
.
.
.
@Rumah Keluarga PRATAMA
"YA AMPUN, Beetthhh!!! Kaki lo kenapa???" pekik Keira histeris.
Wanita muda yang telah menjadi ibu satu anak itu begitu shock melihat sahabat wanitanya datang dengan kondisi terseok-seok serta pergelangan kaki yang bengkak.
Beth meringis, "Habis jatoh!" jawabnya singkat.
"Gitu masih maksa kesini lo, hah??? Enggak langsung diperiksain ke dokter kek, ke puskesmas kek, atau langsung pulang dulu kek biar diobatin. Gimana sih lo!!!" Keira nampak bersungut-sungut.
Beth diam saja menerima omelan sahabatnya itu. Ia hanya tetap meringis sambil garuk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Hanya sebagai gestur pengalihan dari sikap pasrahnya ketika diomeli Keira.
"Mbok Sriiii!!!" teriak Keira dengan nada yang sedikit mirip penyanyi seriosa.
Dengan tergopoh Mbok Sri pun muncul dari dalam. "Ada apa, Mba Keira?"
"Ini lho, Mbok! Kakinya temenku bengkak, dikasih apa ya buat ngobatin?" Keira menunjuk pada kaki Beth.
Mbok Sri mendekati Beth yang sudah duduk manis di salah satu sofa ruang tamu lalu duduk bersimpuh di bawah Beth untuk melihat lebih jelas kondisi kaki kanan gadis itu. Sementara Beth otomatis menjadi kikuk saat mendapati orang tua itu malah duduk lebih rendah daripadanya.
"Permisi ya Mbak Beti!" ujar Mbok Sri memanggil Beth dengan panggilan yang dibuatnya sendiri sebelum mengangkat kaki kanan Beth yang bengkak. "Ini habis jatoh ya, Mbak?" tanya Mbok Sri lalu meletakkan kembali kaki itu.
"Hehee, iya, Mbok! Tadi pas mau kesini jatuh dari motor!" jawab Beth sambil meringis.
"Mbok Sri punya obat buat bengkak keseleo enggak?" tanya Keira pada asisten rumah tangga paling senior di keluarga Pratama itu.
Mbok Sri nampak berpikir sejenak lalu menggeleng, "Kayanya enggak punya mbak!" jawab Mbok Sri kemudian.
"Trus, Mbok Sri ada saran enggak ini harus diapain biar enggak tambah parah gitu. Ngeri aku ngeliatnya!" ujar Keira dengan raut wajah yang khawatir.
"Mumpung masih jam segini, kayanya dokter di klinik ujung jalan sono masih buka mbak Keira, apa perlu saya panggil dokter kesini?!" tawar Mbok Sri.
Beth bergeming. Ia sempat melirik pada Keira. Dan Keira yang langsung mengerti keraguan Beth malah menyuruh Mbok Sri segera melakukan apa yang ia sarankan barusan.
"Udah Mbok, buruan panggilin dokternya, minta anter pake mobil biar cepet! Jangan naek becak!" titah Keira.
"Siap, Mbak!" jawab Mbok Sri yang langsung melesat pergi ke POS Satpam depan untuk mengajak Pak Yusam memanggil dokter.
Beth mendelik seketika kepada sahabatnya, namun Keira malah balas melotot pada Beth yang hampir protes.
"Enggak usah protes deh! Demi kebaikan lo, biar enggak tambah parah tuh bengkak!" ujar Keira sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Iye, iyee...gue mah bisa apa kalo nyonya muda kayak elo udah bertitah!" rutuk Beth dengan mencebikkan bibirnya. "Oia, Kei! Ini pesenan lo!" Beth menyodorkan plastik yang berisi dua box Rollcake pandan keju itu ke arah Keira.
Keira berdiri dari duduknya lalu meraih kantong plastik itu dari tangan Beth dan kembali duduk di sofa yang sama, di sebelah sahabatnya.
"Sorry, kayaknya agak penyok itu rollcakenya." imbuh Beth.
Keira geleng-geleng kepala, "Thank you ya...tapi gimana ceritanya sih kok lo bisa sampe jatoh gini?" Keira meletakkan rollcake itu di atas pangkuannya tanpa membuka isinya.
Tatapannya lurus ke arah Beth. Menunggu sebuah penjelasan yang mungkin tidak akan singkat. Dan Beth lebih dulu mengambil nafas dalam sebelum mulai menceritakan kronologi terjadinya kecelakaan tadi.
.
.
.
.
.
Selang beberapa waktu, si Mbok Sri muncul lagi ke ruang tamu dengan diikuti oleh seorang wanita muda berkerudung yang memakai jas snelli putih.
"Mbak Keira, Mbak Beti! Ini lho dokternya sudah datang!" ujar Mbok Sri.
Keira langsung berdiri dan menyalami si dokter wanita, "Siang dok! Terima kasih sudah datang!"
"Sama-sama, Bu! Siapa yang sakit?" tanya dokter wanita tersebut dengan ramah.
__ADS_1
"Ini teman saya, tadi dalam perjalanan kesini katanya habis kecelakaan, trus jatuh bersama motornya. Sepertinya ada yang terkilir itu kakinya sampai bengkak begitu!" tunjuk Keira pada kaki Beth.
"Baik, saya lihat dulu ya!" ujar sang dokter sambil mendekati Beth.
"Mau diperiksa di sini langsung atau pindah ke kamar, Dok?" tanya Keira.
Sang dokter yang terlanjur berjongkok di depan Beth spontan menoleh. "Saya terserah pasiennya aja, Bu! Nyaman di mana?!" jawab Bu dokter.
"Di sini aja enggak apa-apa kok, Kei!!!" jawab Beth dengan tanggap.
"Yakin lo???" Keira menegaskan.
"Iyaa, udah di sini aja!" balas Beth dengan yakin.
Keira pun hanya bisa mengangkat kedua bahunya dengan pasrah. Lalu ia menoleh pada Mbok Sri dan memberikan kantong plastik yang dipegangnya.
"Mbok, tolong ini kuenya dipotong-potong trus disuguhkan, kalau ada yang penyok langsung pisahin!" pinta Keira.
"Baik, Mbak!" Mbok Sri menerima kantong plastik itu lalu segera membawanya ke dapur untuk dipotong-potong sesuai perintah Keira.
"Beth, gue ke atas dulu ya! Mau ngecek Argha sama ibu di atas!" pamit Keira.
"Oh, okey!" Beth mengangkat jempolnya tanda setuju.
"Dok, saya tinggal sebentar ya!" Keira juga pamit pada dokter wanita yang sudah serius memeriksa kaki Beth.
"Iya, Bu! Silahkan!" jawabnya dengan menoleh pada Keira yang langsung berlalu menuju tangga. "Maaf, mbak bisa berbaring aja di sofa ini?" pinta sang dokter pada Beth.
Beth mengangguk dengan gugup. Dokter wanita itu lalu meluruskan kedua kaki Beth dan memeriksanya satu per satu hingga berhenti di bagian yang bengkak.
"Ini kalau saya tekan begini, apa kerasa sakit?"
Dokter itu bertanya sambil menekan-nekan dengan lembut memar yang ada di kaki Beth. Beth hanya mengangguk sambil meringis.
"Kalau saya putar-putar begini, apa juga kerasa sakit?"
Kali ini dokter itu menggerakkan pergelangan kaki Beth ke kanan dan ke kiri dengan perlahan. Dan Beth pun langsung menggeleng untuk merespon pertanyaan bu dokter.
"Cuman sakitnya pas bengkaknya kesenggol aja, dok!" jawab Beth.
"Kalau dibeginikan sakit?" tanyanya dengan menatap pada Beth.
"Tidak, dok!" jawab Beth yakin.
Sang dokter kemudian manggut-manggut lagi. Dan saat dokter itu membantu Beth kembali duduk, Keira muncul lagi ke dalam ruang tamu dengan membawa serta dompetnya dalam genggaman.
"Udah pemeriksaannya, dok?" tanya Keira langsung.
"Sedikit lagi, Bu!" jawab bu dokter sopan. "Apa ada keluhan lain yang dirasakan selain nyeri pada bengkak di kaki? Mungkin pusing atau mual?" tanya dokter kembali pada Beth.
Beth nampak berpikir sebentar, ia lalu menjawab dengan gelengan kepala.
"Hatinya itu yang cenut-cenut, dok! Kalau ada obat pereda baper boleh banget tuh!" celoteh Keira sambil senyum-senyum.
Bu dokter ikutan tersenyum, sedangkan Beth langsung manyun.
"Kalau nyeri hati karena gejala epigastrium, saya ada obatnya, tapi kalau karena gejala baper, maaf...saya juga tidak bisa mengobati. Maklum saya masih jomblo!" jawab bu dokter sambil meringis.
"Jiyaahhh!!!" seketika meledaklah tawa Keira dan Beth secara bersamaan. "Bu dokternya curcol!" seru Keira yang akhirnya disambut tawa renyah dari sang dokter.
Setelah tawa ketiganya mereda, Beth mulai menanyakan perihal bengkak di kakinya.
"Menurut pengamatan saya, bengkaknya hanya sebatas memar pada jaringan sekitar mata kaki. Dan tidak ditemukan tanda-tanda patah tulang. Penanganan sederhananya dengan di kompres dingin untuk mengurangi nyeri dan di kompres hangat untuk mengurangi bengkak. Lakukan kompres ini lima kali per hari sampai keluhan berkurang." bu dokter menjelaskan.
"Tidak dikasih obat minum atau salep, dok?" tanya Keira.
"Saya akan berikan resep salep Thrombogel untuk pencegah penggumpalan darah. Obat ini biasanya dijual secara bebas di apotek-apotek, tapi saya juga sedia di klinik. Mau beli sendiri atau saya ambilkan di klinik?" tanya sang dokter.
Belum sempat Beth menjawab, Keira sudah lebih dulu menjawab pertanyaan dokter tersebut.
"Nanti sekalian ambil yang di klinik aja, dok! Dokter kan nanti akan diantar balik ke klinik sama sopir saya!" balas Keira dengan yakin.
"Baik kalau begitu, resepnya akan saya berikan nanti berikut salepnya saat di klinik. Cara penggunaannya, dioleskan tipis-tipis di atas memarnya dua sampai tiga kali sehari. Namun jika terjadi reaksi seperti iritasi, rasa menyengat atau terbakar, dan gatal yang berat paska penggunaan obat maka segera hentikan dan silahkan konsultasikanlah secara langsung ke dokter."
Beth dan Keira kompak manggut-manggut. Setelah membereskan peralatannya, sang dokter lalu berpamitan pada Beth dan Keira.
__ADS_1
"Mbok Sriiii....!!!" Keira kembali memanggil Mbok Sri ala penyanyi seriosa.
Dan Mbok Sri yang sudah sigap dengan panggilan nyonya mudanya pun segera muncul dengan membawa nampan berupa sepiring besar rollcake yang sudah terpotong-potong.
"Lho, Bu dokternya udah mau balik???" Mbok Sri tampak heran sambil meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja ruang tamu.
"Iya Mbok, tolong anterin dokternya balik ke klinik sekalian ambilkan obat salep untuk Beth!" pinta Keira.
Mbok Sri mengangguk. Tak lupa Keira menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan Mbok Sri untuk membayar biaya pemeriksaan dan obat kepada bu dokter.
"Kalau begitu saya permisi!" pamit bu dokter pada Keira dan Beth.
Sepeninggal Bu dokter dan Mbok Sri dari ruangan itu, Keira kembali duduk di sofa yang sama dengan Beth dengan terlebih dulu nyomot sepotong rollcake dari atas meja.
"Nanti gue ganti ya biaya dokter sama obatnya!" kata Beth.
"Nggak usah dipikirin!!! Lo kan tamu gue, dan lo kecelakaan setelah ngebeliin pesenan gue, udah sewajarnya gue tanggung jawab!" balas Keira enteng.
"Tapi, Kei...!!!" Beth tampak ingin menyanggah omongan Keira itu karena merasa tidak enak, tapi ia akhirnya hanya bisa pasrah ketika lagi-lagi mendapat tatapan tajam dari Keira.
"Kayanya ada hal yang lebih penting kita omongin selain berdebat masalah biaya pengobatan deh!" tantang Keira.
"Iya sih, niat awal gue dateng kesini. Yaitu curhat ke elo soal apa yang gue rasain sekarang ini!" kata Beth dengan wajah sendu yang sedikit pucat.
"So? Apa yang musti gue dengerin?" Keira menepuk-nepuk kedua tangannya setelah potongan kedua rollcake yang dicomotnya terlahap habis.
"Gue...ngerasa hopeless ama perasaan gue ke Rizzi, Kei!" ungkap Beth setelah menarik nafas panjangnya lebih dulu sebelum mulai membuka suara.
Keira mengernyit tapi masih terdiam. Menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan sahabatnya itu.
"Lo tau kan kalo gue udah naksir Rizzi sejak farewell partynya Argha dulu. Dan selama ini gue fine-fine aja ngejar-ngejar dia karena Rizzi orangnya low profile walaupun gue juga tau latar belakangnya dia kaya' apa tapi selama ini gue mikirnya asalkan gue bisa bikin Rizzi nerima gue apa adanya aja itu udah lebih dari cukup." beber Beth panjang lebar.
"Tapi???" Keira menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi, sebab ia tahu ada suatu hal yang pastinya telah membuat sahabatnya yang selalu ceria dan optimis itu mendadak lesu dan pesimis seperti ini.
"Kemaren pas di nikahannya Vynt, lo tau sendiri kan yang datang bukan orang-orang sembarang, Kei!!! Secara acara mereka di Korea gitu loh!!! Gue aja bisa dateng kesana karena dibayarin Vynt yang notabene sahabatnya."
Keira manggut-manggut dengan memegangi keningnya dan tersenyum tipis, "Iya, teruuussss???" Keira nampak mulai geregetan.
"Pas Rizzi enggak sengaja nangkep buket bunga itu, banyak cewek-cewek high class yang langsung fokus ke Rizzi dan ngenalin dia sebagai anak bungsu Tirta Digdaya. Kenyataan itu aja udah lebih dari cukup sebagai alasan mereka untuk ngejar-ngejar Rizzi. Dan gue otomatis ngeliat ke diri gue sendiri, Kei! Gue otomatis inget siapa gue yang bukan siapa-siapa ini. Keluarga gue enggak kaya, Kei, dan gue juga cuman pegawai kantoran biasa." Beth mendesah pelah.
"Ya ampuunn, Beth!!! Kenapa lo jadi ketularan begonya gue dulu sih!!! Intinya lo minder cuman gara-gara cewek-cewek yang belum tentu beneran ngejar-ngejar Rizzi???" ujar Keira sewot.
Beth diam saja, tapi tubuhnya semakin melorot setelah mendengar hardikan dari Keira barusan.
Keira seketika menjadi gemas sendiri. Ia merasa Beth yang ada di hadapannya kini seolah bukan Beth yang biasa dikenalnya, bukan Beth yang selalu haha hihi di setiap saat meski ketika hatinya sedang gundah gulana.
Beth yang kini dihadapannya seolah-olah sedang menghadapi penyakit mematikan dan telah tervonis tak mempunyai harapan hidup sama sekali.
"Lo inget kan, gue dulu juga sempet kabur gara-gara takut keluarga Tyo enggak nerima gue! Tapi nyatanya ketakutan gue enggak terbukti, dan sia-sia juga gue kabur jauh-jauh ke Jogja!" Keira membeberkan pengalaman memalukannya dulu. Bahwa ia juga pernah sebodoh itu.
Beth mengangguk, "Tapi belum tentu keluarga Rizzi bisa nerima gue kaya keluarga Tyo nerima elo, Kei!" bantah Beth.
"Dan belum tentu juga mereka bakalan langsung nolak lo gitu aja kan!!! Intinya jalani dulu lah, Beth! Tetep buka hati lo buat Rizzi! Gue liat makin kesini tuh orang makin pengen deket elo terus! Tolong lah, kasih kesempatan buat Rizzi ngebuktiin perasaannya ke elo, siapa tahu emang ada masa depan buat hubungan kalian berdua! Ntar kalo ada apa-apanya, enggak mungkin lah gue, Tyo, dan Vynt diem aja! Kita pasti bantu elo kok!" pinta Keira dengan wajah serius.
Beth terdiam, tapi dalam hati kecilnya ia juga masih ingin berusaha. Ia bukan tipe orang mudah menyerah sebenarnya. Hanya saja jika sudah menyangkut materi, Beth selalu minder lebih dulu.
Keira memegang kedua bahu Beth erat-erat lalu menghadapkan tubuh gadis itu tepat ke arahnya. Keira menatapnya mata sahabatnya itu lekat-lekat seraya berkata...
"Denger ya, Beth! Walaupun keluarga lo biasa-biasa aja, tapi lo harus inget kalau lo punya temen-temen yang enggak biasa-biasa aja. Kita enggak akan diem aja kalau sampe ada yang nginjek-nginjek elo. Tanpa terkecuali keluarganya Rizzi. Tapi gue yakin pake banget, kalau Rizzi pun enggak mungkin ngebiarin keluarganya semena-mena ama lo!" Keira berkata dengan tegas.
Beth langsung berkaca-kaca mendengar penuturan Keira itu. Hatinya menghangat. Bercampur antara lega, terharu, sekaligus bahagia menerima kasih sayang yang begitu besar dari sahabatnya.
"Janji ama gue! Keep the spirit, girl! Lo pasti bisa ngalahin keminderan lo dengan segudang kelebihan lo! Dan inget, lo enggak sendirian! Okey!" pinta Keira pada sahabat wanitanya itu.
Beth mengangguk cepat. Dihapusnya air mata yang terlanjur jatuh dan menggantinya dengan senyuman lebar khas gadis itu. Keira merengkuhnya ke dalam pelukannya. Berdua kedua sahabat itu saling berpelukan hingga Mbok Sri datang dengan membawa obat salep yang telah diresepkan dokter tadi.
Setelah puas curhat, atas permintaan, atau lebih tepatnya paksaan dari Keira, Beth lalu pulang diantar Pak Yusam dengan mobil, sementara Pak Hindarto---tukang kebun keluarga Pratama yang mengendarai motor milik Beth hingga ke rumah gadis itu.
.
.
.
To Be Continue....
__ADS_1