Replacement Lover

Replacement Lover
POSITIF


__ADS_3

@Klinik Spesialis Obgyn


Keira duduk di salah satu kursi ruang tunggu klinik itu dengan gelisah. Tangannya berkeringat dan gadis itu terus saja menggigit bibir bawahnya tanda cemas. Kepala Keira celingukan seolah sedang mencari sesuatu tapi entah apa.


Vynt yang duduk tepat di samping Keira menyadari kegelisahan gadis itu. Diusapnya lembut kepala Keira. Keira yang merasakan sentuhan tangan Vynt di kepalanya pun menoleh.


Ketika dilihatnya Vynt tersenyum kepadanya, Keira merasa sedikit tenang mengingat dirinya tidak sendirian. Vynt ada bersamanya. Sahabatnya itu sudah berjanji tidak akan membiarkan Keira sendirian apapun yang terjadi.


"Ibu Keira Permata!" panggil suster dari depan pintu ruang obgyn.


Keira dan Vynt serempak berdiri. Sebelah tangan Vynt lalu memeluk pundak Keira dari belakang, dan diusap-usapnya pundak Keira untuk menenangkannya sambil membimbing gadis yang gemetaran itu memasuki ruang dokter obgyn yang sudah menanti kedatangan Keira.


"Selamat pagi." sapa sang Dokter wanita ramah. "Ibu Keira Permata, betul ya?" tanya Bu Dokter memastikan data yang dibacanya.


Keira hanya mengangguk pelan.


"Dan suaminya, Bapak Tyo Pratama, betul?" kali ini sang Dokter memastikan data yang diisi Keira di kolom nama suami dengan memandang ke arah Vynt.


Di luar dugaan sang Dokter, Vynt menggelengkan kepalanya yang membuat kening Dokter itu jadi berkerut heran.


"Saya kakaknya, yang namanya Tyo Pratama sedang dinas ke luar negeri." jelas Vynt sedikit berbohong namun sukses membuat sang Dokter manggut-manggut.


Untuk mempermudah keadaan, Vynt terpaksa berbohong karena tidak mungkin dia mengatakan bahwa Keira hanya sahabatnya.


Jika memang demikian, lalu kemana keluarga inti gadis itu hingga tak dapat mengantarnya memeriksakan kehamilan. Yang jelas, dalam kondisi ini, kejujuran hanya akan memperumit keadaan saja, batin Vynt.


"Baik kalau begitu kita langsung USG saja ya, karena saya sudah terima hasil tes darahnya jadi anda berdua kesini bermaksud untuk memastikan apakah memang terjadi kehamilan, betul?" sang Dokter memastikan kembali maksud kedatangan keduanya.


"Betul, Dok!" kali ini jawaban singkat langsung diberikan Vynt mewakili Keira.


"Kalau begitu silahkan langsung berbaring disana!" tunjuk sang Dokter pada sebuah tempat tidur khusus pemeriksaan pasien.


Seorang suster tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Keira dengan senyum ramah. Mengantarkan Keira ke tempat yang dimaksud untuk berbaring.


Keira pun menurut dan berbaring pelan-pelan di tempat tidur kecil berwarna hijau tua itu.


"Permisi, Bu. Boleh saya buka sedikit baju atasannya?" kata sang suster meminta ijin.


Keira hanya mengangguk walau dirinya merasa tidak nyaman sama sekali. Diliriknya Vynt dari tempatnya berbaring. Ternyata Vynt pun sedang melihat ke arahnya, ke arah mata Keira dan bukan ke arah yang lain yang dikhawatirkan Keira untuk dilihat oleh sahabat lelakinya itu.


Dengan sebuah anggukan dan senyuman, Vynt seolah ingin meyakinkan Keira bahwa semuanya akan baik-baik saja. Melihat itu, keberanian Keira pun sedikit meningkat.


Sang suster mulai mengangkat sebagian baju atas Keira hingga memperlihatkan perut bagian bawahnya. Lalu sebagai pelengkap, dioleskannya sebuah gel khusus di atas perut Keira.


Keira sedikit terjingkat kaget merasakan saat cairan kental yang dingin itu menyentuh kulitnya. Entah kenapa membuat Vynt terkikik geli melihat ekspresi kaget Keira barusan.


"Oke, Bu Keira bisa lihat ke arah LCD di atas ya. Dan kakaknya boleh melihat calon ponakannya dari layar monitor di alat USGnya langsung." jelas Bu Dokter yang sudah siap memegang sebuah transducers.


Keira dan Vynt pun spontan melihat ke benda-benda yang ditunjuk oleh sang Dokter. Keira sangat deg-degan memikirkan apakah di dalam perutnya benar-benar sudah ada calon mahkluk hidup lain.


Vynt pun tak kalah penasarannya. Ini pengalaman pertama bagi kedua sahabat itu mengikuti proses pemeriksaan kehamilan.


Saking antusiasnya, Vynt sampai-sampai terus memelototi monitor alat USG meskipun Bu Dokter belum menempelkan transducers di tangannya ke perut Keira.

__ADS_1


"Siap ya, Bu Keira rileks aja. Santaiii, jangan tegang biar tidak ketarik kulitnya. Nanti kalo kulitnya kencang, alatnya jadi nggak bisa leluasa nyari si calon adek bayinya." Bu Dokter itu terus mengoceh berusaha mengalihkan ketegangan dari pikiran dan dari tubuh Keira.


Sekali lagi Keira tersentak kaget saat transducers sudah menyentuh kulitnya karena Keira kembali merasakan rasa dingin dari gel tadi.


Ketika transducers mulai menari-nari di atas perutnya menggunakan gel sebagai pelicin, seketika itu pula tampilan di layar LCD menjadi berubah.


Namun karena rasa geli campur sedikit nyeri yang dirasakannya, fokus Keira malah beralih melihat alat yang diputar-putar Bu Dokter di atas perutnya itu.


Hingga seruan ringan Bu Dokter mengembalikan pandangan Keira kembali ke layar LCD yang tergantung di atas kakinya.


"Nah itu, kelihatan kan ya?" seru Bu Dokter. "Ini lho, Bu." tunjuk sang Dokter pada sebuah titik yang nampak di layar LCD yang dilihat Keira.


Vynt pun melihat tampilan yang sama persis dari monitor yang lebih kecil di atas alat USG.


"Posisinya sudah bagus. Sekarang coba saya ukur dulu ya." guman Bu Dokter seolah berbicara sendiri sambil mengangkat transducers dari atas perut Keira lalu memainkan jari-jarinya di tombol keyboard pada alat USG.


Dengan sigap si perawat segera membersihkan sisa-sisa gel yang masih menempel di perut Keira dengan tisu basah lalu menutup kembali baju atasan Keira seperti sedia kala.


"Sudah boleh bangun?" bisik Keira pada si perawat yang langsung dijawab oleh perawat muda itu dengan anggukan dan senyuman.


"Ukurannya sudah sekitar enam sampai tujuh milimeter. Normal ya Bu untuk usia empat minggu. Bisa dikatakan sesuai dengan hasil dari tes darahnya." lanjut Bu Dokter sambil duduk kembali di kursi kebesarannya setelah menarik hasil foto USG yang baru saja keluar dari alat itu.


Keira sudah kembali duduk di kursi pasien berdampingan dengan Vynt saat Bu Dokter tiba-tiba mengulurkan hasil foto USG yang menurut Vynt lebih mirip seperti hasil foto polaroid yang terbakar alias gagal cetak.


Namun tidak bagi Keira. Entah kenapa, meski foto itu belum jelas memperlihatkan bentuk sang janin tapi perasaan bahagia itu tiba-tiba saja muncul.


Keira bahkan baru menyadari bahwa ketakutannya yang sedari tadi dirasakannya, entah sejak kapan menguap tanpa bekas. Berganti menjadi rasa haru yang tak terkira ketika menyadari bahwa di dalam perutnya kini benar-benar telah hadir calon makhluk hidup. Calon bayinya dengan Tyo.


Seketika mata Keira berkaca-kaca. Vynt yang langsung menyadarinya jadi kaget dan bingung sendiri.


"Ini anak gue, Vynt. Anak gueeee." ujar Keira sambil tersenyum lebar dan menunjuk-nunjukkan hasil foto USG yang dipegangnya itu ke muka Vynt.


Vynt jadi heran melihat perubahan sikap Keira. Kemana perginya gadis yang ketakutan dan gemetaran tadi, pikirnya dalam hati.


"Iya, iyaa gue tau. Itu anak lo. Tapi itu anak Tyo juga, kan bikinnya berdua." Vynt mencoba menggoda hingga Keira yang malu pada Bu Dokter dan Suster refleks memukul lengannya.


Mau tak mau Vynt jadi ikutan tertawa melihat tingkah Keira yang kegirangan bagai anak kecil yang baru dibelikan boneka oleh ayahnya.


Bu Dokter memberikan Keira buku panduan ibu dan anak serta beberapa resep vitamin dan juga susu khusus ibu hamil yang harus dikonsumsi Keira selama kehamilannya.


Dan setelah Bu Dokter selesai menuliskan jadwal check up Keira selanjutnya di buku panduan berwarna pink itu, akhirnya Keira dan Vynt pun undur diri.


Perubahan sikap Keira yang menjadi bahagia setelah pemeriksaan itu masih membuat Vynt terheran-heran. Vynt sampai harus menegur Keira yang masih tersenyum-senyum sambil melihat foto USG yang dipegangnya.


"Kalo jalan liat depan, Kei. Ntar jatuh bahaya. Ingeetttt, sekarang di dalem perut lo ada janinnya. Harus hati-hati kalo ngapa-ngapain." Omel Vynt.


"Iyaa, Om Vynt." jawab Keira meledek.


Di dalam mobil yang dikendarainya, Vynt kembali menanyakan perasaan Keira yang duduk di kursi penumpang depan.


"Udah gak takut lagi?" Vynt memulai.


Keira mengelus-elus foto USG pertamanya itu sebelum menjawab. "Udah nggak lagi. Sekarang gue berasa lebih bahagia."

__ADS_1


"Trus kapan lo mau ngasih tahu Tyo soal kehamilan lo?"


"Tunggu dia hubungi gue." jawab Keira sekenanya.


"Kelamaan, kaliikk!" ledek Vynt. "Ya elo duluan lah yang hubungi Tyo."


"Tapi gue takut ganggu dia kalo tiba-tiba nelpon." Keira memberikan alasan.


"Ya udah, kalo gitu lo kirim chat dulu aja ke Tyo, bilang kalo lo mau ngomong penting sama Tyo. Kalo Tyo emang cinta ama lo doi pasti langsung respon balik lah." saran Vynt.


Keira pun hanya manggut-manggut mendengar saran dari Vynt. Setelah Keira ingat-ingat lagi, sejak Tyo pamit malam itu, dirinya hanya menerima dua kali pesan chat dari Tyo. Sesibuk itukah Tyo di negara orang sana, Keira bertanya dalam hati.


Di tengah lamunannya, ponsel Keira berdenting. Sebuah pesan chat masuk ke aplikasi chatnya.


📩BETHSA PUTRY


Woii, pada kmna? Ngumpul di Teluse yuk!


"Vynt, Beth ngajak kita ngumpul di Cafe Teluse." Keira menginformasikan ajakan Beth pad Vynt yang masih fokus menyetir.


Vynt berpikir sejenak sebelum menjawab.


Pikiran Vynt langsung teringat pada Rizzi. Sahabat Tyo itu adalah orang yang tepat untuk mengorek informasi tentang pria yang telah menghamili Keira ini.


Walau bagaimana pun, baik Keira maupun Vynt belum sepenuhnya tahu tentang latar belakang keluarga Argha dan Tyo yang sebenarnya.


"Bilang, ok. Kita on the way ke Teluse langsung." jawab Vynt akhirnya.


📮KEIRA PERMATA


Ok, otw


Setelah membalas pesan Beth, Keira kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tak lupa disimpannya pula foto USG yang baru saja didapatnya itu.


"Vynt." panggil Keira kemudian.


"Hmm...paan?" jawab Vynt masih dengan pandangan lurus kedepan fokus dengan kemudinya.


"Tolong rahasiain dulu masalah kehamilan gue ke yang lain ya. Gue belum siap ngomong ke Beth sama Said." pinta Keira.


"Ok, as you wish." jawab Vynt lugas.


Sebenarnya ide itu pula yang ada di pikiran Vynt. Bagaimana pun lebih sedikit yang tahu, maka kemungkinan masalah yang timbul akan lebih sedikit pula jadi Keira tidak akan terlalu kesulitan menjalani masa kehamilannya ini.


Toh sebentar lagi mereka akan disibukkan oleh kegiatan magang mereka masing-masing, jadi kemungkinan untuk bertemu mungkin amatlah tipis.


To Be Continue....


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2