Replacement Lover

Replacement Lover
BERDAMAI


__ADS_3

Keira yang marah, memilih untuk kembali ke kamarnya daripada harus melanjutkan perdebatannya dengan Tyo yang menurutnya sia-sia saja.


Ia kecewa pada Tyo yang tidak mengerti keinginannya, tidak mengerti kebutuhannya sebagai seorang anak, serta kekhawatirannya pada Papanya.


Setelah ditinggalkan Keira, Tyo terpaku berdiri di tempatnya. Dalam beberapa detik itu, ia hanya bisa terdiam mematung memandang punggung Keira yang memilih masuk kembali ke dalam rumah dengan membawa amarahnya.


Setelah Keira menghilang dari balik pintu, Tyo lalu terduduk lagi ke atas pembatas beton. Ia termenung sendiri. Mengulang kata-kata Keira tadi di dalam benaknya.


Jelas sekali bagi Tyo jika Keira mengucapkan semua itu diliputi kekecewaan yang mendalam terhadapnya. Terhadap pria yang telah diterima Keira sebagai calon suaminya.


Timbullah rasa bersalah di hati Tyo. Mengetahui niat Keira yang tetap berusaha menghargai Tyo dengan mencoba menuruti keinginan pria itu untuk tidak menemui Papanya sendiri, meskipun hatinya luar biasa kecewa.


Dan Tyo pun malu saat mendengar Keira mengatainya bahwa dirinya tak mempercayai gadis itu. Tyo jadi merasa sangat egois terhadap Keira.


Bukan maksud Tyo untuk mengekang Keira, BUKAN. Dan bukan maksud Tyo pula untuk tidak mencoba mengerti Keira seperti yang diucapkan Keira tadi.


Hanya saja Tyo memang tidak mengerti, meskipun Tyo ingin mencoba mengerti. Namun Tyo tidak tahu bagaimana dan dari mana dirinya memulainya.


Tyo yang tidak ingin Keira marah lebih lama padanya, segera tersadar dari lamunannya. Pria itu pun segera menyusul Keira ke dalam rumah.


Di depan pintu masuk, Tyo yang berpapasan dengan Pak Yusam yang baru keluar dari pintu utama akhirnya menanyakan tentang perginya Keira ke pada pria tua itu.


"Pak Yusam!" panggil Tyo.


"Eh, Mas Tyo. Ada apa mas?" Pak Yusam balik bertanya dengan sedikit kaget karena kemunculan Tyo yang tiba-tiba dari balik pintu.


"Bapak lihat Keira masuk tadi?" tanya Tyo.


"Lihat, Mas. Tadi saya baru keluar dari dapur, dengar suara pintu depan baru ditutup, saya lihat ternyata Non Keira yang masuk." jelas Pak Yusam.


"Habis itu perginya ke arah mana?" tanya Tyo lagi.


"Non Keira-nya langsung naik tangga tuh, Mas." Pak Yusam menjawab dengan yakin.


"Oke, makasi, Pak!" ucap Tyo sambil memasuki pintu.


Melihat tingkah Tyo dan Keira malam ini, membuat Pak Yusam jadi geleng-geleng kepala. "Anak muda jaman sekarang, ngambeknya gantian." gumam Pak Yusam sambil melengos pergi untuk kembali ke pos jaga di dekat gerbang sebagai basecampnya dengan para satpam di rumah itu.


Jika Keira langsung naik ke lantai dua, Tyo menebak bahwa Keira kembali ke kamarnya yang memang ditempati oleh gadis itu selama menginap di rumahnya.


Tyo pun bergegas menyusul Keira ke kamarnya dan berencana langsung meminta maaf dan mencoba berbaikan dengan gadis yang sedang mengandung bayinya itu.


Sesampainya Tyo di depan pintu kamar Keira, Tyo sempat sedikit ragu. Maukah Keira menemuinya saat ini? Maukah Keira menerima permintaan maafnya sekarang? Akankah mereka bisa langsung berbaikan atau justru akan membuat Keira lebih marah pada sikapnya kini.


Tyo luar biasa galau. Segalau saat dirinya harus membuka baju gadis itu ketika mengurus Keira yang sedang mabuk di dalam kamar hotel beberapa waktu lalu.


Tapi Tyo sungguh-sungguh tak ingin berlama-lama bertengkar dengan Keira. Tyo tidak ingin menjadi orang yang melukai hati Keira. Tyo ingin menjadi pelindung sekaligus pemberi kebahagiaan pada Keira.


Tyo mengambil nafas dalam, menghembuskannya perlahan lalu mengulang ritual itu beberapa kali sebelumnya akhirnya berani mengetuk pintu kamar Keira.


Tok.Tok.Tok


Setelah mengetuk pintu, Tyo menunggu, tapi belum ada jawaban dari dalam. Tyo menggosok tengkuknya dengan gusar. Pikirannya sibuk menerka-nerka, apakah Keira sangat marah? Apakah Keira menangis? Tyo tak tahu pasti.


Tok.Tok.Tok


Diketuknya pintu kamar Keira sekali lagi. Jika kali ini tak juga mendapat respon dari dalam, ia akan mencoba menelpon gadis itu, pikirnya.


Namun ternyata, tak berapa lama, terdengar suara Keira yang parau dari dalam kamar. "Masuk!" sahut gadis itu dengan lirih namun masih jelas terdengar dari luar.


Tyo pun membuka pintu itu dengan perlahan sambil memanggil nama calon istrinya itu, "Keira?!" panggil Tyo lalu melongokkan kepalanya ke dalam kamar.


Dilihatnya Keira yang terduduk di tepian ranjang menghadap ke arah jendela, memunggunginya.


"Aku masuk ya, Kei?" tanya Tyo ketika panggilannya tak mendapat jawaban.


Keira masih tak menjawab dengan suaranya namun terlihat kepala gadis itu mengangguk satu kali.


Tyo berjalan mendekati Keira lalu berhenti hingga tepat di hadapan gadis itu. Ternyata Keira memang sedang menangis sendirian, meski air matanya sudah terhapus oleh tisu-tisu yang kini telah tergolek lusuh di kaki Keira, tapi sekotak tisu masih ada dipangkuannya dan kedua matanya juga nampak masih memerah.


Tyo berlutut dengan satu kaki di depan Keira lalu mengusap kedua pipi Keira dengan ibu jarinya. Dirasakannya kedua pipi gadis itu yang masih lembab oleh air mata. Seketika hati Tyo terasa sakit, merasa bersalah karena telah membuat Keira menumpahkan air mata.


"Maafkan aku, Kei!" ujar Tyo dengan parau, berusaha menahan nyeri di dadanya setelah melihat ekspresi Keira yang sendu. "Maafkan aku udah buat kamu sedih sampai seperti ini! Maafkan kekuranganku dalam mengerti kamu!" mohon Tyo lagi lalu mengecup kedua tangan Keira secara bergantian.


Keira melihat ekspresi pilu Tyo di hadapannya itu. Keira pun tahu bahwa pria itu memang teramat menyesal atas pertengkaran kecil mereka tadi.

__ADS_1


"Sudahlah, Tyo. Aku paham kok kalau kamu cuman khawatir sama aku. Aku juga paham kalau kita masih dalam tahap belajar saling mengerti dan menerima kekurangan masing-masing!" seru Keira bijak.


"Jadi kamu mau maafin aku?" tanya Tyo hati-hati sambil menatap lekat ka arah Keira.


Keira balas menatap Tyo lekat dan menangkap kesungguhan pria itu memohon maaf kepadanya. Tak lama akhirnya Keira kembali menganggukkan kepalanya sebagai tanda pemberian maafnya kepada pria yang dicintainya itu.


Saking bahagianya Tyo karena telah dimaafkan oleh Keira, Tyo pun langsung memeluk erat tubuh Keira. "Makasi, Kei!"


Baru saja Keira dan Tyo menyelesaikan pertengkaran kecil mereka. Tiba-tiba ponsel Tyo berdering di tengah-tengah momen keharuannya berbaikan dengan Keira.


Tyo merogoh ponsel di saku celananya untuk melihat siapakah gerangan yang menelponnya di jam segini. Dan ternyata Rizzi pelakunya.


Tyo pun segera mengangkat telpon dari Rizzi itu kalau-kalau Rizzi akan memberinya informasi penting mengenai Danny Wan yang kapan hari dimintanya.


📱RIZZI RIYANT


"Halo, Bro! Dah tidur blom lo?"


📱TYO PRATAMA


"Blom, kenapa?"


📱RIZZI RIYANT


"Beth sama Said lagi di Teluse nih, kangen Keira katanya. Boleh nggak kalo Keiranya diajak kesini?"


📱TYO PRATAMA


"Wait, gue tanyain Keiranya dulu!"


Tyo pun menurunkan ponsel dari telinganya lalu menoleh pada Keira yang sedari tadi mendengarkan Tyo berbicara di telpon dengan Rizzi.


"Kei, kata Rizzi, Said sama Beth lagi nongkrong di Teluse. Mereka nanyain kamu terus ngajakin ketemuan di sana. Kamu mau nggak?"


Seketika kedua mata Keira nampak melebar dan berbinar sekaligus. Spontan kedua tangannya juga memegang lengan Tyo dengan sedikit hentakan, membuat kotak tisu yang ada di pangkuannya terjatuh ke lantai.


"Mauuuu!" seru Keira riang. "Aku mau banget ke Teluse, Tyo. Aku kangen temen-temen aku! Boleh ya!!!" pinta Keira dengan wajah sedikit memohon pada Tyo.


Tyo tertawa lebar melihat reaksi Keira yang berubah sedrastis itu. Membuat hatinya sedikit miris dan berpikir, mungkinkah Keira benar-benar merasa terkekang di rumah ini? batin Tyo.


📱TYO PRATAMA


"Oke, Rizzi. Gue sama Keira langsung meluncur ke Teluse sekarang."


📱RIZZI RIYANT


"Naahhhh, gitu dong. Tyo. Jangan dikekepin sendiri mulu Keiranya, kesian dia, lama-lama engap ntar."


Mendengar kalimat itu dari Rizzi, membuat Tyo lagi-lagi tersentak dalam hatinya. Pikirannya semakin meyakinkan bahwa mungkin memang dirinya terlalu mengekang Keira sejak dia membawa gadis itu pulang ke rumahnya.


📱TYO PRATAMA


"Iya, iyaa, BERISIK!"


Setelah menutup telponnya, Tyo pun langsung berdiri dan mengulurkan tangan pada Keira untuk membantu gadis itu berdiri dari tepian ranjang.


Keira menyambut uluran tangan Tyo lalu berdiri seketika, namun tanpa Keira duga, Tyo malah memeluknya sekali lagi.


"Aku sayang banget sama kamu, aku cinta banget sama kamu Keira. Maafkan aku kalau sikapku bikin kamu sedih atau tersiksa. Kamu boleh kok langsung negur aku kalau aku begitu lagi, kamu boleh protes dan minta apapun sama aku. Aku akan berusaha mengabulkan semua keinginanmu itu, Kei!" ujar Tyo penuh ketulusan tanpa melepaskan pelukannya dari Keira.


Tyo tak ingin lagi terjadi kesalah pahaman di antara mereka. Tyo ingin meminimalisasi resiko pertengkaran dalam hubungan mereka. Tyo ingin menjalin hubungan yang sehat dengan Keira. Untuk selamanya.


Keira kaget sekaligus bahagia mendengar keterus terangan Tyo. Jujur, ia pun menginginkan hubungan yang sehat dengan Tyo. Hubungan yang saling menghargai dan memahami satu sama lain. Hubungan yang langgeng hingga akhir hayat mereka.


Keira membalas pelukan Tyo dengan penuh kehangatan. "Makasi banyak atas niatmu itu, Tyo. Tapi yang aku mau kita bisa saling mengerti satu sama lain. Supaya kita bisa terus mempertahankan hubungan ini sampai nanti, sampai masa tua kita." ucap Keira tak kalah tulusnya.


Mendengar ucapan Keira itu, Tyo langsung mengeratkan pelukannya. Jantungnya berdebar cepat diselimuti kebahagiaan yang tak terkira. Dirinya tak peduli jika Keira akan merasakan debarannya. Karena memang itulah yang dirasakan Tyo kini.


"Tyo, kita jadi ke Teluse kan ini?" tanya Keira akhirnya.


Tyo tersentak lalu melepaskan pelukannya, "Tentu jadi, Kei. Kita berangkat sekarang, yuk! Atau kamu mau ganti baju dulu biar aku tunggu diluar?" tanya Tyo.


Keira menggeleng pelan, "Aku cuma butuh baju hangat untuk luaran kok." jawab Keira.


"Baiklah, kalau begitu ayo!" ajak Tyo.

__ADS_1


Keira mengangguk cepat. Diraihnya sebuah cardigan berbahan wool yang terajut tebal dari gantungan baju lalu dipakainya cepat. Tyo dan Keira lalu turun ke bawah sambil bergandengan tangan.


Mereka mampir ke ruang keluarga terlebih dahulu untuk berpamitan pada ayah dan ibu Tyo.


"Jangan malam-malam pulangnya, nanti Keira masuk angin." ujar Pak Ruslan.


"Ibu nitip Kacang Kuahnya Cak Yudi yang lagi viral itu yaa!" pesan Ibu Tyo.


"Kita kan mau ke Teluse, Bu! Ke daerah timur. Kalau yang itu kan belinya di daerah selatan, kejauhan Bu! Tyo pesenin via aplikasi aja ya?" tawar Tyo pada ibunya.


"Yaahh kalau gitu mah ibu juga bisa sendiri, Nak. Ibu maunya kalian yang beliin." ujar Ny. Naina sedikit merajuk.


"Iya deh iyaa. Trus apa?" tanya Tyo.


"Bentar-bentar, ibu cek akunnya kuliner kekinian di IG dulu. Hmmm, apa yah yang lagi viral di daerah timur, aahh nemu nih, beliin ibu Kue Balok Ngelumer aja yaa." ralat Ny. Naina.


"Oh, kalau yang itu oke." balas Tyo sambil mengacungkan jempolnya pada ibunya.


"Thank kyuuhh." balas Ny. Naina riang.


***


@Cafe Teluse


Pertemuan perdana Keira dan Beth setelah sekian lama tak bertemu langsung membuat Cafenya Rizzi itu jadi heboohhh, kedua sehabat itu berangkulan sambil lompat-lompat layaknya anak Taman Kanak-Kanak yang sedang bermain.


"Kei, inget bayinya." Tyo mengingatkan Keira akan kehamilannya sambil mendekap tubuh Keira dari samping agar Keira berhenti bergerak seketika.


Beth dan Said pun langsung melongo dibuatnya. Tak hanya kaget saat melihat Tyo yang memeluk Keira dengan mesra, namun juga tercengang kala mendengar Tyo mengungkit tentang kehamilan Keira.


"Elo kapan nikahnya sama si Tyo, Kei. Tahu-tahu udah bunting aja?" tanya Beth.


Keira yang mendadak salah tingkah tak bisa menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Namun Tyo yang memahami kegusaran Keira akhirnya mewakili gadis itu menjawab pertanyaan Beth tadi.


"Ditunggu aja tanggal mainnya Beth. Nggak bakal lama lagi kok. Kamu mau kan jadi bridesmaidnya Keira nanti?" tanya Tyo pada Beth.


Beth yang awalnya sedikit bingung, namun akhirnya mengerti situasi yang dihadapi sahabatnya itu. Dan tanpa membahas lebih lanjut, Beth pun segera mengangguk mengiyakan pertanyaan Tyo padanya.


"Pastilaahhh, mau bangetttt!" jawabnya lebih lanjut sambil memeluk Keira. Hilang sudah kegusaran yang sempat dirasakan Keira tadi saat dirinya menerima pelukan Beth itu.


"Jangan lupa undangan buat gue juga lhoo!" sahut Said tak mau kalah. Membuat Keira lalu menoleh ke arah pemuda ceking itu sambil mengacungkan ibu jarinya tanda 'Oke'.


Beth lalu mengungkapkan kekagumannya akan penampilan Keira yang baru sekaligus menagih cerita dari Keira selama mereka tak bertemu.


"Panjang ceritanya." sahut Keira cepat.


"Pendekin laahh, intinya aja!" balas Beth.


"Hormon bumil gue bikin males curhat." Keira mencoba ngeles lagi meski ucapannya itu kenyataan yang sedang dirasakannya kini.


"Isshhhhh, dasar!" Beth pun gemas mendengar balasan dari Keira itu.


Melihat ekspresi merajuk Beth itu membuat Rizzi angkat bicara, "Pengen tahu cerita mereka lengkapnya gimana?" tanya Rizzi pada Beth.


"Pengen bangeettt!" jawab Beth antusias.


"Siniin hape kamu." ujar Rizzi sambil meraih ponsel Beth yang tergeletak di atas meja. Lalu Rizzi mendekatkan duduknya lebih ke samping Beth agar gadis itu dapat melihat layar ponselnya yang sedang dipegang Rizzi.


"Nih yaa, buka play store, cari aplikasi MangaToon, terus download. Kalau udah terinstall baru login deh, habis itu cari novel judulnya Replacement Lover karyanya Mrs Caffeine, Naahh kamu baca dari Bab tiga puluh enam sampe selesai. Dijamin kamu bakalan dapet penjelasan sejelas-jelasnya."


Rizzi tersenyum puas setelah memberikan penjelasan beserta prakteknya langsung di depan mata kepala Beth sendiri.


"Oo gitu yaa." Beth manggut-manggut dengan polosnya sambil meraih ponselnya dari tangan Rizzi.


Dilihatnya layar ponselnya yang sudah menampilkan halaman novel yang dimaksud Rizzi tadi dari aplikasi MangaToon. Melihat reaksi Beth pada tutorial yang diberikan oleh Rizzi itu, membuat yang lain menjadi terkikik geli menyaksikan ke-oneng-an gadis yang satu itu.


To Be Continue....


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2