Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : PERTEMUAN


__ADS_3

.


.


.


'JODOH....


terkadang muncul dengan cara tidak terduga. Dia yang tak pernah kita pertimbangkan, ternyata justru yang ditakdirkan.'


***


Kisah sahabat Keira, Beth serta Vynt yang berdarah Arab ini bermula di malam pernikahan Tyo dan Keira,


Said Najib, pemuda yang hendak pulang dari resepsi pernikahan sahabatnya—Keira dan Tyo itu terlihat luar biasa kecewa serta lesu. Bisikan yang didengarnya dari Keira tadi—saat ia berpamitan untuk pulang—terdengar begitu menyakitkan di telinganya. Bahkan sampai menusuk ke ulu hatinya.


Keira yang secara bisik-bisik namun dengan gamblang membeberkan fakta bahwa Andrea—wanita cantik yang sedari tadi ngobrol asik dengannya selama pesta berlangsung, adalah seorang transgender.


Bagai tersambar petir di malam hari yang cerah. Tanpa hujan maupun badai yang menyertai. Membuat fakta yang diungkapkan oleh Keira tak hanya terasa begitu nyelekit di hati Said, tetapi juga cukup membuat telinganya panas.


Said selayaknya kumbang yang telah menemukan bunganya terpaksa harus menelan pil pahit yang disebut fakta. Fakta bahwa bunga yang baru saja ditemukannya itu nyatanya adalah seekor kumbang lainnya yang telah bermetamorfosis.


Namun tetap saja, jiwa lelaki normal Said langsung memaksanya untuk mencoret nama Andrea dari daftar calon gebetannya. Hal itu tentu saja membuat daftar yang tadinya baru terisi satu nama, terpaksa harus ia relakan kembali kosong melompong.


Dengan langkah gontai pemuda itu keluar dari gedung hotel tempat diselenggarakannya pesta pernikahan sahabatnya. Karena berjalan sambil terhuyung bak orang mabuk sembari menundukkan kepalanya, Said tak melihat ketika ada seorang gadis yang tengah berjalan ke arahnya.


Gadis itu berjalan tergesa-gesa dan juga sedang tidak memperhatikan jalan di depannya karena terlalu sibuk mencari-cari sesuatu dari dalam tas ransel yang didekapnya.


Hingga akhirnya, tabrakan di antara keduanya pun tak terelakkan. Tanpa sengaja kedua tubuh itu saling menubruk, tapi karena tubuh si gadis lebih ringan ketimbang tubuh Said yang meski kurus namun tetaplah seorang pria, maka tak heran jika gadis itu pun terpental setelah tubuhnya membentur tubuh pemuda itu.


Said refleks mengangkat kepalanya setelah merasakan benturan yang cukup keras itu. Saat itulah ia melihat seorang gadis berambut panjang keriting dengan seragam putih hitam sedang oleng ke belakang akibat bertabrakan dengannya.


Saking kerasnya tabrakan itu, sampai-sampai tubuh si gadis terjerembab jatuh dengan bokong yang lebih dulu mendarat di atas tanah. Said yang kaget dan merasa bersalah pun segera membantu gadis itu berdiri sambil berjongkok dan berteriak.


"ASTAGHFIRULLAH, maaf-maaf! Kamu nggak apa-apa?" pekiknya khawatir.

__ADS_1


Gadis itu meringis sambil bangkit berdiri dengan bantuan Said. Setelah tubuhnya tegak kembali, sebelah tangan gadis itu terus memegangi bokongnya yang sakit.


Said semakin khawatir dibuatnya. Dan dengan tulus ia menanyakan keadaan gadis itu. "Ka-kamu, terluka? Ada yang sakit?"


"Enggak apa-apa kok! Cuman sakit sedikit!" untungnya gadis itu tidak marah meski dirinya yang lebih dirugikan atas insiden tersebut.


Tak hanya merasakan sakit pada bokongnya, tapi rok seragam yang dikenakannya pun jadi sobek akibat bergesekan dengan paving saat terjatuh tadi. Said yang menyadari rok gadis itu terkoyak langsung mendelik sambil menunjuk.


"I-itu! Rokmu sobek!" ungkapnya dengan panik. Wajah Said memucat seketika. Rasa bersalahnya semakin tinggi.


Gadis itu terkejut mengetahui roknya telah sobek. Dengan cepat ia menutupi bagian yang terkoyak itu menggunakan tas ranselnya. Wajah gadis itu tak kalah pucatnya dengan wajah Said, sebab ia mendadak bingung bagaimana dirinya akan pulang menggunakan bus kota jika roknya sobek begitu. Orang-orang pasti akan memperhatikannya.


Said langsung membungkukkan badannya untuk meminta maaf sebesar-besarnya kepada si gadis. "Maaf ya! Maaf bangeettt, gara-gara aku rokmu jadi begitu," ucapnya panik.


"Bukan! Bukan salahmu kok. Aku juga buru-buru tadi jalannya dan enggak lihat depan karena sibuk ngublek-ngublek isi tasku," sergah si gadis tak ingin menyalahkan Said.


"Memangnya kamu mencari sesuatu?" tanya Said kepo. Berharap ada yang bisa ia lakukan untuk menebus 'dosa'nya pada gadis itu.


"Amplop honorku. Tadi sepertinya sudah aku masukkan di dalam tas tapi tiba-tiba hilang," jawab gadis itu tiba-tiba murung.


"Mau kubantu cari?" Said menawarkan bantuannya.


Said mengenali wanita itu sebagai pemilik Partyplanner yang bertanggung jawab pada pesta pernikahan Keira dan Tyo malam ini—Mbak Devy. Ia pun bertanya-tanya, apa hubungan wanita itu dengan gadis di hadapannya ini.


"Ini lho, honormu tadi jatuh di ruang makeup pengantin. Untung ada namanya, jadi aku langsung tahu ini punya siapa. Hati-hati dong, Non! Ini kan penting banget buat kamu," Mbak Devy mengetuk kepala Milla dengan amplop putih di tangannya.


Milla meringis sambil memutar bola matanya ke atas, melirik amplop itu, lalu meraihnya. "Makasih, Mbak Dev! Aku pikir udah tak masukin ke tasku, nggak tahunya malah terjatuh. Aku takut hilang makanya aku langsung panik dan buru-buru balik ke sini," beber Milla.


Mbak Devy nampak geleng-geleng sambil berkacak pinggang mendengar pengakuan gadis itu. Namun, sedetik kemudian ia menyadari keberadaan Said di tengah-tengah mereka. "Kamu? Bukannya temannya Keira ya?" tanya Mbak Devy pada Said.


"Iya, Mbak! Aku Said, temannya Keira." Said membenarkan tebakan wanita itu.


"Trus? Ngapain kamu di sini sama Milla? Kalian saling kenal?" tanyanya heran.


"Oh, enggak kok, Mbak!" bantah Milla cepat sambil melambai-lambaikan sebelah tangannya, sementara tangan satunya masih memegangi ranselnya yang menutupi sobekan di roknya.

__ADS_1


"Iya, kami belum kenalan! Cuman tadi ada insiden kecil. Aku sama dia tabrakan trus dia jatuh sampe roknya koyak," jelas Said sambil garuk-garuk kepala karena merasa bersalah.


Mbak Devy melipat kedua tangannya di depan dada sambil melirik ke arah tas ransel Milla yang menutupi roknya. "Kamu nggak bawa jaket atau cardigan gitu buat nutupin rokmu?" tanya wanita itu pada Milla.


Milla menggeleng pelan sambil tersenyum canggung. Melihat ekspresi hopeless di wajah Milla, Mbak Devy ganti melirik ke arah Said yang masih berdiri kaku di sebelahnya. "Kamu? Kesini bawa kendaraan?" tanyanya pada Said.


Said mengangguk cepat, "Aku bawa mobil, Mbak!" jawabnya kikuk.


Mbak Devy tersenyum puas. "Kalau gitu aku minta tolong kamu antar gadis ini pulang, bisa? Walaupun kejadiannya nggak sengaja tapi karena tabrakan sama kamu kan roknya Milla jadi begitu. So, bisa bantu dia?" Mbak Devy memiringkan kepalanya saat menatap ke arah Said yang sempat bengong mendengar permintaan wanita itu.


"Oh, bisa-bisa. Bisa banget!" jawab Said antusias. Memang, sebelum wanita itu memintanya, ia sendiri pun sudah punya niat untuk menawarkan bantuannya terhadap gadis bernama Milla itu.


"Tapi kamu bisa dipercayakan?" tanya Mbak Devy lagi kali ini dengan tatapan mata curiga yang ia tujukan ke arah Said.


Said merasa canggung menerima tatapan itu, "Bi-bisa dong, Mbak! Aku jamin, Milla bakalan pulang dengan selamat!" janji Said dengan lugas.


Mbak Devy mengangguk, "Oke! Kalau gitu kalian hati-hati pulangnya. Terima kasih sebelumnya buat kamu, Said. Aku tinggal dulu! Bye!" dan wanita itupun langsung berlalu setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


Setelah ditinggalkan Mbak Devy, mendadak Said dan Milla bertingkah canggung di hadapan satu sama lain. Milla melipat bibirnya ke dalam mulut karena tidak tahu harus berkata apa. Sementara Said justru sibuk memperhatikan penampilan gadis itu dari atas hingga ke bawah lalu kembali lagi ke atas.


"Kamu...karyawannya Mbak Devy?" tanya Said sambil tersenyum canggung.


"Sebelum itu mungkin lebih baik kita kenalan dulu deh!" balas Milla tanpa menjawab pertanyaan Said sebelumnya.


"Ooh, gitu ya? Heheee...sorry! Aku rasa kamu bener," lagi-lagi Said menggaruk bagian belakang kepalanya.


Milla menyodorkan sebelah tangannya yang bebas sembari memperkenalkan diri. "Aku Millana Risty. Biasa dipanggil Milla. Aku part timernya Mbak Devy di acara malam ini," ucap gadis itu.


Said menyambut uluran tangan Milla dan menjabatnya dengan ramah, "Aku Said Najib. Aku salah satu sahabat dari pengantin wanita malam ini," balas Said.


Setelah itu keduanya lantas tersenyum satu sama lain. Bagi Said dan Milla, pertemuan mereka malam itu mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, tanpa mereka sadari, kisah mereka berdua selanjutnya, telah tercatat di dalam buku skenario milik sang penulis.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue...


__ADS_2