
"Jadi begitu, Pak Agus! Hasil temuan saya dan keputusan saya yang sudah disetujui oleh Ayah!" Tyo menutup penjelasannya mengenai kasus Danny Wan kepada Pak Agus.
Tyo, Pak Ruslan, dan Pak Agus Choir langsung membahas masalah ini pagi itu juga di ruang kerja Pak Ruslan yang ada di rumahnya sesaat setelah kedatangan Pak Agus Choir untuk menjemput Bos Besarnya itu berangkat ke kantor.
"Saya mengerti, Mas Tyo!" jawab Pak Agus Choir dengan kalem setelah mencatat beberapa poin penting yang telah dijelaskan Tyo ke dalam notepadnya.
"Saya yakin Pak, jika kita mengungkap benang merah antara kasus Danny ini dengan kasus yang menyeret Mr.Wan sebelumnya di pengadilan Singapura, mungkin pihak Jaksa Penuntut akan mempertimbangkan untuk menyelidiki adanya keterlibatan Mr.Wan dalam kasus Danny." Tyo menambahkan.
"Jadi karena kita tidak bisa menggunakan bukti rekaman yang sudah Mas Tyo dapatkan itu maka saya akan menginstruksikan tim pengacara kita untuk segera meminta pihak Jaksa Penuntut memasukkan Mr.Wan dalam daftar saksi. Dengan begitu secepatnya mereka akan menemukan keterlibatan Ayah Danny itu pada kasus kali ini." balas Pak Agus tegas.
"Betul, Pak! Karena hingga sampai saat ini Mr.Wan belum menginstruksikan perusahaan provider telpon yang digunakannya untuk menghapus atau memblokir rekaman telponnya itu, saya rasa Mr.Wan tidak berpikir jika kita sudah mengetahui bahwa dialah dalang sebenarnya dari semua ini." Tyo menyimpulkan analisanya.
"Saya rasa ini merupakan keberuntungan lain bagi kita!" Pak Agus Choir nampak tersenyum penuh makna.
"Maksud Pak Agus?" Tyo tidak mengerti.
"Terua terang, Mas. Pihak kepolisian hingga detik ini belum menemukan korelasi keterlibatan Mr.Wan dalam kasus ini karena sulitnya proses investigasi yang mereka lakukan terhadap Danny." jawab Pak Agus dengan ekspresi kecewanya.
"Kenapa bisa begitu, Pak?" tanya Tyo.
"Sejak ditahan, tersangka justru sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan apapun dari pihak penyidik. Tapi untungnya, Mas Tyo justru langsung bisa mengorek sedikit informasi tepat pada saat kejadian. Dan malah informasi itulah poin penting kita dalam kasus ini." jelas Pak Agus Choir sumringah.
Pak Ruslan yang sependapat dengan pernyataan Pak Agus tadi langsung manggut-manggut. Ternyata beliau pun juga berpikiran demikian sejak pertama Tyo mengungkapkan temuannya tadi.
Karena jika pada saat itu, Tyo tidak dapat mempengaruhi emosi Danny hingga akhirnya keceplosan mengungkap tentang tujuannya melakukan balas dendam itu, pasti hingga detik ini kasus itu akan terus mengambang. Bahkan bisa jadi hanya akan dianggap sebagai kasus kejahatan biasa yang dilakukan tanpa rencana dan alias random spontaneous crime yang bisa menyerang siapa saja.
Jika memang hal itu terjadi, bisa dipastikan Danny akan lolos dengan mudah mengingat statusnya sebagai Warga Negara Asing dan tentu saja nama Mr.Wan tidak akan pernah terseret sama sekali.
"Saya harap adanya keadilan untuk Danny, Pak Agus. Meski memang tindakannya itu salah tapi balas dendam ini sepenuhnya bukan inisiatif dari pemuda itu. Danny tidak seharusnya menanggung seorang diri dampak dari niat jahat ayahnya." ujar Tyo serius.
"Baiklah, Mas Tyo. Saya akan usahakan agar tim pengacara kita memberikan gugatan yang sepantasnya kepada Danny dan menuntut hukuman yang setimpal kepada Mr.Wan." tegas Pak Agus.
"Kalau begitu saya serahkan sepenuhnya kepada anda, Pak Agus!" Tyo lalu berdiri untuk menjabat tangan Pak Agus Choir sebagai ungkapan terima kasih.
"Baik, Mas Tyo!" balas Pak Agus menyambut jabatan tangan Tyo.
"Apa rencanamu setelah ini, Nak?" tanya Pak Ruslan kepada anaknya itu.
"Aku akan mengantar Keira untuk menemui Papanya, Yah. Setelah itu, rencananya aku akan ke PT. PERKASA untuk rapat dengan Andrew membahas masalah penggabungan manajemen antara PT. PERKASA dengan PT. PERMATA." ungkap Tyo.
"Bagus. Lebih cepat lebih baik! Dan bersikaplah lebih santun terhadap Pak Zein Imran, biar bagaimana pun beliau adalah calon mertuamu. Ayah rasa, saat ini pria itu sudah kehilangan sebagian besar keangkuhannya." tutur Pak Ruslan menasehati Tyo.
Tyo mengangguk mantap lalu menempelkan ujung hidungnya ke punggung tangan Pak Ruslan untuk meminta restu sekaligus berpamitan. "Tyo pamit nganter Keira ke rumah Papanya, Yah!"
Pak Ruslan hanya membalas dengan anggukan singkat. Namun setelah Tyo menghilang dari balik pintu, Pak Ruslan menginstruksikan satu hal lagi kepada Pak Agus Choir.
"Segera cari tahu keberadaan ibu Keira dan ayah tirinya di Jerman! Mereka juga harus menghadiri acara pernikahan Keira dan Tyo!" pinta Pak Ruslan.
"Saya sudah ada sedikit informasi mengenai hal itu, Pak! Tapi saya akan laporkan hasilnya jika kepastiannya sudah seratus persen." jawab Pak Agus.
"Baik! Terserah padamu saja!" balas Pak Ruslan lalu bersiap untuk berangkat ke kantor.
***
Sementara itu di dapur....
Ny. Naina masih mendominasi percakapan antara dirinya dengan Keira. Ibunda Tyo itu terdengar lebih sering bertanya dan mengemukakan pendapatnya perihal rencana pernikahan untuk Keira dan Tyo. Sementara Keira nampak khusyuk menyimak setiap detil penjelasan dan saran-saran dari calon ibu mertuanya itu.
Meski bersikap dominan, tapi Ny. Naina tetap menyerahkan semua keputusan final pada calon menantunya itu. Namun karena diburu waktu sebelum perut Keira mulai terlihat, Ny.Naina mencoba semaksimal mungkin untuk mencari party planner yang memiliki konsep yang diminati Keira.
"Jadi Kei, kenapa mendadak Tyo mau mengantar kamu menemui Papamu?" tanya Ny.Naina tiba-tiba merubah arah pembicaraan dengan mata yang masih fokus melihat-lihat katalog party planner pernikahan yang sudah beberapa hari ini berhasil dikumpulkannya dari beberapa kerabat dan kolega.
Untuk menjawab pertanyaan calon ibu mertuanya itu, Keira terpaksa menceritakan pertengkaran kecilnya dengan Tyo malam itu. Mendengar bahwa Tyo dan Keira yang sempat bertengkar, membuat fokus Ny.Naina jadi beralih menatap Keira.
"Trus-trus....apa yang dilakukan Tyo setelah kamu tinggal dia sendirian disana?" Ny. Naina jadi tambah kepo. Wanita paruh baya itu langsung berhenti membolak balikkan katalog pernikahan dan memilih menopang dagunya untuk lebih fokus kepada cerita Keira.
__ADS_1
"Agak lama akhirnya Tyo nyusul aku ke kamar, Bu! Untungnya dia masuk pas aku udah selesai nangisnya walaupun Tyo tetep tahu kalo aku habis nangis. Dia langsung berlutut minta maaf sama aku." beber Keira.
"Ya Ampun, Naakk!" balas Ny. Naina dengan mengelus-elus punggung Keira dengan sebelah tangannya sementara sebelah tangannya lagi masih tetap menopang dagunya. "Kamu yang sabar yaa ngadepin Tyo, dia emang gitu orangnya. Kaku plus nggak peka-an! Tyo tuh belum pernah pacaran sih, jadi yaa....gitu deh!" tambah Ny.Naina sambil mengedikkan bahunya.
"Iya, Bu. Setelah kita baikan Tyo juga langsung bilang kok kalo aku harus langsung negur dia kapan pun dia salah di mataku. Aku juga harus terus terang tentang keinginanku dan isi hatiku ke dia, biar dia langsung tahu dan nggak ada salah paham lagi." Keira mengungkapkan.
"Syukurlah kalo gitu. Berantem itu sah-sah aja bagi pasangan, Kei. Tapi jangan keseringan dan jangan kelamaan. Ibu maunya kalian langgeng terus. Ibu nggak mau punya menantu lain selain kamu, Keira!" Ny. Naina lalu memeluk tubuh Keira dari samping.
Membuat Keira yang tersentuh hatinya langsung membalas pelukan calon ibu mertuanya itu dengan lebih erat.
Tak lama muncullah Tyo di dapur untuk menjemput Keira. "Dicariin ke kamar atas malah peluk-pelukan disini!" gerutu Tyo lalu mengambil kursi di samping Keira.
"Makanya kalo nyariin kaum hawa itu pertama-tama ke dapur dulu, kalo nggak ketemu baru cari ke kamar. Karena wanita yang hobi nongkrong di dapur itu lebih women-able* dari pada yang hobi ngendon di kamar." celoteh Ny. Naina menasehati putranya sambil melepas pelukannya dari Keira.
"Siap, Ibu Suri!" balas Tyo sedikit meledek ibunya sambil melakukan pose hormat.
"Ibu Suri dari Hongkong!!!" ceplos Ny.Naina membalas ledekan Tyo.
Meledaklah tawa Tyo dan Keira setelah mendengar balasan Ny.Naina atas ledekan Tyo.
"Udah selesai belum nih kalian ngobrolnya? Ayah dah mau berangkat ngantor tuh, Bu!" lapor Tyo pada ibunya.
"Haahh!!!" pekik Ny. Naina. Mendengar suaminya akan segera berangkat, Ny. Naina gegas berdiri dari duduknya dan langsung ngacir untuk mengantar Pak Ruslan berangkat. "Isshhh, kenapa nggak ngomong dari tadi sih kamu Tyo!" omelnya sambil lalu.
Melihat ibunya yang tergopoh membuat Tyo terkikik. Kontan saja Keira langsung menyikut perut pria itu sambil berdecak karena sikap Tyo yang menyebalkan terhadap ibunya.
"Rese' deh kamu ituh!" Keira melontarkan tatapan tajam pada Tyo.
"Baru tahu ya?!" Tyo tersenyum miring membalas tatapan tajam Keira padanya.
"Iya, nyebelin tau nggak?!" Keira melengos melihat wajah Tyo yang semakin mendekat padanya.
Melihat Keira yang memalingkan wajahnya, Tyo dengan sigap memutar kursi dapur yang ternyata bisa diputar itu dan mengembalikan wajah Keira kehadapannya lagi. Keira yang kaget jadi terbelalak dan hendak memutar kembali kursi itu, namun Tyo bertindak lebih cepat dengan mengunci kursi yang diduduki Keira dengan kedua tangan dan kakinya.
"Coba kabur lagi kalo bisa!" tantang Tyo menyeringai sambil menaikkan kedua alisnya. Membuat Keira hanya bisa mengerucutkan bibirnya dengan sebal.
Spontan Keira memukul lengan Tyo yang masih betah menggodanya, "Apaan sih ah, lepasin nggak? Ntar kalo ada yang liat maluuu, Tyo!" rengek Keira.
Tapi Tyo tetap cuek. Pria itu malah menggeser kursi Keira untuk lebih dekat dengannya. Keira sampai harus mendaratkan kedua tangannya di depan dada Tyo demi menjaga jarak yang tersisa diantara mereka.
"Tyooo!!!" pekik Keira lirih, tak ingin suaranya terdengar oleh orang lain di rumah itu.
Keira yang salah tingkah malah semakin membuat Tyo bersemangat menggodanya. Ia lalu sedikit menundukkan kepalanya untuk mencari bibir Keira. Dan ketika bibir keduanya hampir bersentuhan, tiba-tiba muncul Mbok Sri dari balik pintu dapur.
"Eh Mbak, Eh Mas, Eeehh Maaappp...Mbok nggak tahu kalo kalian disini!" asisten rumah tangga itu langsung salah tingkah sendiri sambil menutup matanya dengan kedua tangan. "Mbok Sri nggak liat apa-apa kok, beneran!!! Wes terusin, Mbok balik ke depan lagi aja!" ujar Mbok Sri sambil ngacir.
Keira dan Tyo yang awalnya terbengong-bengong mendapati kedatangan Mbok Sri yang memergoki mereka jadi langsung tertawa geli melihat Mbok Sri yang malah terbirit-birit meninggalkan mereka berdua.
"Tuh kaann, kamu tuh!" gerutu Keira lagi-lagi memukul lengan Tyo.
Tyo cuma tertawa keras lalu akhirnya berdiri. Diraihnya pinggang Keira untuk membantu gadis itu turun dari kursinya.
"Udah yuk, kita berangkat ke rumah Papamu sekarang, sebelum aku bener-bener ngunciin kamu di kamar." ajak Tyo masih dengan senyum lebar terukir di wajahnya.
Mereka berdua pun melenggang meninggalkan dapur untuk berpamitan kepada Ny.Naina sebelum pergi ke rumah Pak Zein Imran.
***
@Rumah Pak Zein Imran
Daffi terkejut bukan main kala mengetahui siapa yang berdiri di balik pintu yang ia bukakan sebelumnya. "Kak Keira!" panggil Daffi seolah tak percaya.
"Papa ada, Fi?" tanya Keira sedikit kaku pada adik tirinya itu.
Tyo hanya diam dan memperhatikan interaksi kedua saudara tiri itu. Meski ada Keira di bersamanya tapi mengingat siapa yang akan mereka temui, Tyo secara otomatis memasang ekspresi dingin di wajahnya lagi sejak turun dari mobilnya.
__ADS_1
"A-ada, Kak! Masuk aja biar aku panggilin Papa!" jawab Daffi sedikit tergagap saat tak sengaja matanya bertemu pandang dengan pria tampan yang tampak menakutkan yang datang bersama Keira.
"Oke, makasih ya!" balas Keira mulai bisa bersikap lebih santai karena merasa Daffi tidak menolak kedatangannya.
"Itu adik tiri kamu?" tanya Tyo lirih sambil mengikuti Keira masuk ke rumah Pak Zein Imran.
"Iya, dia anak Papa sama tante Rosa." jelas Keira singkat dan tak kalah lirihnya. Khawatir jika percakapan mereka akan terdengar oleh Daffi yang berjalan cukup jauh di depan mereka.
Sesampainya di ruang tamu, Daffi mempersilahkan Keira dan Tyo untuk duduk sebelum pemuda itu kemudian masuk ke dalam sebuah kamar utama yang ternyata adalah kamarnya Pak Zein Imran.
Tak lama, Pak Zein pun muncul dari balik pintu kamarnya dengan tak kalah terkejutnya seperti Daffi tadi saat melihat Keira yang datang bersama Tyo.
Keira refleks berdiri melihat kemunculan sosok Papanya dari dalam kamar. Tyo pun mengikutinya berdiri. Hati Keira sedikit bergetar kala melihat sosok Papanya itu kini jadi lebih kurus dengan wajah yang lebih tirus.
"Keira!!!" panggil Pak Zein yang langsung berjalan cepat mendekati Keira. Pria paruh baya itu nampak hendak memeluk Keira namun gerakannya terhenti seketika entah karena apa.
Pak Zein mematung sejenak seakan sedang teringat sesuatu. Keira dan Tyo saling memandang dengan ekspresi tak mengerti melihat tingkah Papa Keira itu. Namun akhirnya Pak Zein malah meraih kedua tangan Keira dan menjabatnya.
Pak Zein menjabat kedua tangan Keira dengan erat dan bahkan sedikit menggoyangkannya, membuat Keira jadi merasa kikuk sendiri menerima perlakuan Papanya itu.
"Terima kasih, Keira! Terima kasih mau datang menemui orang tua yang tidak tahu malu ini!" ujar Pak Zein penuh keharuan, terlihat dari benih-benih air mata yang mulai mengembang di sudut matanya yang tampak keriput.
Keira terkejut dengan ucapan Papanya itu, hatinya langsung trenyuh mendengar ucapan pria yang dulu selalu terlihat gagah dan angkuh di matanya itu yang kini nampak begitu rapuh. Keira merasakan kedua tangan Papanya yang sedang menggenggamnya itu gemetar.
Gadis itu jadi bisa menangkap ketulusan dalam kata-kata Papanya. Namun bibir Keira mendadak kelu. Dia masih belum terbiasa melihat sosok Papanya yang seperti ini. Keira jadi tidak tahu harus berkata apa.
Untung saja Tyo segera menyampaikan maksud kedatangan mereka saat itu, "Kami datang karena ingin membicarakan sesuatu yang penting." ucap Tyo tegas.
Pak Zein lalu menoleh pada Tyo dan mengangguk. "Maafkan saya, saudara Tyo. Saya terlalu senang melihat kalian disini sampai saya lupa bahwa kalian pasti mempunyai tujuan untuk datang kemari." balas Pak Zein atas pernyataan Tyo.
Pak Zein lalu mengulurkan tangannya kepada Tyo dan Tyo menyambutnya dengan sikapnya yang biasa. Tidak lagi bersikap defensif pada orang tua itu namun juga belum menunjukkan sikap yang lebih ramah.
Setelah melepaskan jabatan tangan Tyo, Pak Zein mempersilahkan Keira dan Tyo untuk kembali duduk dan dirinya pun berbalik untuk kemudian mendudukkan dirinya sendiri di salah satu sofa di ruang tamu yang luas itu.
Saat Pak Zein berbalik, Tyo sekilas melihat Pak Zein mengusap sebelah matanya yang sedikit basah. Hal itu membuat Tyo teringat akan ucapan ayahnya tadi tentang Pak Zein yang sudah mulai kehilangan keangkuhannya. Dan Tyo pun sedikit mengakui kebenarannya sekarang.
"Jadi? Hal penting apa yang ingin kalian sampaikan?" tanya Pak Zein Imran setelah beliau duduk.
Keira terdiam, nampak ragu untuk menyatakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya. Tyo melirik pada Keira yang nampak ragu-ragu dan kikuk.
Ia pun lalu melingkupi kedua tangan Keira di atas pangkuan gadis itu dengan sebelah tangannya. Dan dengan mantap Tyo menuturkan niat mereka kepada Pak Zein.
"Kami berdua datang kemari bermaksud untuk meminta restu anda sebagai orang tua laki-laki Keira atas niat kami untuk menikah." ucap Tyo tegas.
"Apa? Benarkah?" Pak Zein nampak terkejut sekaligus tak percaya mendengar ucapan Tyo itu.
"Dan saya pribadi, ingin memperbaiki hubungan antara kita yang sempat memburuk di awal pertemuan kita, Pak Zein. Saya ingin kita bisa saling menerima satu sama lain." Tyo mengungkap niatnya dengan tulus.
Keira jadi menoleh ke arah Tyo setelah mendengar pria di sampingnya itu berkata demikian. Jujur Keira tidak tahu sama sekali niat Tyo itu. Keira berpikir, Tyo hanya datang untuk menemaninya saja. Namun ketika kini ia mengetahui niat Tyo yang sesungguhnya, Keira langsung merasa bahagia atas ketulusan Tyo.
Sementara Pak Zein nampak menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan ekspresi terharu yang menggantikan rasa terkejut yang semula hadir di wajahnya.
To Be Continue....
.
.
.
.
*Women-able
adalah istilah kekinian yang sedang tren di Amerika sebagai sebutan terhadap sosok wanita yang 'mampu' dan 'matang' dalam melakukan setiap kewajibannya.
__ADS_1
Di Amerika sendiri, kata WOMENABLE dipakai sebagai nama sebuah komunitas sosial yang berfokus pada kewirausahaan perempuan. Komunitas itu menganalisis laju pertumbuhan perusahaan yang dimiliki atau dipimpin oleh pria dan wanita dari tahun 1997-2014.
Dan mereka menemukan bahwa bisnis yang dimiliki atau dipimpin oleh wanita mengalami pertumbuhan sebanyak 72,3 persen. Sementara, perusahaan yang dipimpin atau dimiliki oleh pria mengalami pertumbuhan sebesar 45,1 persen selama periode waktu yang sama.