Replacement Lover

Replacement Lover
KARMA DIBAYAR NYICIL (I)


__ADS_3

@PT. PERMATA


Dengan tergopoh Pak Iqbal---sekretaris Pak Zein Imran memasuki ruangan atasannya dengan air muka yang nampak pucat. Dia baru saja mendapat laporan audit internal bulanan dari Divisi Regional.


"Permisi, Pak. Izin melapor!" Pak Iqbal sedikit menunduk kala menghadap Pak Zein Imran saat ini. Rasa takut yang dirasakannya kini membuat nyalinya otomatis menciut kala menghadapi bos besar di perusahaan tersebut.


"Ada apa?" tanya Pak Zein tanpa menoleh ke arah sekretarisnya, tapi justru terus menatap di atas mejanya untuk melakukan kroscek pada proposal pengajuan investasi yang akan dikirimkannya lagi ke beberapa perusahaan terkemuka.


"Saya baru dapat laporan dari Divisi Regional Pak." jawab Pak Iqbal.


"Laporan tentang apa?" kali ini perhatian Pak Zein berhasil didapatkan Pak Iqbal saat terlihat Pak Zein lalu mengalihkan pandangannya dari proposal di hadapannya ke arah Pak Iqbal dengan menaikkan sebelah alisnya heran.


"I-ini, Pak." jawab Pak Iqbal terbata sambil meletakkan sebuah dokumen dengan takut-takut ke atas meja kebanggaan Direktur Utama itu.


Pak Zein melirik sekilas map tebal dengan cover dari kulit sintetis yang berisi dokumen yang dimaksud oleh Pak Iqbal barusan. Diraihnya map itu lalu dibukanya.


Pupil matanya yang nampak bergerak-gerak mengikuti tulisan demi tulisan yang dibacanya dalam dokumen itu makin lama kian mengecil seiring makin membesarnya kelopak mata Pak Zein saking terkejutnya.


SRAK!!!


Dihempaskannya map kulit itu ke lantai dengan sekuat tenaga. "APA INI???" teriaknya penuh amarah.


Pak Iqbal yang terkejut dengan reaksi bosnya itu refleks mundur selangkah dengan perlahan. Namun masih berusaha untuk menjawab pertanyaan Pak Zein tentang isi dokumen itu.


"Nampaknya sebulan lalu, Ny. Rosa---istri anda pernah menggunakan uang perusahaan tanpa sepengetahuan kita, Pak?" jawab Pak Iqbal masih takut-takut.


"SEBANYAK ITU???" tanya Pak Zein tak percaya setelah tadi dilihatnya nominal yang tercantum dalam dokumen laporan. "Tapi untuk apa?" Pak Zein bertanya lagi dengan intonasi yang lebih rendah. Samar-samar rasa nyeri ia rasakan di ulu hatinya, namun dadanya masih naik turun karena luapan emosi yang memuncak.


"Sa-saya kurang tahu, Pak. Saya belum menyelidikinya. Saya langsung menghadap bapak setelah mendapat laporan itu." jawab Pak Iqbal terbata.


"Suruh Divisi Regional untuk tutup mulut terlebih dahulu dari Dewan Direksi. Jangan biarkan ini bocor sedikit pun." perintah Pak Zein sambil berdiri lalu mengenakan jasnya.


"Baik, Pak. Tapi anda mau kemana sekarang?" tanya Pak Iqbal bingung.


"Pulang. Akan kutanyakan langsung pada Rosa untuk apa uang itu digunakan." jawab Pak Zein lugas sambil melangkah menuju pintu ruangannya. Oia, Iqbal!' panggil Pak Zein ketika Pak Iqbal terlihat memungut map dokumen yang dilaporkannya tadi dari atas lantai.


"Iya, Pak?" respon Pak Iqbal.


"Bagaimana perkembangan proposal pengajuan investasi yang kita kirimkan ke Takhta Grup?" tanya Pak Zein berdiri mematung di depan pintu ruangannya.


"Belum ada perkembangan, Pak. Pihak Takhta Grup sama sekali belum menghubungi kita soal itu."


"Segera di follow up ulang, kita butuh bantuan dana segera." perintahnya. "Lalu bagaimana dengan proposal yang kita kirimkan ke perusahaan lainnya?" tanyanya lagi.


"Beberapa sudah diretur dengan penolakan formal, dan beberapa masih berstatus waiting list, Pak." jawab Pak Iqbal lagi.


Pak Zein hanya mendengus kesal lalu melangkah keluar dari ruangannya.


Apa lagi ini? rutuk Pak Zein dalam hati. Belum selesai masalah kekurangan dana operasional perusahaan karena minimnya tender yang perusahaannya dapat menangkan akhri-akhir ini, malah sudah muncul masalah baru.


"Apa sebenarnya yang Rosa pikirkan hingga dengan berani menggunakan uang perusahaan sebesar itu tanpa seizinku?" Pak Zein tampak benar-benar kesal.


Pak Zein berpikir kembali sambil menahan amarahnya. Untuk apa Rosa membutuhkan uang sebanyak itu mengingat dirinya selalu teratur memberikan jatah bulanan dengan nominal yang bahkan tiga kali lipat lebih besar daripada jatah bulanan yang dulu ia berikan pada ibu Keira saat masih menjadi istrinya.


Dan darimana ia bisa dapat uang untuk mengganti uang yang dipakai Rosa sebelum para Dewan Direksi tahu? Bagaimana reaksi para Dewan Direksi jika tahu istri Direktur Utama telah bertindak seenaknya sendiri seperti itu?


BUGH!!! Saking kesalnya, Pak Zein sampai mendaratkan pukulan di kursi mobil pribadinya sesaat setelah pria itu masuk kedalamnya. Membuat sopirnya sedikit berjingkat karena terkejut.


"Ki-kita mau kemana, Pak?" tanya si sopir terbata.

__ADS_1


"Pulang." jawab Pak Zein Imran tegas.


Padahal karena kondisi perusahaan yang sedang kekurangan dana, hingga dengan terpaksa dirinya harus mengirimkan pengajuan investasi dari perusahaan besar lainnya demi mendapatkan dana bantuan untuk menyelamatkan perusahaannya yang bisa terbilang hampir kolaps.


Kini malah tanpa diduga terjadi penyelewengan dana perusahaan yang justru malah dilakukan oleh istrinya sendiri. Pak Zein menggertakkan giginya kuat-kuat.


***


@Rumah Keluarga Zein Imran


"DAFFI !!!" teriak Ny. Rosa sambil membuka pintu kamar anak lelaki semata wayangnya dengan tenaga ekstra. "BANGUN!!!" teriaknya lagi sambil menarik selimut yang membungkus tubuh kurus Daffi lalu melemparnya secara asal di atas lantai.


"Duuhhh...apaan sih, Ma? Pagi-pagi udah berisik aja." Daffi membalik tubuhnya dalam posisi telentang sambil mengucek kedua matanya.


"Pagi katamu, HAH? Ini bahkan sudah lewat jam makan siang tauuuuu?!" Ny. Rosa menyeru dengan akhiran huruf 'U' yang panjang dibelakang kalimatnya.


"Trus kenapa? Daffi ngantuk, Ma." Daffi kembali memutar tubuhnya, meraih guling, lalu meringkuk meneruskan tidurnya.


"Kau ini benar-benar yaa!!!" Ny.Rosa yang sudah terlampau emosi lalu melempar beberapa kertas dan amplop yang sudah ia buka lebih dulu yang sedari tadi dipegangnya. "INI, Apa ini???" tanyanya pada sang anak dengan berkacak pinggang.


Daffi mengambil selembar kertas yang dilemparkan ibunya itu secara acak lalu membacanya, matanya seketika terbuka lebar, membuat rasa kantuknya terhempas seketika.


Ternyata kertas yang sedang dipegangnya itu adalah pemberitahuan Drop Out dari Universitas tempatnya berkuliah. Sementara kertas-kertas yang lain adalah tagihan-tagihan game online dari beberapa provider.


"Mau sampai kapaaannn kamu begini terus? Mama sudah bantu tutupi masalah tagihan game onlinemu yang mencapai puluhan juta itu dari Papamu sejak enam bulan lalu. Kamu bilang akan langsung berhenti begitu Mama lunasi tapi apaaa??? Kenapa sampai sekarang tagihan-tagihan itu datang teruuuussss?" Ny. Rosa berteriak histeris merasakan rasa kesal yang sudah sampai di ubun-ubunnya itu.


Saking kesalnya Ny. Rosa sampai mengambil salah satu benda di nakas tempat tidur Daffi lalu melemparkan benda itu ke arah putranya yang langsung membuat Daffi meringkuk berusaha menamengi dirinya dengan kedua tangannya.


"Ampun Ma, ampuunn. Sadar Ma!" teriak Daffi.


"Sadar-sadar, KAMU YANG HARUSNYA SADAR!!! Asal kamu tahu, gara-gara kamu Mama sampai harus berhutang pada rentenir sebanyak satu milyar. Tapi apa balasanmu? Bukannya berhenti main game online malah sekarang kamu bahkan di D.O dari kampusmu. DASAR ANAK KURANG AJAAARRRR!!!" teriak Ny. Rosa makin histeris melempar segala barang yang dapat diraih tangannya ke arah Daffi.


Suara pintu digebrak membuat drama ibu dan anak itu terhenti begitu saja. Seketika suasana hening menyergap kamar tidur Daffi kala Ny.Rosa dan Daffi sama-sama melihat Pak Zein yang sudah berdiri di ambang pintu dengan mata merah menyala menahan emosinya yang meluap-luap.


"KALIAN BERDUA....SAMA-SAMA TIDAK BERGUNA!!!" teriak Pak Zein Imran sambil mengepalkan kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya.


***


@Toko Silvia and Joe Chocolate, cabang JOGJA


📱KEIRA PERMATA


"Halo, Mbak. Aku dah di depan ruko yang mbak shareloc tadi. Tapi pintunya masih tertutup. Mbak dimana?"


📱SILVI INDRY


"Halo, Kei. Aku dah di dalem nih. Kamu langsung masuk aja!"


📱KEIRA PERMATA


"Oke, Mbak."


Keira pun langsung melangkah menaiki beberapa anak tangga yang ada di depan pintu masuk ruko yang rencananya akan dipakai untuk membuka cabang toko Silvia and Joe Chocolate di kota Jogja.


Dibukanya daun pintu aluminium berkaca riben itu untuk menemui mbak Silvi yang katanya sudah berada di dalam. Hari ini adalah hari janjian mereka untuk bertemu dan membicarakan tentang kontrak kerja Keira di Silvia and Joe Chocolate cabang Jogja.


Karena sedang meninjau persiapan akhir sebelum grand opening yang tanpa terasa sudah akan dilaksanakan minggu depan, Mbak Silvi menyuruh Keira untuk langsung datang ke ruko agar Keira tahu dimana tempatnya bekerja nantinya.


"Mbak Silvi!" Panggil Keira menepuk pundak owner Silvia and Joe Chocolate itu dengan lembut saat dilihatnya Mbak Silvi sedang berdiri memunggunginya sambil mengecek katalog terbaru Silvia and Joe Chocolate.

__ADS_1


Mbak Silvi menoleh dan langsung ternganga melihat penampilan Keira yang baru. "Keiraaaaa!" pekiknya lalu menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangan.


"Ya Ampuuunn, aku sampe speechless. Kok kamu jadi cantik banget gini sih, Kei?" tanya Mbak Silvi tak percaya.


Memang sulit dipercaya. Keira yang dulunya kalem dengan kecantikan yang terpancar alami tanpa tambahan make up atau aksesoris apapun dan dengan gaya rambut yang hanya dibiarkan lurus memanjang tanpa pernah tersentuh bahan kimia sebagai pewarna atau pengubah bentuk kini tampak begitu berbeda.


Demi menyamarkan diri dari orang-orang suruhan Tyo yang sedang mencarinya. Keira pun memotong rambut lurus panjangnya menjadi pendek sebahu lalu mewarnai ujung bawah rambutnya dengan warna pink fushia yang sexy.


Sehari-hari Keira juga nampak memakai kacamata anti radiasi dan kontak lens abu muda di balik kacamata beningnya itu. Keira yang biasanya tidak pernah memakai lipstick kini mulai sering menggunakan tint warna pink yang serupa dengan ujung rambutnya.


Penampilan Keira yang baru tidak hanya merubah gayanya tapi juga imagenya, dari gadis kalem menjadi gadis yang terkesan berani dan sexy.


"Supaya apa ini?" tanya Mbak Silvi masih tidak percaya.


"Cuman pengen ganti suasana aja kok, Mbak." jawab Keira praktis.


"Keren, cantik banget kamu, Kei! Jadi bangga aku kalau ada staff secantik ini di tokoku nanti." kata Mbak Silvi masih dengan takjub.


Keira hanya tersenyum tersipu mendengar pujian Mbak Silvi yang dirasanya berlebihan itu. Tapi ketulusan Mbak Silvi saat mengucapkannya terpancar jelas dari kedua mata Mbak Silvi yang berbinar.


"Haduuuhhh, aku penasaran nih pengen denger cerita kamu kok bisa sampe di sini. Yuk kita ngobrol-ngobrol di cafe sebelah aja sambil Brunch* kebetulan aku belum sempat sarapan tadi." ajak Mbak Silvi.


Keira pun langsung mengangguk setuju dan berjalan mengikuti Mbak Silvi keluar dari ruko.


To Be Continue....


.


.


.


.


.


*BRUNCH


adalah istilah yang digunakan saat menyantap makanan ketika di luar waktu makan antara sarapan dan makan siang.


Istilah brunch merupakan singkatan dari breakfast (sarapan) dan lunch (makan siang). Waktu menyantap brunch adalah mulai pukul 11.00-15.00 WIB.


.


.


Makasih buat yg udah nyusul VOTE :


~ Susi Ummu Boyan


~ Rani Alfina


~ Wulan Kucriet


~ Wient Alrasyid36


~ Emika Adnan


Yang nggak kesebut mohon maaf yaa, aku cuman nulis sesuai yang kelihatan di halaman Vote akun-ku aja tapi aku tetep makasii bangeetttt buat semuanya 😘❤️

__ADS_1


Yang belum bisa VOTE nggak apa-apa kok, bantu like and komen aja aku udah BAHAGIAAAA 😍


__ADS_2