Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : DISERGAP


__ADS_3

.


.


.


Selesai membantu Rizzi membersihkan rambut dan wajahnya dari cairan es teh, Beth keluar lebih dulu dari toilet karena takut seseorang akan datang dan memergokinya ada di dalam toilet pria.


Tapi begitu gadis itu berada di lorong yang sepi dan panjang dan sedikit remang-remang karena efek dari cahaya lampu yang memang dibuat meredup, rasa takut lagi-lagi menjalar di otak Beth.


Gadis itu pun akhirnya kembali masuk ke dalam toilet dengan tergesa dan membuat kaget Rizzi yang masih berusaha mengeringkan rambutnya dengan hand dryer.


"Apaan sih kamu, Bee! Ngagetin aja deh!!!" rutuk Rizzi yang memang kaget karena kemunculan kembali Beth yang tiba-tiba dan ekspresi yang ketakutan.


"Hunnyyyy, ini beneran cuman ada kita berdua di lantai ini???" tanya Beth dengan panik.


"Iyaa, enggak percayaan amat sama pacar sendiri!" omel Rizzi yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.


"Bukannya gituuu....cuman aku merinding disko nih jadinyaa!" rengek Beth sambil mendekat ke arah Rizzi berdiri.


"Lebay deehh kamu! Orang hotel bagus gini kok, mananya yang bikin merinding coba???" lagi-lagi Rizzi mengomeli kekasihnya itu.


"Yaa mana kita tahu kan, ini gedung dulunya apaan? Atau hotel ini dibangun dari tanah bekas apaan? Lagian yang namanya jin tuh di mana-mana kali, Hun! Kalo mereka lagi pengen ngeksis trus tau-tau nongol di depan kita emang kamunya bisa ngelarang-ngelarang gitu, enggak kaaann???" cerocos Beth.


"Nggak usah haluu napa, Bee!!! Kalo kamu ngomongin itu terus bisa-bisa aku jadi ketularan halu niihh... tuuhh kan udah ikutan merinding akunya!" balas Rizzi sambil menggosok-gosok bulu halus di lengannya yang tiba-tiba berdiri.


"Laahh, emangnya kamu takut sama mahkluk halus, Hun???" Beth tak percaya.


"Bukannya takut lagi, tapi takut bangeeettttt!!!" jawab Rizzi jujur apa adanya.


Tawa Beth langsung meledak mendengar pengakuan kekasihnya itu. Rasa parnonya seketika menghilang berganti rasa geli mengetahui bahwa kekasihnya, pria sedewasa Rizzi Riyant ternyata takut dengan yang namanya setan.


"Jiyyaahhh, kamu sahabatan sama bosnya setan aja nggak takut, masa' sama antek-anteknya malah takut sih. Labil kamu, Hun!" goda Beth.


Rizzi jadi ikutan tertawa geli mendengarnya, namun kemudian ia berpesan, "Bebebku sayaaang....tolong jangan ngomong begitu di depan Tyo yah! Please! Nanti bukan kamu yang kena bully sama dia, tapi aku!!!" pinta Rizzi dengan pura-pura mewek.


Lagi-lagi, Beth langsung tertawa ngakak melihat ekspresi ketakutan Rizzi yang nampak sangat konyol di matanya.


"Kamu mah enak punya backingan Nyonya Keira Permata, kalo Tyo ngebully kamu bisa diamuk dia sama Keira! Nah aku??? Enggak ada yang ngebela." ungkap Rizzi ngenes. "Udah aah, udah kelar nih bersih-bersihnya! Sekarang ikut aku, yuk!"


Kini pria itu dengan sedikit memaksa menarik lengan Beth menuju ke ujung utara lorong itu. Sesuai arahan dari petugas hotel yang mengantar mereka tadi.


Ketika mereka hampir mencapai ujung lorong yang ternyata mengarah menuju sebuah ruangan outdoor itu, tiba-tiba...


"SUPRISEEEE!!!" teriak Keira dari balik dinding penghalang antara balkon dengan lorong.


Di belakang Keira sudah ada suaminya, Tyo Pratama, yang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana dengan seulas senyum yang tersungging di wajahnya.


"Ke-Keiraa!!!" pekik Beth kaget saat melihat Keira yang muncul tiba-tiba dan mengagetkannya. "Lo kok ada sini?"


"Ya kan, mau ngasih kejutan ke elo!" jawab Keira sambil menarik lengan Beth menuju ke suatu arah.


"Kejutan apaan?" Beth melangkah sambil menoleh ke arah Keira yang berjalan cepat di sebelahnya. Sedangkan Tyo dan Rizzi langsung mengikuti langkah kedua wanita itu di belakang mereka.


"Kejutannyaaaa, iniiii...!!!" seru Keira dengan riang sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar di samping sebuah meja makan yang sudah tertata apik nang romantis dengan lilin-lilin hias panjang di tengah-tengah meja itu.


Dengan bantuan dari Tyo dan Keira, ternyata Rizzi telah menyiapkan dinner spesial khusus untuk mereka berempat di rooftop hotel itu sebagai kejutan untuk Beth. Semua itu Rizzi lakukannya demi untuk menyenangkan hati kekasih hatinya itu.


"Mumpung kita keluar, sekalian aja kita dinner. Tapi karena kita enggak mungkin dinner di tempat kita habis perang sama drama queen di bawah tadi, makanya aku siapin dinner khusus buat kita berempat di sini. Kamu suka?" tanya Rizzi sambil menarik sebuah kursi untuk Beth duduki.


"Suka bangeeetttt!!! Makasi Hunny!" ucapnya tulus.


Bagaimana mungkin ia tidak suka jika ada Keira---sahabatnya di sini turut hadir makan malam bersamanya. Ditambah lagi pemandangan di rooftop yang baginya jauh lebih 'mewah' daripada interior di dalam restoran tadi.


"Tapi nanti kalo tiba-tiba hujan gimana ini? Buyar dong dinner kita?" seru Keira sambil duduk di kursi yang ditarikkan oleh suaminya dari bawah meja.


"Tenang aja, Yang! Walaupun enggak kelihatan karena ini malam hari tapi di atas kita ada kanopi transparan yang terbuat dari Polikarbonat kualitas tinggi. Jadi kalau hujan kita tetep aman dinner di sini." jelas Tyo.


"Oohh, aku enggah ngeh lhoo dari tadi kalo ini ada atapnya!" jawab Keira polos.


"Sama, aku juga!" imbuh Beth sambil mendongak ke atas guna melihat atap yang disebutkan Tyo tadi.


"Soalnya tiang penyangganya di jadikan satu sama pagar pembatas, kanopinya emang bening banget makanya tersamarkan." Tyo kembali menjelaskan.


Melihat Keira dan Beth yang mengangguk-angguk dengan polosnya membuat Tyo tersenyum sendiri.


Tyo dan Rizzi yang bertindak layaknya butler lalu mulai menyalakan panci-panci tempat hidangan makan mereka untuk menghangatkan kembali makanan itu. Mereka juga menuangkan minuman dan menyuguhkan appetizer secara bergantian.


"Gimana hasil tugas kalian sebagai mata-mata?" tanya Rizzi di tengah-tengah makannya.


"Beres dong! Tuh rekaman drama kalian udah ada di ponselnya Tyo!" balas Keira setelah meneguk teh hangatnya.


"Haahh, rekaman apaan lagi nih?" Beth bingung sendiri.


Akhirnya Rizzi menjelaskan bahwa ternyata, diam-diam Tyo dan Keira merekam kejadian mereka ketika sedang menghadapi Arlisa Kejora di resto bawah tadi sebagai senjata rahasia.


Keira dan Tyo sudah lebih dulu ada di resto itu untuk memantau situasi. Dan ketika Arlisa Kejora sudah muncul di resto, Keira dan Tyo dengan santai milih duduk di meja yang tak jauh dari meja yang yang dipilih Arlisa guna mencari angle yang pas untuk merekam.

__ADS_1


"Senjata rahasia buat apa emangnya?" tanya Beth lagi sebab ia masih dibuat bingung oleh ketiga orang itu.


Ternyata Rizzi berencana untuk membuat beberapa akun-akun palsu untuk menyebarkan video itu ke akun gosip serta akun receh lainnya agar rekaman tentang keangkuhan Arlisa Kejora bisa viral di dunia maya. Itulah senjata rahasia yang dimaksudnya.


"Ooo pantesan kamu nggak terlalu kepo soal penampakannya si Arlisa, soalnya kamu sama Tyo pasti udah tahu duluan kan?" tebak Beth.


"Yoii, Bee!" jawab Rizzi sembari kembali mengacak rambut Beth. "Tapi tadi katamu kita nggak boleh pake kata 'Penampakan' buat nyebut si Arlisa itu!" giliran Rizzi yang protes.


"Itukan sebelum aku tahu kalo si Arlisa itu emang golongannya lelembut. Sekarang sih aku yakin kalo dia itu titisannya Nyi Blorong. Judesnya muiiiriiipp sama yang aku liat di tipi berlogo ikan terbang!" balas Beth tanpa ragu.


Sontak saja pengakuan Beth itu membuat Keira, Tyo dan Rizzi terbahak terpingkal-pingkal.


"Awalnya gue pikir rekaman ini cuman buat jaga-jaga aja, tapi ngeliat dia sikapnya begitu, gue yakin banget sekarang ini dia udah ngelaporin kita ke bokapnya dan memutar balikkan fakta. Makanya kita juga harus bisa ngasih dia pelajaran dengan memviralkan rekaman ala-ala hengpong jadul ini, buat shock therapy ke dia." ujar Rizzi dengan senyum sinisnya.


Tyo tertawa, "Keira tadi udah pengen nampol tuh perempuan pas dia nyebut Beth dengan sebutan badut." beber Tyo.


"Iya loh, emosi jiwa aku, Yang! Coba tadi kamu tadi enggak nahan aku, bisa aku jambak-jambak tuh cewek!" Keira menyahut dengan ekspresi geregetan.


"Oohh, jadi tadi itu dia bilang ada badut maksudnya ke gue toh? Kirain tuh cewek lagi haluu ngliat badut di sono!" Beth baru ngeh sambil tertawa lebar.


Membuat ketiga orang yang sedang makan malam dengannya itu lagi-lagi terbahak bersamaan mengetahui ke-oneng-an gadis itu.


"Pantesan kamu tadi enggak marah dikatain begitu, ternyata eeh ternyata kamunya nggak ngeh toh kalo lagi dihina! Hahahahahaha, bebebku niih emang sesuatu banget deh aahh! Emmeesshhh!!!" ujar Rizzi sambil mencubit pipi Beth saking gemasnya.


Dan obrolan di sela makan malam mereka berempat pun mengalir begitu saja. Ketika pulang dari Hotel milik Takhta Grup itu, Rizzi tak lupa meminta salinan CCTV di restoran itu kepada Tyo untuk ia tunjukkan kepada orang tuanya. Tyo menyanggupi karena hal itu sangat mudah baginya.


***


Esoknya, di hari minggu yang seharusnya cerah ceria itu, namun tidak dengan niat membara yang dirasakan Pak Makhtum.


Pemilik PT. Kejora itu terus saja dirongrong sang anak gadis untuk segera melaporkan sikap Rizzi yang tidak sopan pada Arlisa. Sayangnya, Pak Makhtum hanya mendengar dari versi Arlisa saja yang tentu saja sudah dibumbui sedemikian ruoa hingga begitu menyulut emosinya.


Sesaat setelah sarapan, Pak Makhtum langsung menelepon ke rumah keluarga Digdaya untuk melayangkan protes kepada Pak Tirta atas apa yang terjadi pada putrinya semalam.


Pak Tirta yang mendengar kronologi versi Arlusa via Pak Mahktum langsung marah besar, tanpa menunda waktu ia pun segera mencari Rizzi di kamarnya.


"Mana Rizzi???" tanyanya pada penghuni rumah.


Sayangnya tidak ada yang tahu kemana Rizzi pergi di hari minggu pagi begini. Termasuk sang Mami, Ny.Rukmini sendiri.


"Tadi Rizzi cuman pamitan mau keluar aja sama Mami, enggak bilang kemana-kemananya, Pi!" jawab Ny.Rukmini santai ketika tiba gilirannya ditanyai oleh Pak Tirta.


Meski Ny.Rukmini tidak berbohong, tapi Ny.Rukmini sudah bisa menebak kemana Rizzi pergi. Anak bungsunya itu pasti sedang menemui sang kekasih hati. Namun ia sengaja tidak memberitahukan tebakannya itu pada sang suami.


"Kalau gitu telpon Rizzi, suruh dia pulang sekarang juga!" perintah Pak Tirta pada istrinya.


Walaupun aku tau Rizzi kemana lho tetep nggak bakal tak kasih tau, ben mumet dewe nyari anake. Hihihihii... Bisik hati Ny.Rukmini.


Maminya Rizzi itu berusaha keras menahan tawanya di depan sang suami yang masih heboh teriak-teriak menyuruh seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Rizzi.


Pak Tirta mendengus kesal menerima semua ini. Ia tak menyangka acara makan malam semalam tidak berjalan lancar, padahal ia yakin Rizzi yang penurut pasti tidak akan mengecewakannya.


"Cepat cari Rizzi dan langsung seret dia pulang!!! Kalo dia lagi sama perempuan yang katanya pacarnya itu, bawa sekalian kesini!!!" teriaknya lagi.


Diam-diam Ny.Rukmini segera mengirimkan sinyal SOS ke dalam Grup Chatnya bersama anak-anaknya.


🗨️Rukmini


🆘🆘🆘


🗨️Rukmini


Papi ngamuk ngamuk nyariin rizzi


🗨️Rukmini


td pak kejora telp kerumah marah-marah


katanya anaknya dibikin malu sama rizzi semalem


🗨️Rozmyta Aji


Wah bakalan rame nih, asyeekk


🗨️Reinka Sakti


😱😱😱


🗨️Sofia Arini


😖


🗨️Rozmyta Aji


Rizzi kemana emangnya Mi


🗨️Rukmini

__ADS_1


palingan adekmu itu nyamperin bethsa


🗨️Reinka Sakti


😅😋


🗨️Rukmini


kayanya kalian harus kesini semua skrg


🗨️Rukmini


papi nyuruh org buat nyariin-nyeret rizzi pulang sama bawa si Bethsa sekalian


🗨️Rozmyta Aji


Beres Mii, meluncuuurr 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️


🗨️Sofia Arini


Sofi sama mas Reinka juga lgsg otw Mi


Dan para kakak Rizzi bergegas menuju rumah utama kediaman orang tua mereka demi bersatu untuk membantu si adik bungsu dari ke otoriteran sang Papi.


***


@Rumah Bethsa Putry


Rizzi sendiri, karena itu hari minggu, nampak tenang dan damai di rumah Beth bersama dengan gadis itu. Saking fokusnya membantu sang kekasih, Rizzi sampai tidak peduli pada ponselnya yang bergetar karena pesan chat yang masuk.


Rencananya hari ini mereka berdua akan masak bersama karena Ny.Maria masih tetap harus bekerja mengingat salon mamanya Beth itu sedang sibuk melakukan restorasi yang dibiayai oleh Ny.Rukmini---ibunda Rizzi.


"Wah, bahan masakannya banyak yang kurang nih, Hun!!! Kayanya kita kudu belanja dulu deh ini!" ujar Beth.


"Ya udah, ke supermarket sekarang aja keburu siang!" ajak Rizzi.


Beth menggangguk setuju. "Heng, kamu jaga rumah ya, dek! Kakak mau belanja bahan buat masak dulu, sama kak Rizzi!" pamit Beth pada adik lelakinya yang sedang belajar di ruang tamu.


"Oke, kak! Aku nitip roti sobek coklat keju ya buat bekal begadang entar malem. Ada tugas bikin laporan nih aku!" pinta sang adik pada Beth.


"Iyaa, entar dibeliin! Ada donat yang dibawain kak Rizzi tuh, buat cemilan kalo kamu terlanjur kelaperan duluan sebelum kakak pulang belanja."


"Asyiikk!!!" seru Hengky---adik lelakinya Beth, sambil berlari ke meja dapur untuk mengambil donat yang dimaksud kakaknya barusan.


.


.


.


Acara belanja bahan makanan yang dilakukan Beth dan Rizzi berjalan lancar. Tak butuh waktu lama mereka sudha mrndapatkan seluruh yang mereka butuhkan.


Namun ketika baru keluar dari pintu utama supermarket, tiba-tiba keduanya dihadang oleh orang-orang suruhan Papih Rizzi---Pak Tirta Digdaya.


"Apa-apaan nih???"


Rizzi berang ketika beberapa orang yang dikenalnya sebagai anak buah sang Papi mendadak mengepungnya di depan pintu masuk supermarket. Kontan saja mereka langsung menjadi pusat perhatian para pengunjung supermarket lainnya.


Rizzi pun refleks memeluk pundak Beth yang nampak terkejut sekaligus ketakukan menjadi korban penyergapan oknum yang tak dikenalnya.


"Kamu tenang aja, mereka bukan orang jahat kok! Mereka anak buah Papi aku!" bisik Rizzi pada Beth.


Mendengar hal itu, Beth langsung balas memeluk pinggang Rizzi dan meraoatkan tubuhnya dalam lindungan sang kekasih.


"Bapak minta mas Rizzi pulang sekarang sama mbak itu!" ujar salah satu dari orang suruhan itu.


Merasa tak punya pilihan, Rizzi pun menurut, "Oke! Tapi gue naik mobil gue sendiri!" pintanya.


"Baik, Mas. Tapi biar saya yang kemudikan!" jawab pria bertubuh tegap itu.


Rizzi mengangguk. Cepat atau lambat memang ia harus menghadapai hal semacam ini, tapi ia sungguh tak menyangka jika akam secepat ini kejadiannya.


"Ayo, Bee! Kita harus ke rumah aku dulu buat ngadep Papi! Kamu hubungi Hengky, bilang kalo kita pulang telat!" titah Rizzi pada Beth.


Beth langsung merinding mengetahui dirinya akan turut di bawa ke rumah keluarga besar Rizzi. Namjn ia merasa tenang karena yakin bahwa Rizzi akn selalu melindunginya.


Di dalam mobil Rizzi yang dikemudikan salah satu orang suruhan Papinya, keduanya lalu dibawa dalam tekanan ke rumah keluarga Digdaya untuk menemui Tuan Besar, Pak Tirta Digdaya.


.


.


.


To Be Continue....


Baca juga novelQ lainnya yaa 😉✌️

__ADS_1



__ADS_2