
Saking kangennya Keira dengan sang Ibu membuatnya ingin terus memeluk wanita itu. Dirinya bahkan lupa pada bayi yang ada dalam perutnya.
Untungnya tidak demikian halnya dengan sang Ibu---Ny.Mustika. Wanita itu masih terngiang pernyataan Tyo di bawah tadi bahwa Keira sedang hamil. Maka dengan lembut dilepaskannya pelukan mereka yang cukup erat itu secara perlahan.
"Jangan kenceng-kenceng meluknya, Kei. Kesian bayi di perutmu nanti terdesak." ucap Ny.Mustika sambil menatap mata putrinya dengan tatapan yang sendu.
Keira pun tersentak. Dan ia langsung teringat pada bayi yang ada dalam perutnya. Namun yang lebih mengejutkannya adalah kenyataan bahwa ibunya sudah tahu perihal kehamilannya ini.
"Ibu...tahu...aku hamil?" tanyanya terbata.
Ny.Mustika mengangguk perlahan. "Tyo yang sudah memberi tahu ibu tadi saat kamu masih tidur." jawabnya lirih dengan membelai lembut kepala putrinya.
"Tyo? Kata Bu Naina tadi dia ada tamu di bawah?" tanya Keira bingung.
"Tamu yang di maksud ibu mertuamu itu ya ibumu ini, Nak!" jawab Ny.Mustika dengan senyum.
"Tapi kenapa tadi Bu Naina nggak langsung ngasih tahu Keira kalo ibu datang?" protes Keira.
Ny.Mustika menghela nafasnya terlebih dulu sebelum membeberkan alasan Ny.Naina tidak langsung memberitahu Keira perihal kedatangan ibunya, yang di sampaikan Ibunda Tyo tadi di ruang keluarga.
Ny. Mustika juga menceritakan bagaimana tulusnya Tyo mengakui kesalahannya dan memohon ampunan terhadapnya.
Mata Keira berkaca-kaca mendengar cerita ibunya tentang Tyo yang menanggung seluruh beban yang harusnya mereka berdua pikul bersama untuk mengakui kesalahan mereka di hadapan Ibunda Keira.
Keira merasa amat berterima kasih pada calon suaminya itu. Pasalnya dirinya sama sekali belum menyiapkan mental untuk mengakui tentang kehamilannya ini kepada Ibunya.
"Jujur ibu kecewa, Kei!" ratap Ny.Mustika. "Tapi ibu sadar ibu nggak bisa sepenuhnya nyalahin kamu. Ibu juga turut andil atas kesalahan kalian karena udah ninggalin kamu sendirian di sini. Maafkan Ibu, Keira!" kedua mata Ny.Mustika nampak memerah.
Keira hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Momen seperti inilah yang belum siap dihadapinya. Saat dirinya melihat kekecewaan dari sorot mata Ibunya. Saat dirinya mendengar ungkapan penyesalan Ibunya.
Keira merasakan perih di hatinya. Ia menunduk dalam-dalam tanpa bisa berkata apa-apa.
"Tapi Ibu juga salut sama Tyo yang sudah berani mengakui kesalahannya bahkan sampai berlutut di hadapan Ibu. Tyo bahkan ingin menanggung sendiri semua hukuman dari Ibu jika Ibu ingin melakukannya. Kalau sudah sampai begitu, mana bisa Ibu tidak merestui pernikahan kalian?!" beber Ny.Mustika atas perasaannya.
Keira sudah tak kuasa untuk menangis mendengar kata demi kata yang terlontar dari mulut Ny.Mustika. "Maafin Keira, Bu! Keira sungguh-sungguh minta maaf!" isaknya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Melihat Keira yang terisak hingga bahunya berguncang, air mata Ny.Mustika pun mulai berlinang. Ia pun kembali memeluk putrinya itu dan menangis bersama.
Sekali lagi mungkin benar, penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan kecewa saat merasa diri terkhianati adalah hal yang wajar.
Tapi setiap kesalahan tidak semestinya disikapi dengan kesinisan, karena memaafkan kesalahan yang telah diakui dengan setulus hati adalah obat yang paling mujarab untuk hati yang kecewa.
***
Entah sudah berapa lama Ibu dan anak itu saling berpelukan. Berbagi tangis dan sesak yang mereka rasakan ketika kenyataan yang mereka alami terasa begitu menyakitkan.
Dulu saat masih tinggal di rumah keluarga Pak Zein Imran---di bawah siksaan Ny.Rosa---mereka menangis bersama hampir setiap malam. Namun kebiasaan itu mereda ketika mereka berhasil keluar dari rumah itu.
Dan kini, ketika untuk pertama kalinya mereka akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama. Justru kebiasaan menyedihkan inilah yang pertama kali mereka lakukan.
Tok. Tok. Tok
Bunyi suara ketukan dari arah pintu membuyarkan ratapan ibu dan anak itu dan membuat mereka melepaskan pelukannya masing-masing.
Tok. Tok. Tok
Ketukan itu terdengar lagi. Keira dan ibunya kompak menoleh ke arah pintu. "Siapa?" tanya Keira dengan suara parau.
"Ini aku! Tyo." jawab Tyo dari balik pintu. "Makan malam sudah siap. Ayah dan Ibu menunggu kalian di ruang makan." tambah Tyo.
Keira berdiri untuk membukakan pintu. Dan saat Tyo akhirnya melihat wajah Keira yang sembab, pria itu langsung menangkup wajah Mungil Keira dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Are you ok?" Tyo menghapus jejak air mata Keira dengan kedua ibu jarinya saat menanyakan itu. Matanya menatap sendu ke dalam bola mata Keira yang masih berkaca-kaca.
Keira hanya mengangguk, namun tak bersuara. Tenggorokannya masih sedikit tercekat. Gadis itu takut tangisnya akan pecah lagi, jika ia menanggapi kekhawatiran Tyo.
Tyo menghela nafas panjangnya dengan berat saat melihat wajah pilu Keira. Ia lalu menarik tubuh Keira dan menyembunyikan wajah gadis itu di dalam dekapannya. Tak lupa dikecupnya puncak kepala Keira dengan penuh cinta.
Ny.Mustika terpana menyaksikan sikap Tyo kepada Keira yang menampakkan perasaannya dengan begitu nyata, begitu tulus dan dalam.
"Wajahmu sembab, Kei. Apa kamu mau makan malam di kamar saja berdua dengan ibu?" Tyo menyarankan.
Namun sebelum Keira menjawab, Ny.Mustika lebih dulu mendekati keduanya untuk menampik saran dari calon menantunya itu.
"Tidak perlu begitu, Nak Tyo! Kami akan makan malam dengan kalian di bawah. Tidak sopan bagi seorang tamu untuk makan malam secara terpisah dengan tuan rumah. Lagipula ibu belum bertemu dan berkenalan dengan Ayahmu." ucap Ny.Mustika memberikan alasannya.
Tyo mengangguk mengerti dengan alasan sang calon ibu mertua.
"Turunlah dulu, biarkan Keira mencuci mukanya lebih dulu dan berikan kami waktu untuk bersiap-siap. Ibu juga belum ganti baju." pinta Ny.Mustika pada Tyo.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya tunggu di bawah." jawabnya. Lalu Tyo meninggalkan pintu kamar Keira dan turun ke lantai bawah.
Ketika Keira dan Ibunya akhirnya tiba di ruang makan. Ny.Mustika lebih dulu saling sapa dan saling berkenalan dengan Ayah Tyo---Pak Ruslan. Ny.Mustika juga menyampaikan permohonan maafnya karena Ayah tiri Keira---Pak Armand---belum bisa datang ke Indonesia dikarenakan urusan pekerjaan.
Pak Ruslan hanya bersikap sewajarnya saat Ny.Mustika mengungkapkan alasannya itu. Padahal Pak Ruslan sudah mengetahui mengenai hal itu, tentu saja dari siapa lagi jika bukan dari Pak Agus Choir---asisten andalannya.
Makan malam itu berlangsung lebih meriah ketimbang biasanya. Ny.Naina jadi lebih sumringah karena merasa mendapatkan satu orang teman ngobrol lagi di rumahnya.
Dan seperti biasa, keluarga itu selalu berkumpul untuk bercengkerama di ruang keluarga setelah makan malam, sebelum waktunya mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Hei, kalian berdua!" panggil Ny.Naina pada Keira dan Tyo. Keduanya nampak kompak menoleh pada Ny. Naina. "Kapan kalian mau selesaikan foto prewedding, biar undangannya segera dicetak terus di sebar. Hari H-nya kurang dua minggu lagi loh ya!" Ny.Naina mengingatkan kedua anaknya itu.
"Kalau nggak pake foto emang nggak boleh ya, Bu?" tanya Keira dengan lesu.
"Kurang greget hasilnya, Kei! Lagian Ibu mau pamerin mantu Ibu yang cantik bahenol ke semua saudara dan relasi kita. Naahh, kalau ada fotonya kan ketauan tuh pengantinnya secantik apa." jawab Ny.Naina berapi-api.
"Sapa juga yang mau jadiin Keira sebagai objek pameran. Ibu cuman mau nunjukin betapa bangganya Ibu punya mantu seperti Keira. Kamu nggak usah ngerusak angan-angan indah Ibu deh, Tyo!" balas Ny.Naina bersungut-sungut.
"Ya maap!" sahut Tyo cuek.
"Tapi Keira lagi males kemana-mana, Bu. Nggak tahu nih, akhir-akhir ini jadi gampang capek! Bawaannya ngantuk terus." keluh Keira.
Mendengar keluhan Keira itu, Ny.Naina dan Ny.Mustika jadi saling pandang. Keduanya lalu kompak tertawa ringan. Mereka pun berkata jika hal itu wajar dirasakan oleh wanita hamil, karena tiap wanita hamil memiliki kondisi yang berbeda beda.
Ada yang gampang lelah, ada yang malah tidak bisa diam. Ada yang jadi membenci makanan tertentu, ada juga yang jadi suka sekali pada makanan yang justru awalnya tidak disukainya.
"Macem-macemlah. Kata orang-orang dulu sih, 'bawaan orok'." jelas Ny.Naina. Dan Ny.Mustika pun mendukung pernyataan Ny.Naina itu.
"Dulu waktu Ibu hamil Tyo, sejak awal minggu sampe habis trimester pertama. Maboknya sampe nggak bisa bangun dari kasur. Eehh, begitu masuk bulan ke empat, langsung kaya hidup kembali dari mati suri gitu. Enteeeng banget badan ibu rasanya." cecar Ny.Naina bersemangat.
"Dulu ayah sampe takut lho, melihat kondisi Ibumu yang sampai segitunya." ujar Pak Ruslan menambahkan cerita sang istri.
"Tapi waktu Ibu hamil Argha malah nggak kaya orang lagi hamil, heboh aja gitu ngapa-ngapain, tapi seringnya tau-tau pingsan. Hahahahaha" Ny.Naina mengenang sesi dua kali kehamilannya dengan tertawa-tawa.
"Iya nih, bikin orang khawatir terus!" lagi-lagi Pak Ruslan menambahkan.
"Lho, Ny.Naina putranya dua toh? Lalu adiknya Nak Tyo di mana kok saya belum ketemu?" tanya Ny.Mustika dengan polosnya.
Ny.Naina dan Keira seketika bungkam dan suasana pun menjadi hening. Ny.Mustika merasa aneh dengan suasana canggung yang tiba-tiba menyergap mereka.
Namun akhirnya Tyo yang menjawab, "Adik saya, Argha, sudah meninggal beberapa bulan lalu, Bu!" jawab Tyo dengan tenang.
Diam-diam Pak Ruslan kagum pada sikap Tyo yang mampu mengendalikan suasana dengan begitu tenangnya.
__ADS_1
"Oh maaf, saya turut berduka!" ucap Ny.Mustika dengan kikuk.
"Terima kasih, Bu!" jawab Tyo tulus.
"Maaf ya, Bu Naina. Saya tidak ada maksud untuk mengungkit kembali kesedihan anda sekeluarga." ungkap Ny.Mustika tulus.
"Nggak apa-apa kok Bu, wajar jika Ibu menanyakan Argha karena Ibu tidak tahu situasinya." balas Ny.Naina dengan lebih tenang. "Beginilah kalau punya anak cuman dua, Bu. Saat yang satu tiada, langsung jadi sepi sekali." tambahnya dengan ekspresi miris.
"Kalau begitu sebaiknya kita doakan Keira dan Tyo agar nantinya mereka diberi rejeki punya anak banyak, biar rame ya, Bu!" ujar Ny.Mustika.
"Ooh, kalau itu sudah pasti!" jawab Ny.Naina kembali bersemangat. "Oia, gimana kalau kalian foto preweed di rumah ini aja. Ibu bisa minta Mbak Devy buat ngurus dekor sama panggil fotografernya. Kalo di rumah kan, Keira nggak harus kemana-mana. Dan kalau Keira capek, tinggal istirahat di kamar. Gimana, Kei?" tiba-tiba Ny.Naina mendapatkan ide yang cemerlang.
Keira langsung sumringah mendengar saran dari calon ibu mertuanya itu. Ia pun langsung mengangguk dengan semangat, "Iya, Bu! Ide bagus itu! Dan foto di pantai sebelah juga boleh, Bu! Buat konsep outdoornya." tambah Keira tak kalah semangat.
"Waahh, iya. Betul-betul. Foto prewed outdoor di pinggir pantai. Pasti hasilnya romantis." seru Ny.Naina senang. "Terus, kapan kamu ada waktu luangnya, Tyo?" tanya Ny.Naina pada putranya.
"Aku baru bisa ngosongin jadwal besok lusa!" jawab Tyo singkat sambil menatap pada layar ponselnya seperti sedang melakukan chat dengan seseorang.
"Menurut kamu, Kei? Besok lusa gimana?" kali ini Ny.Naina menanyakan pendapat Keira.
"Keira sih ngikut jadwalnya Tyo aja, Bu. Kan yang sibuk disini Tyo, bukan Keira." jawab Keira terus terang.
"Oke, sip. Kalo gitu deal ya? Besok lusa kalian foto prewed di rumah dan di pantai." ujarmya memastikan.
Setelah semuanya setuju, Ny.Naina pun berinisiatif menelpon Mbak Devy dari Putry Devy Party Planner untuk memberitahunya bahwa foto prewed Keira dan Tyo sepakat akan dilakukan di rumah keluarga Pratama dan di pantai sebelah rumah mereka.
Ny.Naina meminta Mbak Devy untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan mulai dari dekorasi, fotografer, lighting, hingga make up artist untuk me-make over Keira agar terlihat lebih cetar saat sesi pemotretan.
Namun untuk busananya, Ny. Naina menyatakan akan menelpon beberapa butik untuk mengirimkan koleksi terbaru mereka ke rumah sebagai kostum untuk foto prewed Keira dan Tyo nantinya.
"Pasti bakalan seru banget nih, asyiikk...ibu udah nggak sabar, huhuuuyy!!!" pekik Ny.Naina riang sambil menari-nari kecil.
Melihat tingkah Ny.Naina, seketika Ny.Mustika jadi mengangkat kedua alisnya, ia pun mendekatkan bibirnya ke arah telinga Keira dan berbisik pada putrinya itu untuk menyampaikan isi pikirannya.
"Ngomong-ngomong, Kei. Ibu mertuamu itu orangnya...mmm...." Ny.Mustika menggantungkan kalimatnya untuk memilih kata yang cocok untuk mendeskripsikan sifat ibu Tyo itu.
Tapi sebelum Ny.Mustika menemukan kata yang tepat itu, dengan cepat Keira lebih dulu melanjutkan ucapan ibunya, "Nyentrik, baik, smart, dan asik!" Keira berbisik meneruskan kalimat ibunya yang terpotong sambil tersenyum bangga.
Dan Ny.Mustika pun setuju dengan pendapat Keira. Ia pun menganggukkan kepalanya dengan antusias. Tyo yang melirik diam-diam, jadi ikutan tersenyum melihat interaksi kedua ibu dan anak itu.
Saat Ny.Naina mengizinkan Ny.Mustika untuk memilih kamar tamu manapun yang ia suka, Ny.Mustika malah memutuskan untuk tidur sekamar dengan Keira.
Alasannya Ny.Mustika ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan putrinya itu. Dan Ny.Naina pun memaklumi alasan Ibunda Keira itu dan membiarkan mereka berdua tinggal di kamar yang sama.
Malam itu, Keira menceritakan perihal tentang hubungannya dengan Argha serta awal mula hubungannya dengan Tyo secara rinci kepada Ibunya itu.
"Pantas kamu tidak dapat dihubungi dalam beberapa bulan terakhir ini, Kei. Ibu pikir karena kamu sibuk kuliah dan ujian. Ternyata begitu banyak hal yang sudah terjadi. Lalu kenapa kamu sama sekali tidak menghubungi Ibu setelah ponselmu yang lama hilang dalam kebakaran itu nak?" Ny.Mustika yang gemas lalu mencubit pipi Keira.
"Maaf, Bu. Waktu itu aku sedang banyak pikiran dan memang banyak kesibukan jadi lupa untuk mengabari Ibu." balas Keira memberikan alasan.
"Ibu sampe bingung harus meminta tolong siapa untuk memeriksa keadaanmu di tanah air saat Ibu tidak dapat menghubungi ponselmu." beber Ny.Mustika menceritakan kegelisahannya saat itu.
"Tapi semuanya sudah berlalu, sekarang kita sudah berkumpul, dan Ibu senang kamu baik-baik saja. Saat ini kita hanya bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa yang sudah terjadi." ujar Ny.Mustika dengan bijak.
To Be Continue....
.
.
.
__ADS_1
.