
.
.
.
Said berjalan pelan keluar dari gang tempat tinggal Milla yang baru. Pikiran pemuda itu masih berkecamuk sendiri, diperparah dengan keadaan dirinya yang tak tahu harus berbuat apa. Inginnya menolong, tapi Said tak tahu harus memulai dari mana.
"Wooii, Said! Sini-sini...!" panggil Alvin yang sudah duduk di salah satu bangku panjang di depan sebuah warung kopi. Sebuah laptop nampak terbuka di hadapan pemuda bertubuh bongsor itu.
Said mempercepat langkah menuju tempat Alvin sambil celingukan mencari mobilnya yang sudah berpindah lokasi parkir. "Mobil gue lo taroh mana, Vin?" tanya Said saat dirinya sudah berada di depan warung kopi.
"Tuuhh!" Alvin menunjuk ke salah satu tempat pencucian mobil yang nampak tidak sedang beroperasi. "Gue taroh sono biar aman, mumpung tempat pencuciannya belum buka. Masih libur." jelasnya sambil menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya untuk menyuruh Said duduk.
Said menurut lalu ikut duduk di sana tanpa ragu. "Nggak apa-apa tuh numpang parkir di situ?" tanyanya.
"Nggak apa-apa. Nyantai aja." jawab Nurdin yang baru muncul dari dalam warung kopi. " Lo masih mau nongkrong di sini kan?" tanya Nurdin sambil menepuk pundak Said.
Merasa tak ada hal penting lainnya yang harus ia lakukan, serta keinginan untuk mengorek informasi tentang lingkungan tempat tinggal Milla, Said memutuskan menjawab pertanyaan Nurdin dengan anggukan kepala.
"Kalau gitu lo mau minum apa?" tanya Nurdin lagi.
Said melihat ke dalam warung kopi itu dan menemukan kopi susu kemasan favoritnya yang terpajang di belakang meja penyajian. "Gue mau itu!" tunjuknya.
Nurdin mengikuti arah yang ditunjuk oleh Said lalu tersenyum tanda mengerti, "Oke. Gue buatin sekarang." Nurdin berbalik arah menuju meja penyajian untuk membuatkan minuman yang dipesan Said.
Akhirnya...sepanjang siang hingga sore itu, Said nongkrong di warung kopi milik Nurdin sambil mengorek informasi tentang keamanan lingkungan tempat tinggal Milla dari dua teman sekelasnya. Dalam perjalanan pulangnya, masih terus terngiang di telinga Said fakta-fakta mencengangkan yang didengarnya dari kedua teman sekelasnya itu.
Said mencengkeram kemudi mobilnya erat-erat. Matanya menatap lurus ke depan mencoba membagi pikirannya untuk tetap fokus pada jalan raya sambil terus mengingat percakapannya dengan Alvin dan Nurdin di warung kopi tadi.
"Gang tempat tinggal Milla emang terkenal dengan harga kosannya yang murah meriah, Bro! Tapi kalau dari segi keamanannya, nggak recommended banget deh." seru Nurdin sembari menyuguhkan kopi pesanan Said.
"Belum lagi kalau hujan, di gang itu sering banget banjir karena kondisi jalannya yang lebih rendah daripada tinggi jalan raya di depan gang. Jadi pas hujan, air yang tumpah di jalan raya langsung masuk ke dalam gang itu." imbuh Alvin yang saat itu sedang menyeruput kopinya.
"Kalau gue keluarga atau cowoknya Milla, gue nggak bakalan ngizinin dia ngekos di situ. Bahaya! Nggak sehat pula lingkungannya. Kalau malem banyak orang mabok tuh di pos ronda yang ada di tengah gang itu." Informasi terakhir dari Nurdin itu semakin menambah beban pikiran Said akan keselamatan Milla.
Sesuai dengan prediksi Said sebelumnya. Dalam sekali lihat saja, ia sudah mengira jika lingkungan tempat tinggal Milla bukanlah lingkungan yang kondusif. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Gue kan bukan cowoknya Milla. Gue nggak ada hak ngatur-ngatur tempat tinggal dia—batin Said.
Ia mendesah keras-keras di balik kemudinya. Lagi-lagi Said merasa tak berguna. Entah kenapa perasaan tidak mengenakkan itu selalu saja muncul saat ia tengah memikirkan nasib seorang Millana Risty.
Ya ampuunn...baru kali ini gue mikirin cewek sampe segininya—pikir Said sambil meringis.
__ADS_1
***
Sejak saat itu, Said tanpa sadar selalu mencari keberadaan Milla di tengah kerumunan para mahasiswa UPW semester awal.
Setiap kali ia menuruni tangga dan berada di lantai dua—kelasnya para adik tingkat sejurusannya—kepala Said seolah bergerak sendiri secara otomatis untuk celingukan mencari sosok gadis berambut panjang bergelombang itu.
Beruntung baginya karena nyatanya mereka memang sering sekali bertemu. Seolah ia dan Milla memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Menempel satu sama lain bagai dua magnet yang berbeda kutub. Meski seringnya pula, ada Keira di tengah-tengah mereka, hal itu tak mengurangi kehangatan di dalam hati Said karena bisa berdekatan dengan Milla.
Namun hari ini, Said dan Keira hanya duduk berdua saja di salah satu bangku taman kampus. Mereka baru selesai mengikuti kelas Dokumen Pasasi Internasional* karena materi itu memang ada di sks Keira semester ini. Sedangkan Said hanya mengikuti kelas itu sekedar untuk menemani Keira yang tak merasa terlalu mengenal teman-teman sekelasnya yang baru.
"Kok tumben ya tadi Milla nggak ada di lantai dua?" tanya Keira yang sedang mengirimkan chat untuk suaminya agar segera menjemputnya. Kuliahnya hari ini sudah selesai karena materi Dokumen Pasasi Internasional tadi adalah kelas terakhirnya.
Said yang tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Keira barusan akhirnya hanya mengedikkan bahunya sambil menggeleng pelan. Dalam hati sebenarnya ia juga bertanya-tanya, kemana gerangan gadis itu.
Pasalnya Milla adalah mahasiswi yang rajin. Sejauh ini tak pernah sekali pun gadis itu absen kuliah meskipun ia tahu jika Milla melakukan beberapa kerja sambilan sekaligus.
Gadis itu selalu bisa membagi waktunya dengan baik dan mengatur keseimbangan yang tepat antara jadwal kuliah maupun jadwal bekerjanya. Satu hal lain yang membuat Said makin mengagumi sosok Milla.
"Padahal gue pengen ngajakin dia maen ke rumah. Semalem gue chatingan sama Milla katanya hari ini dia nggak ada jadwal part time. Jarang banget kan momennya? Mumpung Milla lagi nggak ada kerjaan." celoteh Keira tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
"Lo udah coba chat Milla?" tanya Said.
"Udaaahh, dari tadi pagi pas gue kepikiran mo ngajak dia ke rumah, gue langsung chat tapi centang satu mulu dari tadi." lapor Keira dengan ekspresi heran.
Ya Allah...kenapa gue jadi bad feeling gini ya??? Said mengusap-usap tengkuknya yang mendadak terasa dingin.
Lalu tiba-tiba, dering telepon masuk dari ponselnya menarik perhatian Said dan juga perhatian Keira. Said mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku dan terheran melihat nomor kontak Nurdin yang tertera pada layar.
"Siapa?" tanya Keira kepo. Wanita itu berharap Milla-lah yang sedang menelepon Said.
"Si Nurdin." jawab Said sambil menjawab telepon itu.
"Yo, what's up, Din!"
"...."
"APAA??? Serius lo?"
Keira tersentak kaget melihat Said yang langsung berteriak saat menerima telepon itu. Tatapannya langsung fokus ke wajah Said yang perlahan memucat.
"...."
__ADS_1
"Trus di mana dia sekarang?"
"...."
"Di mana itu? Gue nggak ngerti daerah sono." Said bicara di telepon sambil menyibak rambutnya ke belakang.
"...."
"Oke-oke, gue ke sono sekarang juga. Lo tolong temenin dia dulu ya, Din!"
Dengan buru-buru Said berdiri. "Kei, Milla dapet musibah." lapor Said to the point.
"Haah? Serius? Musibah apa?" Keira sontak ikutan berdiri dengan ekspresi panik.
"Rumah kosnya dan beberapa rumah lain di lingkungan tempat tinggal Milla tadi pagi kebakaran. Kata Nurdin, Milla dan para korban kebakaran lain diungsikan di balai kelurahan setempat. Nurdin baru tahu dari bapaknya trus langsung ke lokasi pengungsian dan ketemu ama Milla trus nelepon gue barusan ini." jelas Said.
Said mendadak teringat akan niatnya dulu saat pertama kali mengantar Milla ke tempat kosnya. Niatnya untuk membakar rumah kos kumuh itu agar Milla tak lagi punya alasan untuk tinggal di sana.
Ya Allah...kenapa justru harapan gue yang jelek bin ngaco sih yang dikabulin? Said langsung merasakan rasa bersalah yang teramat dalam pada Milla karena pernah memiliki niat buruk terhadap tempat tinggal gadis itu.
Sebuah notifikasi chat masuk ke ponsel Said. Dari Nurdin yang mengirimkan maps lokasi tempat Milla mengungsi. "Gue harus ke sana sekarang, Kei! Nurdin udah share lokasi pengungsian Milla." Said berkata dengan panik sambil menyampirkan ranselnya ke pundak.
"Gue ikut!" balas Keira cepat. "Biar gue telepon Tyo supaya nyusul ke sana juga. Tapi Milla nggak kenapa-kenapa kan, Id?" tanya Keira cemas.
"Gue belum tahu, Kei. Tadi gue nggak sempet nanyain itu ke Nurdin." jawab Said masih dengan panik sambil berjalan cepat menuju parkiran mobilnya.
Sambil menempelkan ponsel di telinganya, Keira mengikuti langkah cepat Said dan menyadari ekspresi cemas dari wajah sahabatnya itu. Sebelum sambungan teleponnya terjawab, Keira masih sempat menepuk pundak Said pelan, "Lo yang tenang, Id! Milla pasti baik-baik aja!" Keira berusaha menenangkan Said yang tampak begitu kalut.
"Iya, Kei. Semoga Milla baik-baik aja. Semoga!" harap Said dengan sangat.
.
.
.
To Be Continue...
*Dokumen Pasasi Internasional
adalah Mata kuliah yang membahas tentang jenis, fungsi, isi, serta cara pengisian dari dokumen-dokumen yang digunakan untuk melakukan perjalanan Internasional. Seperti: Paspor, Tiket, Visa, dan MCO (Missceleneous Charges Order)—fasilitas yang diberikan oleh maskapai penerbangan bagi pengguna kartu kredit.
__ADS_1
Dalam materi ini juga dijelaskan tentang fungsi dan peranan IATA International Air Transport Association (Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional); peraturan penerbangan internasional; terminologi industri pariwisata; prosedur ceck in; dan tentang tarif khusus yang mungkin harus diberlakukan berdasarkan jenis perjalanannya.
Tujuan pembelajaran materi ini agar para Mahasiswa dapat mengurus dokumen perjalanan wisata, terutama tiket penerbangan dan mengetahui prosedur check in bagi penumpang maskapai penerbangan.