
@Apartemen Tyo
Tyo baru saja keluar dari kamar mandi ketika telinganya mendengar dering notifikasi chat dari ponselnya. Tyo yang masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dengan santai meraih ponsel yang tergeletak di meja ruang tamu.
Terlihat laptop dan beberapa dokumen yang berserakan di ruang tamu, nampaknya pria itu sedang bekerja di apartemennya sebelum memutuskan untuk mandi karena mulai merasa ngantuk.
Tyo mengernyitkan kedua alisnya ketika melihat notifikasi chat pada layar yang menunjukkan bahwa kontak Rizzi telah mengirim sebuah foto padanya.
Dibukanya kiriman foto dari Rizzi itu dan seketika mata Tyo terbelalak melihat gambar seorang gadis yang dikenalnya sedang duduk ditengah-tengah pria-pria asing yang terlihat sedang minum-minum.
📮TYO PRATAMA
📎🖼️ mksdx apaan nih???
Tyo langsung membalas chat dari Rizzi. Pikiran buruk sudah menjalar di kepala Tyo tentang Keira yang dilihatnya di foto itu. Tyo mengira Keira sedang dugem dengan banyak pria yang mengartikan bahwa gadis itu tidaklah sebaik dan sepolos yang dia kira selama ini.
Tyo kesal. Teramat kesal hingga melempar dengan kasar handuk yang tadi dipakainya untuk mengeringkan rambut. Sebelah tangannya kemudian berkacak pinggang sementara tangan satunya masih memegang ponsel yang menampilkan foto Keira itu di layar.
Mata Tyo mengamati foto itu lekat-lekat. Ekspresi Keira tak terbaca. Sekilas terlihat raut wajah terpaksa, namun juga nampak segurat senyum di bibir gadis itu. Tyo tidak mengerti. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan gadis itu disana.
📩RIZZI RIYANT
Keira dijebak
Mata Tyo semakin lebar kala membaca pesan singkat dari Rizzi. Merasa tak sabar, Tyo akhirnya segera menelpon sahabatnya itu untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
***
@DESPERATE BAR
Rizzi menyeringai lebar ketika melihat layar ponselnya yang menampilkan nomor kontak Tyo sedang mencoba menelponnya. Di ulurnya sedikit waktu agar Tyo di seberang sana merasa lebih gusar dan tidak sabaran.
Sementara mata Rizzi fokus melihat ke arah Keira, menunggu saat-saat gadis itu benar-benar meminum brandy yang sedari tadi hanya dipegangnya saja.
Setelah sukses meredam cekikikannya sendiri, Rizzi lalu mengangkat telpon dari Tyo.
"Woi, maksud lo apaan? Keira dijebak gimana? sama siapa?" Tyo langsung memberondong Rizzi dengan pertanyaannya.
"Gawat, Bro. Gawat banget!" Rizzi mulai berakting.
"Keira kan lagi handle tamu tur ke Desperate Bar, trus sama tamu-tamunya dia dipaksa ikutan minum. Padahal menurut waiter yang gue suruh nguping, Keiranya udah nolak karena gak pernah minum. Tapi dia dipaksa bro, sampe duduknya diapit ditengah-tengah mereka gitu. Parah banget, SUMPAH!" jelas Rizzi hiperbola sambil menahan tawanya sekuat tenaga.
Sengaja ia melebih-lebihkan ucapannya agar Tyo panik dan segera datang untuk menyelamatkan Keira. Rizzi ingin menguji perasaan Tyo terhadap Keira.
Jika perasaan Tyo memang sedalam itu terhadap Keira, pasti sahabatnya itu akan kembali bergegas datang untuk menolong Keira lagi seperti ketika peristiwa kebakaran itu terjadi.
Tanpa embel-embel 'Demi Argha' karena Tyo sudah tidak bisa menjadikan Argha sebagai alasan dirinya memberi perhatian khusus kepada Keira mengingat Argha sudah tidak ada diantara mereka.
Namun tanpa Rizzi sadari setengah dari ceritanya tadi adalah nyata, memang Keira sempat menolak ajakan tamunya. Namun ada pula fakta yang ia tutup-tutupi yaitu mengenai keinginan Keira yang pada akhirnya menerima ajakan tamu-tamunya untuk minum secara sukarela.
Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, pikir Rizzi. Naif kah? Putus asakah? Rizzi pun tak mengerti. Namun yang ia tahu, Keira harus segera diselamatkan dari situasi itu. Dan menurut Rizzi, satu-satunya orang yang tepat untuk menyelamatkan Keira dari sana hanyalah Tyo.
"Argh, Sialan. Sekarang mereka mulai nyekokin Keira pake brandy, Bro. Gawat nih! Kalo Keira sampe mabuk trus di apa-apain sama mereka bisa bahaya!" Lagi-lagi Rizzi melebih-lebihkan.
Padahal yang terlihat oleh matanya adalah Keira sendiri yang akhirnya meminum brandy itu dengan tangannya sendiri tanpa paksaan dari siapa pun.
"Shareloc ke gue posisi lo sekarang. Gue langsung kesana." titah Tyo tegas.
"Oke, Bro. Buruan!" timpal Rizzi senang karena sebagian rencananya telah sukses.
Tinggal menunggu Keira mabuk dan Tyo datang menyelamatkan gadis itu dari tamu-tamunya. Selanjutnya biarlah Keira menjadi urusan Tyo sepenuhnya.
Kedua orang itu butuh waktu berdua untuk menyelesaikan ketegangan di antara mereka. Yang jelas, setelah ini, kesalah pahaman di antara mereka berdua pasti akan mencair, pikir Rizzi percaya diri sambil memutar-mutar ponselnya di atas meja.
__ADS_1
Setelah menuruti perintah Tyo untuk mengirimkan lokasi DESPERATE BAR tempatnya memata-matai Keira saat ini, Rizzi lalu mengirim chat kepada seseorang untuk melengkapi rencananya.
📮RIZZI RIYANT
Hai, cantik. Lg free?
📩ANDROMEDA
Hai jg ganteng. Iya nih lg BT sama the girls. Hibur Qt donk 😣
📮RIZZI RIYANT
pas bgt aQ lg butuh kalian buat gantiin temenQ handle tamu2x
📩ANDROMEDA
Oia??!! dmn???
📮RIZZI RIYANT
Qt lg di DESPERATE BAR nih
📩ANDROMEDA
WOW, seruu tuh 😍😍😍
mauuuu 😆😆😆
📮RIZZI RIYANT
yaudah buruan bawa the girls kesini, aQ tunggu 😉
📩ANDROMEDA
siap bos 😘✌️
Ketika Tyo akhirnya datang, Keira sudah mabuk meski baru meminum satu gelas brandy dingin. Tanda bahwa gadis itu benar-benar belum pernah meminum minuman keras sebelumnya mengingat toleransi alkoholnya yang sangat rendah.
Untungnya Keira bukan tipe yang 'menggila' di kala mabuk. Keira hanya diam menyandarkan kepalanya yang terasa amat berat di sandaran sofa bar sambil memejamkan matanya.
Meski demikian, pemandangan itu sudah cukup untuk memancing emosi Tyo yang telah termakan hasutan Rizzi sebelumnya.
Tanpa permisi, Tyo langsung menggebrak meja tempat Keira dan tamu-tamunya duduk. Seketika para tamu pun kaget dan berpaling menatap Tyo yang datang dengan amarah.
Dilihatnya satu persatu pria-pria yang mengelilingi Keira bagai singa yang akan menerkam mangsanya.
Keira yang sadar perlahan, sedikit membuka matanya. Samar-samar dilihatnya sosok Tyo sudah berdiri tegap dihadapannya dengan raut wajah yang garang, berbeda dengan ekspresi Tyo yang biasa Keira lihat. Ekspresi penuh kelembutan. Keira jadi tersentak, namun kepalanya terlalu berat untuk langsung bangun.
"Tyo, kamu ngapain kesini?" tanya Keira agak parau sambil berdiri pelan-pelan.
Tapi karena mabuk yang pertama kali ini dirasakannya, Keira pun tetap terhuyung dan hampir jatuh. Refleks salah seorang tamu pria menangkap lengan Keira untuk mencegah gadis itu terjatuh.
"Eh eh, hati-hati mbak Keira." ucap pria tadi lalu ikut berdiri di samping Keira dengan terus memegangi lengan gadis itu.
Tyo yang melihat Keira disentuh pria lain merasa tidak terima. Hatinya terbakar emosi seketika. Tanpa banyak bicara, diraihnya lengan Keira yang sedang dipegangi oleh pria itu dan dalam sekejap posisi Keira telah berpindah ke dalam pelukan Tyo.
Semua tamu-tamu di meja Keira hanya bisa melongo melihat sikap Tyo. Mereka takut melihat sorot mata Tyo yang seolah-olah mampu menembakkan laser yang dapat menghanguskan tubuh mereka seketika.
Keira yang tidak ingin bertemu apalagi berada dalam pelukan Tyo pun memberontak. Tubuh Keira meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Tyo.
Namun hentakan tubuhnya yang ingin segera lepas dari pelukan Tyo malah tanpa sengaja menyenggol seorang waiter yang sedang membawa beberapa gelas minuman dengan nampan dari arah belakangnya.
Akibatnya, tubuh Keira jadi terguyur minuman. Sebagian baju seragam yang dipakai gadis itu pun basah kuyup khususnya di bagian punggungnya.
__ADS_1
Melihat baju yang dipakai Keira jadi transparan karena terguyur minuman. Dengan sigap Tyo melepas jaket kulitnya lalu memakaikannya ke tubuh Keira.
Merasa sudah waktunya bagi dirinya untuk menampakkan diri, Rizzi yang sedari tadi hanya menonton adegan Tyo merebut Keira dari tamunya pun langsung muncul di tengah-tengah mereka.
Dengan senyum yang dibuat seramah mungkin dan suara yang semeyakinkan mungkin, Rizzi memulai aktingnya lagi.
"Mohon maaf, saudara-saudara sekalian. Sepertinya mba Keira sudah dijemput suaminya. Mungkin lebih baik mbak Keira pulang sekarang mengingat kondisinya yang sudah mabuk. Semoga anda semua tidak keberatan." Rizzi mencoba mengelabui para tamu.
"Aku nggak mau pulang sama kamu." tolak Keira pada Tyo sambil berdiri sempoyongan.
Tyo yang merasa gemas dengan tingkah Keira dengan cepat mengangkat tubuh gadis itu lalu menggendongnya di bahu agar Tyo tidak kesulitan membawanya meski gadis itu meronta-ronta. Lalu bergegas Tyo melangkah keluar dari Bar itu.
"Hehee, biasaaa! Pertengkaran suami istri." Rizzi memberikan alasan sambil nyengir ketika melihat tampang-tampang heran di hadapannya.
"Tenang saja, saudara-saudara. Sebagai gantinya mbak Keira yang sudah pulang, anda semua akan ditemani oleh beberapa teman saya yang cantik-cantik." Rizzi kembali memberikan senyumnya sambil menjentikkan jari.
Lalu dari arah sudut bar tempat Rizzi duduk sedari tadi, muncullah beberapa gadis cantik dengan penampilan yang menarik yang siap menyemarakkan malam para tamu itu.
Ternyata teman-teman perempuan Rizzi sudah datang lebih dulu, namun karena waktunya belum pas maka mereka terpaksa harus ikut bersembunyi bersama Rizzi di sudut bar.
Sorak sorai seketika menggema dari meja yang dipenuhi tamu-tamu tur Keira. Mereka tidak menyangka akan mendapat teman minum yang lebih baik. Para hostes profesional.
"Naahh, mas-mas dan bapak-bapak. Semoga anda semua terhibur dan selamat menikmati malam anda." tutup Rizzi undur diri.
Sebelum benar-benar pergi, terlebih dulu Rizzi membisikkan sesuatu pada salah satu hostes yang bernama Andromeda itu.
"Nanti honor kalian aku transfer, tapi soal bill suruh mereka bayar sendiri." bisik Rizzi pada Andromeda.
"Bereeess." jawab Andromeda singkat sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Setelah merasa membereskan segala hal di Bar itu termasuk membayar minuman yang tanpa sengaja Keira tumpahkan, Rizzi pun segera menyusul Tyo. Beruntung Tyo belum berjalan begitu jauh mengingat pria itu membawa beban seorang Keira Permata di pundaknya. Rizzi makin mempercepat larinya begitu dilihatnya sosok Tyo dari belakang.
"Bro." panggil Rizzi dengan menepuk pundak Tyo.
"Buruan bookingin Keira kamar di hotel ini. Kayanya dia udah mau muntah." perintah Tyo pada Rizzi.
"Gue gak mungkin ngurusin dia di toilet cewe, apalagi di toilet cowo." terang Tyo sambil terus berjalan menuju lift.
"Oh, oke." jawab Rizzi cepat lalu menelpon bagian reservasi hotel langsung dari ponselnya.
Tentunya sambil terus mengikuti langkah Tyo yang masih membopong Keira di pundaknya.
"Beres, Bro. Dapet kamar di lantai enam. Kita langsung kesana aja nanti kuncinya biar diantar Bell Boy." jelas Rizzi sambil menekan tombol angka enam dari dalam lift.
"Turunin! Aku nggak mau sama kamu." rengek Keira dari atas gendongan Tyo.
Tyo cuek saja meski mendengar rengekan Keira. Hatinya masih panas melihat Keira yang mabuk dikelilingi pria-pria asing. Sementara Rizzi mulai merasa kasihan melihat Keira. Namun dirinya pun tak berani melawan Tyo saat ini. Sahabatnya yang satu itu bisa jadi sangat mengerikan kalau sudah kalap.
"Tolong cariin baju ganti buat Keira. Bajunya yang ini udah gak mungkin kepake lagi." Tyo berujar dengan melirik pada Rizzi.
"Oke, kalo gitu gue langsung cabut aja ya. Ga ikut nganter kalian masuk ke kamar."
Tyo hanya menganggukkan kepalanya ketika lift sudah sampai di lantai enam. Rizzi tidak ikut keluar lift ketika Tyo melangkahkan kakinya ke lantai enam.
"Thanks, Bro." ucap Tyo singkat sesaat sebelum pintu lift kembali tertutup. Dilihatnya Rizzi sempat tersenyum penuh arti.
Di dalam lift, Rizzi memekik tak percaya. Skenario yang dibuatnya telah melebihi ekspektasinya. Dikiranya Tyo hanya akan mengantar Keira pulang namun kejadian tersiramnya Keira oleh minuman sungguh diluar prediksinya.
Mungkin tidak hanya Rizzi yang merancang skenario khusus untuk momen baikannya Tyo dan Keira, namun semesta juga turut andil membantu mengimprovisasi rencananya itu malam ini.
To Be Continue...
.
__ADS_1
.
.