Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : DRAMA QUEEN


__ADS_3

.


.


.


Tanpa terasa, malam minggu yang menjadi momok dalam hidup seorang Rizzi Riyant selama beberapa hari belakangan ini pun tiba juga akhirnya.


Dan sudah sejak kurang dari seminggu kemarin, Rizzi dan juga Beth telah menyiapkan diri mereka hanya untuk menghadapi malam minggu ini.


Saat ini, tidak ada yang lebih mereka inginkan daripada bisa melewati malam ini dengan lancar, aman, dan damai. Meski mereka sadar, persentase mereka mendapatkan semua kemudahan itu tidak lebih dari lima puluh persen saja.


Sesuai rencana keluarganya, Rizzi akan menemui gadis yang hendak dijodohkan dengannya malam ini. Dan kini, ia sedang menjemput Beth di rumahnya untuk mengikuti saran kakak tertuanya---Reinka Sakti, agar membawa serta kekasihnya ketika menemui gadis itu.


Tadi pagi saat sarapan bersama di rumah keluarga Digdaya, Pak Tirta sudah mengingatkan Rizzi untuk tidak lupa menemui Arlisa Kejora---anak gadis Pak Makhtum, pemilik PT. KEJORA---di restoran yang terletak di lantai dasar Imperium Hotel milik Takhta Grup.


Waktu pertemuan sudah Rizzi ketahui, bahkan kartu nama Arlisa Kejora yang dinerikan sang Papi pun sudah Rizzi kantongi.


Meski sang Papi memaksanya untuk menghubungi Arlisa lebih dulu demi memudahkannya janjian atau bahkan saling mengenali satu sama lain, tapi Rizzi tetap tidak berniat sama sekali untuk menghubungi gadis itu.


Untuk apa menghubungi orang asing yang nantinya tetap akan menjadi orang asing. Begitu pikirnya. Menuh-menuhin contact list ponsel gue aja!!! Enggak penting banget!!! Batin Rizzi.


"Kamu udah tau wajahnya cewek itu kaya gimana, Hun???" Beth bertanya dengan memanggil sebutan kesayangan untuk kekasihnya itu.


Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke restoran tempat kopi darat antara Rizzi dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya.


Rizzi menggelengkan kepalanya sambil terus fokus menyetir. "Coba kamu googling, Bee, biar kita tahu penampakannya kaya apa!" pinta Rizzi balas menyebut panggilan kesayangan yang ia sematkan pada Beth sejak mereka berikrar untuk menjadi sepasang kekasih.


"Iisshhh...kamu nii! Emangnya itu cewek bangsa lelembut pake istilah penampakan segala. Kosakatamu nggak ada yang bagusan dikit kah, Hun???" protes Bethsa Putry.


"Iya deehh, iyaaa...maapphhh!" dengus Rizzi tanpa menoleh.


Sesuai permintaan sang pacar, Beth langsung membuka aplikasi browser pada ponsel pintarnya dan mengetikkan kata kunci nama gadis itu. Seketika muncul bermacam foto dan artikel tentang seorang Arlisa Kejora. Beth pun memekik.


"Wuuiiihh, cakep, Hun!!! Pake bingits pulak!" seru Beth terkagum-kagum begitu melihat foto-foto Arlisa di layar ponselnya. "Mirip artis Manohara, Hun!" pekik Beth lagi


"Hallah, palingan juga masih cakepan kamu, Bee! Imutan kamu! Lucuan kamu! Manisan kamu! Pokoknya masih mendingan kamu kemana-mana laahhh!"


Beth langsung baper mendengar keterus terangan Rizzi barusan. Tapi meski hatinya berbunga-bunga, ekspresi wajahnya justru memberikan kesan seolah meragukan ucapan kekasihnya itu.


"Gombal banget siihh Hunnyku ini!!!" balasnya.


"Lhoo, serius ini Bee!!! Di mata aku sekarang ini tuh udah nggak ada lagi cewek yang cakepnya ngelebihin kamu!" tambah Rizzi dengan lebih meyakinkan.


Beth sampai membuang muka ke arah jendela demi ingin menyembunyikan wajahnya yang tersipu dari Rizzi yang kala itu masih fokus menyetir. Efek saking malunya mendengar pengakuan jujur dari kekasihnya sendiri.


Beth sungguh tak menyangka Rizzi bisa mengatakan hal semanis itu dengan gamblang dan tanpa malu-malu. Pria itu bahkan tidak tertawa saat mengatakannya. Yang artinya Rizzi memang serius dengan ucapannya.


Setelah berhasil menguasai dirinya lagi, Beth kembali menatap layar ponsel yang masih menampilkan foto-foto Arlisa Kejora. Ia pun kembali berujar.


"Tapi dari fotonya nih cewek cantik banget lho, Hun! ASLI! Kamu nggak pingin lihat dulu niih?" Beth mencoba memprovokasi Rizzi lagi.


"Kalo lagi nyetir enggak boleh tolah toleh, Bee! Bahaya!" ujar Rizzi santai.


Beth merengut dengan sedikit kesal. Segala ucapannya untuk membuat Rizzi mau melihat atau paling tidak menyempatkan diri melirik foto gadis itu gagal total. Pasalnya ia benar-benar penasaran akan reaksi Rizzi setelah melihat kecantikan gadis yang hendak dijodohkan dengan Rizzi itu.


Mengetahui bahwa kekasihnya sedang cemberut, Rizzi pun akhirnya menyempatkan waktu beberapa detik untuk menoleh kearah ponsel Beth yang menunjukkan gambar seorang Arlisa Kejora, saat mobil mereka terjebak di lampu merah seperti biasanya.


"Jangan ngambek dong, Bee! Ya udah sini aku lihat fotonya!" pinta Rizzi.


Dengan enggan dan masih mengerucutkan bibirnya, Beth mengarahkan layar ponselnya ke hadapan Rizzi.


"Wuuoohhh, iya loohh... cakep banget ternyata ya!" seru Rizzi dengan mengangkat kedua jempolnya.


Beth yang mendengar Rizzi memuji wanita lain secara berlebihan pun malah langsung merajuk, dari cemberut menjadi cemburu.


"Nggak usah heboh segitunya juga kali!!!" gerutu Beth.


"Heheee, becanda, Bee! Cuman mau godain kamu doang" timpal Rizzi dengan senyum geli.


Ia melajukan kembali mobilnya setelah lampu lalu lintas yang menahan mereka kembali menyala hijau. Beth menangkap ekspresi datar Rizzi saat memuji Arlisa, yang artinya meski mengakui kecantikan gadis itu namun bagi Rizzi itu tidak berarti apa-apa. Tapi ternyata ia tetap tidak terima mendengarnya.


Tau gini tadi aku nggak maksa dia ngeliat foto cewek itu!!! Sesal Beth dalam hati.


"Kok kamu jadi sewot sih, Bee??? Kamu cemburu??? Jealous???" cecar Rizzi.


"Tau ah!!! Bete!!!" Beth langsung membuang mukanya lagi lalu memasukkan ponselnya begitu saja ke dalam tas kecil yang dibawanya.


Sementara Rizzi langsung tertawa lepas melihat tingkah gadis disampingnya yang sedang merajuk itu. Ia mengacak pelan puncak kepala gadis itu dengan sebelah tangan.


Menurutnya, Beth nampak begitu lucu dan menggemaskan dengan sikapnya yang merajuk begitu. Membuat Rizzi ingin terus menggoda kekasihnya itu.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di lokasi pertemuan yang dimaksud. Rizzi menghentikan mobilnya tepat di depan lobi Hotel demi kenyamanan dan untuk mempersingkat waktu.


Seorang petugas valet menghampiri mobil Rizzi, membantu untuk membukakan pintu di sisi tempat duduk Beth lalu mengambil alih mobil tersebut untuk memarkirkannya. Sedangkan Rizzi dan Beth sendiri langsung masuk ke dalam hotel, menuju restoran tempat pertemuan.

__ADS_1


Begitu mereka sampai di depan pintu masuk resto, Beth mendadak diserang keraguan. Ia lalu menarik mundur lengan Rizzi pelan-pelan.


Rizzi yang merasa langkahnya tertahan langsung menoleh pada kekasihnya itu, "Kenapa?" tanyanya bingung.


"Aku nervous!" jawab Beth cepat.


Rizzi tersenyum lembut lalu mengelus sekaligus merapikan rambut Beth yang sedikit kacau karena di acaknya tadi ketika di mobil.


"Santai aja!!! Ada aku. Siniin tanganmu!" pinta Rizzi sambil menadahkan telapak tangannya.


Beth menyambutnya, dan menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jari Rizzi yang besar dan hangat. "Kita lewati ini bersama, Oke!" ucap Rizzi dengan menatap Beth lekat.


Beth mengangguk mantap. Kini manik matanya berkilat memancarkan keberanian. Ia lalu berjalan bergandengan tangan dengan sang kekasih menemui gadis yang akan di jodohkan dengan Rizzi.


Begitu mereka masuk ke dalam resto, seorang petugas yang mengenali Rizzi langsung menyapa pria itu.


"Permisi, Pak Rizzi Riyant! Nona Arlisa sudah menunggu anda di mejanya. Mari saya antarkan!" ucap sang petugas resto dengan sopan.


Rizzi nampak mengernyitkan keningnya dengan heran. Rupanya gadis bernama Arlisa Kejora itu cukup lihai menggunakan kekuasaannya untuk hal semacam ini. Dia sampai menyuruh orang khusus untuk menjemput Rizzi di pintu masuk resto.


Mungkin pria-pria lain yang memang merasa berkedudukan tinggi akan sangat menghargai apa yang dilakukan Arlisa ini, sayangnya tidak dengan Rizzi. Ia pribadi justru sangat tidak suka diperlakukan berlebihan seperti ini.


Tapi untuk saat ini, ia merasa lebih baik mengikuti saja aturan si Arlisa itu. Lebih sedikit konflik, akan lebih mudah ia menyelesaikan tentang perjodohan yang tak diinginkannya ini.


Rizzi lantas semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Beth dan berjalan dengan lebih tegap mengikuti petugas itu. Rizzi kembali heran ketika petugas resto menuntunnya ke open room restoran itu, dan bukannya ke private room.


Hal ini meyakinkan Rizzi jika Arlisa Kejora justru berusaha ingin memamerkan hubungannya dengan Rizzi. Dengan memilih meja di ruangan yang berdampingan dengan tamu-tamu lainnya. Rizzi merasa Arlisa langsung ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka sedang memiliki hubungan dekat.


Padahal perjodohan ini bisa dibilang belum sepenuhnya deal mengingat belum ada kata setuju dari pihak Rizzi. Seharusnya, sebagai orang yang ingin menjaga privasi dan imagenya, Arlisa memilih private room agar percakapan mereka atau konflik yang mungkin terjadi diantara mereka tidak sampai terlihat dan terdengar tamu-tamu resto lainnya.


Nih cewe suspicious banget sih! Modusnya udah keliatan! Tsk, nyebelin...


Rizzi menggerutu dalam hati. Belum apa-apa ia sudah merasa tidak suka pada gadis itu. Ia merasa sudah dimanfaatkan sejak awal. Hal yang paling membuatnya ilfil selama ini.


Petugas resto mengantar mereka ke meja yang berada di tengah-tengah ruangan. Dari jarak sekian meter saja, Rizzi sudah dapat mengendus sikap sok berkuasa dan show off dari gadis yang duduk di salah satu kursi di meja itu.


Rizzi mendengus pelan karenanya. Pengalamannya mendekati banyak wanita membuatnya mengenal bermacam-macam karakter mereka. Karena itulah Rizzi sudah bisa menebak seperti apa Arlisa Kejora sejak pertemuan perdana mereka ini. Meski cantik tapi di mata Rizzi semuanya nampak palsu.


"Nona, Pak Rizzi sudah datang." lapor petugas resto pada gadis yang tetap duduk di kursinya itu meski Rizzi dan Beth sudah berada di dekat mejanya.


Gadis yang bernama Arlisa itu nampak menatap Rizzi dengan tatapan bingung, pandangannya menjalar ke arah tangan Rizzi dan Beth yang saling berkaitan jari, lalu menghentikan tatapannya ke arah Beth dengan tajam.


Beth bergeming. Ia tidak takut pada gadis itu, sebab ia tidak punya salah terhadapnya. Ini akan menjadi pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhirnya dengan gadis itu. Jadi dia tidak punya alasan untuk takut terhadap Arlisa. Begitu pikir Beth.


Karena Arlisa dengan angkuhnya mengabaikan petugas resto yang mengantarnya itu, jadi Rizzi merasa perlu mengambil sikap agar petugas itu segera meninggalkan mereka.


Melihat kursi di meja itu yang hanya sepasang dan salah satunya sudah di duduki oleh Arlisa, jadi Rizzi menarik kursi kosong lainnya dan menyuruh Beth mendudukinya. Sedangkan untuk dirinya sendiri, Rizzi mengambil sebuah kursi kosong di meja lain yang tak berpenghuni.


Arlisa nampak tidak senang, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya yang sedikit terbuka mengingat gaun yang dipakainya bermodel kemben.


Beth langsung gagal fokus. Tatapan matanya secara otomatis mengarah ke bagian dada gadis yang bernama Arlisa Kejora.


Wuuaahhh, makan apa nih cewek sampe punya aset segedhe gitu??? DAEBAK!!! Beth terpukau dalam hati.


"Saya enggak ngerti ya!!! Yang saya dengar, makan malam ini cuman untuk dua orang yang sedang dijodohkan sebagai sesi perkenalan sekaligus untuk merencanakan pernikahan, tapi kenapa ada tambahan badut di sini!" serunya dengan sinis.


Emosi Rizzi seketika terpancing mendengar Beth disebut badut oleh Arlisa. Sedangkan Beth sendiri malah tidak merasa dihina, gadis itu justru menengok ke kanan dan ke kiri, menyisirkan pandangan ke sekitar ruangan untuk mencari badut yang di sebut Arlisa tadi.


Mana ada badut di sini??? Enggak ada kok!!! Aahh,, ni cewek cantik-cantik haluuu!!! Pikir Beth polos.


"Mohon maaf sebelumnya, Nona Arlisa Kejora yang TERHORMAT!!!"


Rizzi berseru dengan menekankan kata 'Terhormat' sengaja untuk menyindir Arlisa.


"Justru yang saya dengar, makan malam ini HANYA untuk sesi perkenalan pada dua orang YANG MASIH DALAM RENCANA PERJODOHAN! Jadi sepertinya ada miss komunikasi di antara kita, karena jika makan malam ini untuk dua orang yang merujuk ke pernikahan, maka saya minta anda untuk pergi, karena orang yang akan saya nikahi hanya gadis ini!"


Rizzi menunjuk kepada Beth tanpa ragu. Membuat Beth tercengang dan membuat Arlisa langsung tersulut emosi.


"APA MAKSUD KAMU??!!" Arlisa memekik keras-keras hingga tamu-tamu yang lain di ruangan itu spontan menoleh ke arah meja mereka.


Beth jadi salah tingkah menjadi pusat perhatian dadakan. Sedangkan Rizzi tetap tenang meski hatinya panas dengan sikap Arlisa. Ia tahu, Arlisa sengaja memancing perhatian untuk menciptakan drama yang akan menggiring opini yang menguntungkan pihaknya.


Tapi Rizzi tidak akan kalah, ia cukup hapal trik-trik semacam itu. Jadi Rizzi hanya menyentuh tangan Beth dan memberinya kode untuk tetap tenang dan tetap percaya padanya.


Beth mengerti kode yang disampaikan Rizzi lewat sentuhan tangan dan tatapan matanya. Gadis itu lalu membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Arlisa yang menyaksikan interaksi kedua sejoli itu menjadi muak.


"Berani-beraninya kalian bersikap seperti itu di hadapan saya??? Seharusnya ini menjadi makan malam spesial untuk saya dan Rizzi, tapi kenapa nona yang berwajah bodoh ini malah datang mengganggu? Dasar PELAKOR!!!"


Arlisa sengaja mengeraskan volume suaranya ketika menyebut kata 'Pelakor' demi menarik perhatian tamu-tamu lain. Ia tahu persis bahwa topik tentang pelakor akan langsung mendapat perhatian mengingat kata pelakor sendiri begitu sensitif di telinga masyarakat khususnya para wanita.


Rizzi langsung berdiri dari duduknya begitu mendengar Arlisa menghina Beth untuk yang kedua kali, emosinya sudah tak tertahankan lagi. Dan ia sungguh-sungguh ingin segera mengajak Beth untuk segera pergi dari tempat itu.


"Maaf Nona Arlisa, awalnya saya datang dengan niatan untuk membicarakan pembatalan perjodohan ini secara baik-baik. Saya sengaja membawa kekasih saya kesini untuk menunjukkan pada anda bahwa saya benar-benar sudah punya wanita pilihan saya sendiri. Tapi saya tidak terima mendengar anda menghinanya sampai dua kali secara terang-terangan. Jadi saya rasa, pertemuan kita cukup sampai disini!" ujar Rizzi tegas.


Beth ikutan berdiri mendengar kalimat terakhir dari Rizzi. Kalimat itu sudah cukup untuk menyadarkan Beth bahwa Rizzi akan segera mengajaknya pergi dari restoran itu.

__ADS_1


Melihat kedua orang di hadapannya bermaksud untuk pergi meninggalkannya begitu saja, Arlisa yang tampak begitu emosi langsung bangkit berdiri.


"Enak banget kamu ngomong, hah!!! Yang bisa membatalkan perjodohan ini hanya saya, saya tidak terima ditolak oleh laki-laki macam kamu! Apalagi hanya demi wanita semacam ini!" Arlisa menunjuk-nunjuk muka Beth dengan penuh emosi.


Ia tak terima pada penolakan Rizzi. Harga dirinya yang begitu tinggi membuatnya merasa Rizzi telah mempermalukannya. Padahal ia yang lebih dulu bersikap tidak sopan dengan menghina Beth.


"Baiklah, anda boleh menjadi pihak yang membatalkan perjodohan ini! Anda boleh menjadi pihak yang menolak saya, intinya sama saja untuk saya. Karena bagaimanapun, saya tidak akan menikah dengan anda!" ujar Rizzi santai.


Di luar dugaan, Arlisa bersikap berlebihan. Ia langsung mendekati Beth untuk menamparnya namun dengan gesit Rizzi segera mendekap Beth untuk melindunginya. Merasa gagal melampiaskan amarahnya pada Beth, Arlisa lalu mengambil es teh yang tadi dipesannya lalu menyiramkannya pada Rizzi.


Rizzi diam saja menerima perlakuan Arlisa itu. Ia sengaja tidak menghindar dari siraman es teh Arlisa, dan ia pun juga tidak tampak marah.


Rizzi malah tersenyum setelah setengah dari tubuh bagian atasnya basah tersiram es teh, karena dengan begini ia sudah mempunyai bukti bahwa Arlisa adalah gadis yang temperamental.


Seluruh CCTV yang menyorot sudut meja yang ditempatinya pasti sudah merekam semua kejadian itu, ia tinggal memintanya pada Tyo sebab restoran ini ada di dalam hotel milik ayah Tyo---Pak Ruslan Pratama.


"Sudah puas?" tanya Rizzi pada Arlisa. "Kalau sudah, kami permisi dulu! Terima kasih atas pertemuan yang tidak menyenangkan ini. Semoga ini menjadi pertemuan kita yang terakhir. Selamat malam!"


Rizzi menggandeng Beth untuk melangkah meninggalkan tempat itu, tapi mereka tak langsung keluar dari hotel itu. Beth merasa heran, namun ia memilih diam dan mengikuti kemana Rizzi akan membawanya.


Sementara Arlisa yang masih tidak terima ditinggalkan begitu saja, langsung berteriak-teriak memaki dua orang yang pergi meninggalkannya begitu saja.


Ketika melewati meja resepsionis, seorang petugas hotel tiba-tiba berjalan mendampingi Rizzi dan Beth menuju pintu lift sambil membantu menekan tombol UP.


"Ruangan yang anda pesan sudah ready, Pak! Dan semua yang anda minta sudah kami siapkan di sana!" ucap petugas itu ketika mereka bertiga sudah ada di dalam kotak lift secara bersama-sama.


Rizzi mengangguk puas, ia lalu melepas jasnya yang basah terkena siraman es teh dan menyodorkannya pada petugas hotel itu. "Tolong bersihkan ini!"


Beruntung cairan itu hanya mengenai jas bagian luar Rizzi, dan tidak sampai mengenai kemeja bagian dalamnya, jadi Rizzi masih bisa memakai kemejanya. Namun nampaknya ia masih harus membersihkan wajah serta sebagian rambutnya di toilet.


Petugas hotel itu menerima jas yang disodorkan Rizzi padanya sembari mengangguk pelan. "Akan kami antarkan begitu sudah dibersihkan!" ucap petugas itu ketika mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju.


Beth mengikuti Rizzi keluar dari lift, namun petugas itu tetap di dalam sana sambil memberikan arahan, "Pesanan anda ada di ujung lorong bagian utara, sedangkan toiletnya ada di tengah-tengah lorongnya, Pak!"


"Baik, saya mengerti. Terima kasih atas bantuannya." ucap Rizzi dengan senyum ramah.


"Sama-sama, Pak! Saya permisi!" pamit petugas itu sesaat sebelum pintu lift tertutup.


"Ayo, Bee! Bantu aku bersihin rambut, keburu lengket!" ajak Rizzi pada Beth.


"Laahh, masak aku harus ikutan masuk toilet cowok sih?" protes Beth.


"Enggak apa-apa, enggak akan ada orang! Tenang aja!" ujarnya enteng.


"Tapi nanti kalo ada orang gimana? Bisa digerebek kita! Maluuuu!!!" Beth hiperbola.


"Lebay iihhh, udaahh tenang aja! Itu enggak mungkin, soalnya Tyo udah ngatur supaya khusus malam ini, tidak ada orang lain di lantai ini kecuali kita." jawab Rizzi santai.


Beth melongo dibuatnya. "Haahh, kok bisa???" tanyanya heran.


"Ya bisalaahh, kan hotel ini punya ayahnya Tyo!" Rizzi terkikik geli melihat ekspresi heboh dari Beth.


"Emangnya kita mau ngapain di lantai ini berdua aja, Hun???" Beth langsung bergidik ngeri membayangkan kalau-kalau ada sosok lain yang muncul mengingat mereka cuman berdua saja di lantai lorong yang panjang dan sepi itu.


"Ada deehhh!!!" jawab Rizzi sambil senyum-senyum sambil terus menarik tangan Beth menuju toilet untuk membersihkan dirinya.


***


Arlisa tiba di rumahnya dalam keadaan marah besar. Ia membanting semua barang yang bisa dijangkau oleh tangannya.


"SIALAN!!! Kurang ajar banget tuh cowok!!! BRENGSEEEKKKK!!!" makinya dengan keras.


Seorang asisten rumah tangga di rumahnya datang dengan tergopoh, wanita paruh baya yang bekerja di rumah Arlisa itu nampak takut melihat nona mudanya pulang sambil mengamuk.


"Non Arlisa, tenang Non! Sabar Non!" bujuk wanita itu.


"PAPA MANA?" Arlisa menanyakan keberadaan ayahnya dengan bentakan.


"Tuan besar sudah ada di kamarnya, Non!" jawab asisten rumah tangga itu.


Arlisa yang penuh dendam terhadap Rizzi serta kekasihnya akhirnya mencari ayahnya di kamarnya dan mengadu bahwa ia telah dijahati dan dipermalukan oleh mereka.


Tentu saja Pak Makhtum langsung berang mendengarnya, "Kamu tenang aja, Nak! Tidak ada yang boleh menghina putri Papa satu-satunya! Akan Papa pastikan si Rizzi itu mendapat ganjarannya! Besok pagi, Papa akan langsung menemui Pak Tirta untuk membahas masalah ini!" janji Pak Makhtum pada putrinya.


Arlisa tersenyum sinis, meski amarahnya masih meluap namun janji ayahnya sudah cukup untuk membuatnya puas.


Tinggal tunggu waktu saja untuk mendengar berita perpisahan Rizzi Riyant dan kekasihnya yang seperti badut itu, pikir Arlisa.


.


.


.


To Be Continue...

__ADS_1


**Dear readersQ kesayangan,,,visualnya Beth sama Rizzi udah bisa dilihat di episode GALAU yaa, moga suka πŸ˜‰


Dan maaaaff bangeett, kalo akhir-akhir ini aQ sering telat update karena emang keluarga aQ lagi gantian sakitnya, termasuk aku juga masih sering masuk angin gara-gara sering begadang ngurusin kerjaan, jadi rada susah bagi waktu untuk nyempetin nulis. Mohon pengertiannya πŸ™πŸ™πŸ™**


__ADS_2