
@Hotel Bintang Lima
Saat Ny.Rosa bertatap muka dengan pria itu, seketika dirinya kaget lalu berdiri dari duduknya.
"Yusron!" terdengar Ny.Rosa memanggil nama pria yang dikenalnya itu.
"Halo, Ros! Sudah lama tak bertemu." balas pria itu sambil tersenyum.
"Kamu, kenapa ada disini?" Ny.Rosa masih tak mampu menguasai kekagetannya.
"Aku yang menyuruh Ebin membawamu kesini." jawab Pak.Yusron santai sambil duduk di sofa lain di dekat tempat duduk Ny.Rosa.
"Ka-Kamu...Bos Besar yang disebut Ebin tadi?" tanya Ny.Rosa sedikit gemetar.
"Betul sekali." balas Pak Yusron cepat dengan bersandar pada sandaran sofa. "Kenapa? Kamu pasti tidak mengira jika mantan pacar yang kamu tinggalkan saat miskin dulu kini sudah berubah menjadi Bos Besar yang bahkan bisa meminjamimu uang satu milyar?" tanya Pak Yusron dengan sinisnya.
"Tapi...." belum sempat Ny.Rosa berkata-kata, Pak Yusron yang tak sabaran segera memotong ucapan Ny.Rosa.
"Ebin bilang kamu tidak bisa membayar bunga pinjamanmu itu?" tanya Pak Yusron, kali ini dengan wajah serius yang membuat nyali Ny.Rosa sedikit ciut.
"I-iya, tidak bisakah aku dapat dispensasi mengingat hubungan kita dulu yang pernah dekat." Ny.Rosa berusaha bernegosiasi.
"Dispensasi?" Pak Yusron bergumam sambil melihat ke arah Ny.Rosa dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sebenarnya Pak Yusron ingin sekali membalas sakit hatinya dulu terhadap Ny.Rosa dengan menguras hartanya, namun ketika Pak Yusron melihat Ny.Rosa saat ini yang nampak masih begitu sehat dan cantik meski tak lagi muda, sebersit keinginan untuk memanfaatkan situasi pun timbul.
"Baiklah, aku bisa saja membebaskanmu dari semua bunga pinjaman itu." jawab Pak Yusron pada akhirnya.
Mendengar hal itu Ny.Rosa seketika nampak begitu senang, matanya langsung berbinar menatap Pak Yusron yang dilihatnya bak Superhero penolongnya.
"Tapi dengan satu syarat." tambah Pak Yusron dengan senyuman penuh arti.
Mendadak senyum yang sempat tersungging di bibir Ny.Rosa kembali menghilang. Berganti dengan ekspresi heran dan bingung sekaligus.
"Apa syaratnya?" tanya Ny.Rosa lirih.
"Kamu harus tidur denganku." jawab Pak Yusron tanpa ragu. "Tiga kali." tambahnya dengan mengacungkan tiga buah jarinya.
Ny.Rosa pun melongo dibuatnya. Bagaimana mungkin, pikir Ny.Rosa. Bagaimana mungkin dirinya membayar bunga pinjaman itu dengan tubuhnya.
Apalagi Pak Yusron adalah orang dari masa lalunya. Kalo sampai ketahuan Pak Zein Imran bisa tamat riwayat Ny.Rosa.
Tapi jika tidak ketahuan, dia bisa terbebas dari bunga pinjaman itu selamanya. Dan Hanya tiga kali, pikirnya. Tiga kali tidak akan berarti apa-apa, pikir Ny.Rosa lagi.
"Kamu boleh pikir-pikir dulu atau langsung menolak. Tapi tentu saja kalau kamu menolak kamu harus tetap membayar bunga pinjaman itu dengan uang cash. Dan bunganya akan tetap bertambah setiap bulannya selama kamu belum bisa melunasinya." jelas Pak Yusron.
Ny.Rosa bergeming. Namun hatinya galau antar iya dan tidak.
"Ingatlah jika sertifikat tanah dan rumah suamimu masih ada di tanganku dan tidak akan aku kembalikan sebelum kamu melunasi bunga pinjaman itu." ancam Pak Yusron tegas.
Ny.Rosa nampak masih termenung memikirkan keputusannya yang sangat menentukan kelangsungan hidupnya itu. Hingga akhirnya Ny.Rosa pun langsung menjawab, "Baiklah. Aku setuju." ujarnya mantap.
"Setuju apa?" tanya Pak Yusron ingin memastikan.
"Aku setuju untuk tidur denganmu tiga kali sebagai pelunasan dari bunga pinjamanku." jawab Ny.Rosa tanpa ragu lagi.
Pak Yusron nampak tersenyum puas. "Oke, kalau begitu aku minta yang pertama sekarang juga, disini." ujar Pak Yusron lagi.
Ny.Rosa pun tak dapat berkutik lagi. Dan tanpa dirinya sadari, Ny.Rosa sedang menggali kuburnya sendiri.
******
Keesokan harinya Tyo dan timnya melapor ke Kantor Polisi setempat atas hilangnya Keira Permata yang diketahui lari ke Jogja sejak hampir seminggu lalu.
Setelah melapor, masih di Kantor Polisi, Enka berbisik pada Tyo bahwa Reja melaporkan ada gerakan lagi dari mobil jeep yang sejak kemarin mengikuti mereka.
Tyo bertanya pada Enka apa yang sebaiknya mereka lakukan selanjutnya. "Kamu punya rencana apa untuk mengatasi masalah ini?" tanya Tyo.
__ADS_1
Dengan sigap Enka pun menjawab, "Menurut saya lebih baik kita berpencar dengan masing-masing membawa satu mobil. Tapi terlebih dahulu, anda dan Pak Rizzi menyamar dengan kostum bodyguard kami lalu bertukar mobil untuk mengalihkan perhatian penguntit itu, Pak!" jawab Enka lancar dan tegas.
Tyo dan Rizzi saling pandang sejenak lalu akhirnya setuju dengan ide Enka. Rencana itu pun dilakukan, Tyo dan Rizzi berganti baju serba hitam yang biasa dipakai anak buah Enka dengan tambahan topi dan kacamata untuk menutupi wajah mereka.
Sementara dua orang anak buah Enka menyamar menjadi Tyo dan Rizzi dengan memakai baju yang sebelumnya Tyo dan Rizzi kenakan saat berangkat ke kantor polisi.
Untungnya Rizzi memakai jaket hoodie jadi anak buah Enka yg menyamar menjadi Rizzi bisa menutupi rambutnya yang sama sekali tidak mirip seperti rambut Rizzi yang kecoklatan dengan memakai hoodie di kepalanya.
Tyo dan Rizzi masih satu kelompok ditambah dengan salah satu anak buah Enka yang biasa dipanggil Jacob. Dan benar saja, begitu ketiga mobil rombongan Tyo berpencar, mobil Jeep itu terlihat hanya mengikuti mobil utama yang sejak awal ditumpangin Tyo.
Tyo dan Rizzi yang menumpang di mobil ketiga berhasil lolos dari kuntitan mobil jeep hijau tua itu. Dan demi mengulur waktu mereka pun menepi di sebuah minimarket dengan Cafe kecil di dalamnya sekaligus untuk beristirahat menghilangkan ketegangan.
Ketika sedang duduk di Cafe minimarket itu sambil menikmati minuman mereka, tiba-tiba dua orang gadis yang memakai seragam serba coklat masuk ke dalam Cafe minimarket dengan membawa beberapa brosur ditangan mereka.
Gadis-gadis itu tampak menawarkan brosur pembukaan cabang baru dari toko coklat tempat mereka bekerja kepada seluruh pengunjung Cafe bahkan staff Cafe dan staff minimarket.
Mereka juga meminta nomor telpon orang-orang yang mau menerima brosur mereka dengan alasan untuk mengirimkan reminder messages.
Rizzi dan Tyo yang mengenali nama toko coklat itu pun seketika saling lirik, hingga Rizzi yang berinisiatif untuk mengorek informasi dari kedua gadis itu.
"Permisiii mbak, boleh dong minta brosurnya juga?" panggil Rizzi pada kedua gadis itu.
Merasa mendapatkan lampu hijau atas promosi mereka, kedua gadis itu pun mendekati meja Tyo dan Rizzi dengan senang hati.
"Silahkan mas brosurnya, monggo mampir ke pembukaan toko kami kalau ada waktu." kata gadis pertama sambil membagikan brosur pada Tyo, Rizzi dan Jacob.
"Boleh minta nomor telponnya juga? Nanti akan kami kirimi pesan pengingat beberapa jam sebelum acara dimulai." kata gadis kedua.
"Lho Toko Silvia and Joe Chocolate bukannya ada di kota lain ya? Sejak kapan ada di Jogja juga?" Rizzi mulai berbasa basi sambil pura-pura serius melihat brosur di tangannya.
"Iya mas, kita baru mau buka cabang di Jogja, tepatnya empat hari lagi grand openingnya, makanya kita promosiin sekarang, mungkin mas-mas ini berkenan untuk datang?" jelas salah satu dari kedua gadis itu.
"Boleh siihh soalnya ada temen saya yang kerja disini juga, tapi dia di pusatnya." jawab Rizzi.
"Oia? Siapa namanya mas? Soalnya mayoritas staff toko pusat sekarang sedang dikerahkan ke Jogja untuk bantu promosi. Jadi kemungkinan temen mas itu juga sedang ada di Jogja." terang gadis yang satunya.
Mendengar pria paling tampan di meja itu memberikan responnya, membuat dua gadis tadi makin besar kepala melihat pria yang sedari tadi diam saja tiba-tiba turut bersuara.
"Oh, Mbak Keira juga ada kok di Jogja. Karena dia nantinya jadi penanggung jawab toko cabang Jogja jadi dia lagi jaga stand promosi tepat di depan toko coklat yang baru ini mas."
Mendengar itu Tyo langsung berdiri. Lalu memperlihatkan foto Keira yang ada di ponselnya. "Yang ini orangnya?" tanyanya pada kedua gadis itu dengan wajah serius.
Kedua gadis itu refleks mendekatkan wajah mereka pada layar ponsel Tyo.
"Iya, ini kayanya Mbak Keira senior kita itu deh, tapi ini foto lama ya? Soalnya gaya rambut sama imagenya beda sama yang kita kenal sekarang." jawab mereka.
"Beda maksudnya?" tanya Tyo lagi.
"Sekarang tuh dia jauh lebih cantik, yang di foto itu kalem, nggak dandan, kalau sekarang dia dandan, lebih keren deh pokoknya, lebih sexy."
"Keren???" Rizzi melongo.
"Sexy???" Tyo seakan tak percaya.
"Bisa minta alamat tokonya?" tanya Tyo lagi.
"Ini mas, ada di brosur! Tapi mas-nya ini siapanya mbak Keira ya?" tanya gadis-gadis itu kepo.
"Saya calon suaminya." jawab Tyo tegas sambil ngeloyor pergi.
Dengan sigap Jacob berdiri dan mengikuti kemana Tyo melangkah.
Sementara kedua gadis tadi langsung memekik histeris setelah mendengar jawaban Tyo itu, membayangkan senior yang mereka kagumi mempunyai calon suami seperti itu membuat mereka heboh sendiri.
Sebelum mengikuti Tyo dan Jacob yang sudah keluar Cafe lebih dulu, tak lupa Rizzi memberikan kartu namanya pada kedua gadis tadi sebagai ucapan terima kasih.
"Lain kali kalau kalian lagi training di toko pusat, mampir aja ke Cafeku, bawa kartu nama ini nanti kukasih free charge buat kalian." timpal Rizzi sambil mengerling genit.
__ADS_1
Tak lama terdengar pekikan yang lebih heboh dari arah kedua gadis itu.
Tyo, Rizzi dan Jacob dengan sigap masuk ke mobil mereka. "Ikuti GPS ini!" perintah Tyo pada Jacob yang menyetir. Tyo langsung memasang GPS ke toko coklat Keira yang baru setelah dia mengetahui alamat toko itu dari brosur tersebut.
Tyo pun sengaja duduk di samping Jacob yang menyetir agar dapat memberikan petunjuk arah sementara Rizzi yang tadinya duduk di tempat Tyo, terpaksa pindah ke kursi penumpang dibelakang.
"Riz, hubungi Enka dan Reja, bilang ke mereka posisi Keira. Suruh mereka pantau terus mobil jeep itu jangan sampai musuh mendekati posisi kita pas jemput Keira." perintah Tyo sambil menoleh ke arah belakang, ke arah Rizzi.
"Wokey, Bro!" timpal Rizzi.
Tak lama Tyo dan Rizzi yang sudah sampai di lokasi toko Silvia and Joe Chocolate cabang Jogja, diam-diam memantau Keira dari kejauhan. Meski image dan style Keira sudah berubah namun Tyo dan Rizzi masih bisa mengenali gadis itu.
"Tuhan pasti lagi bahagia banget deh pas nyiptain Keira. Gilaaakkk bisa jadi sebening itu cuman krn potong rambut sama dandan doang. Mana bodynya tambah aduuhaaiii. Anjiiirrr, Menang banyak lu, Bro. SIALAN!" Rizzi mengumpat sambil menghentak-hentakkan kakinya saking gemasnya melihat metamorfosis Keira.
"Diem lu, berisik!" meski tak menanggapi ocehan Rizzi, tapi diam-diam Tyo pun terpana dalam hati.
Memang perubahan Keira cukup drastis, hingga sangat membuat Tyo tercengang melihatnya. Keira yang dulu kalem tanpa make up kini bermake up meski masih natural tapi sudah cukup menonjolkan kecantikan alami gadis itu.
Dan hormon kehamilan Keira yang meski belum membuat perutnya membesar tapi cukup membuat tubuhnya lebih berisi daripada sebelumnya. Semakin menonjolkan lekuk yang sebelumnya tidak terlalu kelihatan.
Bahkan dengan cara berpakaian Keira yang masih sama, masih tertutup dan cukup longgar, lekukan tubuh Keira yang indah masih sangat jelas terlihat.
Tak heran banyak pria yang mengantri di depan meja stand Keira hanya sekedar untuk meminta brosur dan menyerahkan nomor telepon. Entah apa yang para lelaki itu harapkan.
Merasa tak sabaran Tyo segera mengajak Rizzi untuk menjemput Keira. "Yuk buruan, keburu kabur lagi tuh cewe!" ajak Tyo ketus.
Keketusan Tyo tercipta karena didorong rasa cemburunya melihat Keira dikerumuni banyak pria. Dia tak suka melihatnya. Sama sekali tidak. Apalagi dengan penampilan Keira kini membuatnya ingin sekali mengurung gadis itu dalam sangkar emas.
Keira yang sedang serius menyalin nomor telepon yang telah didapatnya hari ini ke dalam customer list membuatnya tidak menyadari kedatangan kedua orang yang sedang dihindarinya itu.
"Permisi, boleh saya minta brosurnya juga, mbak?" tanya seorang pria dengan nada menggoda di hadapan Keira.
"Boleh, Mas!" Keira mendongak dengan wajah ramah namun sedetik kemudian berganti menjadi ekspresi kaget luar biasa.
"Riz...Rizzi." panggil Keira terbata. "Kamu kenapa ada disini?"
"Kenapa lagi, ya nyariin kamu lah!" Rizzi menjawab dengan enteng.
"Ka..Kamu sama siapa?" Keira tak kuasa menahan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Menurutmu sama siapa lagi?" Rizzi tersenyum simpul.
"Si-siapa....?" Keira mendadak panik meski tak terlalu kelihatan.
Rizzi tak menjawab namun langsung menunjuk ke arah di belakang Keira. Keira yang langsung menoleh ke belakang seketika gemetar melihat Tyo yang ternyata sudah berdiri sangat dekat di belakangnya dengan kedua tangan menyilang di depan dada dan ekspresi wajah yang dingin menahan kesal.
"Ty-Tyo!" panggil Keira gugup. Sekonyong koyong kaki Keira mendadak lemas dan Keira terhuyung.
Untungnya tangan Tyo sigap menangkap pinggang Keira dan menarik sebuah kursi plastik di dekat gadis itu berdiri tadi.
Dengan perlahan Tyo mendudukkan Keira ke kursi plastik itu dengan menghadapkan tubuh Keira ke arahnya. Lalu Tyo mengunci Keira dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja stand dengan tubuh gadis itu berada di tengah-tengah lengannya.
"Kenapa gemetar? Takut?" Tyo menatap tajam pada Keira. Tyo sedikit menunduk agar dapat mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Keira
Keira tak mampu menjawab, melihat wajah Tyo yang semakin dekat membuatnya semakin menundukkan wajahnya sendiri.
"Ya Tuhaaannn, bagaimana ini???!!!" pekik Keira dalam hati.
To Be Continue...
.
.
.
.
__ADS_1
Yeaaayyyy akhirnya Tyo & Keira ketemu juga gaeesss....๐๐๐โค๏ธโค๏ธโค๏ธ