Replacement Lover

Replacement Lover
Vynt Story : PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Fady berjalan pelan. Tanpa sadar mengikuti langkah dua orang pria yang berjalan beberapa meter di depannya. Sepatu pantofelnya yang tanpa heels membantunya melangkah tanpa menghasilkan suara.


Dengan hati-hati Fady mengintai Mr. Seo dan Vynt yang kini tengah berbincang akrab di balkon lantai sembilan. Saking seriusnya memperhatikan dua pria tadi, Fady sampai tidak sadar jika seseorang, sejak beberapa saat lalu, sedang mengikutinya dan memperhatikan gerak geriknya yang mencurigakan.


"Yo, Miss Fady! Apa yang kau lakukan di sini dengan mengendap-endap begitu?"


Tiba-tiba saja Miss Marida muncul tanpa peringatan dan langsung menepok punggung Fady dengan keras. Untungnya, suara yang dihasilkan wanita itu tidak sampai terdengar hingga ke balkon di mana Mr. Seo dan Vynt sedang berada, karena kedua pria itu tak tampak merasa terganggu.


Fady yang otomatis terjingkat langsung memegangi dadanya yang nyaris jantungan. Ia langsung menarik lengan Marida dan segera menyeretnya menuju lorong toilet di lantai itu, sebelum dua pria yang diintainya tadi menyadari keberadaannya.


"Ya ampun, Marida! Kamu mengagetkanku tau" rutuknya pada Marida yang langsung berkacak pinggang setelah diseret paksa oleh Fady.


"Memangnya kau sedang apa di sana tadi, hmmm?" tanya Marida dengan tatapan mata penuh selidik. Mata hijau mudanya memicing tajam.


"Aku sedang mencari anak magang di Timku dan ketika aku melihatnya sedang berbincang dengan Mr. Seo, aku jadi penasaran apa yang mereka berdua bicarakan," ungkap Fady jujur.


"Tapi menguping itu tidak baik dan tidak sopan, harusnya kau tahu itu, sayang." Marida mengingatkan Fady sambil menunjuk-nunjuk layaknya seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.


"Iya aku tahu, maaf," Fady pun hanya bisa menringis menyesali kesalahannya. Lagi.


"Tapi untungnya aku bertemu denganmu di sini sebab ada yang harus kuberikan padamu."


"Apa itu?"


Marida kemudian membuka tas dokumen yang sedari tadi dijepitnya diketiak lalu menyodorkan beberapa lembar dokumen ke arah Fady.


"Ini. Daftar calon tamu dari Indonesia dan Malaysia untuk bulan depan yang harus Tim Dua follow up lebih lanjut agar mereka mau teken kontrak kerja sama dengan kita. Aku mendapatkannya dengan susah payah lho, jadi tolong jangan disia-siakan," pinta Marida sungguh-sungguh.


Fady menerima dokumen itu dengan senyum lebar. Target tamu Tim Dua bulan ini sudah terpenuhi, dan masih ada daftar tamu yang sudah kontrak yang bisa ia masukkan sebagai tamu bulan depan.


Dan jika daftar calon tamu yang baru saja diterimanya dari Marida ini sukses mereka kontrak seluruhnya, itu artinya target tamu Tim Dua di bulan depan pun sudah bisa dibilang aman.


Memikirkan hal itu, membuat Fady seketika melupakan masalahnya dengan Vynt termasuk menghilangkan rasa penasarannya pada obrolan Mr. Seo dan Vynt di balkon tadi.


"Oke, Miss Fa. Aku harus pergi sekarang. Sebaiknya kau kembali bekerja daripada menguping percakapan yang bukan urusanmu. Dan omong-omong, brondong yang magang di Tim-mu itu sangat keren loh! Tapi sayangnya aku tidak suka daun muda," ucap Marida sambil melambai dari balik pintu lift.


Fady menatap pada dokumen-dokumen yang dipegangnya, lalu mengintip sekali lagi ke arah balkon. Tampaknya Mr. Seo dan Vynt masih betah berbincang di sana.


Kata-kata Marida tadi terngiang di telinga Fady, "Sebaiknya kau kembali bekerja daripada menguping percakapan yang bukan urusanmu!"


Ahhh, benar! Lebih baik aku bekerja daripada menguping pembicaraan mereka. Urusan minta maaf pada Vynt, biarlah nanti kuutarakan saat ia kembali ke ruangan Tim Dua, pikir Fady.


Lalu dengan mantap ia pun melangkah masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dua, ke ruang kerjanya.


***


Setelah cukup lama meninggalkan ruangan Tim-nya, Vynt akhirnya kembali dengan raut wajah yang lebih tenang dan emosi yang lebih stabil.


Ia telah mendapat begitu banyak pencerahan dari Mr. Seo tentang menghadapi masalahnya dengan Fady. Termasuk mendapat saran untuk segera meminta maaf kepada Tim Dua atas kesalahan yang telah dilakukannya.


Untuk itulah Vynt kembali ke ruangan Tim Dua dengan niat untuk meminta maaf kepada seluruh anggota Tim Dua.


"Para senior semuanya," panggilnya pada orang-orang Tim Dua.


Seketika seluruh kepala di ruangan itu menoleh kepada Vynt. Lalu dengan cepat Vynt membungkukkan badannya sembilan puluh derajat di hadapan mereka semua.


"Aku minta maaf!" ucapnya lantang. "Aku minta maaf telah membuat kesalahan yang hampir saja menjadi masalah besar untuk Tim kita. Dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucapnya tulus.


Melihat tindakan Vynt yang meminta maaf dengan begitu sungguh-sungguh membuat ruangan Tim Dua hening seketika. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Vynt akan bertindak sedemikian gentlenya meminta maaf sekaligus mengakui kesalahannya di hadapan mereka semua.


Fady yang juga sudah berada di ruangan itu lalu mendekat ke arah Vynt yang masih menatap lantai dengan membungkuk. Di sentuhnya pundak Vynt pelan saat mereka tak lagi berjarak.


"Tegakkan badanmu!" pinta Fady.


Vynt pun mengangkat kepala serta tubuh bagian atasnya ke posisi tegak. Dengan mata penuh keberanian dan kesungguhan, Vynt menatap satu per satu wajah seniornya di ruangan itu. Dan tatapannya berakhir pada wajah Fady yang berdiri tepat di sampingnya.


"Kami memaafkanmu! Kesalahanmu tadi adalah kesalahan yang wajar, seharusnya aku pun tidak terlalu membesar-besarkannya. Aku juga minta maaf padamu karena telah berspekulasi sesukaku dan salah paham terhadapmu."

__ADS_1


Kini giliran Fady yang dengan berani mengakui kesalahannya di depan semua teman-temannya ke si anak magang itu.


Vynt tak menyangka akan langsung menerima permintaan maaf yang tulus dari Fady begitu saja. Ia lalu tersenyum tulus sambil mengangguk di hadapan wanita itu. Fady juga melakukan hal yang sama. Menyunggingkan senyum yang sama tulusnya dengan Vynt.


"Boleh enggak kami minta traktiran sebagai tanda terima permintaan maaf. Tanggal tua nih guys," rengek Enno tanpa malu.


Seketika sebuah jitakan mendarat di kepalanya dari tangan Maurice. Kontak saja Enno refleks mengumpat sambil berjongkok memegangi kepalanya yang ngilu. Membuat seluruh anggota Tim Dua terbahak melihatnya.


"Kalo gitu biar hari ini aku yang traktir deh makan malam kalian. Tapi di Street Food aja ya, yang terjangkau," ajak Fady yang akhirnya di sambut teriakan 'Horeee...' dari teman se-Timnya.


***


Malamnya, setelah jam kantor berakhir, sesuai janji Fady tadi. Ia mengajak seluruh Tim-nya makan malam di street food. Mereka berdelapan memutuskan berjalan kaki ke kawasan Pasar Patrunam yang ikonik dan terkenal dengan makanan pinggir jalannya yang beragam.


Selain murah meriah, Pasar Patrunam juga menyuguhkan aneka makanan yang tak hanya berupa camilan atau snack tapi juga makanan berat lainnya seperti nasi goreng dan paket nasi campur yang dikemas dalam wadah mika tembus pandang.


Fady membantu Vynt mengenali makanan yang halal dan tidak halal. Pengetahuan ini sangat penting ketika mereka menghandle tamu-tamu muslim yang biasanya datang dari Indonesia dan Malaysia.


Fady juga memberikan tips cara menawar yang baik dalam budaya Thailand. Serta memperlihatkan cara berterima kasih dalam bahasa Thai yang lebih disukai oleh penduduk asli Thailand ketimbang berterima kasih dengan bahasa Inggris.


"K̄hxbkhuṇ! K̄hxbkhuṇ*!" ucap Vynt menirukan cara bicara Fady berterima kasih kepada para pedagang yang telah melayani mereka.


Mungkin bagi anggota Tim Dua lainnya, perjalanan mereka di Pasar Patrunam hanya untuk mengisi jatah perut di malam hari, tapi bagi Vynt jalan-jalan mereka saat itu juga sangat bermanfaat untuk menambah wawasannya.


Saat masing-masing dari mereka sudah memilih makanan dan minuman yang akan mereka nikmati malam itu, mereka lalu segera mencari tempat duduk yang cukup luas untuk mereka berdelapan.


Untungnya karena cuaca yang cukup dingin, banyak pengunjung street food Patrunam hanya sekedar membeli untuk di bawa pulang. Hal itu menguntungkan Tim Dua karena tersedianya banyak tempat duduk kosong untuk dapat mereka gunakan bersama-sama.


"Nih, biar sedikit hangat!" Enno menyodorkan sebotol Sang Som** di hadapan Vynt.


Namun dengan sopan Vynt menggeleng untuk menolaknya. "Terima kasih, tapi maaf aku tidak minum alkohol," jawabnya.


"Benarkah? Sama sekali?" tanya si kembar yang langsung heboh mendengar pengakuan Vynt yang langka itu. "Kalau kami masih minum walaupun tidak sering," tambah mereka.


Vynt kembali menggeleng namun kali ini disertai senyuman. "Aku sama sekali belum pernah minum alkohol," akunya jujur.


"Tapi kau merokok kan?" tanya Helmy sambil menawarkan sebungkus rokok beserta pematiknya kepada Vynt.


Dan lagi-lagi Vynt menolak dengan halus lalu menyesap kopi latte panasnya.


"Kau tidak minum dan tidak merokok? Waahhh, benar-benar makhluk langka," ujar Maurice bertepuk tangan.


"Calon suami idamaannn!" celetuk Norma dan Revi kompak.


"Di Negara kami, Brunei Darussalam. Masih banyak sih pria yang tidak merokok dan tidak minum alkohol tapi yang gantengnya model kaya' Vynt gini sih JARANG, heheheh." Norma dan Revi terkekeh bersamaan.


"Huuuu, dasar modus!" gerutu Qiqi sambil melempar kulit kacang ke arah kedua wanita itu.


‌Fady yang hanya memperhatikan percakapan Vynt dan teman-temannya, diam-diam menaruh respek pada kebiasaan baik pemuda itu.


Ditengah-tengah acara makan malamnya yang cukup seru bersama Tim Dua, Vynt tiba-tiba merasakan getaran dari ponselnya yang ia simpan dalam saku mantel panjang yang ia kenakan.


Vynt mengeluarkan ponselnya dan mengecek notifikasi apa itu. Setelah layarnya terbuka, ia baru tahu ternyata Tyo telah mengiriminya pesan di roomchatnya.


📩TYO PRATAMA


Weii, Vynt. Keira dah siuman nih. Lo mau ngobrol enggak sama dia? Dia kangen elo tuh katanya.


Bibir Vynt seketika tersenyum lebar mengetahui berita melegakan itu. Dan tanpa menjawab chat dari Tyo, Vynt langsung menekan icon untuk melakukan panggilan video lewat kontak Tyo.


Tak butuh waktu lama baginya untuk tersambung ke nomor itu, dan seketika gambar wajah Keira—sahabat yang dirindukannya pun muncul di layar.


"Woii, bumil! Dah sadar lo?" tanya Vynt langsung.


"Vyyyynnnnnnttt! Gue kangeeennnn!" pekik Keira dari seberang telepon.


"Iyaaa, gue juga," jawab Vynt penuh arti. "Elo dah baikan? Gimana keadaan lo?"

__ADS_1


"Gue dah baikan, ini udah dibolehin pulang dari Rumah Sakit tinggal tunggu Tyo beres-beres aja,"


"Kapan lo mau balik ke kota asal?"


"Belom tau, gue mau dikarantina dulu katanya biar enggak kabur lagi."


"Syukuriiinnn, rasain lo sekarang! Btw, si Beth nyariin lo tuh, nomor lo yang lama kan udah enggak aktif. Gue juga belom dapet nomor lo yang baru, Buk!"


"Iyaa, iyaa, entar pasti gue share kalo hati gue dah siap buat kontakan lagi sama anak-anak!"


"Jangan kelamaan, dan buruan pulang juga gih sono! Kesian tuh Beth kangen berat ama lo."


"Iyaa, baweell! Trus lo lagi ngapain sekarang?"


"Gue lagi makan malam sama senior-senior di tempat magang. Niiihhh....."


Vynt mengarahkan layar ponselnya ke arah anggota Tim Dua satu per satu secara perlahan sambil menyebutkan nama-nama mereka.


"Kenalin, ini Keira Permata. Mahasiswi yang harusnya ikutan magang di ASTRO bareng aku tapi enggak jadi karena doyan kabur anaknya," ujar Vynt memperkenalkan Keira pada anggota Tim Dua.


"Apaa? Sialan lo!"


"Loh bener kan? Itu FAKTA!"


Kedua sahabat itu lalu meneruskan percakapannya sampai beberapa saat hingga Keira yang lebih dulu memutuskan sambungan telepon karena sudah waktunya pulang dari Rumah Sakit.


Vynt memberikan kata-kata penutup agar Keira lebih hati-hati lagi dalam menjaga kesehatannya. Dan tanpa Vynt sadari, Fady selalu memperhatikan tingkahnya bahkan ketika pertama kali Vynt memeriksa ponselnya.


"Kamu sudah lama berteman dengan gadis itu?" tanya Fady ketika Vynt sudah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Sejak semester satu," jawab Vynt singkat.


"Cantik ya. Sayang enggak jadi magang di ASTRO juga," Enno berkomentar.


"Dia udah punya pasangan kali," jawab Vynt menegaskan sambil senyum-senyum.


"Kamu? Beneran cuman sahabatan sama dia? Enggak ada udang di dalam bakwan gitu?" Qiqi nampak curiga.


"Enggak semua persahabatan antara cewek dan cowok itu didasari cinta sepihak. Contohnya aku dan Keira, kami enggak pernah punya perasaan kaya gitu. Dan asal kalian tahu ya, sahabat aku selain Keira ada satu lagi yang cewek, namanya Beth. Tapi kami juga enggak ada tuh perasaan macem-macem selain hubungan teman rasa sodara." jawab Vynt lugas.


Membuat seluruh anggota Tim Dua manggut-manggut dan kompak berpikir bahwa Vynt mungkin memang keturunan alien hingga segala apa yang dilakukan, dirasakan dan dimiliki pemuda itu selalu mengejutkan saking uniknya. Dan juga saking langkanya di jaman sekarang ini.



To Be Continue...


.


.


.


*K̄hxbkhuṇ adalah kata Terima Kasih dalam bahasa Thai, bahasa asli di Thailand.


Bentuk umumnya seperti ini:


ขอบคุณ [khoop khun]


Untuk membuatnya lebih sopan dan formal, tambahkan ครับ [khrap] jika yang berterima kasih merasa sebagai laki-laki atau tambahkan ค่ะ [kha] jika yang berterima kasih merasa sebagai perempuan.


**SANG SOM


Rum Sang Som disukai karena rasanya yang agak menyenangkan. Rum Sang Som biasanya dijual dalam kemasan yang indah,


Sang Som rum (40%) adalah produk yang agak “muda”. Dia muncul di tahun 1977, tetapi berhasil dengan cepat menjadi populer dan memenangkan posisi terdepan di pasar rum.


70 juta liter rum ini dibeli setiap tahun. Harganya murah: sebotol 0,7 l - 270-300 baht (setara 120-130ribu rupiah), sebotol 0,35 l - 135-155 baht (setara 60-70ribu rupiah). Di bar dan restoran, Sang Som rum ditawarkan dengan es, soda, dan cola.

__ADS_1


__ADS_2