
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara ketukan perlahan dari arah pintu kamar.
"Nngg...." Keira menggeliat dari dalam selimutnya. Berusaha mengembalikan jiwanya dari ambang alam bawah sadarnya.
Masih jelas terbayang di pelupuk matanya akan mimpinya semalam. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun dirinya berpisah dengan Ibunya, Keira memimpikan wanita yang telah melahirkannya itu.
Ia memimpikan saat masa-masa perjuangannya hidup berdua dengan Ibunya di tahun terakhir masa SMAnya setelah mereka berdua keluar dari rumah Pak Zein. Masa sebelum Ibunya itu menikah lagi lalu hijrah ke Jerman mengikuti suami barunya.
Tok. Tok. Tok
"Kei...Keira..." terdengar suara Ny.Naina memanggil namanya dari balik pintu kamarnya sambil mengetuk perlahan. "Ibu masuk ya, Nak?" pinta calon mertuanya itu.
"Hmm..iya, Bu!" jawab Keira dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
Sang calon ibu mertua pun segera mendorong pintu kamar calon menantunya itu sesaat setelah menerima izin dari Keira.
Ny. Naina mengintip terlebih dulu sebelum akhirnya benar-benar masuk ke kamar itu setelah dilihatnya Keira yang masih terbaring di atas ranjang.
"Ini jam berapa, Bu?" tanya Keira pada Ny. Naina.
"Udah mau jam sepuluh siang, Kei. Karena kamu nggak turun-turun juga, jadi ibu bawain susu sama roti bakar buat kamu. Sarapan dulu gih! Kesian bayinya kalo kamu sampe skip sarapan!" Ny.Naina meletakkan sebuah nampan yang dibawanya dari dapur ke atas nakas.
Keira bangkit untuk duduk. Ia lalu mengucek kedua matanya, kemudian mengerjap-ngerjapkannya sebentar untuk menyesuaikan matanya pada cahaya di dalam kamar yang mendadak lebih terang.
Setelah Ny. Naina membuka lapisan korden penghalang cahaya hingga separuh jendela. Seketika bias cahaya yang terang dari arah luar jendela menyeruak masuk ke kamar itu.
"Maaf ya, Bu. Keira bangun kesiangan!" ujarnya kemudian sambil meraih segelas air di samping gelas susu yang dibawakan Ny. Naina untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Nggak apa-apa. Apa kamu merasa tidak enak badan?" tanya Ny. Naina khawatir.
Dipegangnya kening Keira. Tidak panas namun berkeringat cukup banyak. Wanita paruh baya itu lalu mengambil sekotak tisu. Ia lalu duduk di tepian ranjang Keira dan menghapus keringat dari wajah dan leher gadis itu.
Keira menggeleng cepat menanggapi pertanyaan Ny. Naina. "Keira cuman ngerasa capek sekali. Mataku rasanya berat, Bu. Rasanya Keira nggak mau ngapa-ngapain dulu hari ini." jawab Keira apa adanya.
"Ya udah, hari ini biar ibu sendiri yang handle Mbak Devy dari Party Planner kalo dia ada pertanyaan atau konfirmasi lagi. Kamu istirahat aja dulu sehari ini!" Ny. Naina mengambil piring berisi roti bakar lalu menyodorkannya kepada Keira.
Setelah gadis itu menerima piring roti bakar itu dan mulai memakannya, Ny. Naina perlahan membelai rambut Keira dengan sayang.
Ny. Naina merasa kasihan pada gadis itu. Karena pesta pernikahan yang harus segera dilaksanakan sebelum perut Keira mulai membesar, ia dan Keira jadi sangat sibuk selama dua minggu lebih mengurus pernikahan.
Mulai dari menentukan tanggal, fitting baju, trial make up, memilih konsep dan tema, memilih lokasi, memilih undangan, hingga memilih makanan untuk sajian di pesta nanti.
Benar-benar melelahkan. Belum lagi sesi foto prewedding yang belum sempat Keira dan Tyo selesaikan.
Walaupun mereka sudah dibantu oleh Party Planner pernikahan yang didatangkan khusus oleh Ny.Naina dari Solo tapi tetap saja jasa Party Planner hanya membantu selama prosesnya saja, sementara keputusan akhir atas semuanya tetep berada di tangan Keira.
Karena itulah selama dua minggu lebih ini, Keira cukup terforsir baik dari segi tenaga maupun pikirannya. Dan Ny. Naina sangat maklum jika kini gadis itu merasa kelelahan.
Pasalnya bagi perempuan yang baru pertama merasakan kehamilan, masa-masa trimester pertama memang cukup menguras tenaga dan emosi, karena adanya penyesuaian hormon kehamilan dalam tubuh mereka.
Belum lagi tumbuhnya janin di dalam rahim yang membuat perut selalu terasa penuh dan tidak nyaman dalam kurun waktu tiga bulan pertama itu. Untungnya dalam kasus Keira, tidak terjadi gejala morning sick yang biasanya menjadi cobaan berat bagi wanita yang baru pertama kali mengalami kehamilan.
Namun tak bisa dipungkiri jika trimester pertama ini juga masa yang cukup riskan bagi gadis itu untuk melakukan serta memikirkan begitu banyak hal sekaligus dalam satu waktu. Membuat Ny.Naina khawatir jika Keira tidak sanggup menanggungnya dan berdampak pula pada kehamilannya.
Setelah Keira menghabiskan roti bakar dan susunya, Ny. Naina segera beranjak untuk meninggalkan gadis itu agar bisa istirahat kembali.
"Kalau perlu apa-apa telpon aja ke dapur. Atau chat ibu. Jangan maksain turun dulu kalo memang masih lemes ya!" perintah Ny. Naina pada Keira yang masih duduk bersandar pada kepala ranjang.
Keira mengangguk perlahan. "Tyo sudah ke kantor, Bu?" tanyanya pada Ny.Naina yang sedang membereskan nampan untuk dibawa turun kembali ke dapur.
"Tyo masih di bawah, lagi ada tamu dia. Kenapa? Mau ibu panggilkan?" Ny. Naina menawarkan.
Kali ini Keira menggeleng. "Nggak deh, Bu. Takut ganggu Tyo sama tamunya." jawabnya kemudian.
__ADS_1
Ny.Naina tampak merenung sesaat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun akhirnya wanita paruh baya itu seperti tidak jadi melakukan apa yang baru saja terpikirkan olehnya dan hanya menghela nafas panjang.
"Kalo gitu ibu turun dulu ya!" pamitnya kemudian sambil membawa kembali nampan bekas sarapan Keira barusan.
Keira lagi-lagi mengangguk. "Makasi ya, Bu!" ucapnya sesaat sebelum Ny.Naina menghilang dari balik pintu kamar itu.
Setelahnya Keira lalu merebahkan kembali tubuhnya ke posisi tidur dan segera memejamkan matanya yang masih terasa berat.
Sementara itu, di ruang keluarga....
Tyo sedang menerima tamu penting yang baru saja datang dari jauh, lebih tepatnya dari Jerman. Dan tamu penting itu adalah Ny.Mustika yang tak lain adalah ibu dari Keira---calon mertua Tyo.
Setelah Pak Agus Choir melakukan pencarian atas Ibu dan Ayah tiri Keira di Jerman, ia akhirnya menemukan informasi bahwa Ny. Mustika dan Pak Armand Englbehrt---Ayah tiri Keira---membuka usaha bakery kecil-kecilan di kota Hamburg, Jerman.
Dan setelah Pak Agus Choir memastikan alamat dan nomor kontak mereka, ia sendiri yang menelpon mereka untuk menyampaikan informasi terkini tentang Keira.
Pak Agus juga menyampaikan pesan khusus dari Pak Ruslan yang mengundang mereka untuk pulang ke Indonesia agar dapat memberikan restunya serta menghadiri pernikahan Keira dan Tyo. Tentunya semua biaya akan ditanggung oleh keluarga Pratama jika mereka berdua tidak keberatan.
Hingga tibalah Ny. Mustika di kediaman keluarga Pratama ini. Beliau yang baru saja landing tadi pagi dan datang sendiri tanpa suaminya, sengaja dijemput oleh Pak Yusam langsung dari Bandara atas suruhan Tyo. Tentu saja setelah Tyo mendapat informasi dari Pak Agus tentang kedatangan calon mertuanya itu.
Pak Armand---Ayah tiri Keira yang masih harus menyelesaikan beberapa urusan bisnis terkait bakery mereka, terpaksa datang belakangan dan akan segera menyusul setelah semua urusannya rampung.
Ny.Naina yang baru kembali dari dapur untuk mengembalikan nampan bekas sarapan Keira terlihat memasuki ruang keluarga untuk menemani Tyo berbincang dengan Ny.Mustika.
"Apa Keira sudah bangun, Bu? tanya Tyo sesaat setelah Ny.Naina duduk di sebelah Ny.Mustika.
"Tadi pas ibu naik sih belum, lalu ibu bangunkan untuk sarapan. Setelah dia sarapan, ibu suruh tidur lagi. Keira bilang dia kelelahan, matanya berat dan dia tidak ingin melakukan apapun seharian ini." jelas Ny.Naina.
"Berarti ibu belum bilang tentang kedatangan Bu Mustika pada Keira?"
"Tadinya mau ibu bilangin, tapi pas ibu lihat wajahnya yang kelihatan capek dan ngantuk banget, ibu jadi khawatir dia akan langsung bangun dan tidak jadi istirahat lagi kalau dia tahu ibunya ada disini." jelas Ny.Naina.
Tyo hanya manggut-manggut mendengar penuturan ibunya. Namun diam-diam ia melirik ke arah Ny.Mustika untuk melihat reaksi ibu Keira itu. Dan ternyata beliau hanya menghela nafas berat.
"Tidak apa-apa, Bu Naina. Saya mengerti. Terima kasih sudah memperhatikan anak saya Keira. Tapi yang saya heran, kenapa Keira harus tinggal disini bersama kalian? Padahal menurut Nak Tyo, Keira punya apartemennya sendiri." Ny.Mustika mempertanyakan keganjilan di hatinya atas situasi yang dijalani Keira ini.
Rupanya saat Ny.Naina mengantarkan sarapan untuk Keira di kamarnya, Tyo sudah menceritakan sebagian besar kondisi Keira dan apa saja yang dialami gadis itu sejak Keira berpisah dengan ibunya.
Kecuali tentang kehamilan Keira yang sengaja belum disampaikan oleh Tyo. Pria itu nampak menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Dan mungkin inilah saatnya. Ketika Ny.Mustika menanyakan alasan Keira tinggal di rumah keluarga Pratama ketimbang tinggal di apartemennya seorang diri.
"Meski Keira akan menikah dengan Nak Tyo tapi kan itu belum terjadi, lalu kenapa anak saya harus tinggal disini? Bersama calon suami dan keluarganya? Keira kan bisa tinggal di apartemennya sendiri dulu?" Ny.Mustika seolah menekankan pertanyaannya.
Tyo dan Ny.Naina seketika saling pandang. Meski mulut mereka tak saling bicara tapi tatapan mereka seperti sama-sama meyakinkan bahwa inilah saatnya Tyo mengungkapkan tentang kehamilan Keira pada Ny.Mustika.
Tyo menelan salivanya dengan susah payah. Tangannya sedikit berkeringat. Perasaannya kini lebih gugup ketimbang saat harus mengakui perbuatannya kepada kedua orang tuanya dulu. Tapi hal penting ini harus segera diselesaikannya demi mewujudkan masa depannya bersama Keira dan anak mereka.
"Biar saya yang akan menjawab pertanyaan anda, Bu!" sahut Tyo sambil beranjak berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Ny.Mustika.
Dan tanpa Ny.Mustika duga sebelumnya, tiba-tiba Tyo sudah berlutut di hadapannya. Pria itu nampak sedikit pucat dan terlihat gugup. Ekspresi bingung seketika hadir di wajah Ny.Mustika.
"Ada apa ini, Nak Tyo? Kenapa kamu berlutut di depan Ibu?" Ny.Mustika lalu berdiri dan mencoba membantu Tyo untuk beranjak dari posisinya. Namun Tyo bergeming.
Ny.Naina akhirnya ikut berdiri dan memegang kedua bahu Ny.Mustika untuk mengajaknya kembali duduk.
"Tolong, Bu! Tolong anda dengarkan Tyo bicara dulu!" pinta Ny.Naina pada calon besannya itu.
"Tapi kenapa harus berlutut?" tanya Ny.Mustika lagi.
Tiba-tiba Ny.Naina menggengam tangan Ny.Mustika dan memberikan tatapan agar beliau mau membiarkan Tyo melakukan apa yang harus dilakukannya kali ini saja.
Dan akhirnya Ny.Mustika pun menyerah, meski masih bingung tapi ia mulai pasrah untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakan Tyo dan tidak lagi menyuruh Tyo untuk berdiri.
"Sebelumnya saya mohon maaf, Bu. Saya memohon ampunan dari Ibu, baik untuk saya sendiri maupun untuk Keira." Tyo memulai pengakuannya.
Ny.Mustika nampak mengerutkan keningnya. Wanita itu kebingungan campur was-was. Karena tiba-tiba saja sebuah perasaan aneh yang menyesakkan hinggap di dadanya.
__ADS_1
"Keira tinggal disini karena kami bermaksud menjaganya, Bu. Karena saat ini...Keira sedang hamil. Sayalah yang sudah menghamilinya dan sekarang dia mengandung anak saya." akhirnya Tyo mengaku pada Ny.Mustika telah menghamili keira.
Apa yang baru saja Tyo sampaikan itu terdengar bagai petir di siang bolong di telinga Ny.Mustika. Dia tak pernah menyangka bahwa putrinya yang selama ini ia kenal sebagai gadis baik-baik harus mengalami nasib yang demikian.
Ny.Mustika refleks meremas baju di bagian dadanya karena merasakan nyeri yang tiba-tiba ia rasakan di ulu hatinya. Bibirnya gemetar menahan emosi. Ny.Naina yang menyadari hal itu segera mengusap-usap punggung Ny.Mustika agar lebih tenang.
"Tolong maafkan kami, Bu! Jika anda ingin memukul, pukul saja saya! Jika anda ingin marah, marahi saya! Jika anda berniat membenci, benci saja saya! Tapi tolong jangan lakukan semua itu pada Keira, Bu! Saya mohon!" Tyo mengiba di hadapan Ny.Mustika sambil menundukkan wajahnya.
Ny.Naina yang trenyuh melihat kesungguhan putranya jadi tak mampu lagi menahan air matanya. Ia pun terisak sambil tetap mengusap punggung Ny.Mustika yang juga nampak mulai menangis.
"Saya juga memohon kepada anda, Bu Mustika! Tolong maafkan anak-anak kita! Saya dan suami sudah sangat menyayangi Keira seperti anak kami sendiri, Bu. Tolong! Restui mereka berdua!" pinta Ny.Naina membantu Tyo memperoleh maaf dan restu dari Ibunda Keira.
Mendengar hal itu, tangis Ny.Mustika semakin pecah. Perasaannya campur aduk antara kecewa, menyesal, sekaligus lega dan penuh syukur.
Ia kecewa pada kesalahan yang dilakukan Keira hingga berakibat fatal seperti ini. Dan ia juga menyesal karena merasa tidak becus menjaga kehormatan putrinya sendiri.
Namun tak bisa di pungkiri jika ia juga merasa lega dan sangat bersyukur karena ketulusan dan kesungguhan Tyo serta keluarganya dalam menerima dan menyayangi Keira.
***
Dalam tidurnya, Keira merasakan sentuhan lembut nan hangat di atas kepalanya. Sentuhan yang terasa familiar dan ia rindukan. Sentuhan yang dulu sering menemani waktu tidurnya.
Keira membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat wajah ibunya sedang tersenyum di hadapannya. Seketika Keira membuka matanya lebar-lebar. Dan ia amat terkejut saat melihat sosok ibunya yang nyata-nyata sedang duduk di tepian ranjang memandangi dirinya.
"Ibu???!!!" panggil Keira lalu bangkit dengan tiba-tiba dari posisi tidurnya.
"Pelan-pelan bangunnya, Kei! Nanti kepalamu pusing!" kata Ny.Mustika kalem.
"Ibu?!" panggil Keira lagi. Diraihnya tangan Ibunya itu lalu diusap-usapnya seolah ini hanyalah mimpi. "Keira nggak mimpi kan, Bu?" tanya Keira masih tak percaya.
Ny.Mustika lalu mencubit pipi putrinya dengan gemas, "Niihh, sakit kan?" ia ingin meyakinkan Keira bahwa ini memang bukan mimpi semata.
"Eh iya loh, sakit. Berarti ibu beneran ada di sini! Asyiiikkk!" Keira memeluk Ibunya dengan riang.
"Kaget nggak?" tanya Ibunya.
"Bangeett!"
"Seneng ketemu Ibu?"
"Bangeeetttttt!!!"
"Kangen nggak sama Ibu?"
"Kangeeeennn!!!"
"Hahaa, Iya, Ibu juga kangen banget sama kamu, Kei!"
Dan mereka berdua pun saling berpelukan dengan erat seolah tak ingin terpisahkan lagi.
To Be Continue....
.
.
.
Maaf kalo pendek, lagi sakit jadi kurang konsen nulis, daripada hasilnya kacau aku update segini dulu. Moga besok bisa double up atau triple up lagiiiii πͺπ£
.
.
Jangan lupa like and komeenn, biar aQ tetep semangat nulisnya πβοΈ
__ADS_1