
.
.
.
Sejak ia dan suaminya meninggalkan kampus, dalam perjalanan pulang mereka, Keira senyum-senyum sendiri mengingat perkenalannya dengan si mahasiswi baru tadi. Ia pun masih dapat merasakan kesan yang ditangkapnya dari gelagat Said dan Milla untuk satu sama lain.
"Hihihi..." pada akhirnya Keira tak mampu lagi menahan tawa gelinya kala mengingat tingkah Said dan Milla yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Jangan cekikikan sendiri gitu dong, Yang! Aku serem nih ngeliatnya." ujar Tyo sambil mengusap kepala sang istri dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satunya masih tetap memegangi kemudi.
"Habisnya lucu." Keira menyeringai pada Tyo yang kembali fokus menyetir di sampingnya.
"Apanya sih yang lucu?" tanya Tyo heran.
"Kamu ngerasa nggak tadi? Kaya'nya si Said dan Milla tuh sama-sama ada rasa deh." Keira bicara sambil menopang dagunya, sementara matanya menatap ke arah sisi jalan raya dari balik jendela mobilnya.
"Rasa apa maksudnya?" Tyo tak mengerti arah pembicaraan sang istri.
"Ya rasa suka lah, emang rasa apa lagi? Ish, kamu nih!"
"Masa'? Mereka saling naksir gitu maksudnya? Aku kok nggak ngerasa gitu ya?" balas Tyo tak yakin.
"Kamu mah emang nggak peka, Yang!" Keira sewot.
"Aku tuh pekanya sama kamu doang, Sayang! Ngapain juga kudu peka sama yang lain?" sahut Tyo sambil melirik cepat ke arah istrinya.
"Helleehh...gombal!" Keira pura-pura mencibir Tyo tapi tersipu bahagia. "Tapi kalau dugaanku bener, aku seneng deh. Karena akhirnya Said nggak lama lagi bakalan lulus dari predikat jomblo abadi." kelakar Keira sambil meringis.
"Iya juga ya...di antara kalian berempat kan yang belum laku tinggal si Said doang." Tyo jadi ikutan geli saat mengingat fakta itu.
"Iisshh...kamu nih! Emang Said tuh dagangan apa dibilang belum laku." kali ini Keira pura-pura tidak terima.
"Lhoo...emang bener kan?"
"Iya juga sih."
"Tuuhh kan, endingnya kamu ikutan setuju."
__ADS_1
Pada akhirnya...kedua suami istri itu malah kompak menertawakan nasib Said yang serba terlambat. Tidak hanya terlambat training yang pastinya akan membuatnya terlambat lulus kuliah tapi juga terlambat menemukan tambatan hati.
***
Hatsyiihh....
Said bersin secara tiba-tiba sesaat setelah dirinya memakai sabuk pengaman. Milla yang sudah duduk manis di kursi penumpang langsung menoleh ke arah kakak kelasnya itu.
"Kak Said flu? Masuk angin?" tanya Milla dengan cemas.
"Nggak kok, aku nggak apa-apa. Sorry ya...cuman nggak tahu nih hidungku tiba-tiba gatal." jawab Said heran.
Milla tersenyum lega. "Kalau gitu kemungkinan ada yang lagi ngomongin Kak Said tuh."
Said melirik sekilas ke arah Milla dengan mengernyitkan keningnya heran, sementara tangannya memutar kunci kontak untuk menghidupkan mesin mobil. "Emang iya gitu?"
"Kata orang...kalau tiba-tiba bersin, tersedak, lidah tergigit, atau mata berkedut tanpa alasan yang jelas, itu tandanya lagi ada yang ngomongin." jelas Milla.
"Waahh, kalau emang gitu...pasti salah satu dari sahabat-sahabat aku nih yang lagi ngomongin sampe aku bersin gini." tebak Said.
Sambil mulai melajukan mobilnya, dalam hati Said mencoba menerka-nerka siapa kira-kira yang sedang membicarakan dirinya. Namun, kemudian ia sadar bahwa hal itu bukanlah prioritasnya saat ini, karena saat ini ia harus tetap fokus pada gadis manis yang tengah duduk di sampingnya. Seorang gadis yang bernama Millana Risty.
"Mbak Keira itu salah satu sahabatnya Kak Said ya?" Milla mencoba mengulik informasi tentang teman-teman Said. Entah kenapa, sejak berkenalan dengan Keira, ia jadi makin tertarik untuk mengenal siapa saja yang dekat dengan pemuda di sampingnya itu.
"Iya, Keira itu sahabatku dari sejak semester pertama kami kuliah. Selain Keira ada juga Beth dan Vynt. Walaupun aku juga akrab dengan teman-teman lainnya, tapi nggak ada yang sedekat mereka bertiga selama ini. Gimana ya? Mereka bertiga tuh udah kaya' temen rasa saudara buatku." ungkap Said terus terang.
Milla langsung takjub mendengarnya. Namun, ia juga sedikit iri dengan pertemanan mereka sebab selama ini dirinya belum pernah sekalipun memiliki sahabat seistimewa itu.
"Berarti Mbak Keira satu-satunya cewek yang jadi sahabatnya Kak Said dong?"
"Lhoo...enggak! Ada Beth juga. Dia itu cewek kok. Nama panjangnya Bethsa Putry. Panggilannya Beth. Kok bisa sih kamu ngira dia cowok?" Said tertawa lebar.
"Ooh, maaf. Kirain itu nama cowok." Milla merasa malu sekaligus menyesal.
"Kalau Beth tahu dia dikira cowok, bisa ngamuk tuh anak." ujar Said lagi sambil tertawa lebih keras karena membayangkan wajah Beth yang cemberut.
"Kalau gitu jangan dibilangin ya, Kak! Nanti aku dimarahi." pinta Milla sedikit takut.
"Nggak usah khawatir! Aku cuman becanda kok. Beth itu sama baiknya kaya' Keira, cuman dia orangnya rada berisik. Tukang ngomel!" beber Said dengan geli.
__ADS_1
Detik berikutnya, perjalanan mereka diisi oleh cerita Said tentang sahabat-sahabatnya. Sedangkan Milla yang memang penasaran, menyimak setiap cerita Said dengan antusiasme yang begitu tinggi sambil sesekali memberikan petunjuk arah ke tempat kosnya. Hingga tak berapa lama, keduanya akhirnya tiba di depan gang yang diakui Milla sebagai jalan masuk menuju tempat kosnya.
Said memarkirkan mobilnya tepat di samping pintu masuk gang itu. Meski Milla memintanya untuk tidak ikut turun tapi Said tetap turun dari mobilnya dan mengantar gadis itu hingga ke depan gang. Maksud hati ingin mengantar Milla hingga ke depan rumah kosnya, namun sayangnya mobil Said tak memungkinkan untuk memasuki gang itu.
Saat berdiri di depan gang, Said celingukan dan melihat bahwa gang itu cukup sempit dan tampak sepi. Sepertinya lingkungan itu tak cukup baik dan aman. Entah kenapa tiba-tiba saja firasatnya tidak enak mengenai lingkungan itu.
"Kamu ngekos di sini?" Said bertanya dengan heran.
Serius nih sekarang Milla tinggalnya di sini?—Said tidak percaya.
Karena menurutnya jarak antara kampus dan perkampungan itu cukup jauh. Mungkin memang cukup dekat bila ditempuh dengan mobil tapi jika berjalan kaki, menurut Said jaraknya lumayan jauh. Sedangkan Milla berencana pulang pergi kampus dengan berjalan kaki.
Yang bener aja??? Said tak habis pikir.
Namun nyatanya Milla mengangguk mengiyakan sebagai jawaban dari pertanyaannya barusan.
"Kosan kamu masih jauh?" tanya Said lagi.
"Mm..deket kok kak, cuman beberapa rumah dari sini. Maaf...tapi Kak Said nggak usah nganter sampai ke dalam ya, soalnya aku nggak tahu boleh parkir mobil di sini atau nggak. Lagipula, lingkungan di sini kurang aman, aku takut mobil Kak Said kenapa-kenapa kalau ditinggal masuk." terang Milla apa adanya.
"Oh okey!" Said kecewa tapi tak bisa membantah.
Kalau lingkungan di sini tidak aman, kenapa dia ngekos di sini? Apa karena murah? Tapi kan dia cewek. Kalau terjadi apa-apa sama dia gimana? Mendadak Said jadi khawatir.
"Kalau begitu aku masuk dulu, Kak. Terima kasih udah nganterin aku sampe sini." ucap Milla tulus.
Said memaksakan diri untuk tersenyum meski hatinya ketar ketir. "Sama-sama, Mill. Jangan sungkan!"
Milla berbalik dan mulai masuk ke dalam gang yang nampak kumuh bagi Said. Perlahan ada rasa kasihan menyeruak dalam dirinya mengingat betapa kerasnya hidup yang dijalani Milla selama ini. Ingin rasanya ia membantu gadis itu, tapi apa? Dan bagaimana caranya? Said benar-benar tak tahu.
Said terus menatap punggung Milla yang mulai menjauh. Hingga kemudian ia melihat gadis itu dihadang oleh beberapa pemuda yang berpapasan dengan Milla di tengah jalan. Said terkejut melihatnya.
Ketika ia melihat para pemuda itu tampak serius menghentikan langkah Milla dan mengerubunginya, entah kenapa Said merasa kesal sekaligus panik. Tanpa pikir panjang ia langsung berjalan cepat menghampiri Milla yang mulai tampak ketakutan di antara para pemuda itu.
SIALAN!!! Mau ngapain mereka sama Milla?—batin Said geram.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue...