
.
.
.
.
Mendekati Rumah Sakit terdekat, Vynt bertanya...
"Dibawa kemana ini Tyo? Lobi atau langsung UGD?" tanyanya sedikit panik.
"UGD aja, UGD!" pinta Tyo tak kalah panik.
Vynt mengangguk lalu mengarahkan mobil Tyo itu ke depan pintu masuk UGD. Setelah mobil benar-benar berhenti. Tyo melepas tas selempang Keira lalu menyerahkannya pada Fady dan dengan sigap turun lebih dulu lalu kembali membopong Keira memasuki UGD.
Fady juga langsung ikut turun dari mobil, sementara Vynt masih tetap di belakang kemudi untuk memarkirkan mobil itu setelah semuanya turun.
Beberapa perawat nampak langsung menerima kedatangan Tyo yang membawa Keira dalam gendongannya. Sementara Fady terpaksa menunggu di luar Unit Gawat Darurat dengan ekspresi tak kalah cemasnya.
"Ketubannya sudah pecah, Sus!" lapor Tyo pada suster di sana.
"Pukul berapa ketubannya pecah?" tanya suster sambil memasangkan alat tensi ke lengan Keira.
"Sekitar dua puluh lima menit yang lalu!" jawab Tyo cepat. Sebelah tangannya digenggam erat oleh Keira yang terus saja merintih kesakitan.
"Usia kandungan berapa minggu?" tanya suster lagi. Kali ini ia terlihat menekuk kedua lutut Keira dengan posisi kaki yang terbuka.
"Baru kemarin periksa kata dokternya sudah masuk tiga puluh tujuh minggu, Sus!" sahut Tyo.
Untungnya ia ingat betul ucapan dokter Melina saat pemeriksaan Keira kemarin setelah kelas Antenatal yang menyatakan bahwa usia kehamilan istrinya itu sudah masuk tiga puluh tujuh minggu.
"Permisi ya, Ibu. Saya periksa dulu sudah ada pembukaan sampai tahap berapa." sang suster meminta izin terlebih dahulu sebelum memasukkan dua buah jarinya ke dalam sela kaki Keira yang terbuka.
Mata Tyo langsung mendelik saat melihat apa yang dilakukan suster itu di bawah sana. Ia tak menyangka jika harus seperti itu cara memeriksa pembukaan seorang wanita hamil.
"Aah!" Keira yang menegang seketika saat merasakan kedua jari suster yang memasukinya langsung mencengkeram baju Tyo yang dapat diraihnya.
Belum apa-apa Tyo jadi merasa kasihan pada Keira. Wanita yang amat dicintainya itu, sampai harus merasakan sakit yang Tyo pun tak tahu separah apa rasanya demi melahirkan anaknya.
Bahkan selama sembilan bulan Keira mengandung pun, tak sedikit pengalaman tidak nyaman bahkan menyakitkan yang di alami Keira di depan mata kepalanya sendiri.
Mengingat semua hal itu, Tyo pun makin respek pada seluruh wanita yang ada di dunia ini. Terutama kepada Ibunya, mertuanya, dan terlebih pada Keira---istrinya yang kini tengah berjuang melahirkan anak mereka.
"Pasien sudah bukaan delapan! Melihat tempo kontraksinya sepertinya tidak lama lagi pembukaannya akan sempurna." teriak suster tadi pada suster lainnya sambil mengeluarkan tangannya dari sela kaki Keira.
Sekali lagi Tyo mendelik saat dilihatnya tangan suster itu sedikit berlumuran darah. Tyo langsung bisa menebak dari mana darah itu berasal. Ia pun menoleh ke arah Keira yang masih saja merintih menahan sakit dengan keringat yang bercucuran.
Tyo jadi tak tega melihatnya. Tapi makin tak tega untuk meninggalkan Keira berjuang sendirian.
"Permisi, Pak! Pasien mau dipindahkan ke ruang bersalin." tukas sang suster pada Tyo.
"Saya boleh ikut menemani, Sus?" tanya Tyo penuh harap.
"Boleh, tapi yang kuat ya! Jangan pingsan!" balas sang suster sambil lalu.
"Hah??!!" Tyo memekik lirih. Pingsan? Memang sampai seperti apa proses orang melahirkan hingga bisa menyebabkan suami seperti dirinya sampai pingsan.
Meski hatinya masih bertanya-tanya, tapi karena semua petugas medis yang ada di sana bertindak dengan cepat, jadi mau tidak mau Tyo harus mengikuti mereka dengan cepat juga.
Saat keluar dari ruang UGD menuju ruang bersalin, Tyo berpapasan dengan teman-teman mereka yang ternyata sudah berkumpul dan menunggu mereka di luar.
__ADS_1
"Gaes buruan ikutin! Keira mau dipindah ke ruang bersalin nih. Vynt, tolong pegangin ponsel gue. Kalo ada telepon dari nyokap langsung lo angkat aja dan bilang posisi kita dimana!" pinta Tyo sambil menyerahkan ponselnya pada Vynt.
Di dalam ruang bersalin, para suster dengan cepat membantu melepaskan baju Keira dan menggantinya dengan baju bersalin. Tyo pun tak luput menerima jatah baju khusus untuk menemani proses persalinan.
Beberapa suster tampak hilir mudik melakukan tugas mereka masing-masing. Tyo diperbolehkan berdiri di salah satu sisi kepala Keira. Ia pun mengusap-usap rambut Keira yang sedikit basah oleh keringat dengan sebelah tangan yang terus dicengkeram oleh Keira.
"Permisi, Ibu. Saya cek lagi ya bukaannya!" ucap seorang suster dan langsung memasukkan tangannya lagi seperti sebelumnya.
"Gimana?" tanya seorang dokter pria yang baru masuk ke dalam ruang bersalin pada suster tadi.
"Sudah sempurna, dok! Sudah siap ini!" jawab suster tersebut.
"Tekanan darahnya?" tanya dokter lagi.
"Normal, dok!" balas suster di sebelahnya dengan cepat.
"Kontraksinya bagaimana?" sahut dokter sambil memakai sarung tangan lateks pada kedua tangannya.
"Ritmenya cepat dan kontinyu dok! Sudah per lima menit sekali." jawab suster lain yang sedang memegangi perut Keira sambil menatap ke arah stopwacth di tangannya yang satunya.
"Oke, perfect ya! Kalo begitu kita lakukan sekarang!" perintah sang dokter kepada seluruh suster di ruangan itu.
"Selamat siang, Ibu, Bapak! Saya dokter Bima, izinkan saya membantu persalinan kali ini."
Dokter itu lalu sedikit membungkuk dan mengangguk tanpa berniat bersalaman di hadapan Keira dan Tyo yang juga hanya bisa mengangguk membalas perkenalan dokter tadi.
"Mohon bantuannya, dok!" balas Tyo yang langsung disambut senyuman oleh sang dokter sebelum akhirnya dokter Bima memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
Detik berikutnya, dokter Bima segera menuntun Keira untuk mengejan seiring munculnya kontraksi dan menyuruh Keira untuk mengatur nafas ketika kontraksi kembali menghilang. Begitu seterusnya hingga beberapa menit berlalu.
Namun setelah lima belas menit, seorang suster melaporkan perkembangan yang terjadi.
"Dok, jantung bayinya melemah!" lapor suster tersebut.
"Ibu mau cepat ketemu anaknya kan? Ayo Bu, dorong yang kuat ya saat kontraksinya muncul lagi! Kasian bayinya kalo tidak cepat dikeluarkan! Semangat Bu! Kita sama-sama berjuang lima menit lagi ya." seru sang dokter pada Keira.
Keira yang mendengar tentang kondisi bayinya seolah mendapat asupan semangat dan tenaga untuk mendorong lagi. Ia tidak ingin sampai bayinya kenapa-kenapa. Ia ingin segera memeluk anaknya itu.
Sementara Tyo makin merasa panik setelah mendengar tentang kondisi bayi mereka yang melemah. Dan di matanya, Keira pun juga nampak semakin lemah.
Tyo putus asa hingga hampir menangis. Ternyata seperti ini rasanya menemani istri yang melahirkan itu. Penuh ketakutan sekaligus kepanikan. Ia pun berdo'a sepenuh hatinya agar Tuhan menyelamatkan anak serta istrinya.
Ditengah kepanikannya melihat perjuangan Keira yang berusaha melahirkan anak mereka secara proses persalinan normal, Tyo tiba-tiba dikejutkan dengan hadirnya sosok Argha di sisi kepala Keira yang bersebrangan dengan posisinya berdiri.
Argha tersenyum padanya, jelas sekali. Lalu tanpa mengatakan apapun, secara perlahan tangan Argha terulur ke arah perut Keira. Dan saat Keira melepaskan satu dorongan terakhirnya, seketika terdengarlah tangis bayi yang menggema hingga keluar ruang bersalin itu.
Tangisan yang menandakan bahwa anak mereka sudah lahir. Anaknya dengan Keira.
Dan dimata Tyo, seakan Argha telah membantu perjuangan Keira melalui sentuhan tangannya pada perut Keira tadi.
Setelah bayinya lahir, Tyo masih dapat melihat Argha yang tetap menampakkan senyum khasnya, dan meski bibir Argha tak tampak mengucap sepatah katapun, namun dalam kepala Tyo, ia seolah mendengar suara Argha berpesan padanya.
"Jaga Keira dan anakmu, Tyo! Jaga mereka baik-baik. Mereka adalah hartamu yang berharga!"
Setelah itu sosok Argha menguap seiring hebohnya para perawat yang hilir mudik untuk membersihkan bayinya yang baru lahir serta memberikan perawatan pasca melahirkan kepada Keira.
Tyo akhirnya tersentak dari lamunannya oleh sebuah tepukan di pundaknya yang berasal dari seorang suster.
Suster yang sedang memegang bayinya yang sudah bersih itu kemudian berkata, "Selamat Pak, Bayinya laki-laki." Suster itu lalu memberikan bayi mungil nan montok itu ke dalam dekapan Tyo.
Melihat wajah anaknya yang sangat lucu dengan bibir merah merona, tak terasa air mata Tyo meleleh dengan sendirinya.
__ADS_1
Ya Tuhaann, ternyata begini rasanya menggendong buah hati sendiri, batin Tyo. Hatinya dipenuhi rasa bahagia yang meluap-luap. Tyo sampai tidak percaya ia bisa merasakan kebahagiaan sebesar itu dalam hatinya.
"Pak, keluarga anda menunggu di luar!" suara suster lagi-lagi membuyarkan lamunan kebahagiaan Tyo.
Ia lalu menoleh ke arah jendela kaca yang kordennya sudah dibuka separuhnya oleh suster tadi.
Dan dari luar sana tampak wajah Ibu serta Ayahnya dan juga teman-temannya sedang menunjuk-nunjuk pada bayi yang sedang di gendongnya itu.
Ia pun mendekat ke jendela kaca itu lalu menyorongkan sedikit gendongannya hingga semua orang yang ada diluar jendela dapat melihat wajah bayi mungilnya.
Seketika ekspresi bahagia terukir di wajah mereka semua. Bahkan Vynt dan Said sampai berpelukan erat sambil melompat-lompat saking senangnya melihat wajah bayinya.
Ny.Naina langsung menangis melihat wajah mungil itu hingga Pak Ruslan harus mendekapnya untuk menenangkannya. Sementara Beth dan Fady tampak mengacungkan jempolnya ke arah Tyo.
***
Seminggu kemudian....
Hiruk pikuk mewarnai rumah keluarga Pratama hari itu. Rumah besar berlokasi di pinggir pantai itu sedang ramai karena akan diadakan acara pemberian nama atas bayi pertama Tyo dan Keira.
Sebuah tenda putih dipasang berjajar di sepanjang jalanan masuk dari pintu gerbang menuju pintu utama rumah besar itu.
Di ruang keluarga tempat diselenggarakannya acara juga telah terpasang sebuah singgasana kecil untuk meletakkan keranjang bayi Tyo dan Keira dengan background kain sutra serta kain tile putih yang di bentuk dengan cantik. Tak lupa ratusan mawar putih segar menghiasi seluruh ruangan itu.
Para tamu undangan dan anggota keluarga yang sedang mempunyai hajat, berpakaian serba putih yang merupakan dresscode acara tersebut.
Nampak kerabat dekat keluarga semua hadir dengan wajah yang sumringah. Masing-masing membawa kado terbaik yang mereka persembahkan untuk si kecil yang baru lahir.
Andrew tampak hadir bersama Andrea. Rizzi dan keluarganya juga turut hadir meski akhirnya pria berkacamata itu terus menempel pada Beth yang datang bersama Said.
Vynt pun dengan terang-terangan menggandeng Fady di acara itu. Nampaknya hubungan mereka memang sudah sangat serius mengingat Vynt juga terlihat akrab terhadap orang tua Fady yang juga hadir karena sudah pulang dari Umroh mereka.
Mbak Silvi pun datang lagi kali ini dengan antusiasme yang tak kalah hebohnya dari saat dirinya menghadiri acara pernikahan Keira dan Tyo dulu.
Tak lama pembawa acara nampak memulai acara tersebut dan memberikan kesempatan kepada Tyo sebagai orang tua lelaki dari si bayi yang akan diberi nama untuk memberikan sambutannya.
"Saya ucapkan terima kasih banyak kepada para undangan yang berkenan hadir hari ini, di rumah kami, dalam rangka acara pemberian nama putra pertama kami. Mohon do'a terbaik dari para hadirin sekalian untuk putra kami yang kami beri nama DwiArgha Putra Pratama." ucap Tyo dengan penuh wibawa.
Tepuk tangan pun tercipta riuh mengiringi sambutan yang diberikan Tyo itu. Ia dan Keira memang sepakat memberikan nama itu untuk mengenang mendiang Argha.
Dan setelah pemuka agama melantunkan doa-doa dengan khusyuk, satu per satu para tamu mulai mendekati sang bayi untuk sekedar menjawil wajah mungil si Argha kecil yang sedang berada dalam gendongan Ny.Mustika---ibunda Keira.
"Hayo, yang mau gendong, ngantri dulu! Bikin barisan yang teratur." Ny.Naina nampak sibuk mengatur para tamu yang hendak menggendong cucunya itu.
Tyo dan Keira yang duduk berdampingan di sisi keranjang bayinya pun nampak terus tersenyum bahagia.
Keira lalu menggenggam tangan suaminya itu diam-diam. Sambil melihat putranya yang menjadi rebutan banyak orang untuk digendong, Keira menyandarkan kepalanya di pundak Tyo.
"Terima Kasih ya! Karena kamu, sekarang ini aku punya hidup yang sempurna, yang dulu bahkan enggak berani aku impikan." ucap Keira tulus.
"Justru kamu penyempurna hidupku yang setengah kosong ini, Kei! Tanpa kamu, aku masih Tyo yang lemah dan kaku. Kalo kata Ibu, GARING!" balas Tyo sambil merangkul pundak Keira dari belakang lalu mencium kepala istrinya itu dengan penuh syukur.
Ketika mereka sudah pulang ke rumah setelah beberapa hari menginap di Rumah Sakit pasca Keira melahirkan. Tyo menceritakan apa yang dilihatnya di ruang bersalin itu kepada istrinya. Dan seketika Keira pun menangis karenanya.
"Argha enggak akan pernah ninggalin kita, Tyo. Dia akan selalu ada buat kita. Dia selalu ada di tengah-tengah kita! Aku percaya itu!" isak Keira.
"Aku tahu, Kei. Aku tahu! Argha selalu bersama kita." jawab Tyo dengan berkaca-kaca. Dipeluknya tubuh Keira yang bergetar karena terisak.
Dan kini, dengan lahirnya Dwiargha, keluarga Pratama seolah telah lengkap kembali. Mereka pun bersuka cita menyambut hadirnya Argha kedua dalam keluarga itu.
TAMAT
__ADS_1
(Dedicated to Dwiargha P P & Tyo Pratama, Terima kasih atas kenangan yang menginspirasiku. @Malang2004-2006)
***