
.
.
.
"Ehem...ehem..." suara deheman dari sepasang suami istri—Keira dan Tyo yang ternyata sudah berdiri tak jauh dari posisi Said dan Milla, seketika membuyarkan sesi saling pandang di antara kedua pemuda dan pemudi itu.
"Gue salut sama kalian berdua. Kok bisa nggak ada orang yang ngusir kalian dari situ ya?" Tyo pura-pura memberikan standing applaus untuk menyindir sikap Said yang tidak mengajak teman perempuannya untuk menepi dan malah menghalangi pintu masuk.
"Woii, Said Najib! Ngobrol di tengah jalan gitu itu nggak sopan tahuuuu! Di depan pintu pula. Ckckckck." Keira berdecak sambil berjalan lebih mendekat ke arah Said dan Milla dengan diikuti Tyo di belakangnya.
"Eeh, Kei! Udah, daftar ulangnya?" tanya Said yang cukup kaget dengan kemunculan kembali sahabat beserta suaminya itu.
"Udah dong. Untungnya loket buat her-registrasinya nggak lagi ngantri." balas Keira cepat, secepat ia menoleh pada Milla yang berdiri di hadapan Said. "Haii, kamu lagi sibuk nggak?" tanya Keira ramah pada Milla.
"Ehh..saya? Oh, nggak, Mbak! Saya nggak lagi sibuk!" jawab Milla antara bingung campur kaget dengan sapaan Keira yang tiba-tiba.
"Bagus, kalo gitu ngeBrunch yukk!" tanpa peringatan apapun, Keira langsung mengambil tumpukan kertas yang dibawa Milla, menyodorkannya ke Said, lalu menggandeng sebelah tangan Milla yang sudah bebas tugas menuju keluar Ruang Tata Usaha.
Tyo dengan santai membukakan pintu serta membantu menahan pintu itu agar Keira dan Milla bisa lewat. Setelahnya ia baru mengikuti langkah Keira di sisinya. Sedangkan Said yang masih terbengong-bengong sedikit terlambat menyusul langkah tiga orang yang lebih dulu keluar dan meninggalkannya seorang diri.
"Wooii, tungguin gue dong!" teriak Said sambil berlari dengan kelimpungan karena membawa kertas-kertas milik Milla.
Di salah satu meja kayu dengan payung besar menancap di tengah-tengahnya, keempat orang tadi: Keira, Tyo, Milla dan juga Said duduk bersama-sama melingkari meja yang berbentuk bundar itu.
Meski sudah sama-sama duduk dan juga bersebelahan, tapi Keira sama sekali belum melepaskan tangannya dari tangan Milla. Seolah-olah gadis itu akan langsung kabur begitu Keira melepaskan genggaman tangannya. Hingga Said lagi-lagi membantu gadis itu untuk merapikan kertas-kertas yang dibawanya tadi dan memasukkannya ke dalam tas ransel milik Milla.
"Terima kasih, Kak Said! Maaf ngerepotin!" ucap gadis itu dengan raut wajah sungkan bercampur bingung.
"Santai aja, Mil! Gunanya temen kan emang harus saling bantu." balas Said lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Id, tolong lo ambilin buku menu sana gih! Biar kita buruan pesen." pinta Keira pada pemuda itu.
"Oki doki! Bentar ya!" jawab Said yang langsung melesat dengan cepat ke meja kasir untuk mengambil buku menu kantin itu.
Sikap Said yang begitu perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya membuat Milla takjub. Ia sudah bisa merasakan jika Said adalah pemuda yang baik namun ia tak menyangka bahwa pemuda itu bisa seperhatian ini bahkan kepada dirinya yang notabene orang baru dalam kehidupan Said.
Setelah Said berlalu, Keira kembali mengalihkan pandangannya ke arah Milla dan menemukan ekspresi kekaguman di wajah gadis itu terhadap Said yang sudah menjauh.
"Walaupun sering bertingkah konyol, tapi Said itu anaknya setia kawan dan loyal sama sahabat-sahabatnya. Aku harap kamu bisa berteman baik sama dia, dan sama aku juga!"
__ADS_1
Keira memberikan senyuman terbaiknya untuk Milla. Membuat gadis itu langsung tersipu sekaligus terharu karena bisa bertemu orang-orang baik di awal masa kuliahnya. Dunia baru yang masih sangat asing baginya.
"Maaf ya kalo kesannya aku maksa kamu ke sini, tapi jangan takut! Aku serius pengen temenan kok, cuman tadi tempatnya nggak oke aja buat kenalan, makanya aku ajakin kamu kesini." ucap Keira sambil tersenyum tulus.
"Iya, Mbak Keira! Nggak apa-apa kok!" balas Milla sopan.
Keira cukup terkejut ketika Milla menyebut namanya dengan benar. "Lho, kamu udah kenal aku? Padahal aku aja belum tahu namamu. Waahh, nggak fair niihh." Keira pura-pura cemberut.
"Hehee, aku cuman tahu nama depan Mbak Keira sama Mas Tyo aja kok!" sahut Milla malu-malu.
"Laahh, kok bisa gitu?" kelopak mata Keira terbuka lebar saking herannya.
"Dia kan anak buahnya Devy si PartyPlanner kita waktu nikah itu, Kei." Tyo memberikan penjelasan.
"Iya, saya pertama kali ketemu Kak Said juga pas pulang dari pesta pernikahannya Mbak Keira." ungkap Milla terus terang.
"Kok kamu masih inget sih, Sayang? Itukan udah setahun yang lalu?" Keira nampak heran dengan daya ingat suaminya.
"Kamu aja yang pelupa!" sahut Tyo datar.
"Trus nama kamu sendiri siapa?" tanya Keira kembali fokus pada Milla.
Keira nampak manggut-manggut. Tak lama Said kembali dengan membawa dua buah buku menu di tangannya. Pemuda itu langsung menyerahkannya pada Keira dan Milla agar para perempuan itu memesan lebih dulu.
Saat itulah Keira baru melepaskan genggaman tangannya dari tangan Milla. "Kamu pesen aja sesukamu ya, Mill! Jangan sungkan! Nanti yang bayar suamiku kok!" ucap Keira sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Gue juga dibayarin nih?" tanya Said sambil cengengesan.
"Hallah...sok jaim lo pake nanya segala! Lah biasanya gimana?" goda Tyo dengan pura-pura memukul kepala Said dari belakang.
Acara brunch mereka berlangsung seru. Tak hanya saling bertukar nomor ponsel antara Said, Milla dan Keira, tapi mereka juga saling share tentang pengalaman saat masih berkuliah di tingkat pertama yang saat ini baru saja akan dialami oleh Milla. Said bercerita dengan gayanya yang kocak. Membuat Milla tak henti-hentinya tertawa. Sepertinya gadis itu baru mengetahui karakter Said yang sebenarnya.
Keira sendiri tampak senang berkenalan dan mengobrol dengan gadis muda seperti Milla. Hal itu mampu memberikan kesejukan dalam rutinitas hidup Keira yang selama setahun ini vakum kuliah dan hanya fokus mengurus babynya.
"Lain kali maen ke rumahku ya, Mill! Nanti kita bisa belajar bareng. Jangan sungkan untuk chat aku lhoo...walaupun mungkin aku balesnya suka telat kalau lagi di rumah. Makluumm...emak-emak, mesti rempong sama anak." celoteh Keira saat mereka akan berpisah.
"Gampanglah itu, biar kapan-kapan aku yang bawa Milla ke rumah lo, Kei." janji Said dengan yakin dan langsung disambut anggukan kepala oleh Milla yang nampak antusias.
"Oke deh, kalo gitu sampe ketemu di hari pertama kuliah ya! Dadah, Milla!"
Keira berjalan menuju mobilnya sambil menengok ke belakang dengan melambai-lambaikan tangannya pada Said dan Milla yang masih berdiri di taman pinggir tempat parkir. Tampaknya Keira benar-benar senang dengan genk barunya meski kini hanya bertiga dengan Said dan Milla, tapitak seramai dulu yang berempat
__ADS_1
"Habis ini kamu mau kemana, Milla?" tanya Said setelah melihat mobil Tyo dan Keira sudah keluar dari lapangan parkir kampus mereka.
"Urusan aku di kampus udah selesai sih, Kak! Jadi aku mau pulang!" Milla menjawab apa adanya.
Said manggut-manggut sambil melipat bibirnya dengan gelisah. Dalam hati ia masih ingin ngobrol lebih lama bersama Milla, jadi otaknya langsung berpikir keras untuk mencari-cari alasan yang cukup logis untuk mengulur waktu kebersamaan mereka, "By the way, kamu masih tinggal di Panti itu? Naik apa tadi kesininya?" tanyanya memulai modus.
Milla menggeleng, "Sejak lulus SMA, aku udah keluar dari Panti, Kak. Sengaja aku nggak memperpanjang masa tinggalku di sana karena sebenarnya emang udah nggak ada tempat. Lagipula aku udah lama pengen mandiri. Jadi sekarang aku ngekos di deket-deket sini. Biar bisa pulang pergi kuliah jalan kaki." beber gadis itu.
"Ooh kalau gitu, aku anterin pulang deh! Tapi tolong kamu tunggu sebentar ya, aku mau balik ke Ruang Tata Usaha dulu. Lupa tadi kalau mau daftar training."
Tanpa menunggu jawaban dari Milla, Said bergegas melesat kembali ke Ruang Tata Usaha untuk buru-buru menyelesaikan urusannya. Sedangkan Milla yang masih berdiri di tempatnya mendadak panik setelah mendengar niat Said untuk mengantarnya pulang.
Wadduuhh, Kak Said mau nganterin aku pulang? Gimana dong nih? Aku ngekos di tempat yang paling murah di daerah sini, bisa malu aku kalau Kak Said tahu tempat kosku yang agak kumuh. Apa aku tinggal pulang aja ya? Nggak usah nungguin dia...tapi aku udah disuruh tunggu, nggak sopan kalau aku tinggal gitu aja. Kalau nanti dia nyariin aku gimana? Arrgghh...puyeng!
Milla memeluk ranselnya erat-erat sambil duduk di salah satu kursi taman dengan gugup. Hatinya dag dig dug diliputi rasa cemas yang berlebihan. Belum apa-apa ia sudah merasa minder duluan memperlihatkan lingkungan kosnya kepada Said.
Milla terus menunggu dengan gelisah hingga ia tak menyadari jika Said sudah berjalan mendekatinya, "Sorry...lama ya?" tanya Said tiba-tiba dari arah belakang.
Milla yang kaget langsung spontan berdiri dan berbalik, "Ohh...nggak kok, Kak! Nggak lama. Biasa aja!" jawabnya gugup dan sedikit berlebihan.
Said yang merasa ada keganjalan pada sikap Milla langsung menatap wajah gadis itu dengan heran. "Kamu kenapa, Mil? Nggak apa-apa?" tanyanya dengan mengernyitkan kening.
Milla menggeleng dengan cepat. "Nggak, Kak! Aku nggak apa-apa kok." jawabnya berbohong. Berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya.
"Oia, katamu kosanmu deket dan bisa jalan kaki aja, tapi kalau aku anterin pake mobil, nggak apa-apa kan?" tanya Said tanpa curiga. Dalam hati ia berharap bisa diajak mampir ke kosan baru Milla dan bisa berkunjung lagi kapan-kapan.
Milla terkesiap, tapi tak cukup cepat memikirkan kalimat untuk menjelaskan situasinya. "Oh, iya. Nggak apa-apa!" akhirnya ia hanya menjawab sekenanya.
"Syukur deh! Kalau gitu, aku anterin kamu pulang sekarang?" Said membetulkan letak ransel yang bertengger di sebelah bahunya dengan semangat.
Milla mengangguk lemah. Ia lalu mengikuti langkah Said menuju mobilnya di parkiran tanpa bersuara. Jantungnya berdegup kencang diliputi kegelisahan sekaligus rasa minder yang kian memuncak. Ya ampuuunn, gimana ini??? Bakalan malu bangeeettt akuuu!!!—pekik Milla dalam hati.
Namun ia tak tahu bagaimana lagi cara menolak kebaikan Said dengan halus. Tampaknya pasrah hanya satu-satunya pilihan bagi Milla saat itu.
.
.
.
To Be Continue...
__ADS_1