
.
.
.
Selama perjalanan yang terasa menegangkan itu, Said terus merapalkan do'a dalam hati mengharap keselamatan untuk seorang gadis manis yang akhir-akhir ini menguasai pikirannya. Said begitu takut jika sosok Milla yang akan ditemuinya di lokasi pengungsian nanti sampai kenapa-kenapa.
Setelah mengikuti jejak Maps yang telah dishare oleh Nurdin via chat, Said dan Keira tiba di depan sebuah lokasi yang tampak luas dan ramai. Seorang juru parkir menghampiri mobil Said yang melipir secara perlahan di pinggir jalan tepat di depan bangunan berlantai dua itu.
"Masnya mau kemana? Kalau cuman nonton mending lurus aja, Mas! Jangan berhenti di sini, nanti bikin macet!"
"Saya mau ke kelurahan, Pak! Teman saya jadi korban kebakaran!" balas Said dari balik jendela mobilnya yang terbuka.
"Oo, kalau gitu masuk sekalian aja, Mas! Parkir di dalam. Semua korban kebakaran ada di pendopo utama sebelah kanan dari pintu gerbang." terang juru parkir tersebut.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Akhirnya dengan bantuan si juru parkir, Said berhasil memasukkan mobilnya ke dalam area kelurahan yang begitu ramai. Hiruk pikuk orang-orang di dalam lingkungan itu sangat kacau. Keira dan Said turun dari mobil sambil kebingungan.
Keduanya menatap waswas pada area kantor pemerintahan yang menjadi lokasi pengungsian sementara itu. Seraya mengamati sejumlah besar para korban kebakaran yang ada di situ, Said dan Keira dengan kompak memindai sekeliling berusaha mencari keberadaan Nurdin dan Milla.
"Mending lo telepon si Nurdin deh, Id! Suruh ajak Milla ke sini! Kalau kaya gini kita nggak bakalan bisa nyari posisi dia dan Milla di mana." saran Keira.
Said mengangguk setuju dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Nurdin. Beruntung Nurdin masih dapat menjawab panggilan teleponnya di tengah kondisi yang begitu ramai itu. Tak lama kemudian, sosok Nurdin muncul di tengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang. Berjalan mendekat ke arah Said dan Keira dari samping.
"Said! Keira!" panggil Nurdin saat jarak di antara mereka mulai dekat.
Kepala Said dan Keira sontak menoleh ke arah sumber suara. Secara bersamaan mereka melihat Nurdin di antara kerumunan orang-orang yang setengahnya nampak panik itu.
"Untung kalian cepet dateng." Nurdin terlihat lega ketika bertemu mereka.
"Kenapa, Din? Millanya mana? Dia nggak apa-apa kan?" cecar Said.
"Alhamdulillah, fisiknya sih nggak apa-apa. Cuman gue bingung nih! Si Milla masih shock, barang-barangnya ludes semua. Untungnya dia sempet nyelametin kotak sepatu yang kata Milla isinya tabungannya dia. Habis itu dia banyak diemnya dari tadi. Gue mau bantu teleponin keluarganya tapi dia nggak ngejawab." Nurdin langsung curhat begitu ia sudah berhadapan dengan Said dan Keira.
Said langsung geleng-geleng sambil memegangi keningnya, "Jelas aja dia nggak jawab. Milla tuh bekas anak panti. Dia nggak tahu keluarganya di mana. Bahkan dia nggak tahu, keluarganya masih hidup atau nggak." ungkap Said.
Keira dan Nurdin langsung terperangah mengetahui fakta itu. Keira bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan saking shocknya.
"Serius lo, Id!" tanya Keira tak percaya.
Said mengangguk tegas. Itulah mengapa ia begitu menyesal telah mendo'akan agar rumah kos Milla terbakar. Karena gadis itu tak mempunyai tujuan lain selain rumah kos kumuh itu. Meski begitu ada setitik kelegaan di hati Said mengetahui Milla tidak akan mungkin kembali ke lingkungan itu lagi.
"Kesian banget sih dia. Udah nggak punya keluarga, sekarang ketiban musibah kaya' gini pula. Trus gimana dong nih? Dia musti kita bawa kemana? Kalo nggak ada keluarga trus gimana nasibnya setelah ini?" kini giliran Nurdin yang mencecar pertanyaan dengan nada prihatin.
__ADS_1
Said terpaku. Pikirannya buntu untuk beberapa saat. Sampai akhirnya ia berpikir untuk membawa pulang Milla ke tempatnya. "Biar gue bawa dia pulang ke tempat gue!" ceplosnya ngasal.
Lalu sebuah pukulan mendarat di kepalanya yang sedang kalut. "Ngawur aja, Lo! Maen bawa pulang anak gadis orang. Mau lo apain si Milla di tempat lo, hah?" omel Keira.
"Yaelah, Kei...situasi dah genting begini lo masih aja su'udzon ama gue." Said memelas.
"Ya jelas lah, lo tuh cowok normal. Dan Milla tuh cewek polos. Nggak ada jaminan lo nggak bakalan ngapa-ngapain dia di tempat lo berdua aja. Yang bener aja lo!" Keira bersungut-sungut.
"Trus gimana dong, Kei??? Kata Milla dia nggak mungkin pulang lagi ke panti karena di sana udah nggak ada tempat makanya dia milih ngekos sendiri setelah lulus SMA." Said makin panik.
"Kita bawa dia pulang ke rumah kita dulu aja, Kei!" tiba-tiba Tyo muncul di antara mereka. Membuat ketiga teman sekelas itu menoleh ke arah suami Keira.
"Sayang..." panggil Keira pada suaminya. "Kamu yakin mau begitu? Beneran nggak apa-apa?"
Tyo mengangguk, "Di rumah kita banyak kamar kosong. Milla bisa pakai salah satu untuk sementara sampai kita bisa bantu cari tempat tinggal baru buat dia. Dan di rumah nanti kamu bisa hibahkan sebagian baju-baju kamu untuk Milla. Setelah itu baru kita musyawarahkan lagi jalan keluarnya dengan tenang!"
"Aku setuju!" jawab Keira sumringah. Merasa lega karena mengetahui nasib Milla tak lagi terombang-ambing. Setidaknya untuk saat ini.
"Terus Millanya sekarang di mana?" tanya Tyo menoleh pada Nurdin.
"Masih di pendopo sana. Tapi kalau emang mau dibawa pulang harus lapor ke pihak kelurahan dulu. Harus isi data keluarga." jelas Nurdin.
"Oke, ayo kita jemput Milla bareng-bareng. Biar aku yang isi data keluarganya." ajak Tyo tanpa ragu.
Setelah itu, semuanya berlalu begitu cepat. Beruntung bagi Milla, Tyo datang dan memutuskan untuk membawanya pulang ke rumahnya. Memberikan penampungan sementara yang layak untuk gadis itu sebelum mereka menemukan solusi yang tepat akan nasib Milla selanjutnya.
***
Di rumah keluarga Pratama,
Keira mengantar Milla ke salah satu kamar tamu di lantai bawah. Gadis itu masih bungkam sejak mereka menjemputnya di pendopo. Bahkan selama dalam perjalanan, Milla tetap membisu sambil meringkuk memeluk kotak sepatu yang nampak setengah basah.
Dengan tergopoh Mbok Sri mengikuti mereka dari belakang sambil membawa seperangkat alat mandi yang masih baru. Asisten rumah tangga yang sudah berumur itu langsung menata alat mandi yang dibawanya ke dalam kamar mandi setelah mereka bertiga memasuki kamar tamu. Hanya jubah mandi yang masih nampak menggantung di tangannya.
"Milla, kamu mandi dulu gih. Baju yang kamu pakai ini dibuang aja ya! Udah nggak bisa dipake lagi itu. Habis ini aku ambilkan baju-bajuku yang bisa kamu pakai!" ucap Keira.
Milla mengangguk lemah. Keira meminta jubah mandi yang masih dibawa Mbok Sri lalu menyodorkannya pada Milla. "Sementara itu kamu pakai jubah mandi ini dulu dan tunggu aku di sini!" pinta Keira.
Lagi-lagi Milla hanya mengangguk meski sebelah tangannya meraih jubah mandi itu dengan perlahan. Hati Keira jadi pilu melihat sikap gadis itu. Perhatiannya lalu tertuju pada kotak sepatu usang yang masih didekap Milla erat-erat.
"Itu, kaya'nya basah!" Keira menunjuk ke arah kotak sepatu di pelukan Milla. "Mau aku ambilkan pengering rambut sekalian untuk mengeringkan itu?" tanya Keira.
Milla menatap kotak yang dibawanya lekat-lekat lalu kembali menatap Keira. "Mau, Mbak!" jawabnya kemudian.
Keira akhirnya bisa tersenyum lega setelah gadis itu kembali bersuara. "Kalau gitu aku ambilkan dulu ya! Kamu tenang aja, disini aman kok!"
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, Keira dan Mbok Sri akhirnya keluar dari kamar tamu itu bersama-sama. Keira langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengambilkan baju serta pengering rambut yang ia tawarkan kepada Milla, sementara Mbok Sri langsung kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Selang setengah jam kemudian...Keira mengetuk pintu kamar tamu yang ditempati Milla seraya memanggil gadis itu. "Milla, ini aku!"
Milla membuka pintu dan Keira melihat Milla sudah terlihat lebih baik meski masih dengan jubah mandi di tubuhnya. Tampaknya gadis itu sudah selesai membersihkan diri dan sedang menunggunya. Keira lalu masuk dengan menyeret sebuah koper berukuran delapan belas inci bersamanya.
"Ini baju-baju yang bisa kamu pakai. Aku nggak minjemin ya. Ini semua aku kasih ke kamu karena kebanyakan udah nggak muat di badanku. Tapi tenang aja, kondisinya masih bagus-bagus kok. Jadi nggak perlu kamu kembalikan, okey!" terang Keira sambil menaikkan koper itu ke atas tempat tidur lalu membukanya.
Milla melongo sambil melihat isi koper yang sudah dibuka oleh Keira. Lalu kemudian Keira menyerahkan sebuah paper bag berlogo "Victoria's Secret" tepat ke hadapan Milla. "Dan ini, pakaian dalam. Aku beli buat stok aja, jadi belum pernah kupakai. Bahkan masih ada tagnya. Buat kamu juga."
Milla speechless dibuatnya. Ia pikir Keira hanya akan memberinya sehelai atau dua helai pakaian untuk ganti sementara. Sama sekali Milla tidak menyangka jika kakak tingkat yang baru dikenalnya itu akan sangat bermurah hati memberikan sekoper penuh baju-baju yang nampak terlalu bagus bagi Milla.
"Setelah ganti baju, kamu keluar ya! Kita makan siang bareng di ruang makan. Oia, pengering rambutnya ada di dalam koper." imbuh Keira.
Milla lagi-lagi hanya bisa mengangguk. Bibirnya masih terasa kelu meski kini karena alasan yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Setelah Keira meninggalkannya seorang diri, Milla bergegas berganti baju. Ia tak ingin orang-orang yang telah berbaik hati menolong dan menampungnya harus menunggu dirinya hanya untuk makan siang.
Tak lama Milla keluar dari kamar itu dan mulai celingukan mencari letak ruang makan yang di sebutkan Keira. Namun, tiba-tiba dari arah belakang ia dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggil namanya.
"Nak Milla ya?!" panggil Ny.Naina yang baru keluar dari dapur.
Milla menoleh dan tampak ketakutan karena berhadapan dengan orang yang tak dikenalnya. "I-iya, saya." jawab Milla terbata.
Ny.Naina yang melihat sorot mata penuh ketakutan dari Milla langsung merasa tak tega. Mertua Keira itu langsung mendekat dan memeluk Milla dengan hangat.
"Jangan takut! Saya ibunya Keira, panggil aja Bu Naina. Saya sudah dengar kondisi kamu. Ibu turut prihatin ya, Nak...tapi kamu jangan khawatir, kami akan bantu kamu semampu kami!"
Ny.Naina melepaskan pelukannya lalu memberikan senyuman paling hangat yang pernah Milla terima dari seorang wanita paruh baya. Milla berpikir, seperti inikah rasanya dipeluk seorang ibu. Milla merasa begitu nyaman hingga ia menginginkan pelukan itu lagi. Namun, Milla juga merasa canggung akan kebaikan yang tiba-tiba itu.
Ny.Naina mengajak Milla ke ruang makan. Di sana sudah berkumpul Tyo, Keira, Said dan si kecil Arga yang duduk di kursi makan bayi.
"Sekedar info, Nak Milla, sahabat-sahabatnya Keira selalu diterima di rumah ini. Dan Nak Said itu sudah sering sekali numpang makan di sini, jadi Nak Milla jangan merasa sungkan ya. Anggap rumah sendiri!" Ny.Naina menepuk kedua bahu Milla sebelum akhirnya mempersilahkah gadis itu memilih kursinya.
Said melambaikan tangan ke arahnya lalu menepuk-nepuk kursi makan yang ada di sebelahnya. Milla mengangguk dan berjalan perlahan ke arah Said. Saat Milla mendekat, Said berdiri lalu menarik kursi yang dimaksudnya agar Milla bisa duduk. Ny. Naina sendiri langsung memilih duduk di sebelah kursi cucu semata wayangnya.
"Milla, silahkan makan sepuasnya ya! Makan yang banyak. Karena kamu butuh asupan tenaga untuk menghadapi kenyataan." ucap Tyo terus terang.
Saat itu Tyo duduk di kursi utama yang biasa di duduki oleh ayahnya. Mumpung Pak Ruslan masih ngantor, jadi kali ini Tyo yang berperan sebagai kepala keluarga di rumah itu.
"Iya, Milla. Makan yang banyak, tapi jangan terlalu khawatir soal kenyataan. Ada kami yang pasti bakalan bantuin kamu!" tambah Keira sambil menyuapi si kecil Arga makan siang.
Makan siang berlangsung cukup ramai, masing-masing dari mereka semua berusaha membesarkan hati Milla agar tidak terlalu terpuruk dalam masalahnya. Meskipun mereka sama-sama menyadari betapa pelik masalah yang tengah melanda gadis itu.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue...