu sekarang. Tapi sejak gue kenal ama Beth dan makin deket ama dia, menurut hati kecil gue, so far...cuman Beth yang terbaik di antara semua cewek-cewek itu!" Rizzi menundukkan pandangannya ke meja.


Mau tak mau Tyo menghela nafasnya dalam-dalam melihat rekspresi sahabatnya saat itu.


"Tapi masalahnya, sejak gue balik dari Korea bareng dia kemaren, Beth berubah. Dia menghindari gue, bahkan sampe sekarang dia enggak bales semua chat ama telepon gue!" Rizzi menyandarkan punggungnya dengan bahu yang melorot. Membuat tubuh tingginya seolah menciut bersama nyalinya.


Dan tiba-tiba, sebuah dering telepon dari ponsel Rizzi menginterupsi obrolan serius kedua sahabat itu. Rizzi merogoh ponselnya dari saku jas casualnya.


"Vynt...???" gumamnya dengan kening mengernyit.


"Buruan diangkat, sapa tau tentang Beth! Vynt kan bosnya Beth sekarang!" ujar Tyo sambil memajukan tubuhnya mendekat ke meja.


Rizzi mengangguk dan menekan icon loudspeaker agar Tyo juga dapat mendengar percakapannya dengan Vynt.


📱RIZZI RIYANT


Halo...


📱VYNT DAE-HO


Wooiii, Riz!!! Ada masalah apa antara lo ama Beth, hah??? Lo apain temen gue sampe kaya gini???


📱RIZZI RIYANT


Haahhh??? Maksud lo apa, Vynt???


📱VYNT DAE-HO


Gue yang harusnya tanya lo??? Maksud lo apa???


Seketika Tyo dan Rizzi saling pandang, keduanya sama-sama melongo dalam kebingungan dengan serangan omelan yang begitu tiba-tiba dari Vynt di seberang telepon sana.


.


.


.


.


To Be Continue....

__ADS_1


__ADS_2