
.
.
.
Vynt membelokkan motornya di sebuah Cafe dua puluh empat jam terdekat. Setelah memarkirkan motornya dengan benar, ia lalu membantu Fady melepas helm dan menurunkan tubuh wanita itu dari atas motor.
"Aaahh, wajahku dingin sekali," ujar Vynt sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Kamu nggak apa-apa, Fa?" tanya Vynt pada Fady yang melongo di depannya—setelah melihat tingkah spontan Vynt yang diluar dugaan Fady tampak menggemaskan.
Fady tampak mengangguk singkat. Bagaimana mungkin aku kedinginan jika kau memakaikan semuanya padaku. Gumam Fady dalam hati.
Meski ia masih tak mengerti bagaimana seorang Vynt bisa menemukannya di pinggir jalan begitu, tapi jujur, ia menikmati keberadaan pria muda yang kini bersamanya. Fady bersyukur setidaknya ia tidak sendirian saat suasana hatinya sedang sekacau balau ini.
"Buruan masuk yuk, aku benar-benar butuh sesuatu yang hangat nih," ajak Vynt lalu menyentuh punggung Fady untuk membimbingnya masuk ke dalam Cafe.
Vynt langsung bicara pada salah satu pelayan Cafe yang sedang membersihkan meja sesaat setelah mereka berdua masuk.
"Di mana private roomnya?" tanya Vynt pada pemuda berseragam cokelat muda dengan bahasa Inggris.
"Maaf, kami tidak punya yang seperti itu, tapi di pojokan sana ada beberapa kursi yang memiliki penyekat pada sisi-sisi mejanya. Mungkin anda berkenan," jawab pelayan Cafe sambil menunjuk ke arah meja-meja yang dimaksudnya.
Vynt langsung menoleh ke arah yang ditunjuk pelayan Cafe itu lalu mengangguk pelan.
"Oke, Terima kasih," balasnya pada si pelayan. "Fa, kau duduklah di sana! Akan kupesankan sesuatu untukmu, kamu mau apa?" tanya Vynt penuh perhatian.
Fady hanya mengedikkan bahunya. Ia tidak menjawab karena ia tidak tahu apa yang ia mau. Lebih tepatnya Fady bahkan tidak tahu apapun yang ia butuhkan dan ia ingin lakukan sekarang ini. Fady benar-benar sedang blank.
Vynt menghela nafas dengan berat setelah melihat respon dari Fady. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat khawatir. Sejurus kemudian ia hanya mengangguk satu kali lalu berkata lagi...
"Ya sudah, Baiklah. Akan kupilihkan sesuatu untukmu. Duduklah dulu!" pinta Vynt pasrah.
Fady menuruti Vynt lalu berjalan menuju kursi-kursi di pojokan Cafe. Setelah menemukan tempat yang dirasa paling nyaman untuknya, ia pun langsung menempati kursi itu setelah melepas jaket Vynt lebih dulu.
Beberapa menit kemudian, Vynt datang dengan membawa baki penuh makanan dan minuman.
Fady melongo melihatnya, "Kenapa banyak sekali?" tanyanya dengan suara serak yang baru saja ia sadari. "Aah!!!" Fady jadi malu sendiri karena telah mengeluarkan suara seraknya. Iapun refleks menutup mulutnya.
Vynt yang menyadari itu langsung kembali ke kasir untuk memesan teh jahe hangat lalu membawanya sendiri ke meja tempat Fady berada.
"Kamu minum ini saja, jangan minum yang lainnya," ujar Vynt.
"Tapi kamu terlanjur beli banyak sekali, apa kamu yang akan meminum semuanya sendiri?" Fady keheranan.
Vynt menarik ujung bibir kanannya ke samping, ia lalu memanggil seorang pelayan untuk mendekat ke meja mereka. Setelah pelayan itu datang, Vynt lalu memberikan sebagian besar minuman yang tadi dibelinya dan hanya menyisakan secangkir cappucino untuknya dan segelas teh jahe untuk Fady.
"Bisa tolong habiskan semua itu? Saya terlalu banyak membeli minuman," ucap Vynt pada pelayan itu sambil tersenyum.
Pelayan itu sempat bengong tetapi akhirnya mengangguk tanda mengerti. Dan saat Vynt menoleh pada Fady, ternyata wanita itu juga sama melongonya dengan pelayan tadi.
"Sudah kan?" Vynt mengangkat kedua alisnya.
Fady hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Vynt barusan. Namun baginya, itu masih lebih baik daripada membuang semua minuman itu begitu saja.
"Vynt, apa kamu memasang alat pelacak di kepalaku?" tanya Fady tiba-tiba setelah menyeruput teh jahenya.
Mendengar tuduhan blak-blakan itu, Vynt langsung tersedak cappucinonya sendiri. Kemudian ia menjawab, "Aku tidak pernah melakukan itu pada siapapun, apalagi padamu," jawabnya sambil sedikit tersenyum geli.
"Jika tidak, berarti kau sengaja mengikutiku?" tanya Fady lagi.
Kali ini Vynt terdiam, ekspresi gelinya yang samar tiba-tiba menghilang, lalu ia menunduk. Fady bisa mengerti arti dari reaksi Vynt itu.
"Tapi kenapa?" tanya Fady lirih.
"Aku mencemaskanmu," jawab Vynt singkat tanpa menoleh pada wanita di sebelahnya.
__ADS_1
Karena aku baru sadar bahwa aku menyukaimu. Tambah Vynt dalam hatinya.
Vynt mendongak, tetapi tidak menoleh ke arah Fady. Mata pemuda itu menerawang ke arah jendela kaca di hadapan mereka yang menunjukkan pemandangan di luar Cafe yang sudah mulai turun hujan.
Fady tepekur. Ia merasa malu telah membuat seorang Vynt yang hanya seorang mahasiswa magang di tempat kerjanya sampai mencemaskan dirinya. Ia lalu diam sambil meminum teh jahenya lagi.
"Kamu bisa bercerita padaku jika kamu mau, dan kamu juga boleh diam jika kamu tidak ingin cerita padaku," kata Vynt lagi. Sekali lagi pandangannya menunduk menatap ke dalam cangkir cappucinonya.
Fady membisu, tetapi otaknya berpikir. Ia mempertimbangkan untuk mencurahkan segalanya pada seseorang agar sesak dalam dadanya bisa mereda.
Tapi apakah harus Vynt orangnya? Pikir Fady. Tapi jika bukan pada Vynt lalu pada siapa lagi? Padahal yang selama ini mengetahui hampir semuanya hanyalah pemuda ini. Fady melirik Vynt sejenak, lalu menarik nafasnya dengan berat.
Sejurus kemudian ia mulai menceritakan kejadian di rumah Adent tadi pada Vynt secara perlahan. Dan anehnya, ia begitu lancar mengungkapkan rentetan pengalaman memilukan itu.
Padahal Fady mengira, ia akan menangis sesenggukan saat menceritakan hal itu, tetapi nyatanya tidak. Fady merasa heran, tetapi akhirnya ia malah merasa bersyukur karenanya.
Sementara Vynt mendengarkan dengan seksama cerita seniornya itu. Meski ia luar biasa geram dan muak pada lelaki bodoh yang telah menyia-nyiakan Fady, tetapi ia mencoba untuk tetap terlihat tenang di hadapan wanita itu.
"Aku mungkin bukan wanita baik-baik, Vynt. Tapi budaya, agama dan keluargaku melarang melakukan perbuatan itu sebelum ada ikatan pernikahan. Dan aku hanya ingin menghargai aturan itu, aku ingin menghargai diriku sendiri untuk laki-laki yang berhak secara agamaku? Apa aku salah, Vynt?"
Fady menutup curhatnya dengan sebuah pertanyaan, pertanyaan yang dilontarkan nyaris seperti sebuah bisikan, bisikan yang begitu terdengar pedih di telinga Vynt.
Vynt menatap lekat pada wanita di sampingnya, tangannya lalu terulur ke arah wajah Fady untuk menghapus sebutir air mata yang hampir jatuh dari sudut mata wanita itu dengan ibu jarinya.
"Berhenti mengatakan dirimu bukan wanita baik-baik? Karena bagiku kamu sama sekali tidak terlihat seperti itu. Dan aku yakin, orang-orang yang tulus menyayangimu pasti sependapat denganku," jawab Vynt tegas, tetapi ekspresi yang ia tunjukkan begitu lembut.
Mendengar jawaban juniornya, dalam hati Fady merasakan kehangatan, tetapi dari luar ia justru menunjukkan senyum miris. Ia merasa bodoh sendiri karena baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Vynt barusan mungkin saja benar, hanya saja selama ini ia terlalu menilai buruk pada dirinya sendiri.
"Masih ada banyak jalan menuju kebahagiaan, Fa. Kenapa kamu malah memilih jalan yang menyakitkan? Oh, come on! Kamu wanita cerdas dan cantik. Pria itu sama sekali tidak pantas untukmu," Vynt mencoba sekali lagi untuk membesarkan hati Fady.
Lagi-lagi Fady hanya bisa merasa malu akan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang lebih muda darinya bisa berpikir sebijak itu, sementara ia malah dibutakan oleh cinta pada pria yang sama sekali tidak bisa menghargainya.
Dan tanpa Fady duga, Vynt lalu meraih sebelah tangannya yang berada di atas pangkuannya. Fady menoleh pada Vynt dengan ekspresi kaget.
"Aku bersyukur kalian sudah putus, jadi aku tidak perlu susah payah merebutmu dari pria semacam itu. Jujur saja, aku merasa tidak pantas memperebutkanmu dengannya."
"Apa maksudmu bersikap begini?" Fady luar biasa terkejut.
"Aku menyukaimu, Fa. Pilih saja aku! Akan kutuntun kamu di jalan yang tidak akan melukaimu," ungkap Vynt terus terang.
Seketika wajah Fady pun merona dibuatnya. Ia sama sekali tak menyangka akan langsung mendapat pengakuan cinta dari Vynt di hari yang sama ia putus dari Adent. Ia tidak menyangka pria semuda dan setampan Vynt bisa menyukainya. Fady lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Tidak perlu langsung dijawab. Akan kubuktikan dulu perasaanku pelan-pelan biar kamu percaya," tegas Vynt.
Mau tidak mau Fady hanya bisa mengangguk pelan. Ia sendiri masih butuh waktu untuk menata kembali hatinya yang baru saja hancur.
"Kamu pasti lapar sekali sekarang.Makanlah semua yang telah kupesankan untukmu! Kalau ada yang tidak kamu suka, kamu bisa pesan yang lainnya," ujar Vynt lalu melepaskan tangannya dari tangan Fady.
"Kok kamu bisa tahu kalau sekarang aku sangat lapar?" Fady menoleh dengan heran.
"Soalnya sahabatku di Indonesia—Beth! Selalu minta ditraktir makan tiap dia patah hati. Dia bilang, perempuan yang patah hati itu cuma butuh dua hal, sandaran dan makanan. Jadi kupikir saat ini kamupun juga butuh kedua hal itu," ungkap Vynt polos.
Fady tersenyum simpul sambil manggut-manggut mendengar penjelasan pemuda itu. Ia lalu mengambil sebuah donat lalu mulai mengunyahnya. Berdua mereka sama-sama melihat hujan yang turun dengan derasnya dari balik jendela kaca.
***
Setelah hampir dua jam terjebak dalam Cafe karena hujan deras, Vynt dan Fady akhirnya bisa pulang setelah hujan benar-benar reda.
Dan karena sewaktu di Cafe tadi Fady bercerita tentang kunci pintunya yang terlempar hingga ke bawah lemari sepatu, Vynt bermaksud membantu Fady untuk menggeser lemari itu agar Fady dapat mengambil kuncinya.
Namun, setibanya mereka berdua di depan flat Fady itu, keduanya dikejutkan dengan begitu banyak orang yang berkerumun. Fady yang langsung berpikir yang tidak-tidak tentang kerumunan itupun seketika berlari untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat Fady yang langsung berlari menuju kerumunan di depan flatnya, Vynt segera mengikuti wanita itu. Berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu yang membahayakan.
Fady dan Vynt akhirnya dapat melihat pintu flat Fady yang sudah terbuka lebar dengan beberapa orang polisi yang berjaga di sana, serta seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah tuan tanah dari gedung flat yang disewa Fady.
__ADS_1
"Ada apa ini, Mrs.Yaya?" tanya Fady pada wanita itu dalam bahasa Thailand.
"Ada seorang pencuri masuk ke kamarmu, Nona Fady," lapor Mrs.Yaya dengan nada khawatir.
"Apa?" sahut Fady. "Di mana pria itu sekarang?" tanya Fady lagi.
Ia benar-benar tak menyangka jika kecerobohannya membiarkan pintu flatnya tidak terkunci akan menimbulkan kehebohan hingga seperti ini.
Vynt yang tidak tahu apa maksud perkataan wanita itu lalu menanyakan artinya pada Fady. Fady pun menjelaskan dengan cepat. Dan Vynt langsung merasa geram mendengarnya.
Belum sempat Fady merangsek masuk ke dalam flatnya, tiba-tiba Mrs.Yaya berteriak, "Itu, orangnya!" pekik Mrs.Yaya menunjuk pada seorang pria yang digiring keluar dari flat Fady dengan kedua tangannya di pegangi oleh polisi.
Dan saat melihat wajah pria itu, Fady langsung kaget setengah mati. Karena ternyata pria yang disangka pencuri itu tidak lain adalah Adent.
"Fady! Tolong jelaskan pada mereka bahwa aku bukan pencuri. Aku hanya ingin mengambil barang-barangku yang ada disini. Tapi mereka menuduhku mencuri," teriak Adent begitu melihat Fady sudah berdiri di depan pintu flatnya.
"Apakah anda mengenal pria ini?" tanya Polisi pada Fady.
"Tentu saja dia mengenal saya, Pak. Kami mantan kekasih, saya hanya ingin mengambil barang-barang saya yang ada di sini," Adent berusaha menjelaskan.
"Barang-barang apa yang kau maksud?" tanya Fady bingung.
"Tentu saja barang-barang yang pernah kuberikan padamu dulu," bentak Adent kesal.
"Apa? Bukankah semua itu hadiah untukku?" Fady bingung.
"Memang, tapi kita sudah putus sekarang, jadi aku akan mengambilnya kembali. Tapi orang-orang ini malah menuduhku mencurinya," teriak Adent tidak terima.
Fady merasakan emosinya meluap. Bagaimana bisa dia begitu mencintai pria serendah in? Pikirnya. Pria ini bahkan tidak tahu malu, ingin mengambil kembali apa yang telah diberikannya sebagai hadiah. Apalagi di hari yang sama setelah ia memutuskan hubungan mereka. Benar-benar memuakkan! Fady sangat marah.
"Fady! Cepat katakan pada polisi-polisi ini bahwa aku bukan pencuri! Dan suruh mereka melepaskanku!" pinta Adent dengan bentakan.
Fady jadi semakin emosi dibuatnya. Ia lalu menegakkan badannya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dan berdiri menantang Adent di depan semua orang.
"IYA! DIA MEMANG PENCURI! teriak Fady tidak terima.
"FADY! Apa maksudmu?" Adent masih berani membentak Fady dihadapan semua orang meski kedua tangannya sudah dipegangi polisi.
"Dia masuk ke dalam flat pribadi saya tanpa seizin saya, dan dia mengambil barang-barang yang sudah diberikan kepada saya yang artinya sudah menjadi milik saya. Apa itu bukan MENCURI namanya?" teriak Fady lantang.
Dan orang-orang yang berkerumun pun langsung menyetujui pendapat Fady dan mulai berteriak-teriak ikut memprovokasi polisi untuk segera membawa pria tidak tahu malu itu.
"Dasar pencuri!"
"Jebloskan saja ke penjara, Pak!"
"Tidak tahu malu! Huuuuuuu..."
"Pria gila! Dasar sakit!"
"Bawa dia, Pak Polisi! Tangkap saja pria itu!"
Orang-orang berteriak-teriak dengan begitu emosinya. Bahkan ada sebagian dari mereka melempar sampah dengan geram ke arah Adent.
Akhirnya Polisi menggelandang Adent untuk masuk ke dalam mobil patroli. Adent yang masih tidak terima dirinya ditangkap malah berteriak-teriak dengan marah dan mengancam Fady.
Fady bergeming di tempatnya berdiri. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kedua tangannya mengepal menahan amarahnya.
Ia hampir menangis ketika Vynt dengan sigap memeluknya erat dan menyembunyikan wajah Fady dalam dekapannya. Dan Fady akhirnya benar-benar menangis sekeras-kerasnya di dalam pelukan Vynt.
To Be Continue....
.
.
__ADS_1
.
.