
@Cafe Sebelah, JOGJA
Keira tersenyum lebar kala membaca nama Cafe yang sedang disambanginya bersama Mbak Silvi ini.
CAFE SEBELAH, nama yang unik namun amat realistis mengingat letaknya yang memang berada ditengah-tengah bangunan kompleks ruko membuat Cafe Sebelah terapit oleh toko-toko lainnya.
Pemilihan nama yang mudah diingat dengan konsep Cafe yang instagramable membuat Cafe Sebelah sangat eye catching.
Tadinya Keira pikir, Mbak Silvi mengajaknya brunch ke Cafe Sebelah karena Cafenya memang berada tepat di sebelah bakal Toko Coklat mereka yang baru, tapi nyatanya nama Cafe itu benar-benar "Cafe Sebelah". Ide pemberian nama yang sangat briliant, pikir Keira.
"Jadi, sejak kapan kamu pindah kesini?" tanya Mbak Silvi sambil bertopang dagu. Menatap lurus dengan mata yang masih berbinar ke arah Keira.
"Aku kesini di hari yang sama ketika aku menyerahkan surat pengunduran diriku pada Mbak Silvi." jawab Keira datar.
"Haaahh, kok bisa?" Mbak Silvi tercengang. Refleks menegakkan tubuhnya yang awalnya sedikit duduk membungkuk karena kejutan kecil yang baru saja didengarnya.
Keira hanya tersenyum simpul menanggapinya dan membuat jeda sebelum meneruskan obrolan mereka ketika seorang waiter nampak mendekat untuk mengantarkan pesanan mereka berdua.
"Aku kesini karena kabur, Mbak!" jawab Keira akhirnya setelah waiter itu pergi.
Mbak Silvi nampak mulai menangkap sesuatu dari arah pembicaraan Keira. Raut wajahnya berubah serius dan penuh pengamatan.
"Walaupun Mbak Silvi sudah nerima aku kerja lagi di Toko Coklat tapi mumpung kita belum teken kontrak secara resmi, aku mau ungkapin sesuatu dulu ke Mbak Silvi sebagai bahan pertimbangan untuk memperkerjakan aku." jelas Keira terus terang.
Mbak Silvi menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang ia duduki sambil menghela nafas berat, "Kamu yakin mau cerita ke aku?" tanyanya kemudian. "Feeling aku ini masalah pribadimu, Kei. Kalau kamu ragu untuk cerita ya jangan cerita! Apalagi jika itu menyangkut aib-mu." sergah wanita itu.
Mbak Silvi adalah tipe wanita enterpreneur* yang open minded. Dirinya enggan mencampuri urusan pribadi orang lain apalagi aib orang lain. Menurutnya bergosip hanya membuang-buang waktu yang berharga untuk hal yang sia-sia.
Keira nampak merenung sesaat, lalu akhirnya menggeleng. "Enggak, Mbak. Karena kondisiku sekarang ini akan mempengaruhi kinerjaku beberapa bulan kedepan. Aku pikir, lebih baik aku bilang di awal dari pada aku mengecewakan Mbak Silvi di akhir." Keira memantapkan hati.
Mbak Silvi menegakkan duduknya, menyesap Moccachino Iced-nya sejenak lalu kembali bertopang dagu dengan mata yang lebih lembut menatap Keira.
"Baiklah, Kei. Bicaralah!" tantang Mbak Silvi.
"Aku hamil, Mbak!" ucap Keira tegas.
Meskipun Mbak Silvi sudah bisa menduganya tapi tetap saja wanita itu tersentak ketika mendengar kejujuran Keira.
"Apa kamu kabur dari keluargamu karena kehamilanmu?" tanya Mbak Silvi.
"Bukan, Mbak. Aku justru kabur dari orang yang menghamiliku." beber Keira.
"Apa cowo yang terakhir aku lihat nganter kamu ke toko itu yang menghamilimu?" tanya Mbak Silvi yang merujuk pada Vynt Dae-Ho.
"Bukan, Mbak. Yang nganter aku waktu itu sahabat baikku." jawab Keira sambil mengusap-usap bibir cangkir latte-nya.
"Lalu?" Mbak Silvi nampak mengernyitkan keningnya. "Jangan bilang kamu hamil sama suami orang. Nggak gitu kan, Kei?" Mbak Silvi memicingkan matanya tajam.
"Nggak, Mbak. Nggak gitu juga." jawab Keira lirih.
"Fyeuuhh, syukurlah kalau kamu bukan pelakor. Trus kenapa kamu kabur dari pria yang sudah menghamilimu? Apa dia berusaha menyakitimu dan calon bayimu?" Mbak Silvi yang awalnya enggan tahu kini jadi makin penasaran.
"Dia justru pengen bertanggung jawab ke aku." Keira jujur.
"Ya Ampuunnn, Keiraaaa. Kalau gitu ceritanya kenapa kamu sampe kabur dari dia? Kamu niihh ya....apa sih sebenarnya yang ada dipikiranmu???" pekik Mbak Silvi gemas.
__ADS_1
Bukannya tersinggung dengan respon yang diberikan Mbak Silvi, Keira malah tersenyum. Entah siapa lagi yang akan gemas dengan keputusannya untuk kabur dari Tyo. Memang terkesan egois, naif dan keras kepala tapi Keira tentu punya alasannya sendiri.
Lalu kemudian Keira mulai menceritakan segalanya pada Mbak Silvi. Bukan untuk mencari simpati ataupun hanya sekedar curhat pengisi waktu. Bukan, bukan itu tujuan Keira menceritakan semuanya kepada Mbak Silvi.
Keputusan Keira ini didasari antisipasinya akan masa depan. Mengingat dirinya yang seorang diri di kota asing ini, Keira merasa butuh seseorang yang tahu tentang keadaannya yang sebenarnya.
Dan menurut Keira, Mbak Silvi adalah orang yang paling tepat mengingat dirinya akan menjadi karyawan dari wanita itu yang secara otomatis, Keira akan menjadi tanggung jawab Mbak Silvi sebagai bosnya.
Untuk berjaga-jaga jika di masa depan terjadi sesuatu padanya atau bayinya, maka Mbak Silvi sudah tahu siapa yang harus dia hubungi.
Setelah mendengarkan cerita Keira, Mbak Silvi jadi termenung sendiri mengetahui bahwa ternyata gadis muda dihadapannya itu telah mengalami begitu banyak penderitaan yang tak pernah terpikirkan olehnya.
"Maafin Mbak ya, Kei. Karena selama ini udah nggak peka sama keadaanmu." Mbak Silvi meraih sebelah tangan Keira dan menggenggamnya.
Keira hanya mampu membalas perlakuan Mbak Silvi itu dengan seutas senyum. Jujur saja, perasaannya masih terpengaruhi oleh flashback kisah hidupnya yang baru saja ia beberkan pada calon bosnya itu.
Untungnya Keira masih mampu menahan air matanya agar tidak tumpah saat berkisah tadi, hingga tak sampai memperkeruh keadaan jadi mengharu biru.
Akan sangat memalukan tentunya mengingat mereka sedang berada di tempat umum meski keadaan di dalam Cafe masih belum terlalu ramai karena memang belum waktunya jam makan siang.
"Mbak turut berduka atas meninggalnya Argha. Mbak inget pernah ketemu dia beberapa kali waktu nganter kamu ke toko dan mbak yakin dia orang baik. Tapi mbak nggak pernah nyangka kalau dia bakalan meninggal se-tragis itu." ada gurat kesedihan yang terpancar nyata di raut wajah Mbak Silvi waktu mengatakannya.
"Aku sendiri juga nggak nyangka kalau jalan hidupku akan jadi serumit ini, Mbak." Keira tersenyum getir, membuat Mbak Silvi yang ada dihadapannya spontan berpindah tempat duduk disamping Keira lalu memeluk tubuh gadis itu erat-erat.
"Kamu sabar ya, Kei. Kamu yang kuat. Mbak akan bantu kamu semampu mbak." ucap Mbak Silvi tulus sambil mengusap-usap punggung Keira. Suara Mbak Silvi yang bergetar menyadarkan Keira akan kesungguhan wanita yang sedang memeluknya itu.
"Makasi ya, Mbak. Maaf kalau nantinya aku bakal banyak ngerepotin mbak." Keira membalas pelukan Mbak Silvi tak kalah erat.
***
Di dalam ruang kerjanya, Pak Ruslan nampak duduk di sofa tamu yang berada di tengah-tengah ruangan itu.
Di seberangnya, duduk Pak Agus Choir yang malam itu datang sesuai perintah Pak Ruslan untuk melaporkan hasil investigasinya terhadap Pak Zein Imran---Owner PT.PERMATA yang notabene juga ayah dari Keira Permata---gadis yang kini sedang mengandung calon cucunya.
Dan di tangannya, Pak Ruslan sedang membaca laporan hasil penyelidikan Pak Agus Choir beserta bukti-bukti yang menyertainya yang bisa diperoleh Pak Agus sejauh ini.
"Jadi benar, Keira Permata itu putri kandungnya Pak Zein Imran." Pak Ruslan menanyakan kepastian laporan Pak Agus.
"Benar Pak, Nona Keira adalah putri sulung Pak Zein Imran dari istri pertamanya. Bukti salinan akta lahir bahkan surat tanda lahir dari Rumah Sakit tempat Nona Keira dilahirkan pun terlampir, Pak." jelas Pak Agus.
Pak Ruslan nampak membalikkan halaman demi halaman dari satu bendel dokumen di tangannya itu hingga menemukan salinan bukti yang dimaksud. Kepalanya nampak manggut-manggut.
"Bagaimana dengan anak lelakinya?" tanya Pak Ruslan lagi.
"Anak laki-laki Pak Zein yang bernama Daffi adalah anak keduanya dari istri keduanya. Secara teknis, Pak Zein hanya memiliki dua anak dari dua istri yang berbeda. Tapi karena obsesinya memiliki anak lelaki untuk mewarisi perusahaannya, maka Pak Zein mendepak Nona Keira dari silsilah keluarganya." jelas Pak Agus lagi.
"Mendepak???" kening Pak Ruslan nampak berkerut tanda heran.
"Menurut sumber saya, agar di kemudian hari Nona Keira tidak dapat mengklaim hak waris atas PT. PERMATA, maka Nona Keira dikeluarkan dalam kartu keluarga Pak Zein. Dengan beberapa kompensasi yang telah disiapkannya." Pak Agus menambahkan.
"Kompensasi???" Pak Ruslan terlihat menutup dokumen laporan investigasi yang dipegangnya tadi lalu membantingnya perlahan di atas meja kayu dihadapannya. "Kompensasi macam apa yang diberikan pria itu atas hidup putrinya?"
"Sebuah apartemen dan deposito berjangka senilai lima ratus juta, Pak!" jawab Pak Agus cepat.
"HANYA ITU???" Pak Ruslan mendelik mendengar jawaban singkat Pak Agus barusan.
__ADS_1
"Iya, Pak. Semua salinan bukti dokumennya sudah ada disana." jawab Pak Agus dengan menunjuk laporan yang telah digeletakkan Pak Ruslan di atas meja kayu.
Pak Ruslan mengepalkan tangannya geram. Logika kebapakannya tak dapat menalar jalan pikiran Pak Zein yang dianggapnya tak punya hati dan akal sehat.
Bagaimana bisa dia menukar hidup putri kandungnya hanya dengan kompensasi murahan? Bagaimana bisa dia menilai segala kewajibannya sebagai ayah terhadap hidup putri kandungnya hanya dengan uang satu milyar? Benar-benar tak beradab, pikir Pak Ruslan.
Dan dirinya mungkin akan sama saja dengan pria tak berperasaan itu jika tidak segera merangkul Keira untuk masuk kedalam keluarganya. Ke dalam lindungannya. Dan dibawah kekuasaan Takhta Grup.
Kini dengan segala bukti-bukti yang telah dimilikinya, Pak Ruslan meyakini bahwa Keira adalah korban terlepas dari kesalahan yang telah dibuat putranya dan gadis itu hingga kini Keira harus mengandung calon cucunya. Calon pewaris Takhta Grup yang berikutnya.
"Apa kelemahan Zein Imran saat ini?" tanya Pak Ruslan setelah memantapkan hatinya untuk menerima kehadiran Keira Permata dalam keluarganya.
"Banyak, Pak!" jawab Pak Agus singkat yang langsung disambut seringai kepuasan dari Pak Ruslan.
"Sebutkan!" titah Pak Ruslan tak sabar.
Pak Agus lalu mulai menyebutkan satu per satu musibah yang sedang dialami Pak Zein Imran.
Mulai dari perusahaannya yang hampir koleps, penyelewangan dana oleh Ny.Rosa yang sedang terjerat hutang kepada rentenir hanya untuk membeli sebutir berlian, dan tentang anak lelaki kebanggaan Pak Zein---Daffi, yang kini sedang kecanduan game online dengan total tagihan hingga ratusan juta rupiah sampai akhirnya Daffi pun di D.O dari kampusnya.
"Hmmpphh....jadi karma sudah mulai menyapa pria itu." dengus Pak Ruslan sinis. "Kita pending dulu urusan kita dengan Pak Zein, biarkan karmanya bekerja sendiri. Tapi pantau terus kondisi PT. PERMATA, dan langsung kabari aku saat dia benar-benar jatuh." titah Pak Ruslan.
"Baik, Pak! Apa ada lagi, Pak?" tanya Pak Agus lagi.
"Siapkan tiket pesawat ke Jogja besok untuk Tyo dan siapkan juga beberapa anak buahmu untuk mendampingi Tyo mencari Keira disana."
"Baik, Siap laksanakan Pak!" jawab Pak Agus lugas.
***
Keesokan paginya, masih di Rumah Keluarga PRATAMA.
"Ayah manggil aku?" tanya Tyo pada Ayahnya setibanya ia di ruang makan tempat ayah dan ibunya yang sudah bersantap sarapan pagi bersama.
"Ini tiket pesawatmu untuk ke Jogja hari ini!" Pak Ruslan menyodorkan lembaran tiket pesawat kepada Tyo. "Segeralah bersiap-siap lalu jemput Nona Keira tercintamu itu dari sana, seret dia dan bawa langsung ke hadapan ayah dan ibu. Mengerti?" perintah Pak Ruslan pada Tyo.
Tyo menerima tiket pesawat dari tangan Ayahnya dengan wajah sumringah. "Baik, Ayah. Tyo sangat mengerti!" jawab Tyo tak kalah lugas dari jawaban Pak Agus Choir biasanya.
Tanpa bergabung di meja makan untuk sarapan bersama kedua orang tuanya lebih dulu, Tyo langsung berpamitan dengan mencium tangan kedua orang tuanya itu.
"Jangan diseret-seret Keiranya, Tyo. Kesian lagi hamil!" teriak Ny.Naina kemudian yang membuat Pak Ruslan langsung tersedak minumannya sendiri.
To Be Continue.....
.
.
.
.
.
*Enterpreneur
__ADS_1
adalah orang yang melakukan aktivitas wirausaha yang dicirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun manajemen operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.