
.
.
#INTERMEZZO#
Rizzi : "Terima kasih Tuhaaaannn, akhirnya kau kabulkan juga do'aku untuk menjadi karakter utama dalam sebuah cerita, meski hanya cerita spinoff tapi nggak apa-apa. Yang penting endingku bahagiaaa...."
Author: "Pede amat lo pake nyebut ending yang bahagia!!! Emang lo tau gue bakal ngasih ending yang kaya apa?"
Rizzi: "Yaelahh, Thor! Lo tuh udah kaya Tyo aja, hepi banget kalo nyiksa gue. Masa' lo tega sih Thor nggak ngasih gue happy end??? Khan gue udah doain lo yang baek-baek."
Author: "Segitu doang mah, para netijen juga lebih sering kaliiiik! Elo baru satu kali berdoa buat gue aja udah berani minta yg muluk-muluk."
Rizzi: "Thooorrrr, sadis amat lu aah ama gue!"
Author: "Udah deehh, diem ahh! Berisik lu!!! Gue lagi konsentrasi buat nyari inspirasi nih. Kalo gue nggak bisa fokus, nggak jadi gue tulis nih cerita lo!!!"
Rizzi: "Eehhh lhadhalah, galak banget mbaknya!! Iye iyee, maapphhh. Nggak gue ganggu lagi deh, tapi tulisin cerita buat gue ama Beth yak, please...please...please..."
Author: "Asal boleh gratisan terus aja tiap gue nongkrong di Teluse." ๐
Rizzi: "Ashiaapppp!!! Bungkus deh bungkuussss..."
.
.
.
.
.
.
@Airborne*
Dalam perjalanan dari Seoul menuju ke Tanah Air, Rizzi yang berdampingan dengan Beth, di dalam kabin kelas bisnis pesawat Boeing BI652 milik maskapai penerbangan dari Brunei Darussalam itu, tampak duduk dengan canggung dan bingung.
Pasalnya, sejak mereka berdua pulang dari resepsi pernikahan Vynt dan Fady tadi, Beth sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun terhadapnya. Tidak seperti sikap gadis itu yang biasanya, dimana selalu terlihat ceria dan cenderung sedikit cerewet.
Malam itu, meskipun ia selalu mendampingi Beth sejak si gadis yang telah ditandainya sebagai calon pacar itu keluar dari kamar hotelnya. Dan hingga kini di atas pesawat yang sama-sama akan mereka tumpangi selama kurang lebih sebelas jam lamanya, Beth tetap diam membisu. Seolah gadis itu sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
__ADS_1
Beth kenapa ya? Sejak pulang dari pesta tadi kok jadi diem banget??!! Mendadak kurang enak badankah dia? Capekkah? Rizzi bertanya-tanya dalam hati.
Rizzi ingin mengajak Beth mengobrol seperti biasa, tapi kemudian pria itu ragu-ragu. Sebab yang tampak dalam kasat matanya adalah Beth yang seakan menggangapnya selayaknya udara, yang jelas-jelas ada namun tak tampak.
Selain menghindari percakapan dengannya, Beth juga terkesan menghindarkan kontak mata mereka. Seolah gadis itu tengah membangun benteng tinggi di antara Rizzi dan dirinya.
Alhasil, Rizzi hanya bisa duduk diam menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan nyaman sambil menoleh ke samping, tepat ke arah Beth yang justru menghadapkan wajah ke arah jendela pesawat dengan memejamkan matanya.
Lelah memandangi Beth yang tetap mengabaikannya dari kursi sebelah. Rizzi pun lambat laun tertidur dengan sendirinya. Dan tanpa pria itu sadari, Beth perlahan membuka matanya setelah gadis itu merasa yakin bahwa pria yang duduk di sebelahnya itu sudah benar-benar terlelap. Dibuktikan oleh suara nafasnya yang mengalun dengan teratur.
Tanpa Rizzi tahu, sejak tadi Beth hanya berpura-pura tidur. Sebab sebuah kegalauan sedang melanda hati dan pikiran gadis itu. Manik mata Beth seketika menerawang. Menembus jauh melintasi pekatnya langit malam yang ada di balik kaca jendela di hadapannya.
Ingatannya kembali pada momen dimana sesi lempar bunga di resepsi pernikahan Vynt dan Fady tadi terjadi.
Ketika para tamu di resepsi pernikahan sahabatnya itu seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang pria berpenampilan nyentrik yang tanpa sengaja menangkap buket bunga ketika benda itu hendak mendarat di wajahnya.
Kasak kusuk dari para kaum wanita single yang berkerumun di sekitar Beth pun tak dapat terelakkan lagi.
"Eehh, eehh liat deh! Cowok yang nangkep buket barusan itu kaya Rizzi Riyant nggak sih?" seru seorang wanita sambil menyikut lengan koleganya.
Beth refleks menoleh ke arah sumber suara begitu telinganya menangkap suara Rizzi disebut-sebut.
"Iyaa, kayanya tuh cowok temen deketnya si Vynt, pengantin prianya deh. Gue tadi liat mereka makan satu meja gitu tadi." balas kolega itu.
Sebagian dari para tamu itu memang sama-sama berasal dari Indonesia. Dan ternyata sebagian para wanita di sana juga mengenali Rizzi sebagai anak bungsu dari Tirta Digdaya yang tak lain adalah salah satu konglomerat di Indonesia.
Meski bukan konglomerat dari golongan teratas, tapi Tirta Digdaya adalah pemilik dari Digdaya Utama Grup yang menaungi belasan bisnis food and beverage cukup bergengsi di negeri ini.
Namanya melejit sejak mewarisi usaha minuman teh kemasan yang dirintis oleh sang ayah dari nol. Tidak hanya meneruskan usaha itu, Tirta Digdaya pun sukses mengembangkan bisnisnya hingga merambah ke bisnis kopi kemasan atas inisiatifnya sendiri. Kedua bisnis itulah yang sedari awal menuntunnya hingga menempati salah satu kursi di jajaran para konglomerat di Indonesia.
Beruntung baginya, karena kepiawaiannya dalam berbisnis ternyata menurun pada ketiga anaknya. Masing-masing dari mereka bukannya saling berebut kekuasaan dari perusahaan raksasa milik sang ayah tapi malah giat menekuni usaha yang mereka rintis sendiri-sendiri.
Anak lelaki tertuanya---Reinka Sakti, adalah pemilik dari bisnis roti dengan pabrik dan outlet yang tersebar di seluruh Nusantara. Dan anak perempuannya---Rozmyta Aji, juga pemilik dari beberapa bisnis oleh-oleh berkonsep khas jajanan Indonesia.
Sedangkan Rizzi Riyant---putra bungsunya, entah sudah berapa kafe dan bisnis sampingan yang dimilikinya. Salah satunya tentu saja Kafe Teluse yang sedang booming di kalangan mahasiswa. Yang kesemua bisnis itu sama-sama di bawah naungan Digdaya Utama Grup.
Beth pun tahu pasti bagaimana latar belakang seorang Rizzi Riyant. Sebab sejak dirinya mulai menyukai pria nyentrik itu dari pertemuan pertama mereka di farewell partynya Argha, ia dengan gencar mencari informasi tentang pria itu.
Bukan demi memuaskan keegoisan pribadinya dalam memindai kualitas materi pria yang dipilihnya tapi hanya untuk mengetahui seluk beluk keluarga dari pria yang diminatinya itu.
Meski Beth sudah tahu sejak awal jika Rizzi memang berasal dari keluarga terpandang, tapi selama ini ia cukup optimis akan gencatan pendekatannya dengan Rizzi. Nyatanya, Rizzi yang sejak awal kenal dengannya sudah memperlakukannya dengan baik, kini...ia bahkan beberapa kali dapat menangkap sinyal bahwa pria itu pun menaruh perhatian lebih padanya.
Namun setelah mendengar beberapa wanita yang tengah membicarakan Rizzi di pesta pernikahan sahabatnya tadi, entah kenapa membuat Beth seketika pesimis akan kelancaran hubungannya dengan pria itu.
__ADS_1
Beth seolah baru ditampar oleh sebuah kenyataan bahwa selain dirinya, pastilah banyak wanita lain yang rela mengantri demi seorang Rizzi Riyant. Belum lagi wacana perjodohan antar kolega yang umum dilakukan oleh orang-orang yang berstatus konglomerat nyatanya barusaja meresap dalam otak Beth yang selama ini dibutakan oleh perasaannya sendiri.
Tiba-tiba saja segala kepercayaan dirinya menguap begitu saja setelah mengetahui bahwa kualitas Rizzi sebagai manusia tak dapat dipungkiri berada jauh di atasnya. Beth seakan tersadar bahwa jalan cintanya tidak akan mulus mengingat dirinya yang bukan siapa-siapa dibandingkan keluarga Digdaya.
"Rizzi kan ganteng, baik, kaya pula, dan dari keluarga terpandang. Sementara gue bukan siapa-siapa. Cuman anak orang biasa yang bahkan belum lulus kuliah karena langsung jadi pegawai kantoran. Enggak ada istimewanya sama sekali!"
Beth mendengus perlahan di ujung pernyataan batinnya yang telah mendiskriminasi dirinya sendiri. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa begitu lelah, begitu hampa, dan sepi. Dan entah kemana perginya sikap percaya dirinya selama ini.
Hampir pukul sepuluh siang waktu Indonesia bagian barat ketika pesawat yang ditumpangi Beth dan Rizzi mendarat di Bandara Internasional kota mereka.
Rizzi yang sempat tertidur, sudah terbangun ketika pramugari mulai menyuguhkan sarapan untuk para penumpang dalam pesawat tersebut pagi tadi.
Kini, ketika co-pilot sedang mengumandangkan narasi pendaratan pesawat di bandara tujuan mereka, Rizzi dengan sigap membantu Beth mengambilkan koper mini milik gadis itu dari kompartment yang ada di atas kepala mereka.
Dengan tertib keduanya pun mengikuti arus dari ratusan penumpang lainnya untuk menuruni pesawat lalu berjalan melintasi garbarata menuju ke lobi kedatangan.
Meski keduanya tetap berjalan berdampingan dan sesekali Beth berjalan di depan lebih dulu guna membuat barisan di pos-pos tertentu di Bandara itu, tapi tak satu pun kata yang keluar dari mulut keduanya, entah dari Bethsa Putry maupun dari Rizzi Riyant.
Namun tampak jelas dari ekspresi Rizzi jika ia sama sekali tidak nyaman dengan situasi itu. Berbanding terbalik dengan Beth yang justru tetap memasang ekspresi poker face yang tak terbaca.
"Kita naik taksi yang sama aja, biar aku antar kamu pulang!" Akhirnya Rizzi berani membuka suaranya.
Beth menggeleng lemah, "Tidak perlu!!! Rumahku dan rumahmu arahnya berlawanan. Akan buang-buang waktu kalau kamu harus mengantarku lebih dulu." balas Beth tanpa menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya.
Belum sempat Rizzi menyanggah jawaban gadis itu, Beth dengan cepat masuk ke dalam taksi resmi Bandara yang tiba-tiba berhenti tepat di depan keduanya.
"Aku pulang dulu. Terima kasih sudah menemani aku balik ke Indonesia. Kamu hati-hati pulangnya ya!" pamit Beth dari balik jendela taksi yang terbuka.
Lagi-lagi belum sempat Rizzi membalas ucapan Beth barusan, taksi yang ditumpangi gadis yang nampak sendu itu pun berlalu tanpa peringatan. Membawa sesosok gadis yang masih hanyut dalam kegalauan. Meninggalkan Rizzi yang disergap tanda tanya besar.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Beth??? Jangan-jangan tanpa sadar, gue udah menyinggung perasaan dia??? Apa jangan-jangan gue udah ngecewain dia??? Tapi ngecewain yang gimana??? Gue nyinggung dia dalam hal apa??? Ya Tuhaannn...salah gue dimana sih ini??? Rizzi kebingungan.
.
.
.
To Be Continue...
*AIRBORNE
sebuah pesawat udara yang dalam kondisi terbang atau sedang terbang setelah tinggal landas tatkala semua roda-rodanya telah lepas dari permukaan landasan pacu.
__ADS_1