
"Pesawat yang ditumpangi Argha kemarin lusa untuk balik ke Indonesia itu jatuh di salah satu pulau terpencil tak lama setelah boarding. Penyebabnya masih belum ketemu tapi informasi yang sudah pasti..." Rizzi menggantungkan kalimatnya dengan menatap nanar pada Keira.
"Semua kru dan penumpangnya dipastikan tewas, Kei." sambung Rizzi dengan suara serak yang nyaris hilang karena menahan emosinya sendiri.
Keira diam. Nafasnya teramat berat seolah oksigen disekitarnya tak lagi bersisa. Keira hanya mematung menatap Rizzi tanpa kedip.
Lalu perlahan air matanya mengalir dengan sendirinya membasahi kedua pipi Keira diselingi senggukan yang tertahan.
Beth dan Said kompak menutup mulut mereka dengan tangan saking terkejutnya, sementara Vynt langsung menoleh ke arah Keira.
Mengamati perubahan ekspresi maupun reaksi tubuh gadis itu, bersiap kalau-kalau mental Keira tak mampu menerima guncangan sebesar itu.
Dan ternyata prediksi Vynt benar, karena tak butuh waktu lama pandangan mata Keira berubah gelap, gadis itu pun pingsan di dera rasa pilu yang teramat dalam di hatinya.
***
Sudah tiga hari sejak Keira mendengar berita tentang kecelakaan Argha. Sudah selama itu pula Keira mengurung dirinya di dalam kamar apartemennya.
Hanya diam berbaring tanpa melakukan apapun. Bibirnya menolak untuk bicara sepatah katapun. Dan telinganya pun menolak untuk mendengar suara apapun. Jiwanya terlanjur hampa, bagai ruang kosong yang ditinggal penghuninya entah kemana.
Beth yang sejak hari dimana Rizzi mengumumkan bahwa Argha tewas dalam kecelakaan pesawat yang membuat Keira pingsan, terus menemani gadis itu di apartemennya.
Beth, Vynt, dan Said tak pernah meninggalkan Keira sendirian. Mereka menemani gadis itu secara bersama-sama maupun bergantian. Hal itu mereka lakukan karena mereka takut kalau-kalau Keira melakukan hal yang tidak diinginkan.
Ketiganya selalu berusaha memaksanya makan meski selalu gagal. Berusaha mengajaknya bicara namun hasilnya tetap nihil, sia-sia.
Beth yang lebih sering menemani Keira siang dan malam seakan sedang hidup bersama dengan boneka. Keira akan tertidur dengan sendirinya ketika matanya lelah menangis dan akan terjaga dengan sendirinya pula ketika mimpi buruknya membayangi.
Mimpi buruk yang seakan-akan dirinya turut berada di dalam pesawat yang sama yang ditumpangi Argha. Seolah-olah dirinya turut merasakan sakit yang dirasakan Argha ketika tubuh pemuda itu terhempas jatuh ke tanah dan hancur lebur bersama pesawat yang ditumpanginya.
Mimpi buruk dimana Keira melihat banyak potongan-potongan tubuh manusia berserakan. Dimana ia mendengar banyak teriakan minta tolong dan teriakan kesakitan dari orang-orang yang tubuhnya hangus terbakar.
"AAAHHHHHHHH!!! Hah..hah..hah..." untuk kesekian kali Keira menjerit malam-malam disertai dengan deru nafas yang tersenggal-senggal. Keringat Keira bercucuran diiringi tangis pilu yang membuncah.
Rasa kehilangan yang mendalam dan memori tampilan video yang dilihatnya dari notepad Rizzi membuat Keira jadi memimpikan semua hal itu.
Beth yang selalu sabar menghadapi histeria Keira saat dini hari pun dengan tanggap mengambilkan gadis itu segelas air putih yang langsung diteguk Keira sampai habis.
Beth yang semakin khawatir melihat kondisi Keira hanya bisa memeluk tubuh menggigil sahabatnya itu erat-erat. Hatinya turut teriris karena iba melihat Keira yang tak kunjung pulih dari keterpurukannya.
***
Vynt membelai lembut kepala Keira dalam diam. Gadis itu baru saja tertidur lagi tak lama setelah matahari subuh terbit dari langit timur.
"Mau sampe kapan kita biarin Keira begini, Vynt?" tanya Beth yang berdiri di samping ranjang Keira dengan cemas.
__ADS_1
Vynt hanya menggeleng tanpa mampu menjawab pertanyaan Beth. Dirinya pun tak tahu pasti karena rasa kehilangan adalah masalah hati. Hanya Keira sendiri yang bisa melepaskan diri dari belenggu kesedihannya.
"Ini masalah hati, Beth. Cuman Keira yang bisa nyembuhin dirinya sendiri." ujar Vynt sendu.
Beth menghela nafasnya panjang sambil menatap pada wajah Keira yang tertidur pulas. Dia tahu pasti betapa berharga kehadiran Argha dalam diri Keira.
Seorang gadis yang diusia belia-nya sudah harus hidup terpisah jauh dari ibunya, dibuang oleh ayahnya dan terpaksa harus hidup mandiri seorang diri.
Argha datang dengan membawa berjuta harapan hidup untuk Keira. Memiliki seorang kekasih yang penyayang dan super perhatian pastilah menjadi oase yang menyejukkan dalam hidup Keira yang gersang akan kasih sayang.
Beth pun maklum akan keterpurukan Keira saat ini. Kehilangan semangat hidup terbesar yang dia miliki pastilah membuat gadis itu menjadi rapuh serapuh rapuhnya.
Siapa yang tidak demikian? Dirinya pun tidak mungkin akan memberikan reaksi yang berbeda bila berada di posisi Keira saat ini, pikir Beth.
Tanpa sadar air mata Beth kembali mencair menangisi nasib Keira yang begitu nelangsa.
Vynt menghembuskan nafasnya dengan berat lalu beranjak berdiri dari tepian ranjang Keira yang sedari tadi didudukinya.
"Lo juga harus kuat, Beth. Keira butuh kita. Cuman kita yang Keira punya saat ini. Jangan tunjukin sisi lemah lo ke Keira biar dia cepet bangkit. Kuat lagi kaya biasanya." Vynt memeluk Beth sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu.
Beth menggangguk kencang mendengar ucapan Vynt yang benar adanya. Dirinya juga harus kuat untuk membantu Keira mengembalikan semangat hidupnya lagi.
"Keira masih belum mau makan?" Vynt berjalan menuju ruang tamu apartemen Keira.
Beth menjawab pertanyaan Vynt sambil mengikuti langkah pemuda itu menuju ruang tamu. "Belum mau makan apa-apa, cuman minum aja itu pun kalau tantrumnya kambuh."
"Gue juga khawatirnya gitu." Beth ikut duduk di sofa lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Tapi tuh anak susah banget disuruh makan, gue sampe bingung mesti pake cara apa lagi buat nyuruh dia makan."
"Belum ada kabar dari Tyo?"
"Belum. Rizzi bilang Tyo langsung berangkat ke TKP begitu dapet kabar dari orang tuanya tentang kecelakaan Argha. Mungkin karena lokasinya di pedalaman jadi susah sinyal untuk tetep menjaga komunikasi." beber Beth yang masih intens menjalin komunikasi dengan Rizzi.
Lagi-lagi Vynt mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya cepat.
"Ya udah kita tunggu aja, semoga masih ada harapan hidup buat Argha." Vynt menatap ke arah lemari partisi di apartemen Keira yang berfungsi menyekat ruang tamu dengan ruang tidur.
Pandangan Vynt seakan-akan mampu menembus partisi itu dan menatap lekat ke arah Keira yang tertidur di ranjangnya.
Satu hari telah terlewati, tapi belum ada kabar apapun dari Tyo---kakak Argha. Lagi-lagi Vynt dan teman-temannya hanya bisa menunggu.
Dua hari pun berlalu, dan Tyo masih belum bisa dihubungi oleh Rizzi guna menanyakan perihal keberadaannya maupun kepastian nasib Argha.
Dan di hari berikutnya lagi, dering telepon dari ponsel Beth membuyarkan keseriusan gadis itu dan kedua temannya---Vynt dan Said.
Mereka bertiga sedang berkumpul di ruang tamu apartemen Keira guna melanjutkan mengerjakan tugas mereka yang sesuai agenda akan di eksekusi esok hari, dengan atau tanpa keikut sertaan Keira dalam kelompok.
__ADS_1
"Halo, Riz." jawab Beth cepat begitu dirinya melihat nama kontak Rizzi di layar. "Apa? Tyo dan Argha sudah balik? dimana? Rumah Sakit? ooh gitu, hmm..oke ntar aku sampein ke Keiranya." jawab Beth sebelum sambungan teleponnya dengan Rizzi terputus.
"Gimana? apa kata Rizzi?" Vynt bertanya dengan antusias.
"Kata Rizzi, Tyo sama Argha udah balik. Tapi sekarang mereka lagi ada di Rumah Sakit. Rizzi bilang besok Tyo yang akan jemput Keira kalo semua urusannya dah beres." Beth menerangkan isi percakapan telponnya dengan Rizzi barusan.
"Apa itu artinya ada kemungkinan Argha masih hidup?" tanya Said.
Di dalam kamarnya, Keira yang sayup-sayup mulai terjaga dari tidurnya mendengar nama Argha disebut-sebut. Gadis itu pun dengan cepat beranjak bangun dari ranjang lalu bergegas menghampiri ketiga temannya di ruang tamu.
"Gue gak tau, Rizzi tadi gak bilang." jawab Beth pada pertanyaan Said.
"Argha udah pulang? beneran?" tiba-tiba Keira sudah berdiri diantara mereka bertiga.
"U-udah." jawab Beth terbata saking kagetnya.
"Dimana dia sekarang? gue mau nyamperin Argha."
Vynt berdiri menghampiri Keira, "Kata Rizzi besok Tyo jemput lo, tapi tunggu semuanya beres dulu. Sabar, Kei." Vynt memegang sebelah bahu Keira, berusaha untuk menenangkan gadis itu.
"Nggak, gue mau ketemu Argha sekarang. Beth, dimana Argha sekarang?" bentak Keira.
"Rumah Sakit Husada Utama." jawab Beth pelan. Hatinya sakit melihat Keira yang sedemikian merindukan Argha.
"Gue mau kesana sekarang." pinta Keira memelas pada teman-temannya.
"Sabar, Kei. Sabaarrr." suara Vynt ikut meninggi. "Tyo bilang besok bukan sekarang." kini Vynt memegang kedua bahu Keira. Keira balas mencengkeram dan mengguncang-guncangkan kedua lengan Vynt.
"Tapi gue mau ketemu Argha sekarang, Vynt. Gue gak bisa nunggu sampe besok. Gue maunya sekarang...huuuhuhuuhuuu" Tangis Keira pecah kala memohon pada Vynt untuk membiarkannya menemui Argha hari itu juga.
Gadis itu bahkan sampai limbung karena kondisi tubuhnya yang menjadi lemas seketika efek dari luapan emosi yang selama ini ditahannya dalam diam.
Beruntung Vynt segera menopang tubuh Keira. Rahang Vynt mengeras menahan emosinya sendiri melihat kondisi gadis itu, hatinya terenyuh menyaksikan kesedihan mendalam yang dialami sahabatnya itu.
"Oke, kita anterin lo ke sana sekarang. Tapi lo harus kuat apapun yang bakal lo hadepin disana, lo harus kuat, Kei!" Vynt menekankan ucapannya pada Keira dengan menatap lekat kedua mata gadis itu.
Masih sesenggukan, Keira langsung membalas ucapan Vynt dengan anggukan, bibirnya tak mampu lagi berkata-kata akibat nyeri yang dirasakannya di dada.
To Be Continue.....
.
.
.
__ADS_1
.
ππππππππππππ