Replacement Lover

Replacement Lover
ANCAMAN SANG BESAN


__ADS_3

Setelah mendapatkan panggilan dari Ibu Suri di keluarga Pratama. Mereka berlima pun diharapkan segera turun untuk pindah lokasi ngobrol ke pinggir kolam sekalian makan siang.


Namun saat ketiga tamu Keira sudah keluar dari kamar gadis itu lebih dulu dengan mengikuti Mbok Sri, hanya Tyo dan Keira yang masih tinggal di kamar itu karena sebuah perdebatan kecil.


Tyo yang masih belum mengizinkan Keira berjalan jauh bahkan turun tangga sendiri, memaksa Keira untuk membopongnya hingga ke tepi kolam renang.


Tapi Keira yang membayangkan dirinya akan dibopong oleh Tyo dihadapan teman-temannya seketika menjadi malu dan langsung menolak.


"Tolong lah, Tyo! Kali iniiii aja, biarin aku jalan sendiri ya?! Aku udah nggak apa-apa kok, beneran!" Keira nampak memohon-mohon sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya di depan wajah.


Padahal Keira sudah duduk di tepian ranjang dengan kedua kaki yang sudah menapak di lantai kamar. Tapi saat dirinya akan bangkit berdiri, Tyo tiba-tiba mencegahnya.


Tyo berdiri di hadapan gadis itu sambil berkacak pinggang. Pria itu nampak mengernyitkan keningnya sambil menggeleng perlahan.


"Jangan memohon begitu di depanku! Kamu tahu aku nggak bisa nolak permintaanmu apalagi permohonanmu, tapi kamu kan juga tahu alasanku lebih protektif gini ke kamu?"


Kali ini giliran Tyo yang memasang tampang khawatirnya. Meski gestur pria itu masih tampak mengintimidasi Keira dengan kedua tangan yang betah bertengger dipinggangnya. Tapi Tyo benar-benar berharap Keira mau mendengarkan sarannya untuk tidak berjalan-jalan dulu sementara ini.


Apalagi dari kamarnya di lantai dua hingga ke kolam renang yang menurut Tyo cukup jauh untuk gadis itu lakukan dalam kondisinya yang rentan ini.


Keira menurunkan kedua tangannya tanpa berkata-kata lagi. Dengan cepat Keira menunduk untuk menyembunyikan wajah kecewanya. Namun ekspresi kecewa gadis itu masih dapat terlihat oleh kedua mata Tyo yang awas.


"Baru beberapa hari yang lalu kamu mengalami kontraksi, Kei! Belum ada seminggu! Apa kamu lupa gimana paniknya aku dan orang tua kita?" ujar Tyo pelan namun tajam.


"iya, aku tahu! Maaf!" ucap Keira lirih, masih menundukkan kepalanya.


Ia tahu Tyo protektif padanya semua demi keselamatannya sendiri serta bayi mereka. Keira pun masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi khawatir Tyo setiap kali terjadi sesuatu terhadap dirinya. Ia juga masih mengingat kekhawatiran Ibunya dan calon Ibu mertuanya saat peristiwa itu terjadi.


Keira yang tak ingin lagi melihat orang-orang yang disayanginya menjadi khawatir akhirnya menyerah pasrah dan bersedia dibopong Tyo hingga ke tepi kolam renang yang memang lumayan jauh dari kamarnya mengingat luas rumah keluarga Pratama yang tak biasa.


Dengan senyum kemenangan sekaligus kelegaan, Tyo langsung mengangkat tubuh Keira dan membawanya perlahan hingga ke lokasi diadakannya makan siang kali ini yaitu di tepi kolam rumahnya.


Mengutip kosakata baru hasil kreatifitas otak Ny.Naina yang rada nyeleneh, siang itu mereka makan 'Jejepangan' di bagian samping rumah besar keluarga Pratama.


Banyak hal yang mereka bicarakan di sana sembari makan siang. Dan karena serunya topik yang mereka perbincangkan membuat Ny.Naina dan Ny.Mustika pun tergelitik untuk ikutan nimbrung.


Mereka menceritakan awal mula pertemuan keempat sahabat; Keira, Beth, Said dan Vynt---yang kini sedang magang di Thailand. Hingga segala hal yang pernah mereka berempat lalui bersama selama persahabatan itu terjalin.


"Pernah nih ya, pas kita praktek tour ke Candi Jago*. Si Said yang nggak begitu hafal materi guidingnya jadi ngeHALU PARAH! Masa' pas ada tamu yang tanya kenapa Candi Jago diberi nama Candi Jago. Trus Said malah jawab karena bentuk candinya yang mirip ayam jago. Akhirnya kepalanya langsung digetok sama dosen guiding yang waktu itu bertugas jadi tour leader. Hahahahahaha."


Beth terbahak setelah menceritakan kekonyolan yang pernah dilakukan oleh sahabatnya itu. Dan mendengar cerita itu, suasana di tepi kolam menjadi riuh akibat gelak tawa semua orang.


Bahkan si Said yang jadi topik utama pun juga ikutan tertawa saat mengenang kekonyolannya sendiri.


"Waktu di Bromo juga!" tambah Beth makin semangat. "Said sempet minta lotion pelembab ke Keira biar kulitnya nggak kering kena udara dingin, lah malah dia salah ngambil balsem. Parahnya dia nggak ngeh kalo itu balsem trus dengan pedenya diolesin deh ke seluruh badannya. Kepanasan deh dia. Hahahahaha, konyol banget!"


Saking hebohnya Beth yang terpingkal sampe gadis itu memegangi perutnya yang kram.


"Ya ampun, Mas Said. Kok ya nggak bisa bedain mana balsem mana lotion sih? Sungguh, THER-LHA-LHU!!!" ujar Ny.Naina menirukan suara dan pengucapan si Raja Dangdut.


"Saya kan nggak pernah pake dua barang itu, Tante. Ya makanya saya nggak tau bedanya gimana!" jawab Said polos sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Be Te We, kok gue mulu sih Beth yang kena?!" protesnya pada Beth yang bertugas sebagai narator saat itu.


"Abisnya kan elo yang keseringan gesreknya!" sahut Beth pada sahabatnya itu.


Dan Said pun hanya bisa manyun mendengar jawaban Beth yang memang fakta.


"Belum yang waktu di Bali, Beth! Yang pas kita ke Pasar Sukawati** itu!" Keira tiba-tiba ikutan bersuara dan mencoba mengingatkan Beth akan suatu peristiwa lucu lainnya.


Beth nampak berpikir sejenak saat Keira mencoba mengingatkannya. Sedetik kemudian, ekspresinya jadi ceria kembali saat otaknya sudah menangkap memori yang dimaksud Keira itu.


"Oo iya, yang itu. Said ketinggalan di Pasar Sukawati gara-gara kelamaan di toilet. Parahnya kita nggak inget sama sekali sama dia yang ngilang gitu aja. Pas ada tamu yang nanyain, baru deh kita inget kalo Said belum ikutan naik bus. Alhasil kita balik lagi ke Sukawati. Nyampe sono eehh dianya belum keluar juga dari toilet. Jadi dia juga nggak ngeh kalo sebenernya udah sempet ketinggalan jauh. Hahahahaha! Parah lo, Parah!"


Beth yang gemas sampai memukul-mukul pundak Said. Sementara Keira yang keceplosan tertawa ngakak sampai harus menyembunyikan wajahnya ke dalam dekapan Tyo untuk meredam tawanya yang dirasa berlebihan.


"Emang ngapain aja lo Bro di dalem sono??? SEMEDI lo?" tanya Rizzi sambil ngakak.


"Habisnya gue kan emang mules banget waktu itu." jawab Said malu-malu.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Mas Said. Sisi positifnya, Mas Said tuh penggembira di kelompok kalian. Nggak ada lo nggak rame lah istilahnya." timpal Ny.Naina yang menirukan slogan sebuah iklan.


"Oia, Tan. Normalnya nih ya. Kalo makan di lokasi outdoor apalagi pinggir kolam gini kan, menunya barbeque. Bakar-bakar gitu, Tan. Bukannya malah steamboat yang rebusan gini." protes Rizzi sambil mencomot sebuah daging kepiting olahan yang nampak menggiurkan.


"Itu kan normalnya, Riz. Lha ini yang punya ide orangnya nggak normal, makanya jadinya ya gini ini. Udah deh! Kamu kalo kebanyakan protes, nggak usah ikutan makan. Pulang sono!!! Shoo-shoo!" usir Ny.Naina pada Rizzi sambil mengibaskan tangannya layaknya sedang mengusir lalat.


Mendengar ucapan calon besannya yang mampu mengimbangi obrolan para anak muda itu, membuat Ny.Mustika menjadi salut pada Ny.Naina. Ia pun jadi tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala.


"Oia, Kei. Entar kalo bikin nama buat anak tuh yang lain daripada yang lain. Yang SPESIAL gitu! Terutama nama depannya. Biar pas pertama disebutin langsung gampang diinget orang!" Beth memberi saran.


"Kalo nama depannya spesial, belakangnya pake telor donk!" jawab Said ngasal.


"Itu mah nasi goreng, Njiiirrr. Strees lo!" timpal Rizzi sambil melempar daun selada ke arah pemuda kriting bin ceking itu.


Dan makin meledaklah tawa semua orang mendengar ucapan konyol yang terlontar dari Said barusan.


Disela-sela keriuhan acara makan siang itu. Keira menceritakan perdamaiannya dengan sang ayah kepada Beth dan Said. Mereka berdua jadi ikut senang mendengarnya.


"Trus-trus, Mak Lampir gimana kabar shayy?" tanya Beth kepo.


"Entah lah, gue nggak tau apa-apa soal Tante Rosa." jawab Keira dengan mengedikkan bahunya.


Mendengar nama orang yang dulunya sering menyakitinya disebut-sebut oleh sang putri, membuat Ny.Mustika jadi tanpa sadar memperhatikan obrolan Keira itu. Dan diam-diam, Ny.Naina pun turut memperhatikan.


"Lo nggak tanya Papa lo?" giliran Said yang kepo.


"Buat apa? Gue nggak suka ngurusin urusan yang bukan hak dan kewajiban gue." jawab Keira diplomatis.


"Betul tuh prinsipnya Keira. Jangan suka ngurusin orang lain, karena belum tentu orang itu pingin kurus. Sapa tau aja dia malah lagi program penggemukan badan." timpal Ny.Naina yang mulai kumat ngaconya.


Dan lagi-lagi celetukan Ibunda Tyo itu sukses membuat yang mendengarnya terkikik geli.


Setelah bergulirnya waktu, tak terasa seluruh makanan yang dihidangkan pun ludes tak bersisa. Keira pun jadi ikutan makan banyak karena diiringi oleh canda ria teman-temannya yang membuatnya khilaf.


Dan naga-naganya, para tamu Keira itu bermaksud untuk segera pamit pulang.


"Permisi, Tan. Kita mau pamit nih! Maaf ya kalo kita cuman SMP" ujar Rizzi mewakili Said dan Beth untuk berpamitan.


"Ampun deh, Tanteeee. SMP tuh maksudnya Sesudah Makan Pulang! Bukannya aku mau ngaku-ngaku masih SMP!" Rizzi mencoba menjelaskan maksud ucapannya. Dipegangnya keningnya yang mulai pening menghadapi wanita satu itu.


"Eeeaaalaahhh, gituuu tho! Ngobrol doonnk! Makanya kalo ngomong sama orang tua tuh yang bener. Yang jelaass. Biar nggak terjadi salah paham diantara kita!" balas Ny.Naina tak mau kalah.


"Iya deh iyaaa!" Rizzi jadi capek sendiri menanggapi orang tua Tyo itu. Ia pun lalu menepuk pundak Tyo sambil berbisik, "Hebat banget lo, Bro! Bisa tetep waras sampe detik ini ngadepin emak model begini. Salut gue!"


Mendengar bisikan Rizzi itu membuat Tyo langsung berdehem dengan mulut tertutup berusaha untuk menahan tawanya.


Sebelum semuanya pulang, Ny.Naina membagikan undangan pernikahan Keira dan Tyo yang ternyata sudah jadi.


"Loohh, undangannya udah jadi, Bu? Cepet banget?" Keira takjub melihatnya.


"Gimana nggak cepet. Orang ibu nyuruh Party Plannernya langsung bikin desain undangan dalam sehari setelah foto prewedding kita kelar. Trus begitu udah fix, besoknya lagi langsung masuk ke percetakan." beber Tyo.


"Tapi biasanya tetep butuh waktu agak lama lho di percetakannya. Kan harus nunggu giliran cetak dulu?" Keira nampak takjub sambil membolak balik undangan bernuansa putih itu.


"Oouuww, itu tidak berlaku untuk Ny.Naina Pratama." jawab Ny.Naina dengan bangga sambil berkacak pinggang dengan percaya diri.


"Hah?!! Kok bisa??" Keira makin heran.


"Ya iyalaahh, orang yang punya percetakan si Om Hakim sepupunya Ibu sendiri! Ya jelas aja diduluin, nggak usah ngantri-ngantri segala. Dua hari langsung jadi ini." celetuk Tyo sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Busyeetttt." terdengar seruan kompak dari Rizzi, Said dan Beth.


***


Semakin mendekati hari H pernikahan Keira dan Tyo, Ny.Naina dan Ny.Mustika akhirnya menyempatkan waktu pergi ke butik paling bergengsi di kota guna fitting kebaya dan memilih jas untuk seragam para orang tua saat acara nikahan nanti.


Ny.Naina mempersilahkan Ny.Mustika untuk melakukan fitting lebih dulu. Setelah Ibunda Keira itu merasa sudah sangat cocok dengan ukuran kebaya yang dicobanya. Kini giliran Ny.Naina yang masuk ke fitting room untuk mencoba kebayanya.

__ADS_1


Dengan sabar, Ny.Mustika menunggui calon besannya itu sambil melihat-lihat koleksi jas untuk para bapak-bapak. Hingga sebuah suara mengagetkannya secara tiba-tiba.


"Wah-waahhh, siapa nih? Nggak nyangka bisa ketemu orang kere nggak tahu malu di butik bergengsi begini. Lagi ngapain, buk??? Nungguin majikan belanja???" cibir Ny.Rosa pada Ny.Mustika.


Seketika hati Ibunda Keira itu memanas mendengar setiap ucapan dari Ny.Rosa yang merendahkannya. Namun ia mencoba menahan diri untuk tidak membalas.


Ny.Mustika ingat dia kesini dengan siapa dan dirinya tidak ingin membuat Ny.Naina menanggung malu jika ia sampai membuat onar di butik mahal ini hanya karena membalas cibiran Ny.Rosa.


"Kenapa diem aja??? Sakit hati? Mau mewek? DASAR LEMAH!" kali ini Ny.Rosa tak hanya menyakiti Ny.Mustika lewat kata-kata tapi mulai menggunakan tangannya untuk mendorong sebelah bahu Ny.Mustika.


Merasa apa yang dilakukan Ny.Rosa sudah kelewatan, Ny.Mustika hanya memberikan tatapan tajam ke arah wanita itu lalu sambil berlalu pergi tanpa membalas sepatah katapun.


Merasa tidak ditanggapi, Ny.Rosa malah semakin tersulut emosi. Ia hendak menjambak rambut Ny.Mustika dari belakang hingga sebuah tangan lain lebih dulu mencengkeram tangannya lalu memelintirnya hingga ia merintih kesakitan.


"Apa yang coba kamu lakukan pada besan saya?" tanya Ny.Naina dengan nada sinis dan tatapan mengancam terhadap Ny.Rosa. Ia tak peduli jika tangan wanita yang dipelintirnya itu patah sekalipun.


Hatinya begitu marah mendengar segala sumpah serapah wanita gila itu terhadap Ny.Mustika---calon besannya---ibu dari calon mantu kesayangannya.


"Aduduh...aduh...anda siapa berani membela wanita kere ini?" bukannya langsung minta maaf, Ny.Rosa malah seolah menantang Ny.Naina.


Ny.Naina mengibaskan tangan Ny.Rosa yang dipelintirnya itu hingga tubuh Ny.Rosa berputar seratus delapan puluh derajat lalu berhenti tepat berhadapan dengannya.


Ny.Naina lalu menendang salah satu ujung sepatu pantofel Ny.Rosa hingga wanita jahat itu jatuh dengan satu kaki berlutut di hadapan Ny.Naina.


"Anda tanya saya siapa? Coba lihat wajah saya dengan jelas!" perintah Ny.Naina sambil menatap tajam ke bawah, ke arah Ny.Rosa yang masih berlutut menahan sakit dilutut dan tangannya.


Ny.Rosa pun memperhatikan wajah itu dengan seksama, dan seketika tubuhnya gemetar saat teringat bahwa wanita yang ada di hadapannya itu adalah istri dari pemilik Takhta Grup---Ny.Naina Pratama.


Ny.Naina yang bisa melihat dengan jelas ekspresi ketakutan dari Ny.Rosa pun langsung bisa menebak bahwa wanita jahat itu sudah mengenali siapa dirinya. Ia pun lalu menyunggingkan senyum tersinisnya.


"Sudah tahu siapa saya?" tanyanya dengan nada suara yang tak kalah sinisnya.


"I-iya, Ny.Naina. Ma-maafkan saya!" jawab Ny.Rosa jadi terbata. Berbeda sekali saat ia mencibir Ny.Mustika tadi.


Ny.Naina lalu menarik pelan lengan Ny.Mustika untuk mendekat kepadanya lalu mengaitkan lengannya kepada Ibunda Keira itu dihadapan Ny.Rosa.


"Mulai sekarang anda ingat baik-baik! Wanita yang di samping saya ini adalah BESAN SAYA! Putrinya yang bernama Keira Permata adalah MENANTU SAYA. Jadi jika lain kali saya dengar atau melihat anda menyakiti beliau. Saya akan lakukan apapun untuk membalas anda seratus kali lebih kejam daripada yang anda lakukan. PAHAM???!!!" ancam Ny.Naina tanpa tedeng aling-aling.


Mendengar hal itu, Ny.Rosa jadi makin ketakutan. Iya pun langsung berdiri lalu ngacir. Wanita jahat itu lari pontang panting tanpa menoleh ke belakang lagi.


Setelah Ny.Rosa menghilang di kejauhan, Ny.Naina memanggil Manajer butik tersebut---yang sejak awal berada tak jauh dari Ny.Naina---untuk lebih mendekat padanya.


"Saya minta banned wanita tadi dari butik ini!" perintahnya pada Manajer itu.


"Baik, Ny.Naina." jawab Manajer itu dengan patuh.


"Ngomong-ngomong apa wanita tadi itu pelanggan juga di butik ini?" tanya Ny.Naina kepo.


"Bukan, Nyonya. Dia itu pegawai bagian gudang kami. Dia baru bekerja kurang dari sebulan disini." beber Manajer butik itu.


"Kalau begitu pecat dia! Saya tidak akan pernah berbelanja disini lagi jika saya masih melihat batang hidungnya disini!" ancam Ny.Naina.


"Baik. Ny.Naina! Saya pastikan dia tidak akan melangkahkan kakinya lagi di butik ini."


To Be Continue...


.


.


.


.


*CANDI JAGO


Menurut kitab Negarakertagama pupuh dan Pararaton, nama Candi Jago sebenarnya berasal dari kata "Jajaghu", yang didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Jajaghu, yang artinya adalah 'keagungan', merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat suci. Candi ini berlokasi di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur atau sekitar 22 km dari Kota Malang.

__ADS_1


**PASAR SUKAWATI


Pasar ini merupakan pasar seni yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali. Pasar ini menjual berbagai kerajinan seni khas Bali seperti sandal manik-manik, pakaian, tas, lukisan, patung kayu dan lain - lain. Pasar ini berdiri sekitar tahun 1980an dan dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WITA.


__ADS_2