Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : SPONSOR


__ADS_3

.


.


.


Di tengah kegetiran hati, Said terperanjat ketika mendapat sebuah tepukan di pundaknya. Namun, sedetik kemudian ia merasa lega ketika melihat Rizzi yang berdiri di belakangnya. Ia tak yakin harus menunjukkan ekspresi semacam apa jika sampai yang mengikutinya adalah Milla. Ia tak mampu membayangkan jika gadis itu memergokinya sedang berurai air mata seperti ini.


Untung bukan Milla yang nyamperin gue, mau ditaruh mana muka gue kalau cewek itu sampe ngeliat gue nangis bombay kaya' gini?!—batin Said lega.


"Lo nggak apa-apa, Id?" tanya Rizzi tanpa mengangkat tangannya dari pundak Said.


"Gue nyesek, Bang! Gue nggak nyangka nasib Milla segitu amat!" jawab Said disela isaknya.


"Iya, gue ngerti perasaan lo. Kita semua nyesek denger nasib Milla yang ngenes. Tapi lo apa nggak mikir, tindakan lo yang impulsif tadi itu malah bisa jadi bumerang buat lo." Rizzi mengangkat tangannya lalu melipatnya di depan dada.


Said terdiam. Ia terombang-ambing di antara kata-kata Rizzi yang lain dari biasanya. Said terjebak antara posisi mengerti dan tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Rizzi barusan. "Bumerang gimana maksudnya, Bang?" Akhirnya ia melontarkan pertanyaannya karena tak ingin salah mengartikan.


Rizzi mendesah pelan melihat raut wajah Said yang kacau, "Gue tebak lo ada perasaan khusus kan sama si Milla?" tanyanya to the point.


Said mengangguk cepat. Sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan perasaannya di hadapan Rizzi.


"Kalau gitu lo udah salah ambil sikap, Bro! Karena dengan lo pergi tiba-tiba kaya tadi, Milla bisa aja salah paham. Setelah denger kondisi masa lalunya seperti gitu, gue yakin banget, itu anak punya sifat minder akut yang bisa gampang salah paham sama sikap orang lain. Bisa jadi dia sekarang lagi mikir kalau lo udah nggak mau temenan ama dia lagi setelah tahu dia pernah punya masalah kaya' gitu." Rizzi merasa perlu menjelaskan panjang lebar karena merasa Said tidak akan mengerti hanya dengan kalimat singkat.


Said mendengus keras-keras sambil menyeka wajahnya dengan tangan. Dilihatnya Rizzi yang menatapnya dengan serius sambil manggut-manggut, "Oke, Bang! Oke!" ucapnya dengan yakin. "Gue ngerti sekarang maksud lo, tapi sekarang gue nggak ngerti harus ngapain."


Rizzi menggeleng sambil menghela napasnya, "Kita tinggal balik ke sana! Tunjukin ke Milla sikap dukungan lo buat dia, tanpa nunjukin kalo lo nyesek sama nasibnya. Karena itu cuman akan bikin Milla makin minder." Rizzi menepuk pelan dada Said dengan punggung tangan sebelum melangkah pergi meninggalkan pemuda itu.


Sejenak Said terdiam. Namun, akhirnya kedua kakinya mulai melangkah pelan, mengikuti arah yang dituju Rizzi yang masih beberapa langkah di depannya. Dalam hatinya, Said masih ketar-ketir, akankah dirinya mampu menahan perih yang ia rasakan tadi saat dirinya melihat Milla lagi nanti. Semoga saja.


Namun, pada akhirnya Said bisa bernafas lega, setelah dari kejauhan ia dapat melihat kembali seulas senyuman di wajah Milla. Sedikit meringankan langkah Said yang tadinya terasa berat.


Keira dan Beth tak lagi memeluk gadis itu, dan suasana di antara mereka tak lagi tampak murung dan diliputi kesedihan. Malah, Said sudah bisa merasakan nuansa keceriaan yang hangat meski tanpa guyonan yang membuat mereka tertawa lepas.


"Dari mana aja kalian?" tanya Beth tanpa tedeng aling-aling begitu melihat kemunculan Rizzi yang diikuti oleh Said.


Lagi-lagi hanya wanita itu yang tidak peka akan situasi, membuat Said memutar bola matanya jengah. Ingin rasanya ia menjitak kepala Beth, tapi hal itu tak mungkin ia lakukan di depan Milla demi menjaga image dirinya.


"Biasa, Said mau beser aja ngajak-ngajak!" celetuk Rizzi sekenanya. Mencoba membantu Said membuat alibi meski yang dibantu malah langsung melotot ke arahnya.


Kontan saja semua yang ada di sana terbahak mendengar celetukan Rizzi, tak terkecuali Said meski tawanya hanyalah tawa pura-pura demi kedok 'baik-baik saja' yang harus ia tunjukkan di hadapan Milla.

__ADS_1


"Tadi gue udah nawarin sebuah ide ke Milla dan syukurlah dia mau mempertimbangkan ide gue." ungkap Tyo.


Said yang sudah kembali duduk bersila di tempatnya semula, mengernyitkan keningnya, "Ide apaan, Bang Tyo?" tanyanya penasaran.


"Gue akan bantu Milla nyariin sponsor sungguhan buat kuliahnya. Dan gue yakin, sponsor itu pasti langsung setuju kalo gue yang ngasih pengajuan." Tyo tersenyum penuh percaya diri.


Mendengar kata sponsor lagi-lagi disebut, rahang Said langsung mengetat tanpa ia sadari.


"Dan kalo boleh kita tahu, siapa pihak yang bakalan lo jadiin sponsornya Milla itu?" tanya Rizzi yang jelas-jelas mewakili keingintahuan Said.


Tyo menarik kedua sudut bibirnya sebelum menjawab, dan menjaganya bertahan di sana untuk sekian detik. Membuat Rizzi—atau lebih tepatnya Said, terlihat menahan nafasnya demi menunggu jawaban Tyo.


"Takhta Grup." jawab Tyo akhirnya. Sekuat tenaga ia menahan tawanya ketika melihat ekspresi Said yang hampir kehabisan nafas didera rasa penasarannya sendiri.


Said mendesah lega mendengar jawaban dari Tyo. "Gue setuju!" Dengan tegas Said menyuarakan pendapatnya. Jika memang Takhta Grup bersedia mensponsori Milla, maka tak ada alasan lagi baginya untuk mengkhawatirkan hidup gadis itu untuk beberapa tahun mendatang.


Dengan kecepatan cahaya, sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Said, "Emang siapa yang butuh persetujuan dari elo, dodol?! Ini tuh tentang Milla, bukan tentang elo!" omel Rizzi yang ternyata sebagai pelaku yang menjitak kepala Said.


Said terkesiap. Wajahnya merona tanpa dapat ia cegah. Kepalanya memang sakit terkena jitakan, tapi ucapan Rizzi memang benar. Barusan ia keceplosan bersikap seolah-olah dirinya adalah orang yang berhak mengambil keputusan atas hidup Milla. Padahal, itu semua seharusnya menjadi pilihan Milla sendiri.


Said yang salah tingkah akhirnya berpura-pura mengambilkan minuman lagi untuk mereka semua. "Eeh, mending gue ambilin minuman lagi deh!" pamitnya seraya kabur lagi-lagi tanpa alas kaki. Berjalan secepat mungkin menuju dapur rumah Keluarga Pratama.


Melihat sikap kikuk Said yang ketahuan banget modus ngelesnya, membuat seluruh teman pemuda itu tak lagi dapat menahan tawa mereka. Sementara di dalam hati Milla, sudah merasa sedikit lega setelah melihat sikap Said yang kembali tampak normal di hadapannya.


Tyo bermaksud menemui ayahnya untuk meminta tolong mengenai nasib Milla selepas makan malam. Pria itu berencana mengajak sang ayah berbicara empat mata terlebih dahulu sebelum akhirnya mengenalkan Milla kepada Pak Ruslan.


"Lho, katanya kita ada tamu temannya Keira? Mana anaknya? Kok tidak ikut diajak makan malam sama-sama?" tanya Pak Ruslan yang ternyata sudah mengetahui tentang keberadaan Milla di rumahnya. Siapa lagi kalau bukan sang istri yang memberitahunya.


"Maaf, Ayah! Tapi Millanya tidur duluan di kamar tamu karena tadi sore mendadak nggak enak badan. Mungkin karena masih shock setelah tertimpa musibah dan terlalu lama pakai baju basah jadi sekarang dia meriang." Keira mewakili Milla menjelaskan perihal keadaan gadis itu.


Pak Ruslan nampak manggut-manggut di kursinya. Sementara Ny.Naina yang juga baru mendengar kondisi Milla langsung menampakkan raut wajah khawatir. Tangannya yang sedang sibuk mengambilkan makanan untuk sang suami langsung terhenti.


"Ya ampun, Kei! Tapi nggak parah kan kondisinya? Udah kamu suruh makan? Udah dikasih obat?" cecar Ny.Naina.


Keira menanggapi kekhawatiran sang ibu mertua dengan senyum, "Sudah kok, Bu! Tadi pas dia ngeluh badannya nggak enak langsung Keira suruh makan dulu baru minum obat. Makanya sekarang dia tidur, mungkin efek dari obat yang Milla minum." jelas Keira dengan sabar.


Ny.Naina dan Pak Ruslan kompak mengangguk-angguk mendengar penjelasan Keira. Ibunda Tyo itu pun kembali meneruskan kegiatannya yang tertunda. Setelah melihat kedua orang tuanya kembali tenang dan bersiap untuk makan, kini giliran Tyo yang menyuarakan niatnya.


"Yah, nanti habis makan malam, ada yang mau Tyo diskusikan sama ayah." ungkapnya langsung.


Untuk sesaat, Pak Ruslan menatap lekat ke arah sang putra tanpa komentar. Seperti sedang menerka-nerka topik apa yang akan disampaikan putranya itu. Namun kemudian kepalanya terlihat mengangguk pelan sambil menjawab, "Nanti kita bicara di ruang kerja saja!"

__ADS_1


"Baik, Yah!" Tyo menjawab anjuran ayahnya dengan antusias sembari melirik ke arah Keira sambil tersenyum. Kedua suami-istri itu nampak saling melemparkan senyuman penuh arti.


Setelah makan malam, Tyo yang baru turun dari lantai dua, dan bermaksud untuk menemui sang ayah di ruang kerjanya tanpa sengaja bertemu dengan Pak Agus yang baru masuk dari pintu depan.


"Loh, Pak Agus?! Belum pulang, Pak, jam segini?" Tyo keheranan. Terkadang ia juga penasaran, apakah orang yang telah menjadi asisten sang ayah selama puluhan tahun ini pernah istirahat.


"Saya baru menyelesaikan tugas kecil, Mas Tyo. Sekarang mau laporan sama bapak dulu baru saya pulang." jelas Pak Agus singkat.


"Saya juga ada janji diskusi sama ayah. Kalau begitu kita sama-sama ke ruang kerjanya saja!" ajak Tyo.


Pak Agus tampak mengangguk lalu kedua pria itu sama-sama melangkah menuju ruang kerja Pak Ruslan. Begitu Tyo dan Pak Agus masuk ke dalamnya, Pak Ruslan terlihat sedang duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu sambil memegang notepad di tangannya. Tampaknya beliau tengah menunggu kedatangan putranya sambil membaca berita online.


Pak Ruslan cukup kaget melihat kehadiran Pak Agus di belakang Tyo, dan langsung mengira jika putranyalah yang memanggil sang asisten selarut ini. "Kamu manggil Pak Agus juga, Tyo?" tanya beliau.


Tyo yang heran hanya bisa mengalihkan pandangannya kepada Pak Agus. "Bukan, Pak! Saya datang atas inisiatif saya sendiri. Saya bermaksud melaporkan hasil dari tugas terakhir yang bapak minta saya kerjakan hari ini." jelas Pak Agus sambil berdiri di sisi Tyo.


Pak Ruslan nampak geleng-geleng kepala dengan ekspresi tidak senang. "Kalian duduklah!" perintahnya. "Dengar, Gus! Saya kan sudah pernah bilang sejak cucu saya lahir, kalau saya hanya mau kerja sesuai jam kerja saja. Jadi kedepannya tolong jangan temui saya untuk urusan pekerjaan di luar jam kerja! Ngerti kamu?" omel Pak Ruslan pada asistennya.


Pak Agus tampak menyesal dan sedikit ketakutan. "Ba-Baik, Pak! Maafkan kekhilafan saya!" ucapnya takut-takut.


"Lagian itu tugas kan bisa kamu laporkan besok, saya ngasih tugas hari ini bukan berarti harus kamu selesaikan dan laporkan hari ini juga. Saya kan tadi bilang, deadlinenya dua hari. Apa kamu sengaja mau bikin saya kerja terus?"


Nada bicara Pak Ruslan masih nampak kesal, tapi menurut Tyo malah terlihat lucu mengingat dulu ayahnya begitu gila kerja hingga menderita penyakit ginjal. Rupanya, kehadiran putranya—Dwiargha—di tengah-tengah keluarga Pratama begitu berdampak besar pada motivasi sang ayah untuk tetap sehat.


"Sekali lagi saya minta maaf, Pak!" ucap Pak Agus sambil menunduk.


"Ya sudah, kali ini saya maafkan! Tapi lain kali, kalau kamu begini lagi, sekalian saja kamu gantikan saya di Takhta Grup biar saya bisa pensiun secepatnya." Pak Ruslan mulai melayangkan ancamannya yang absurd.


"Ja-jangan begitu, Pak! Saya menyesal! Saya tidak akan mengulanginya lagi!" janji Pak Agus dengan terbata karena panik.


Tyo nyaris terkikik geli melihat interaksi di antara kedua orang itu. Ia tak menyangka, jika sang ayah bisa merajuk juga dalam pekerjaannya dan Pak Agus yang selama ini dikenalnya begitu tenang bisa juga bersikap panik dan salah tingkah.


Sungguh berbeda dengan hubungannya bersama Andrew dan Andrea yang meski terjalin kontrak kerja namun tetap bersikap santai satu sama lain, bahkan tak jarang bisa jadi sedikit sadis dalam bergurau karena memang hubungan mereka bertiga dilandasi persahabatan yang bagai kepompong.


"Oke, kalau gitu, sekarang coba kita dengarkan apa yang mau kamu diskusikan, Tyo!" Merasa telah memberi peringatan terhadap asistennya, Pak Ruslan langsung kembali fokus pada tujuan mereka berkumpul di ruangan itu.


Tyo tersenyum singkat sebelum memulai ucapannya. Ekspresinya otomatis berubah serius se-serius topik yang akan ia bahas bersama sang ayah, sekaligus Pak Agus yang kebetulan sedang bersama mereka. "Tyo mau mengajukan permohonan sponsor kepada Takhta Grup untuk Milla, Ayah!" ungkapnya terua terang.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue...


__ADS_2