
"TYO SAKIT, Kei!" ulang Beth sambil melangkah masuk ke apartemen Keira.
Keira masih berdiri terpaku. Mencoba mencerna makna dari kata 'Sakit' yang dilontarkan Beth. Tyo sakit apa? parahkah? dirawat dimana Tyo sekarang? adakah orang yang merawatnya? pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.
"Tunggu Beth! Lo ngomongin Tyo siapa sih ni? Apa ini Tyo yang pernah nganterin Keira ke rumah lo dulu?" tanya Vynt memastikan rasa penasarannya.
"Iya, Tyo yang itu. Kalian gak ikut sih di farewell party-nya Argha. Ternyata Tyo yang itu tuh kakaknya Argha." jelas Beth.
"SERIUS!!!" pekik Said dan Vynt bebarengan.
Beth mengganggukkan kepalanya tanda meng-iyakan.
"Tapi lo tau dari mana kalo Tyo sakit?" tanya Keira pelan.
"Tadi gue ke Cafenya Rizzi trus ketemu dia yang lagi buru-buru, gue tanya mau kemana jawabnya mau ke apartemennya Tyo. Tyo sakit, gitu katanya." terang Beth.
"Rizzi sapa lagi nih?" giliran Said bertanya sambil nyomot secuil telor ceploknya.
Terlihat jelas bahwa Said sudah kelaparan setengah mati tapi dirinya sungkan untuk makan lebih dulu.
"Owner-nya Cafe Teluse yang lagi booming itu namanya Rizzi. Ternyata temen masa kecilnya Argha sama Tyo. Kemarin gue dikenalin pas acaranya Argha disono." Beth lagi-lagi memberi penjelasan.
"Waahhhh, padahal baru satu kali kita gak ngumpul bareng udah ketinggalan banyak info gini ya." sahut Vynt sambil geleng-geleng kepala.
"Lo tau alamatnya Tyo?" tanya Keira lagi pada Beth.
"Gue dah kepikiran kalo lo bakal tanya gitu, makanya gue minta Rizzi buat chat alamatnya Tyo. Kali aja lo minta nyusulin kesono buat nengokin Tyo." jelas Beth panjang lebar.
"Ya udah yuk, buruan kita susulin ketempatnya Tyo." ajak Keira dengan gusar.
Keira masuk ke kamar tidurnya lalu mengambil tas selempang yang dia gantung di dekat meja rias.
"Yuk, Beth!" ajaknya lagi pada Beth seolah lupa bahwa masih ada dua makhluk lain di apartemennya.
"Laahhh, nasib kita berdua gimana, Kei?" tanya Said mengingatkan.
"Kalian makan aja gak apa-apa, habisin kalo perlu. Takutnya gue pulangnya lama. Sory gaes, ndekor ulangnya next time aja deh." jawab Keira sambil menyerahkan Card Acces System-nya ke Vynt.
"Nitip apartemen gue ya Vynt, nanti kartunya gue ambil kalo dah balik." ujar Keira pada Vynt lalu beranjak keluar pintu. Beth mengikuti Keira dibelakangnya.
Vynt yang masih bengong melihat sikap Keira tidak menyadari bahwa Said sudah mulai mengunyah makanannya sedari tadi. Setelah dirinya sadar kalau sudah kalah start oleh Said kembali Vynt menyikut sahabatnya itu.
"Sialan lo, makan duluan gak pake permisi." gerutu Vynt.
"Permisi gimana lagi orang Keira-nya aja udah ngebolehin makan kok." Said beralasan.
Vynt pun mulai menyendokkan nasi goreng buatan Keira itu ke piringnya sendiri. Dalam hatinya Vynt bertanya-tanya, kenapa reaksi Keira sampai sebegitunya mendengar Tyo sakit. Yaahh, walaupun Tyo adalah kakak dari kekasihnya Keira namun reaksi itu dirasa berlebihan bagi Vynt.
***
Tampak Keira dan Beth sedikit berdebat di depan sebuah pintu apartemen yang konon katanya adalah apartemen Tyo.
"Bener ini tempatnya, Beth?" tanya Keira ragu-ragu.
"Harusnya sih bener, gue cuman ngikutin GPS lokasi yang udah di share ama Rizzi tadi." timpal Beth polos.
__ADS_1
"Kalo salah gimana?" tanya Keira memelas.
"Coba dulu pencet belnya, liat sapa yang keluar, baru tahu deh ini bener apartemennya Tyo apa kagak." Beth menyarankan.
Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Keira, Beth langsung menekan bel yang ada di samping pintu tersebut.
Sekali tekan, tidak ada respon.
Dua kali tekan, masih tidak ada respon.
Ketika Beth akan menekan Bel untuk yang ketiga kalinya, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam dan menampakkan sosok lelaki tampan yang terlihat sangat pucat dan lemas.
"TYO!" pekik Beth dan Keira kompak.
Tyo yang juga tak kalah kaget langsung mundur selangkah secara refleks. Namun karena kondisi tubuhnya yang masih lemas, Tyo pun sempat limbung hingga akhirnya Keira spontan merangsek masuk ke kamar itu dan langsung menyangga tubuh Tyo.
Seketika Keira merasakan hawa panas dari tubuh yang sedang dibantunya berdiri itu. Terlihat sekali bahwa Tyo memang sedang tidak sehat.
"Hati-hati!" ucap Keira lembut.
Tyo hanya mampu mengangguk. Tenggorokannya yang sudah sakit sejak semalam mendadak kering melihat kedatangan gadis yang didambanya. Dalam hati Tyo menyesal, mengapa Keira harus melihat penampilannya yang sedang kacau seperti sekarang.
"Boleh aku bantu kamu tiduran?" tanya Keira dengan menatap khawatir ke arah Tyo. Membuat jantung Tyo sudah berdetak kencang akibat demam jadi lebih berdebar menerima tatapan sendu dari Keira.
Lagi-lagi Tyo hanya sanggup menganggukkan kepalanya pelan. Keira jadi semakin merasa iba dibuatnya.
"Beth, sini bantuin!" titah Keira pada Beth yang dari tadi diam mematung melihat reaksi Keira yang tanggap menolong Tyo.
Tanpa menjawab Beth pun langsung menopang sisi tubuh Tyo yang lain. Pelan-pelan mereka membawa Tyo masuk dan mendudukkannya di sofa panjang yang menghadap telivisi.
"Ruang tidurmu dimana?" tanya Keira lagi.
"Di atas." jawab Tyo singkat dengan suara parau.
Tyo merebahkan tubuhnya menyamping. Tubuhnya sama sekali tak bertenaga. Dengan berbantalkan salah satu sandaran lengan, Tyo menyandarkan kepalanya.
"Maaf, jika kalian melihatku dengan kondisi seperti ini." Tyo mengungkapkan penyesalannya.
Membuat Keira dan Beth merasa iba, terutama Keira. Hatinya sakit melihat Tyo dengan kondisi sedemikian.
Tyo memejamkan matanya untuk mengurangi rasa perih sekaligus panas pada matanya. Matanya berkunang-kunang akibat berdiri agak lama. Keringat bercucuran di kening dan lehernya.
Keira yang melihat keringat membasahi wajah dan sebagian kaos yang dikenakan Tyo lalu mengambil sapu tangan dari dalam tasnya dan menyapukan kain itu ke wajah Tyo.
Tyo tersentak kaget merasakan sapuan lembut tangan Keira, namun tak bisa dipungkiri bahwa hatinya berbunga-bunga mendapati gadis itu memberikan perhatian khusus padanya. Seandainya perhatian dari gadis itu murni karena rasa cinta dan bukannya karena rasa iba. Akan menjadi kebahagiaan tak terkira baginya.
"Kamu sendirian? Rizzi mana tadi katanya kesini?" tanya Beth yang sudah duduk di salah satu sofa kecil.
"Dia lagi keluar beli obat." jawab Tyo sambil tetap memejamkan matanya.
Beth pun hanya diam mendengar jawaban Tyo. Namun jarinya lincah mengetik chat kepada Rizzi yang memberitahukan bahwa dirinya dan Keira sudah sampai di apartemen Tyo.
"Punya handuk kecil untuk mengompres demammu?" tanya Keira pada Tyo.
"Ada di lemari kamar mandi sepertinya." meski lemas tapi Tyo berusaha mengangkat sebelah tangannya untuk menunjukkan pada Keira dimana letak kamar mandi yang dimaksud.
__ADS_1
"Permisi ya, biar aku cari disana." ucap gadis itu tanpa menunggu jawaban dari si pemilik apartemen.
Keira langsung masuk ke kamar mandi dan mulai mencari-cari handuk kecil yang dia butuhkan. Setelah ketemu, Keira bergegas ke dapur untuk mengambil mangkuk besar dan es untuk membuat kompresan.
Tyo masih tidak menjawab. Sepertinya lelaki itu hampir tertidur. Sementara Beth masih duduk tenang di dekat Tyo berbaring sambil tetap memainkan jarinya pada ponselnya.
Tak lama Keira muncul lagi dengan membawa kompresan untuk Tyo.
"Tyo permisi ya. Boleh aku kompres keningmu?" lagi-lagi Keira meminta izin dengan lembut sambil memberikan senyum terbaiknya.
Tyo membuka matanya sedikit dan perlahan, lalu hanya mengangguk pelan membalas pertanyaan Keira.
Dengan cekatan Keira meletakkan kain dingin yang sudah diperasnya itu diatas kening Tyo yang panas. Sesekali Keira mengelap peluh Tyo yang masih bercucuran dengan sapu tangannya sendiri.
Beth takjub melihat ketelatenan Keira merawat Tyo sekaligus iba melihat lelaki dewasa yang biasanya tampak maskulin itu berubah menjadi lemah tak berdaya. Meskipun kalau Beth boleh jujur, walaupun terlihat sakit tapi kadar ketampanan Tyo tidak berkurang sedikit pun.
Pintu apartemen Tyo tiba-tiba terbuka dari luar lalu Rizzi masuk kedalam membawa sebuah kantong plastik ditangannya.
"Sory..sory..tadi apoteknya banyak yang tutup, makanya muter-muter dulu nyari apotek yang buka. Kalian udah lama?" tanya Rizzi sambil meletakkan kantong plastik yang dibawanya itu diatas meja ruang tamu.
"Gak terlalu lama kok." Beth yang menjawab.
"Tyo udah makan, Riz?" tanya Keira.
"Belum, mau aku belikan bubur tapi penjualnya tutup. Tanggal merah sih jadi banyak yang tutup." gerutu Rizzi.
"Disini ada bahan buat masak bubur gak?" tanya Keira lagi.
"Kayanya ada, Tyo suka masak sendiri sih biasanya jadi dia pasti punya bahan makanan. Coba aku liat dulu ya." jawab Rizzi sambil menuju dapur. Keira mengikutinya dari belakang.
Rizzi membuka salah satu pintu di kitchen set dan langsung menemukan apa yang mereka cari. Senyum Keira pun merekah seketika.
"Kita pindahin Tyo ke atas dulu, Riz. Dia bisa istirahat lebih nyaman kalo rebahan di kasur dari pada di sofa gitu." saran Keira pada Rizzi sambil matanya menatap lesu ke arah Tyo.
Sejenak Rizzi menatap Keira dengan tatapan penuh tanya. Jika dirinya tidak kenal Keira sebagai pacar Argha---adik Tyo. Pasti dirinya sudah mengira bahwa gadis itu justru kekasih Tyo sendiri, melihat perhatian Keira yang begitu tercurah pada Tyo.
Memang Argha sering membicarakan tentang kebaikan dan sikap keibuan dari kekasihnya itu, tapi ketika Rizzi menyaksikan sendiri bagaimana Keira merawat Tyo yang sakit, Rizzi jadi percaya seratus persen bahwa gadis itu tidak hanya cantik dari luar tapi juga cantik dari dalam.
Dengan bantuan Rizzi dan Keira, Tyo akhirnya bisa tiduran di ranjangnya sendiri di kamar atas. Beth membawakan mangkuk kompresan dan kantong obat yang tadi dibeli Rizzi ke lantai atas lalu meletakkannya di nakas tempat tidur Tyo.
"Tolong ganti kaosnya Tyo ya, Riz. Takutnya dia malah masuk angin kalo masih pake kaos yang basah gitu. Biar aku buatkan bubur buat Tyo." ujar Keira setengah berbisik.
"Ok." jawab Rizzi dengan anggukan dan senyuman.
"Aku mau bantuin Keira dibawah." Beth menambah dengan ikutan berbisik.
Kali ini Rizzi menjawab Beth dengan mengacungkan jempolnya. Setelah kedua gadis itu turun, Rizzi mengalihkan pandangannya pada Tyo yang tertidur dalam rasa sakit.
"Adek lo beruntung banget punya cewe kaya Keira. Seandainya lo juga punya seseorang yang sebaik dan setulus Keira dalam hidup lo, mungkin gue gak bakalan khawatir lagi sama lo." bisik Rizzi sambil menghela nafasnya dalam melihat sahabat sejak kecilnya terkulai lemas.
To Be Continue...
.
.
__ADS_1
.
.