Replacement Lover

Replacement Lover
PERUBAHAN


__ADS_3

Selepas kematian Argha, Keira hidup bagai robot yang tampak biasa dan baik-baik saja dari luar namun kosong dan hampa di dalam jiwanya.


Keira pergi kuliah, makan, dan tidur seperti biasanya. Keira bahkan kembali bekerja sambilan setelah melewati masa on suspended hampir tiga bulan sejak peristiwa kebakaran itu karena mbak Silvi---pemilik toko tempatnya bekerja dulu terpaksa harus mencari dan mempersiapkan lokasi baru untuk melanjutkan usahanya.


Namun siapa pun yang mengenal gadis itu pasti bisa melihat bahwa Keira bukanlah gadis yang sama yang seperti dulu lagi.


Meski sebagian orang yang mengenalnya tidak mengetahui penyebab perubahan sikap gadis itu, namun untungnya mereka masih bisa memaklumi sikap Keira yang saat ini terlihat jauh lebih pendiam dan dingin dibandingkan Keira yang dulu. Keira yang ramah dan lembut.


Keira memilih menghindari segala hal yang berhubungan dengan Argha. Seakan hanya dengan cara itu dirinya bisa menyelamatkan hatinya.


Keira bahkan tidak lagi menggunakan ponsel dan nomor yang diberikan Argha lewat Tyo dulu. Tetapi Keira masih tak sampai hati membuangnya. Keira hanya menyimpannya bersama barang-barang penting miliknya yang lain.


Keira juga sama sekali tidak merespon segala bentuk komunikasi dari Tyo dan Rizzi. Baginya mendengar suara Tyo ataupun melihat wajah Tyo yang memiliki senyuman yang sangat mirip dengan Argha bisa menambah perih dihatinya.


Segala chat, panggilan telepon, maupun pesan ingin bicara yang harus Tyo sampaikan melalui Beth atau Rizzi pun, Keira abaikan dengan tegas. Bahkan Keira dengan tega mengultimatum Beth---sahabat karibnya.


"Kalo lo nemuin gue cuman buat ngomongin tentang Tyo atau Rizzi atau cuman buat nyampein apa yang mereka pengen omongin ke gue, mendingan lo gak usah nemuin gue." titah Keira dingin.


Beth yang tak percaya dengan apa yang diucapkan gadis itu pun hanya bisa melongo. Seketika pandangan Beth menjadi sendu. Keira benar-benar berubah. Keira bahkan seakan sudah tidak peduli pada perasaan teman-temannya lagi.


Beth yang menangis sedih mengiringi hatinya yang nelangsa akan sikap Keira padanya pun memutuskan melakukan sesi curhat kepada Vynt dan Said di apartemen Vynt.


Vynt hanya bisa mengambil nafas dalam mendengar curhatnya Beth. Dirinya pun sebenarnya merasakan pula dampak perubahan sikap pada diri Keira, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini mengingat Keira memang sedang terluka hati dan sejauh ini sikap dingin Keira belum berimbas fatal pada hubungan persahabatan mereka berempat.


Jadi bagi Vynt, hanyalah kesabaran yang bisa dirinya dan kedua temannya berikan pada sikap Keira saat ini.


"Beth, lo sayang kan ama Keira?" tanya Vynt pada temannya yang masih berlinang air mata itu.


Beth hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Vynt.


"Dan lo tau kan bahwa sikap seperti itu bukanlah sifat dasar Keira? Lo juga kurang lebih tau kan alasan kenapa Keira sekarang berubah begitu?" Vynt bertanya untuk yang kedua kalinya dengan Beth.


"Gue tau." jawab Beth lirih.


"Kalo gitu lo bisa kan ngasih kesabaran lebih buat ngadepin sikap Keira yang sekarang?" Vynt masih mencoba meminta pengertian Beth.


"Kita tunggu aja gaes...kita sebagai temennya cuman bisa nunggu sampe Keira bisa nyembuhin hatinya lagi. Gue yakin kok, dia akan balik lagi ke sifatnya yang semula kalo saat itu datang." Kali ini Vynt tidak hanya menasehati Beth dan Said tapi juga sedang membuat self remindernya sendiri.


Said dan Beth pun hanya bisa manggut-manggut mendengar ucapan Vynt. Mereka berdua pun masih percaya bahwa sifat Keira yang sekarang hanyalah sementara. Sebab mereka kenal persis dengan gadis itu cukup lama.


***


@Cafe Teluse


Rizzi menggeser sebuah gelas wisky menjauh dari hadapan Tyo sambil berdecak heran pada sahabatnya itu.


"Lo ngapain sih? sore-sore gini udah minum-minum. Gak ada kerjaan lo?" Rizzi memicingkan matanya.


"Kerjaan?" Tyo bergumam. "Gue aja sampe bingung ngurusin yang mana dulu saking banyaknya kerjaan gue." Tyo kembali menarik gelas wisky yang tadi digeser Rizzi lalu buru-buru menenggak habis sisa alkohol yang ada di dalamnya.


Rizzi memandang iba pada sahabatnya itu. Sejak kematian Argha seolah beban di pundak Tyo bertambah tiga kali lipat. Tyo tidak hanya harus mengurusi perusahaannya sendiri tapi juga harus mengurusi perusahaan keluarganya karena sang ayah menjadi lebih sering sakit-sakitan sejak Argha tiada.

__ADS_1


Tyo nampak memberikan kode kepada bartender yang sedang bertugas untuk mengisi ulang gelas wisky-nya. Namun Rizzi kali ini lebih cepat bertindak dengan memberikan tatapan tajam seolah melarang barterder anak buahnya itu untuk melakukan apa yang baru saja Tyo suruh.


"Kalo lo ngerasa banyak kerjaan kenapa sekarang malah minum-minum disini sih?" tanya Rizzi lagi


Kali ini dirinya tidak hanya menggeser gelas wisky Tyo yang batal diisi ulang oleh barterder karena ancaman mata Rizzi pada pemuda ceking berseragam hitam putih itu, melainkan langsung menginstruksikan si bartender untuk segera menyingkirkan gelas itu dari hadapan Tyo.


"Percuma, gue gak fokus. Gak mood juga." jawab Tyo enteng.


"Lo mikirin Keira?" tanya Rizzi to the point. Pasalnya Rizzi seolah punya feeling bahwa Tyo ada perasaan khusus pada kekasih mendiang adik Tyo itu.


Karena baru kali ini Tyo bersikap sangat lembut terhadap lawan jenis. Setahu Rizzi, selama mereka bersahabat sejak kecil, Tyo hanya bersikap lembut kepada satu orang wanita saja, yaitu hanya kepada ibunya.


Bahkan kepada ibu Rizzi pun Tyo tetap bersikap datar meski masih terbilang santun. Berbeda dengan sikap Argha yang sejak kecil selalu bisa ramah dengan siapa saja. Entah pria maupun wanita, lebih tua maupun lebih muda. Selalu saja terpesona oleh keramahan dan kebaikan Argha.


Itulah mengapa saat dewasa pun, Argha memiliki teman jauh lebih banyak daripada Tyo. Namun hal itu tidak lantas membuat Tyo iri terhadap adiknya, justru Tyo turut bangga memiliki Argha sebagai adiknya. Karena itulah Rizzi percaya bahwa Tyo sangat menyayangi adiknya sepenuh hati.


Saat Rizzi masih fokus dengan pikirannya sendiri, Tyo yang ditanyai seolah enggan menjawab. Namun tak bisa ia pungkiri jika memang gadis itulah alasan kegundahannya ini.


"Keira masih belom mau ketemu ama lo?" tanya Rizzi lagi seakan belum mau menyerah mencecar pria yang sudah setengah mabuk di sampingnya itu meski Tyo belum memberikan jawaban apapun.


"Jangankan ketemu, segala telpon sama chat gue aja gak dianggep. Bahkan terakhir gue coba telpon lagi kemaren, udah gak tersambung. Kayanya nomor kontak gue udah diblokir." Tyo tersenyum sinis merutuki dirinya sendiri.


Mendengar hal itu diam-diam Rizzi mengirim chat kepada Beth.


๐Ÿ“ฎRIZZI RIYANT


Beth kamu tau knp no Keira gak bsa di.hub?


๐Ÿ“ฉBETHSA PUTRY


๐Ÿ“ฎRIZZI RIYANT


why?


๐Ÿ“ฉBETHSA PUTRY


U know why, exactly ๐Ÿ˜ฅ


๐Ÿ“ฎRIZZI RIYANT


boleh tau no.nya yg baru?


๐Ÿ“ฉBETHSA PUTRY


aQ dah diancem Keira gaboleh kasih no.nya ke kmu/Tyo, soryyyy ๐Ÿ˜ญ


๐Ÿ“ฎRIZZI RIYANT


๐Ÿ˜…its ok โœŒ๏ธ. Don b sad ๐Ÿ˜‹


๐Ÿ“ฉBETHSA PUTRY

__ADS_1


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Rizzi menghela nafas beratnya. Ternyata memang Keira seolah ingin memutus hubungan dengan mereka. Mungkin gadis itu masih berat menerima kenyataan dan kehadiran Tyo serta dirinya hanya akan mengingatkan Keira pada luka di hatinya.


Rizzi melirik ke arah Tyo disampingnya. Otaknya masih mencari cara sehalus mungkin untuk memberitahu Tyo tentang sikap Keira ini. Dirinya tidak ingin menambah gelisah pria itu.


"Mmm..nomor lo gak diblokir kok sama Keira." mulai Rizzi.


Tyo melirik sekilas pada Rizzi sambil memijit-mijit keningnya yang mulai pusing.


"Kata Beth, Keira udah gak pake ponsel dan nomor yang dibeliin Argha buat dia." tambah Rizzi hati-hati.


Tyo hanya merespon dengan senyum sinis. "Trus apa bedanya?" Tyo turun dari kursinya setelah meninggalkan beberapa lembar uang di meja bar. "Berarti emang dia mau ngilangin semua tentang Argha, iya kan?!" Tyo menambahkan dengan intonasi yang tak kalah sinis.


Pria yang sudah sedikit sempoyongan itu lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Gue anterin lo pulang, Tyo!" tawar Rizzi.


"Gak usah, gue naik taksi aja. Kesini tadi juga gue naik taksi kok." balas Tyo cepat dengan melambaikan sebelah tangannya tanpa menoleh lagi.


Lagi-lagi Rizzi hanya bisa bernafas panjang melihat tingkah laku sahabatnya yang tinggal satu-satunya itu.


***


Di dalam taksi yang sudah ditumpanginya, dengan bersandar pada sandaran kursi penumpang, Tyo kembali memikirkan informasi dari Rizzi tadi. Kabar tentang Keira yang tak lagi memakai ponsel serta nomor yang Argha belikan untuknya.


Tyo memejamkan matanya untuk berpikir, mungkinkan gadis itu membuangnya setelah merasa Argha tak mungkin kembali lagi padanya. Padahal gadis itu sangat senang ketika menerimanya. Terlihat jelas dari raut wajah Keira ketika Tyo yang mengirim sendiri ponsel itu kepada Keira.


Jujur, Tyo kini merasa kecewa. Sangat kecewa terhadap Keira yang seolah dengan mudah ingin melupakan adiknya. Tyo merasa Keira sudah mengkhianati Argha. Dan anehnya hati Tyo pun turut merasa terkhianati oleh gadis itu.


Awalnya Tyo berharap, dirinya dan Keira bisa saling menguatkan, saling mendukung karena merasa kehilangan orang yang sama. Dan Tyo pun berharap kehadiran Keira mampu menutup kekosongan dalam hati Tyo setelah kehilangan adiknya. Namun kini hal itu mungkin hanya angan-angan semu belaka.


Pikiran-pikiran Tyo yang dipengaruhi alkohol membuatnya salah paham terhadap kemurnian perasaan Keira kepada Argha. Tyo jadi berpikir bahwa perasaan Keira tidak setulus yang dikiranya sejak awal. Tyo merasa tertipu. Tyo marah. Marah pada Keira dan dirinya sendiri yang akhirnya malah mencintai gadis itu.


Kedua tangan Tyo mengepal menahan emosi. Tyo pun berjanji pada dirinya sendiri untuk menghapus perasaannya terhadap Keira. Dan Tyo berjanji tidak akan sudi menghubungi atau pun mempedulikan gadis itu lagi.


To Be Continue.....


.


.


.


.


.


Thx buat yg dah baca sampe sini,


jangan lupa like and vote pake poin ya readersku kesayangaaannn, aQ minta maaf juga kmren sempet molor updatenya krn lagi keteteran ama urusan dunia nyata

__ADS_1


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2