Replacement Lover

Replacement Lover
FIRASAT BURUK


__ADS_3

@Cafe Teluse


"Said mana Beth tumben nggak ikut ngumpul bareng kita?" tanya Keira.


"Tadi sih gue chat katanya lagi mau nyamperin si Rina." jawab Beth.


"Oohh..." Keira manggut-manggut mendengar penjelasan Beth.Tak lama, "Aahh, itu pesenan kita dateng." pekik Keira senang sambil sedikit melonjak kegirangan.


Beth yang melihatnya jadi menaikkan sebelah alisnya heran, ini anak sejak kapan tingkahnya jadi begini sih, gumam Beth dalam hati. "Biasa aja kaliikk, nggak usah lebay gitu." omelnya pada Keira.


"Hehee abisnya gue laper bangett." Keira meringis sambil mengelus-elus perutnya.


"Tingkah lo udah kaya orang bunting aja, Kei. Lebay banget ngliat makanan." komen Beth makin geli melihat tingkah Keira.


Beth semakin heran tatkala melihat tidak hanya satu orang tapi dua orang waiter sekaligus yang mengantarkan pesanan ke meja dua gadis itu.


Beth pun tampak melongo saat satu per satu makanan dihidangkan di meja di hadapannya.


Mulai dari seporsi Smoked Beef Sandwich, sepiring Spaghetti Aglio e Olio, seporsi Fish and Chips, sepiring pisang bakar Nuttella, seporsi Mozarella Cheese Stick, segelas Iced Taro Latte, secangkir Royal Hot Chocolate, dan segelas es teh.


"Tunggu!" teriaknya pada waiter yang mengantarkan semua makanan itu ke meja mereka. "Ini kayanya salah anter deh mas. Saya nggak pesan semua ini, saya cuman pesan es teh." Beth berusaha mengklarifikasi.


"Iya emang mbaknya cuman pesen es teh, tapi yang lainnya itu pesanan mbak ini." jawab waiter sambil menunjuk pada Keira.


Beth pun langsung melotot pada Keira. "Beneran, Kei?" tanyanya tak percaya.


"Kan gue udah bilang kalo gue kelaperan." jawab Keira sambil meringis.


Beth berdecak sambil geleng-geleng masih tak percaya dengan semua pesanan Keira yang tertata rapi di meja mereka. "Ini sih bukan laper lagi tapi maruk, Kei." gurau Beth yang langsung disambut tawa renyah oleh Keira.


"Sudah semua ya mbak? Bisa di cek ulang di kartu pesanannya." ucap salah satu waiter sementara yang satunya sudah pamit untuk kembali ke dalam.


Keira mengecek satu per satu makanan yang ada di meja dengan tulisan di kartu pesanannya, "Iya mas, sudah semua. Komplit." ujarnya riang sambil mengacungkan jempolnya kepada waiter tersebut.


"Kalau begitu saya permisi." pamit waiter itu kemudian.


Namun saat sang waiter baru berjalan beberapa langkah meninggalkan mejanya, lagi-lagi Keira memanggil.


"Mas..Mas...tambah air mineralnya satu botol ya." teriaknya sambil mengacungkan jari telunjuknya di udara.


Sang waiter menoleh singkat lalu mengangguk pelan. "Cantik-cantik makannya segambreng." guman sang waiter di benaknya sambil lalu.


"Nah, Beth. Mari makaaannn." ujar Keira dengan penuh semangat yang sukses membuat gadis berambut ikal di sebelahnya makin menggelengkan kepalanya terheran-heran.


***


@Apartemen Keira


Gadis itu sedang menulis surat pengunduran diri di meja ruang tamu untuk dia serahkan ke bosnya di Silvia and Joe Chocolate ketika seseorang mengetuk pintu apartemennya.


Keira mengintip dari lubang pintu sesaat sebelum membuka pintu apartemennya.


"Gimana, Kei? Lo udah coba kirim pesan ke Tyo klo ada hal penting yg mau lo omongin?" tanya Vynt sambil melangkah masuk ke dalam apartemen Keira.


"Oh iya, gue lupa. Perut gue sering laper jadi kerjaannya makan mulu, lupa deh ama yang laen-laen." jawab Keira sambil menepuk keningnya sendiri.


"Ini aja gue baru inget kalo belum bikin surat pengunduran diri dari toko coklat. Kalo gue magang nanti kan gue nggak bakalan bisa part time lagi. Bisa kecapean, kesian bayi gue." Keira menambahkan.


"Emang lo yakin masih mau magang dengan kondisi lo hamil muda gitu?" Vynt tampak ragu dengan keputusan sahabatnya itu. Diikutinya Keira duduk di atas karpet ruang tamunya.


"So far, gue nggak ada gejala morning sick kok. Cuman sering kelaperan aja. Jadi gue masih mo magang sekalipun nggak di Thailand, gue bakalan tetep magang di dalam kota aja." jawab gadis itu tampak yakin.


"Kayanya anak gue bakalan jadi anak yang pengertian banget deh ke orang tua. Masih di perut aja kaya udah ngerti kondisi ibunya hehee." tambah Keira sambil nyengir.


"Ya udah buruan di chat Tyo-nya, biar Tyo bisa atur waktu kapan mau telpon elo atau malah langsung pulang nemuin elo." ujar Vynt.


Sebenarnya bisa saja Vynt tanya ke Rizzi tentang keberadaan Tyo sekarang atau langsung minta tolong Rizzi untuk menyampaikan kabar kehamilan Keira.


Tapi itu sama saja dengan semakin menyebarkan aib Keira dengan menambah satu lagi orang yang tahu tentang kondisi gadis itu saat ini.


Lagi pula belum tentu juga Rizzi mengetahui tentang kisah cinta semalam Keira dan Tyo mengingat sikap Rizzi pada Keira yg masih tergolong wajar, seperti biasanya, tidak menunjukkan gelagat yang aneh di hadapan Keira yang sudah dengan suka rela menyerahkan keperawanannya pada Tyo.


Mungkin saja Tyo pun tidak pernah memberitahu Rizzi karena ingin melindungi nama baik Keira dan menyimpan sendiri kisahnya dengan Keira malam itu.


Entah kenapa feeling Vynt pada Tyo semakin baik. Sejak Vynt tahu bahwa Tyo adalah kakak dari Argha yang dikenalnya sangat low profile dan baik hati dengan segala berkah kehidupan yang dimiliki Argha, Vynt merasa Tyo tak jauh berbeda dengan adiknya itu.


Dan kini setelah mendengar kisah Tyo dari Rizzi membuat nilai Tyo dimata Vynt jadi meningkat sekian persen. Vynt jadi yakin jika Tyo memang benar-benar tulus pada Keira. Dan jika Tyo tahu Keira hamil. Pasti Tyo akan langsung pulang untuk bertanggung jawab pada Keira.

__ADS_1


"Menurut gue sih kerjaan Tyo di luar negeri itu emang penting banget deh kalo diliat dari level perusahaannya." Vynt mulai ingin membeberkan informasi yang didengarnya dari Rizzi kemarin.


"Level perusahaannya maksud lo? Emang Tyo kerja dimana?" tanya Keira polos tanpa menoleh ke arah Vynt dan tetap serius menulis surat pengunduran dirinya.


Vynt hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Keira yang seakan tak peduli dengan latar belakang dari ayah calon bayinya.


"Tyo itu Bos Mafia." ujar Vynt pada akhirnya. Mencoba bergurau karena gemas dengan sikap Keira yang terkesan bodo amat.


Seketika Keira menoleh ke arah sahabatnya itu dengan tangan yang mematung dalam posisi menulis. "Haahhh, apa? Seriusan lo?" tanyanya kaget.


"Kalo gue bilang gitu apa lo bakalan percaya?" tanya Vynt dengan senyum smirknya.


"Ya Iyalah, kan elo temen gue. Masa gue nggak percaya sama omongan lo." ungkap Keira jujur.


Vynt yang mendengarnya jadi melongo, namun kemudian mengacak rambut panjang gadis itu dengan gemas. "Polos banget siiiihhh." Vynt sedikit tersipu mengetahui betapa Keira sangat mempercayainya.


"Emang beneran Tyo itu Bos Mafia?" Keira mengernyitkan keningnya sedikit takut.


"Yaelah, Kei. Gue cuman becanda kali. Lo tuh yaa, ampuunn deh." Vynt menoyor kening Keira dengan telunjuknya yang membuat gadis itu sedikit terjengkang kebelakang.


"Lah trus yang nggak becanda yang gimana sih?" Keira sedikit merengut dibuatnya.


Vynt pun mulai menceritakan tentang apa yang didengarnya dari Rizzi tanpa terkecuali. Tanpa sensor dan tanpa dilebih-lebihkan. Membuat Keira yang mendengarnya sedikit demi sedikit menjadi khawatir memikirkan masa depannya kelak.


Setelah Vynt menyelesaikan ceritanya, Keira terdiam. Rasa takut menjalar perlahan di hati gadis itu. Tak pernah dia sangka jika Argha dan Tyo berasal dari keluarga yang tidak biasa. Bahkan menurut Vynt yang juga salah satu dari kalangan mereka, harga saham Tahkta Grup termasuk dalam sepuluh besar tertinggi di negara ini.


Vynt yang menangkap perubahan ekspresi di wajah Keira jadi bingung sendiri.


"Lo mikir apa, Kei?"


"Gue jadi takut, Vynt."


Vynt mengernyitkan keningnya. Jangan-jangan dirinya sudah salah telah membeberkan latar belakang Tyo pada Keira sebelum Tyo kembali dari luar negeri. Diam-diam Vynt mengaktifkan aplikasi recorder dari ponselnya.


"Gue jadi takut keluarga Tyo nggak bakal nerima gue dan kehamilan gue." Keira terus terang.


"Jangan su'udzon dulu napa, Kei!" pinta Vynt.


"Gimana gue nggak su'udzon duluan, Vynt. Tyo anaknya konglomerat sementara gue siapa? Gue bukan siapa-siapa. Papa gue aja udah tega ngebuang gue. Gimana tanggepan orang tua Tyo kalo tahu gue sebatang kara di negara ini." Keira mulai merasakan sesak di dadanya.


"Tapi Tyo pasti nggak bakalan ngebiarin keluarganya ngebully elo. Dia pasti bakalan ngelindungin elo, Kei. Lo inget kan kalo Tyo cinta sama lo?" Vynt mencoba membuyarkan kepesimisan Keira.


"Coba lo omongin dulu masalah kehamilan lo ini ke Tyo, Kei. Biar gimana pun Tyo berhak tahu. Dia ayah dari anak di perut elo." desak Vynt.


"Mending nggak usah sekalian. Biar Tyo nggak ngerasa terbebani. Biar Tyo nggak ngerasa punya tanggung jawab ke gue. Mending gue pergi aja dari dia, biar Tyo lebih cepet move on kalo dia pikir gue ninggalin dia gitu aja." Keira menunduk menyembunyikan isaknya.


"Jangan gegabah, Kei. Kasih Tyo kesempatan." Vynt masih berusaha mencari keadilan untuk Tyo.


"Gue nggak bisa, Vynt. Gue takut kalo ketemu Tyo lagi gue bakalan luluh. Gue nggak mau jadi duri di keluarga besar Tyo." Keira makin sesenggukan.


Bagai mempunyai firasatnya sendiri, Tyo menelpon Keira dari luar negeri. Ponsel Keira berdering nyaring di tengah perdebatannya dengan Vynt. Namun Keira mengabaikan panggilan itu saat melihat nama kontak Tyo muncul dilayar.


"Siapa, Kei? Tyo?" tanya Vynt penasaran.


Keira bergeming. Tak ingin menjawab pertanyaan Vynt ataupun mengangkat telpon dari Tyo.


"Keira, come on. Itu pasti Tyo yang nelpon. Lo coba angkat dulu!" Vynt sedikit memaksa. Tapi Keira malah menyelipkan ponselnya di bawah bantal sofa.


Vynt yang melihat tingkah Keira jadi frustasi. "Mau lo apa sih sebenernya?" tanya Vynt sedikit emosi.


"Gue mau pergi dari sini, SECEPATNYA. Gue mau pergi dari hidup Tyo. Dengan atau tanpa bantuan elo." Keira menghapus air matanya dengan kasar lalu menatap tajam ke arah Vynt.


Giliran Vynt yang terdiam dibuatnya. Dirinya tak menyangka reaksi Keira akan sejauh itu. Vynt jadi teramat sangat menyesal telah memberitahu Keira tentang siapa Tyo sebenarnya.


***


@HONGKONG


Tyo yang mencoba menelpon Keira menjadi heran ketika telponnya tidak diangkat padahal tersambung. Firasat buruk Tyo yang sudah dirasakannya seharian ini makin menguat kala menyadari Keira tidak mengangkat telponnya.


Dilihatnya jam di pergelangan tangannya. Seharusnya di Indonesia belum terlalu malam saat ini, pikir Tyo. Tapi kenapa Keira tidak mengangkat telponnya.


Tak hilang akal Tyo membuka aplikasi chat lalu mengirimkan pesan ke roomchat Keira yang mengatakan bahwa dirinya ingin bicara dengan gadis itu. Namun setelah beberapa saat menunggu, hanya tanda centang satu yang didapatnya.


Makin frustasi, Tyo sekali lagi mencoba menelpon Keira namun panggilan kali ini malah justru tidak tersambung. Tyo kembali membuka aplikasi chat lalu mengirim pesan ke Rizzi.


📮TYO PRATAMA

__ADS_1


Woi, Riz. Disono jam brp?


📩RIZZI RIYANT


jm tujuh, knp? amnesia mendadak lo?


📮TYO PRATAMA


gue telp Keira gak diangkat, kirain kemaleman, firasat gue gak enak


📩RIZZI RIYANT


Ahhh lebay lo, baru gitu doank. knp gak lgsg chat Keira-nya aja sih


📮TYO PRATAMA


udah tapi centang satu


📩RIZZI RIYANT


ketiduran kali, ato hapenya lobet. kmrn doi baru maen ke Teluse. biasa aja kok sikapnya. malah makan byk banget sambil ketawa2. gausa parno deh


📮TYO PRATAMA


semoga aja emang ga ada apa2


📩RIZZI RIYANT


btw, kpn lo balik


📮TYO PRATAMA


klo meeting besok lancar, gue bisa lgsg terbang ke Singapura buat masukin daftar tambahan saksi ke pihak jaksa penuntut. gue usahain minggu depan gue udah balik, kangen Keira


📩RIZZI RIYANT


ceileehh, sgitunya. baru jg sebulan gak ktmu. Lebayy lo


Tyo menutup chatnya dengan Rizzi lalu meletakkan ponselnya di nakas tempat tidur hotel yang disewanya selama berada di kota asing itu. Tyo menatap pemandangan malam kota Hongkong yang gemerlapan dari balkon kamar hotelnya.


Pikirannya melanglang jauh ke tempat gadis pujaannya berada. "Tunggu aku, Keira. Tunggu aku sebentar lagi." Bisik Tyo pada angin malam di kota Hongkong.


***


@Apartemen Keira


"Nggak usah ngancem-ngancem, iyaa gue bantuin lo. Lo inget kan kalo gue udah janji!" blas Vynt sedikit kesal dengan nada ancaman Keira.


"Kapan kita bisa berangkat ke Thailand? gue mau secepatnya." desak Keira.


"Tapi lo kan gak boleh naik pesawat?" tanya Vynt jengah.


"Kita bisa naik kapal laut, gue nggak mabuk laut ataupun morning sick dan naik kapal nggak bertekanan tinggi kaya naik pesawat. Gue yakin gue bakalan baik-baik aja." Keira bersikeras.


Vynt menghelas nafas beratnya. "Tapi naik kapal laut bakalan lama dijalan, Kei. Rute ke Thailand via kapal laut belum ada yang direct, banyak mampirnya." balas Vynt sedikit menurunkan intonasi suaranya.


"Mending lama dijalan dari pada kelamaan disini keburu Tyo pulang trus nemuin gue." nada suara Keira kembali meninggi, membuat Vynt menyentuh keningnya yang mulai berdenyut.


"Oke-oke, gue cariin dulu tiketnya ntar kalo nggak dapet, kita cari alternatif lain." bujuk Vynt pada Keira.


"Gue mau maksimal minggu depan kita udah pergi dari sini." paksa Keira.


Vynt kembali mengambil nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk setuju di hadapan sahabatnya itu. Sebelum mereka pergi, dia harus melakukan sesuatu dulu demi membantu Tyo, pikir Vynt diam-diam.


To Be Continue...


.


.


.


.


Mohon ijin besok libur dulu updatenya, mau beresin tanggungan yang lainnya dulu yaa readersQ kesayangan 😉🙏


.

__ADS_1


Moga hari minggu dah bisa update lagii 💪😁


***


__ADS_2