
.
.
.
"Kamu mau Takhta Grup mensponsori Milla?" ulang Pak Ruslan. Owner tunggal dari Takhta Grup itu menyangga pipinya dengan sebelah tangan yang ia tumpukan pada sandaran lengan.
Tyo mengangguk dengan yakin. Sementara Pak Agus kembali memasang wajah tenangnya saat menyimak pembicaraan ayah dan anak itu. Ia bertanya-tanya—lebih tepatnya berharap—akankah ada tugas untuknya dalam pembicaraan tersebut.
"Tapi atas dasar apa? Apakah orang tua Milla sudah tak mampu membiayai kuliahnya gara-gara kebakaran itu?" Pak Ruslan tak mengerti. Ia memang mengetahui dari sang istri yang menelponnya ketika jam makan siang tadi bahwa teman dari menantunya itu baru saja tertimpa musibah. Tapi baik dirinya maupun istrinya tidak tahu kondisi Milla secara detail.
Karena Tyo menyangkut pautkan Takhta Grup yang notabene perusahaan sang ayah dalam masalah ini. Mau tidak mau, Tyo harus menjelaskan kepada sang ayah tentang kehidupan Milla secara rinci.
Meski Tyo mengungkapkan hampir segalanya yang ia ketahui mengenai kehidupan seorang gadis bernama Millana Risty, tapi suami Keira itu tetap memilah kata-katanya dengan teliti agar tidak menimbulkan spekulasi yang memicu kritikan terhadap Milla. Karena bagi Tyo, opini negatif adalah hal terakhir yang gadis itu butuhkan saat ini.
Pak Ruslan dan Pak Agus sama-sama terpaku mendengar penjelasan Tyo mengenai hidup Milla. Mereka berdua—khususnya Pak Ruslan—sama sekali tidak menyangka ada seorang gadis muda yang memiliki jalan hidup seberat itu. Sungguh miris—pikir Pak Ruslan. Sementara Pak Agus malah jadi penasaran, seperti apa sosok gadis bernama Milla yang sedang mereka bicarakan itu.
"Tapi kenapa kamu menyarankan Takhta Grup yang menjadi sponsor bagi Milla? Kenapa nggak langsung kamu tolong dia dengan memberinya sponsor dari perusahaanmu atau dari perusahaan milik Keira?"
"Karena Milla adalah mahasiswa Pariwisata, Ayah. Ilmu yang dia pelajari saat ini bisa jadi sangat berguna untuk kemajuan Takhta Grup di masa mendatang. Jadi akan lebih tepat jika Takhta Grup yang mensponsori kuliah Milla. Hitung-hitung investasi." Tyo mencoba meyakinkan sang ayah dengan pemilihan kata yang cukup persuasif.
Pak Ruslan tampak berpikir sejenak, lalu menoleh ke arah Pak Agus dan bertanya, "Bagaimana pendapatmu, Gus?"
Pak Agus mengerjap di balik bingkai kaca matanya. Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk menjawab, "Saya rasa itu ide yang bagus, Pak! Kalau saya tidak salah ingat, General Manager dari salah satu hotel kita juga pernah menerima sponsor penuh dari Takhta Grup semasa kuliahnya. Dan kini, beliau menjadi salah satu perwakilan kita yang paling kompeten dan potensial." terang Pak Agus.
Pak Ruslan manggut-manggut, merasa barusaja diingatkan tentang project sponsorship yang pernah diberikan Takhta Grup terhadap salah satu mahasiswa jurusan Pariwisata di awal dekade kedua berdirinya perusahaan itu.
"Kalau memang gadis itu berpotensi, kita bisa memasukkan poin tersebut sebagai salah satu persyaratan ke dalam Kontrak Kerjasama Sponsorship nantinya, Pak. Sebagai jaminan bahwa dia akan mendedikasikan kemampuannya di Takhta Grup setelah masa kuliahnya berakhir." imbuh Pak Agus.
"Jangan lupa untuk memberikan periode waktu pada syarat tersebut agar Milla tidak merasa terus berhutang pada Takhta Grup seumur hidupnya." saran Tyo.
"Saya setuju, karena jika gadis itu nantinya
tidak merasa cocok dengan lingkungan kerja yang kita berikan, hanya akan menjadi bom waktu bagi Takhta Grup ketimbang menghasilkan benefit." Pak Agus mendukung saran dari Tyo.
Pak Ruslan nampak mengangguk pelan di tempatnya. Diskusi mereka ini mungkin terdengar ringan tapi nyatanya tidak bisa dikatakan sepele karena hal ini menyangkut masa depan seorang manusia. Namun, jiwa dermawan Pak Ruslan tak bisa mengalahkan sikap kehati-hatiannya dalam memberi keputusan.
"Oke, ayah menjanjikan bantuan untuk Milla, tapi soal sponsorship biar Pak Agus memeriksa dulu latar belakang gadis itu. Baru ayah bisa memberikan keputusan yang valid mengenai hal itu." ucapnya kemudian. Beliau menoleh kepada Pak Agus dan bertanya, "Gus, berapa lama kira-kira kamu bisa menyelidiki tentang Milla?"
"Tergantung seberapa banyak petunjuk yang bisa saya dapatkan, Pak!" jawab asisten itu dengan lugas.
Pak Ruslan beralih menoleh kepada Tyo, "Lalu, sebanyak apa petunjuk yang bisa diberikan Milla, Tyo?"
"Kebetulan untuk masalah itu, saya juga mau minta tolong Pak Agus untuk membantu proses restorasi dokumen pribadi milik Milla yang terbakar. Walaupun tidak seluruhnya, tapi dia bisa mengupayakan copyan dari beberapa dokumen penting miliknya." ujar Tyo.
__ADS_1
"Termasuk copyan akte kelahirannya? Katamu dia yatim piatu?" Pak Ruslan nampak ragu.
"Kata Milla, kemungkinan bekas Panti yang pernah menampungnya mempunyai salinan akte lahirnya. Jadi dia bermaksud akan memintanya kesana lebih dulu, Yah!" jawab Tyo sesuai dengan kata-kata Milla tadi siang.
"Kebetulan sekali, karena itu malah bisa mempermudah tugas saya, Mas Tyo! Dan lebih baik, saya juga yang mengantar Mbak Milla kesana, jadi saya bisa sekalian menggali info di Panti Asuhan itu." ucap Pak Agus.
Tyo setuju. Iapun mengangguk sambil berjanji akan memberitahukan hal itu kepada Milla besok. Pada akhirnya, bagi Tyo, diskusi malam itu berjalan cukup lancar. Ia yakin, Takhta Grup pasti akan memberikan sponsor penuh kepada Milla. Namun, jikalau memang tidak, Tyo masih mempunyai banyak cara untuk membantu gadis malang itu.
***
Esoknya, menjelang siang ...
Tyo dan juga Keira bersiap mengantar Milla pindah ke apartemen Keira yang sedang kosong. Setelah tadi pagi, saat sarapan bersama keluarga Pratama, Pak Ruslan mempersilahkan Milla untuk tinggal di rumahnya selama menunggu keputusan.
Namun, melihat reaksi yang sangat canggung dari gadis itu, membuat Tyo memberinya pilihan lain, yaitu Milla bisa menempati apartemen Keira yang tak terpakai. Tentunya atas persetujuan dari Keira. "Iya, Mill! Kalau kamu lebih suka tinggal sendiri pake aja apartemenku! Daripada mubadzir!" ucap Keira kala itu.
Keira menambahkan jika dirinya akan sangat senang jika Milla dapat menjaga dan merawat apartemennya. Namun tentu saja, iapun tidak akan keberatan jika Milla lebih senang tinggal di rumah keluarga Pratama bersama mereka.
Namun, seperti yang sudah Tyo duga, Milla yang merasa kurang nyaman dengan segala kemewahan di rumah keluarga Pratama, memilih menumpang sementara di apartemen Keira. Lagipula ia juga butuh waktu seorang diri untuk merenungi jalan hidupnya di masa mendatang.
Untungnya hari ini hari minggu, jadi mereka punya waktu seharian untuk membantu Milla pindahan termasuk beres-beres apartemen. "Ibu, Keira titip Dwiargha ya. Kita usahain sebelum makan malam udah pulang kok!" pamit Keira pada ibu mertuanya yang sedang memeluk pinggang Milla.
"Iya, kamu tenang aja! Biar Dwiargha ibu yang urusin!" balas Ny.Naina kepada sang menantu. Setelahnya beliau menoleh kepada gadis manis di sampingnya lalu memeluknya erat. "Kalo kamu bosen di apartemen sendirian, kamu bisa sering-sering main ke rumah ini, Oke! Dan bawa semua makanan yang sudah ibu siapin buat kamu! Simpan baik-baik di kulkas biar nanti kalau lapar tinggal kamu angetin di microwave!"
"Appahh???" pekik Ny.Naina tampak lucu. "Ya udah, habis kalian berangkat biar ibu teleponin "Kitchen Paradise" buat ngirim mircowave ke apartemen kamu. Share lokasi apartemenmu via chat ya, Kei! Jangan lupa!" perintahnya pada Keira yang langsung disambut anggukan dan acungan jempol oleh sang menantu.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu Naina! Terima kasih banyak atas bantuannya!" pamit Milla santun.
Dengan mata berkaca-kaca, Ny.Naina nampak memeluk gadis itu sekali lagi. Dalam hatinya beliau bergumam, *S*eandainya Argha masih hidup bisa aku nikahkan sama Milla. Sayangnya umur Argha sangat pendek—batinnya.
Akhirnya siang itu... Milla, Keira, dan Tyo bersama-sama menuju apartemen Keira untuk mengantar Milla menyambut kehidupan normalnya yang baru. Namun, Milla tak menyangka jika di sana sudah menunggu Said, Beth dan Rizzi yang juga datang untuk membantu.
"Weeittss...gercep nih kerja baktinya. Udah nyampe aja kalian." goda Keira ketika melihat ketiga sahabatnya sudah standby di lobi apartemennya.
"Said tuh yang paling gercep. Dia udah nongol di sini waktu gue sama Rizzi baru nyampe." sahut Beth sambil melempar lirikan ke arah Said.
"Hmmm...ada maunya sih dia!" tambah Rizzi sambil senyum-senyum.
"Udah-udah, ayo buruan naik! Keburu sore kalo cuman ngeghibah di sini!" ajak Said bermaksud untuk ngeles.
Untungnya, ternyata apartemen itu tidak sekotor yang dibayangkan Keira. Dengan adanya mereka berenam, tugas bersih-bersih hari itu tidaklah terlalu melelahkan dan memakan waktu lama. Bahkan, mereka masih mempunyai waktu lebih untuk bersantai dan memakan camilan bersama.
Milla, Keira, dan Beth berbelanja bersama di minimarket lantai bawah sementara para pria menunggu di dalam apartemen Keira sambil menunggu mivrowave yang dijanjikan Ny.Naina datang. Dan benar saja, setibanya ketiga perempuan itu kembali ke atas, mereka sudah melihat sebuah kotak tanggung yang diletakkan di tengah-tengah meja dapur.
"Microwavenya udah dateng ya?" tanya Keira antusias.
__ADS_1
Rizzi mengangguk, "Hooh, baru aja!"
"Disettingin sekalian dong, biar Milla tinggal pake!" ujar Beth.
"Oke, siap!" sahut Rizzi cepat.
"Btw, gimana sama ponsel kamu, Mill? Masih bisa dipake?" tanya Keira sambil menuangkan minuman untuk mereka semua.
Milla tersenyum tapi kepalanya menggeleng. "Semalam udah coba aku keringkan pake hairdryer tapi nggak bisa nyala. Aku diemin semalaman dengan casing terbuka siapa tahu besoknya bisa nyala, tapi nyatanya tetep nggak nyala waktu tadi pagi aku coba nyalain lagi. Mungkin emang udah rusak, Mbak!" Milla terlihat pasrah sambil mengangkat bahunya.
"Ya udah kalau kamu mau beli yang baru, nanti aku anterin!" Said langsung menawarkan diri. "Tapi untuk sementara kamu bisa pake ponselku yang lama, kebetulan aku punya satu yang udah nggak kupakai sejak ganti yang ini." Said mengangkat ponsel terbarunya yang lebih kuat untuk dipakai ngegame.
"Kalau gitu, besok bisa lo bawain sekalian pas ke kampus, Id!" saran Keira yang sudah duduk di sisi Tyo.
"Ngapain nunggu besok kalau bisa gue pinjemin sekarang! Bentar gue ambil dulu!" Setelah berkata demikian Said langsung berdiri dan keluar begitu saja dari pintu apartemen Keira. Meninggalkan teman-temannya yang terbengong-bengong dengan tingkahnya.
Namun, mereka lebih kaget lagi begitu Said kembali tak sampai lima menit kemudian dengan membawa sebuah ponsel di tangannya.
"Lho... Elo habis terbang, Id, kok cepet amat perginya?" celetuk Beth heran.
"Ya cepet lah, orang ngambilnya cuman di kamar sebelah!" jawab Said enteng.
Mendadak semua orang yang berkumpul di sana—kecuali Said—membelalakkan matanya mendengar ucapan pemuda itu. "MAKSUD LO???" pekik mereka bebarengan. Namun, hanya Milla yang tampak terdiam terpaku.
"Gue kan sekarang tinggal di apartemennya, Vynt. Jadi gue barusan cuman ngambil di sebelah doang!" Said masih bersikap santai.
"Sejak kapan?" tanya Beth heboh.
Said terkekeh lalu menjelaskan bahwa dia sudah tinggal di apartemen sahabatnya itu sejak Vynt lebih sering pulang rumahnya ketimbang pulang ke apartemen, karena itulah Said menggantikan Vynt menempati apartemennya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di antara mereka.
"Kok lo enggak bilang-bilang ke kita?" protes Keira merasa kecolongan.
"Emang belum gitu?" Said garuk-garuk kepala.
"BELUUMM!!!" pekik Keira dan Beth dengan kompak.
"Ooh, ya maaf!" balas Said lagi-lagi hanya terkekeh.
.
.
.
To Be Continue...
__ADS_1