Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : LANGKAH AWAL


__ADS_3

.


.


.


Esoknya, kira-kira tiga puluh menit sebelum Beth berangkat kerja, sesuai jadwal yang telah diinfokan Vynt via chat semalam, Rizzi sudah bertandang ke rumah Beth untuk menjemput gadis itu untuk kemudian mengantarnya ke DAE-HO Trip. Setidaknya begitulah rencana Rizzi pagi itu.


Berbeda dengan kedatangannya semalam yang tanpa persiapan, kali ini ia datang dengan persiapan yang sangat matang baik secara mental maupun lain-lain. Karena bagi Rizzi, ini adalah langkah awal untuk membawa hubungannya dengan Beth ke arah yang lebih serius.


Setelah sekali lagi mengaca lewat spion tengah mobilnya, Rizzi menarik nafas panjangnya satu kali lalu menganggukkan kepala dengan mantap. Ia kemudian turun dari mobilnya dan berjalan dengan penuh percaya diri ke depan pagar rumah Beth di mana tombol bel berada.


Rizzi lebih dulu menghirup udara pagi kuat-kuat. Mengisi paru-parunya dengan kesejukan yang melegakan sebelum akhirnya ia keluarkan kembali dalam satu kali hembusan.


Setelah merasa lebih tenang, Rizzi lalu menekan tombol bel di balik pagar itu dengan hati-hati.


Ting...Tong...


Ting...Tong...


Saking semangatnya, Rizzi sampai refleks memencet bel dua kali berturut-turut.


"Yaa, sebentaarrr!!!"


Sebuah suara dari dalam rumah memberi respon pada panggilan bel yang dilakukan oleh Rizzi.


Tak lama, lalu muncullah seorang wanita paruh baya dengan rambut panjang bergelombang yang nampak ramah. Rizzi tidak ingat pernah bertemu dengannya ketika berkunjung ke rumah Beth selama ini. Ia mundur selangkah demi memberi ruang di antara dirinya dan wanita itu.


"Siapa?" tanya wanita itu.


"Saya Rizzi, temannya Beth, Tante!" jawab Rizzi sopan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita itu. "Saya mau menjemput Beth untuk berangkat kerja!"


Wanita itu membalas uluran tangan Rizzi sambil menyebutkan namanya sendiri, "Maria! Ibunya Beth! Anda teman apanya putri saya? Teman kerja?" ujar wanita yang ternyata ibunya Beth itu.


"Ng, bukan!" seketika Rizzi kebingungan mendeskripsikan hubungannya dengan Beth. Ia melipat bibirnya ke dalam mulut sambil garuk-garuk kepalanya yang tiba-tiba saja menjadi gatal.


"Lalu??? Saya tidak ingat pernah bertemu anda sebelumnya!" Ibunya Beth memiringkan kepalanya guna memindai sosok Rizzi dari atas kepala hingga ke kaki.


"Anu, saya sahabatnya suami Keira! Saya kenal Beth dari sejak Keira dan suaminya belum menikah. Saya juga yang kemarin menemani Beth pulang dari Korea setelah menghadiri pernikahan Vynt Dae-Ho."


Begitulah akhirnya cara Rizzi menjabarkan hubungannya dengan Beth di hadapan ibu gadis itu. Ia kembali melipat bibirnya setelah menyelesaikan jawabannya.


Sementara Ny.Maria nampak memicingkan matanya dengan curiga. "Saya kenal baik dengan Keira, tapi saya belum kenal dengan suaminya. Yang saya kenal hanya mendiang Argha, kekasih Keira yang katanya adik dari suami Keira yang sekarang!"


"Betul, Tante! Saya adalah teman sejak kecil dari mendiang Argha Pratama dan kakaknya, Tyo Pratama yang sekarang ini menjadi suami Keira sekaligus ayah dari bayi Keira Permata!" jelas Rizzi.


Setelah mendengar penjelasan Rizzi yang cukup rinci, Ny.Maria tak lagi memicingkan matanya.Tapi kini ekspresi wajahnya malah tidak terbaca. Rizzi yang awalnya merasa siap mental menghadapi Beth hari ini kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi begitu gugup.


Pertemuan pertamanya dengan ibunda Beth pagi ini sama sekali di luar prediksinya. Pasalnya selama ini, ia sama sekali tidak pernah berkesempatan bertemu dengan Ny.Maria meski sudah beberapa kali dirinya datang ke rumah Beth dengan berbagai alasan. Seolah wanita itu memang jarang di rumah atau bahkan tidak tinggal di sana.


"Baiklah, silahkan masuk!" ucap Ny.Maria pada akhirnya.


Rizzi sedikit bernafas lega mendengar ajakan Ny.Maria. Sedikit banyak, itu artinya, ibunda Beth mempercayainya sebagai teman yang memang mengenal seorang Bethsa Putry untuk waktu yang cukup lama.


"Karena kakinya masih sedikit bengkat, jadi persiapannya sebelum berangkat kerja sedikit lebih lama dari biasanya. Harap maklum ya!" wajah Ny.Maria kembali ramah.


Wanita itu lalu membukakan pintu depan rumahnya untuk Rizzi namun Rizzi dengan sopan malah meminta Ny.Maria untuk masuk lebih dulu dengan gerakan tangan mempersilahkan.


Ny.Maria nampak tersenyum menerima perlakuan sopan dari Rizzi. Ia lalu masuk ke rumahnya sendiri dan diikuti oleh Rizzi di belakangnya yang kemudian menutup kembali pintu depan rumah Beth itu.


"Karena itulah saya berencana mengantarnya hari ini ke kantornya, Tante Maria!"


"Tapi sepertinya saya dengar tadi Beth sudah janjian dengan Nak Said!"


"Beth memang belum tahu kalau saya ada rencana mengantarnya bekerja hari ini, Tan. Ini inisiatif saya sendiri, tapi juga amanat dari Vynt Dae-Ho sebagai atasan Beth." jawabnya dengan lebih tenang.


Ny. Maria manggut-manggut, "Silahkan duduk dulu kalau begitu, Nak Rizzi! Akan tante panggilkan Beth!"


Selang beberapa menit, Ny.Maria muncul kembali bersama Beth.


"Lho, Rizzi! Yang aku tungguin si Said kok jadi kamu yang datang?" tanya Beth heran.


"Pagi, Non!" sapa Rizzi dengan ramah.


"Kata mamaku, kamu yang mau nganterin aku berangkat kerja?" tanya Beth lagi sambil duduk di hadapan Rizzi sementara Ny.Maria nampak masuk ke dapurnya.


"Iya." jawab Rizzi singkat seraya memamerkan senyum manisnya.


"Tapi aku udah terlanjur janjian sama Said!" balas Beth jujur.

__ADS_1


"Said enggak jadi nganter kamu, tapi aku!"


"Kok bisa gitu?!" kening Beth mengkerut.


Rizzi mendesah pelan. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon Vynt.


📱RIZZI RIYANT


Halo, Vynt. Beth kayanya enggak percaya nih kalo gue yang lo kasih amanat buat nganter dia kerja.


📱VYNT DAE-HO


Mana anaknya? Sini gue yang ngomong langsung ke dia!


📱RIZZI RIYANT


Oke, wait!


"Niihh, Vynt mau ngomong sama kamu!" Rizzi menyodorkan ponselnya pada Beth yang melongo.


Ragu-ragu Beth meraih ponsel itu lalu meletakkannya pada salah satu daun telinganya. Sementara itu, Ny.Maria tampak membawakan secangkir teh untuk Rizzi.


Rizzi mengucapkan terima kasihnya dengan singkat pada ibunda Beth itu sebelum Ny.Maria kembali masuk. Rizzi juga langsung meminum secara perlahan teh yang baru saja disuguhkan kepadanya sembari menatap lurus ke arah Beth yang sedang bicara pada Vynt via ponselnya.


"Halo? Vynt?" ucap Beth.


📱VYNT DAE-HO


Hoii, Beth! Said udah gue larang buat jemput lo. Sebagai gantinya lo harus ke kantor bareng Rizzi! Kalau enggak, sekalian aja elo nggak usah ngantor. Gue bisa banget ngeliburin lo sampe kaki lo sembuh dan gue suruh Mbak Haning buat gantiin tugas lo ngehandle tiket grup Singapura itu. Gimana???


Beth tertegun sesaat, namun ancaman rupanya sangat ampuh terhadap gadis itu. Beth memang begitu ingin menyelesaikan sendiri bookingan tiket grup Singapura itu karena selain ini adalah kesempatan pertamanya menghandle tiket grup, insentif yang dijanjikan perusahaan pun tidak main-main.


Beth pun langsung luluh dengan mudah pada ancaman Vynt tadi mengingat rencana yang sudah di buatnya setelah dirinya mendapat insentif dari tiket grup itu.


"Oke! Gue akan berangkat sama Rizzi sesuai permintaan lo!" jawabnya kemudian.


📱VYNT DAE-HO


Good girl!!! Itu baru sahabat gue! Balikin telponnya ke Rizzi, gue mau ngomong lagi sama dia!


Meski sadar Vynt tidak dapat melihat gerakannya, namun Beth tetap menganggukkan kepala secara refleks. Ia lalu menyodorkan kembali ponsel Rizzi kepada pemiliknya.


📱RIZZI RIYANT


📱VYNT DAE-HO


Doi udah setuju buat berangkat bareng lo, man! Selanjutnya tinggal usaha lo aja memanfaatin waktu yang ada!


📱RIZZI RIYANT


Okey, Vynt. Thanks!


📱VYNT DAE-HO


Siipp!!!


"Jadi? Kita berangkat sekarang?" tanya Rizzi pada Beth setelah ia menyimpan kembali ponselnya.


Beth mengangguk pasrah. Ia lalu memanggil ibunya untuk berpamitan. Ny. Maria mengantar keduanya hingga ke depan pagar. Matanya tak lepas dari gerak gerik Rizzi ketika membantu Beth berjalan perlahan hingga masuk ke dalam mobilnya.


"Tante, saya permisi mengantar Beth dulu! Terima kasih tehnya!" ucap Rizzi sebelum dirinya sendiri masuk ke dalam mobil.


"Tante titip Beth ya! Hati-hati di jalan!" balas Ny.Maria.


"Baik, Tan!" jawab Rizzi dengan lugas.


"Aku berangkat dulu, Ma!" pamit Beth sekali lagi ketika Rizzi sudah mulai menyalakan mesin mobilnya.


Ny.Maria hanya mengangguk singkat, meski begitu, insting keibuannya sudah dapat menangkap sinyal bahwa putrinya dan lelaki itu memiliki ketertarikan satu sama lain.


Namun menilai bagaimana Rizzi bersikap di hadapannya sejak awal. Diam-diam, Ny. Maria sudah memberikan poin plus terhadap Rizzi bahkan sebelum ibunda Beth itu tahu siapa Rizzi Riyant itu sebenarnya.


***


@Rumah Keluarga Digdaya,


Sementara itu...di rumah keluarga Rizzi. Setelah sang kepala keluarga alias Pak Tirta Digdaya berangkat ke kantornya, para anak serta istrinya mulai bergosip tentang putra bungsu dalam keluarga mereka yaitu Rizzi Riyant.


Meski menemani putra putrinya sarapan di ruang makan, tapi Ny.Rukmini hanya duduk di kursi tengah yang biasanya diduduki sang suami sembari menikmati teh chamomile-nya. Sebab ia sendiri sudah sarapan bersama suaminya tadi.

__ADS_1


"Jadi salah satu dari kalian sama sekali tidak ada yang tahu kelakuan Rizzi akhir-akhir ini?" tanya Ny.Rukmini pada tiga orang yang duduk semeja dengannya.


Dan ketiganya lalu menggeleng dengan kompak.


"Terakhir ketemu aku sih pas sebelum berangkat ke Korea itu, Mi. Aku minta oleh-oleh tapi kata dia enggak mungkin sempet belanja-belanja soalnya enggak lama-lama di sananya!" beber Rozmyta. "Tapi aku enggak tanya sih dia mau apa ke Korea. Emang ngapain sih dia ke sana, Mi?" tanya Rozmyta pada Maminya.


"Setahu Mami sih, menghadiri resepsi pernikahan temennya." jawab Ny.Rukmini dengan bertopang dagu.


"Iya, Mi. Pernikahannya Vynt Dae-Ho. Anak tunggalnya pemilik Dae-Ho Trip." jawab Sofia---Istri dari Reinka Sakti, kakak pertama Rizzi.


"Lho kok kamu tahu?" tanya Ny.Rukmini.


"Mbak tau dari mana?" Rozmyta juga ikut penasaran.


Sedangkan Reinka yang notabene suami Sofia sendiri tak berkata apapun. Pria itu hanya langsung menoleh ke arah istrinya.


"Karena keluargaku kan member VVIP di Dae-Ho Trip jadi orang tuaku diundang waktu resepsi pernikahan Vynt Dae-Ho yang digelar di sini. Dan waktu acara itu, mereka ketemu sama Rizzi yang ngaku temenan sama kedua pengantinnya. Jadi enggak menutup kemungkinan kalau Rizzi juga diundang di resepsi yang di Korea, soalnya keluarga Dae-Ho memang mengadakan resepsi di dua negara." jelas Sofia.


"Hmmm, panteesss!" sahut Rozmyta lalu memasukkan sepotong roti bakar dengan selai sarikaya ke dalam mulutnya.


Sedangkan Reinka dan Ny.Rukmini tampak hanya manggut-manggut. Mereka tidak tahu menahu tentang kabar itu sebab jaringan bisnis maupun hubungan sosial keduanya sama sekali tidak ada kaitannya dengan keluarga Dae-Ho.


"Naahhh, sejak pulang dari Korea itu dia jadi murung. Tiap hari badmood. Mami pikir awalnya juga patah hati kayak biasanya. Tapi ini kok berlangsung lebih lama dari biasanya. Mami jadi takut...." Ny.Rukmini menggantungkan kalimatnya.


Ketiga orang yang ada di meja itu lantas menghentikan kegiatan sarapan mereka demi memfokuskan diri ke arah sang Mami.


"Takut apaan sih, Mi??? Jangan bikin parno deh!!!" rutuk Rozmyta.


Reinka dan istrinya kompak mengangguk cepat mendengar omelan anak kedua di keluarga itu.


"Mami takuuuuttt....kalau Rizzi...." Ny.Rukmini kembali merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Iihhh, apaan sih, Mi! Bikin gemes aja!!!" kali ini Rozmyta sampai benar-benar meletakkan kembali potongan roti bakar yang hampir dilahapnya ke atas piring.


Nafsu makannya menguap sudah setelah melihat kegundahan pada raut wajah sang Mami. Sofia pun mengikuti tingkah sang adik ipar. Ia juga sudah melepaskan pegangannya pada sendok makannya bahkan telah selesai mengelap mulutnya dengan napkin. Pertanda bahwa wanita itu tidak akan meneruskan sarapannya lagi.


Berbeda dengan sang suami yang masih tenang dan melanjutkan acara sarapannya dengan elegan.


"Mami takut, Rizzi kena Corona selama di Korea!" akhirnya Ny.Rukmini menyelesaikan kalimatnya.


"HAAAHHH, Serius, Mi?????" pekik Rozmyta dan Sofia dengan kompak.


Sedangkan Reinka pun kali ini tidak bisa tidak cuek dengan ucapan sang ibu. Ia otomatis melongo sama seperti istri dan adik perempuannya, hanya saja tanpa berteriak mengikuti keduanya.


"Baru dugaan Mami aja siihhh!!!" imbuh Ny.Rukmini.


"Kenapa Mami menduganya gitu? Emangnya Rizzi pulang dari Korea langsung demam? Batuk-batuk? Keringetan dingin? Pilek? Ngeluh pusing atau sesak nafas barangkali?" cecar Rozmyta kepada sang Mami.


"Enggak sih...cuman pucet sama lesu aja! Kayak banyak pikiran gitu deh!" jawab sang Mami.


"Yaelah Mi, ngagetin aja!!! Kalo cuman begitu mah, fix patah hati itu mah!" tebak Rozmyta sotoy.


Namun kakak lelaki dan kakak iparnya nampak setuju dengan pendapatnya. Mereka pun kompak manggut-manggut.


"Iyaa, Mami juga sempet mikir gitu juga. Tapi ini enggak kaya biasanya. Ini durasi patah hatinya lebih lama!" balas Ny.Rukmini tak mau kalah.


"Atau jangan-jangan...." kini ganti Sofia yang membuat orang-orang di meja itu penasaran.


"Jangan-jangan apa???" Ny.Rukmini menoleh pada sang menantu yang duduk di samping putra tertuanya.


Rozmyta dan Reinka pun tampak menatap ke arah menantu pertama keluarga itu dengan serius.


"Jangan-jangan Rizzi naksir pengantin wanitanya, tapi karena keduluan temennya jadi dia ngalah. Tapi akhirnya patah hati berat setelah ngeliat wanita itu dan Vynt Dae-Ho menikah. Soalnya denger-denger, pengantin wanitanya cantik banget siihh." ungkap Sofia.


Sontak Ny.Rukmini dan kedua anaknya terdiam setelah mendengar tebakan Sofia yang bisa jadi benar itu. Sebab mereka sekeluarga masih belum tahu, siapa sebenarnya yang ada di dalam hati Rizzi.


"Ya ampuunn, kalau bener begitu. Kesian bangeett anak Mami! Pantesan jadi galau bin baper berhari-hari, masuk akal sih kalau emang kejadiannya begitu." Ny.Rukmini langsung merasa iba pada putra bungsunya.


"Gini aja! Supaya clear ini masalahnya sebenernya apa, biar Roz yang nyuruh orang buat selidikin apa yang sebenernya terjadi ama si Rizzi. Gimana?" Rozmyta menatap serius pada keluarganya.


"Aku setuju sama Roz!" jawab Sofia cepat. Kita enggak bisa cuman nebak-nebak gini, kesian Rizzi kalau emang dia patah hati akut begitu. Harus buruan diobatin sebelum kronis." tambahnya.


"Ya udah, Roz. Kamu urus masalah penyelidikan Rizzi. Secepatnya ya! Mami enggak tega ngeliat adikmu terus-terusan begitu!" ujar sang Mami.


Dan Reinka hanya memberikan jempolnya sebagai tanda persetujuan atas hasil akhir dari percakapan keluarga mereka pagi itu.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue....


__ADS_2