Replacement Lover

Replacement Lover
BAPER (I)


__ADS_3

Tyo sedang di parkiran mobil apartemennya ketika ponselnya berdering dan menampilkan nama kontak Rizzi di layar.


Pria itu hendak ke kantornya sebentar untuk mengecek pekerjaan yang kemarin sempat terbengkalai karena sakitnya.


Dalam sekali sapuan jari, Tyo menerima panggilan telepon sahabatnya itu.


"Halo Bro, lo dimana?" Rizzi langsung bertanya begitu telponnya tersambung.


"Gue mau ngantor, kenapa?" balas Tyo tak kalah cepat.


"Tempat kerja Keira kebakaran, gue ama temen-temen Keira lagi on the way ke lokasi." jelas Rizzi.


DEG!


Kepala Tyo langsung blank mendengar informasi yang disampaikan Rizzi barusan. Namun tak lama hingga beberapa detik kemudian kesadarannya kembali lagi.


"Kirimin gue lokasinya! Gue kesana sekarang!" perintah Tyo dan langsung memutus sambungan telepon itu.


Tyo memutar tubuhnya dan berlari ke arah parkiran motor. Dia tidak jadi memakai mobil karena yakin motor pasti akan bisa membawanya tiba lebih cepat ke tempat Keira berada.


"Semoga kamu baik-baik aja, Kei! Kamu harus baik-baik aja." gumam Tyo penuh harap.


Masih di dalam mobilnya bersama Beth, Rizzi menyodorkan ponselnya ke arah gadis itu dengan sebelah tangan.


"Tolong kirimkan alamat toko tempat Keira kerja ke roomchat-nya Tyo." titah Rizzi.


Dengan tanggap Beth pun langsung menjalankan apa yang diminta Rizzi. Beth yang masih sesenggukan berusaha mengetik dengan cepat meski tangannya sedikit gemetar karena suasana hatinya yang sedang kalut.


"Kamu tenang ya Beth! Keira orang yang baik. Aku yakin dia pasti baik-baik aja." ucap Rizzi berusaha menenangkan gadis yang duduk disampingnya itu.


Beth hanya mengangguk mendengar kalimat Rizzi tanpa menjawabnya dengan suara.


Setelah mendapat kiriman alamat dari Rizzi dan memasang GPS, Tyo langsung melesat ke toko coklat tempat Keira bekerja. Hatinya ketar ketir membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis kesayangannya.


KESAYANGAN??? Tyo mengulang kata itu dalam pikirannya. Mungkin memang sudah sangat terlambat baginya untuk mencegah perasaannya pada Keira yang sudah terlanjur dalam, pikirnya.


Miris. Sangat miris mengingat perasaannya terhadap gadis itu mustahil akan berbalas mengingat status Keira yang tidak lain adalah kekasih Argha---adiknya sendiri.


Dikebutnya laju motor yang ditumpanginya menuju tempat Keira berada. Pikiran Tyo hanya fokus pada keselamatan Keira hingga tak lagi memikirkan keselamatan dirinya sendiri selama perjalanan.


Padahal kecepatan yang dicapainya kini sudah melebihi batas kecepatan wajar yang sesuai aturan lalu lintas.

__ADS_1


Beruntung sedang tidak ada polisi yang memergoki Tyo melaju sekencang itu. Hanya beberapa pengguna jalan lain yang menganggapnya sebagai salah satu anak jalanan yang biasanya pecandu adrenalin.


Setibanya di lokasi kejadian, Tyo langsung memarkirkan motornya asal-asalan. Dilihatnya banyak orang berkerumun di sekitar toko yang terbakar dengan jarak yang cukup aman.


Suasana di sana sangat kacau. Ada yg menangis meraung-raung, ada juga yg berteriak-teriak. Banyak yang meminta tolong namun sedikit yang mau menolong.


Orang-orang hanya mengandalkan petugas pemadam yang memang bertugas memadamkan kebakaran dan menolong para korban.


Sebagian besar dari mereka hanya menonton sambil justru mengabadikan momen nahas itu dengan ponsel masing-masing. Seakan naluri kemanusiaan mereka sudah tertutup rapat oleh kabut yang disebut apatisme.


Asap tebal menghitam masih membumbung diatas bangunan toko yang terbakar, pertanda masih ada api yang berkobar didalamnya.


Beberapa mobil pemadam dan mobil polisi terlihat di lokasi kejadian.


Tyo setengah berlari mendekati kerumunan itu. Dengan sedikit tenaga Tyo menyibak orang-orang yang kebanyakan hanya berkumpul didorong rasa penasaran ingin melihat sebuah tragedi kebakaran.


Tubuhnya menegang seketika melihat kobaran api yang masih sangat besar dibagian belakang bangunan toko.


Para pemadam kebakaran bahu membahu bekerja sama melakukan tugas mereka. Beberapa berusaha memadamkan api dengan selang pemadam.


Beberapa lainnya terlihat berpencar di sekitar lokasi bangunan memeriksa kalau-kalau ada korban yang terlewatkan. Bahkan ada pula petugas pemadam yang masuk kedalam bangunan yang terbakar itu.


"Cepat-cepat, masih ada tiga orang yang belum dievakuasi di lantai dua!!!" teriak salah satu petugas pemadam dari jendela lantai dua bangunan toko tersebut.


"Maaf, anda tidak boleh melewati garis ini!" cegah polisi itu.


"Tapi saya kerabat dari salah satu pekerja di toko itu pak."


"Kalau begitu cepat masuk! Tanyakan pada orang yang disana, kerabat anda sudah keluar atau masih ada didalam!" perintah petugas polisi itu dengan menunjuk seseorang berbaju putih biru di salah satu sudut trotoar jalan.


Dengan cepat Tyo melintasi garis polisi dan langsung berlari ke arah orang yang ditunjuk oleh polisi tadi.


"Permisi, Keira dimana?" tanya Tyo to the point.


"Maaf mas, mbak Keira-nya masih terjebak di lantai dua." jawab bapak-bapak dengan kepala botak yang ternyata seorang security toko itu.


Informasi yang diberikan security tadi langsung membuat Tyo semakin panik. Tubuhnya gemetar mendengar fakta bahwa nasib Keira masih dipertaruhkan di dalam sana.


Perlahan namun pasti, insting Tyo membawa langkah kakinya mendekati bangunan nahas itu. Hiruk pikuk sekitar tak lagi dihiraukannya. Pikiran Tyo fokus pada nasib Keira.


Dan ketika Tyo melihat seorang gadis yang sedang ditolong petugas pemadam untuk menuruni tangga darurat yang terhubung pada mobil Damkar, Tyo pun makin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"KEIRA!!" panggil Tyo pada gadis itu.


Keira terlihat menoleh mendengar seseorang memanggil namanya. Dan ketika Keira menemukan Tyo berdiri di bawah sana seketika dadanya terasa nyeri.


Hatinya lega bercampur terharu melihat kehadiran Tyo di bawah sana. Benih-benih air mata mulai mengembang di sudut mata Keira. Namun sekuat tenaga ditahannya agar air mata itu tidak jatuh.


Keira sadar bahwa sekarang ini bukan saatnya untuk lemah. Saat ini dirinya harus kuat agar bisa selamat dari kobaran api yang tak juga kunjung padam sedari tadi.


Tyo berlari ke arah mobil Damkar yang tangganya dipakai untuk menolong Keira. Keira yang gemetaran, turun perlahan-lahan dibantu oleh dua orang petugas pemadam.


Satu orang memeganginya dari bibir jendela lantai dua, satu orang lagi berjaga di dasar tangga yang ada di bagian belakang atas mobil Damkar.


Ketika gadis itu sudah tiba diatas mobil Damkar, Tyo merentangkan kedua lengan kekarnya yang masih berbalut jaket hitam tebal untuk bersiap menangkap Keira.


"Loncat, Kei. Jangan takut! Aku tangkap!" teriak Tyo.


"Tapi aku takut, Tyo." Keira menjawab dengan suara bergetar.


Keira menatap ngeri ke arah bawah karena mobil Damkar itu memang cukup tinggi.


"Aku disini, Keira. Percaya sama aku! Aku pasti bisa nangkep kamu!" Tyo berusaha meyakinkan Keira. "Tutup mata kamu, Kei. Terus loncat!" Tyo menyarankan.


Keira mengikuti saran Tyo. Ditutupnya kedua matanya lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya meloncat dari atas mobil besar berwarna merah menyala itu.


Tyo langsung menangkap tubuh gadis itu dan memeluknya erat. Pelukan yang refleks ia berikan karena hatinya merasa lega mengetahui bahwa gadis itu selamat. Gadis itu baik-baik saja.


"Terima kasih, Tuhan." Tyo membatin sambil menghirup pundak gadis yang sedang dipeluknya itu.


Keira merinding sekaligus tercengang mendapati dirinya berada dalam pelukan Tyo.


Padahal batinnya masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang Tyo bisa ada disini, sementara sebelum-sebelumnya dirinya sama sekali tidak pernah membahas apapun tentang pekerjaannya dengan pria yang masih erat memeluknya ini.


To Be Continue....


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2