Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : YANG TAK TERLUPAKAN


__ADS_3

.


.


.


Milla sungguh-sungguh tak menyangka saat menerima tugas penting pertamanya sebagai Asisten Wakil Manager dari salah satu hotel milik Takhta Grup. Ia yang baru dua minggu pulang ke Indonesia setelah direkrut secara resmi oleh Takhta Grup, sama sekali tidak mengira takdir akan secepat ini mempertemukannya kembali dengan pria yang selalu merajai hatinya.


Ia langsung melongo ketika melihat foto sekaligus profil yang disodorkan Wakil Manajer Hotel tempatnya bekerja. Bagaimana tidak jika foto itu menunjukkan sosok lelaki yang selama ini ia dambakan dalam balutan jas resmi dan tampak begitu hebat.


"Besok tolong kamu jemput orang ini di Bandara. Beliau adalah SPV baru Tahanina Airlines cabang Indonesia menggantikan SPV lama yang baru pensiun," jelas Wakil Manajernya.


Tangan Milla gemetar saat menerima foto dan profil itu. "Berarti penthouse suit yang kita siapkan beberapa hari ini, nantinya akan ditempati oleh beliau, Pak?" tanya Milla sekuat tenaga menyembunyikan getaran dalam suaranya.


"Betul! SPV yang dulu tidak mau menggunakan penthouse kita karena kurang luas menurutnya, tapi Mr. Najib dengan yakin memilih penthouse kita sebagai tempat tinggal sementaranya karena hotel kita berdampingan dengan gedung tempat kantor Airlinesnya berada."


Hati Milla langsung berdesir membayangkan kesempatannya untuk bisa bertemu dengan lelaki pujaannya setiap hari, kini terbuka lebar. Namun, Milla tiba-tiba teringat kepada ibunda Said. Apakah Ummi Bilqis sudah tahu kalau Kak Said akan pulang ke Indonesia? Tapi kalau beliau sudah tahu mana mungkin beliau lupa memberitahuku—batin Milla.


Tanpa Said ketahui, Ny. Bilqis diam-diam terus berhubungan dengan Milla tanpa sepengetahuan putranya. Ny. Bilqis bahkan sering kali mengunjungi Milla di Singapura. Mereka menghabiskan waktu-waktu menyenangkan bersama. Membuat Milla semakin dekat dan merasa terikat secara emosional dengan ibunda Said itu.


Rasa tidak percaya Milla akan tugas penting yang diembannya kini terbukti sudah ketika sosok Said Najib—pria yang sejak lima tahun kemarin selalu ada dan tak pernah pergi dari hatinya itu, berdiri tegap di hadapannya. Dengan gaya yang lebih dewasa serta maskulin, membuat jantung Milla berderap layaknya pacuan kuda.


Milla harus berjuang menahan lunglai kakinya demi sikap profesional sebagai perwakilan dari hotel tempatnya bekerja. Meski ia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan lelaki itu secara pribadi, tetapi ini bukanlah pertemuan pertama antara dua orang teman lama melainkan pertemuan pertama antara klien dan penyedia jasa.


"Bapak Said Najib dari Tahanina Airlines, perkenalkan ... saya Millana Risty, perwakilan hotel yang akan anda tinggali selama satu bulan pertama masa jabatan anda di Indonesia." Untungnya Milla masih ingat untuk memperkenalkan diri secara resmi karena itu adalah etika dasar dalam sebuah hubungan kerja sama.


Namun, ketika ia mendengar Said yang menyerukan kalimat syukur dengan lantang, Milla tak mampu lagi mempertahankan sikap profesionalnya di hadapan pria itu. Seketika tawanya meledak sambil menatap Said dengan mata berbinar.


"Maaf, Pak! Maaf! Saya tidak bermaksud menghina anda," Milla berusaha meredam tawanya sekuat tenaga.


Melihat hal itu, Said malah menunjukkan ekspresi kecewa, "Apa-apaan ini?" tanyanya dengan nada sedikit meninggi. "Sampai kapan kamu mau mempertahankan sikap kakumu itu, Mill? Apa kamu nggak inget siapa aku?" lanjut Said merajuk.


Ia kembali mengambil satu langkah lebar hingga menempatkan diri tepat di hadapan Milla dengan jarak yang hanya tersisa sejengkal. Sebelah tangannya berkacak pinggang sementara sebelahnya lagi bertengger pada pegangan troli kopernya.


"Ng, anu ... tapi kita kan masih dalam rangka pertemuan bisnis. Saya di sini bertugas untuk menjemput lalu mengantar anda ke penthouse di hotel kami," jelas Milla.


Said menggeleng dengan resah, "Oke, Cukup!" Ia menyorongkan telapak tangannya ke hadapan Milla. "Aku udah terima perkenalan resmimu, dan aku sudah cukup puas dengan itu. Jadi sekarang, aku minta segera sudahi saja, lalu perlakukan aku seperti biasanya!" tuntut Said.


Mata coklatnya menyipit menatap Milla dengan tajam, berusaha meyakinkan wanita itu jika dirinya tidak menerima penolakan dengan alasan apapun.


Milla bergeming. Fokusnya terpecah antara menikmati tatapan Said yang tajam namun tampak seksi atau menghirup harumnya wangi samar parfum Said yang maskulin dan menggelitik hidung Milla. Tanpa sadar Milla membayangkan bagaimana rasanya menenggelamkan wajahnya dalam cekungan kelam di leher Said yang nampak kokoh.


Oh ... ASTAGA, MILLA! You're out of your mind! Gila, gila, gila!—Milla mendadak membenci pikirannya sendiri. Dengan refleks ia menggelengkan kepala kuat-kuat berusaha menepis pikiran tak pantas itu dari otaknya.


"Kamu kenapa, Mil?" tanya Said yang heran melihat Milla tiba-tiba menggeleng kencang.


"Eh, nggak apa-apa kok, Kak! Cuman barusan telingaku berdengung," elaknya berbohong.


"Yakin, kamu nggak apa-apa?" desak Said tak percaya.


"Iya, yakin deh!" Milla tersenyum dan berharap Said tidak melihatnya sebagai senyum yang dipaksakan. "Wah, udah jam segini, Kak. Gimana kalau kita langsung ke penthouse. Kak Said pasti capek kan setelah perjalanan panjang?" ajak Milla mencoba untuk mengalihkan perhatian Said dari tingkahnya yang aneh.


Ketika Milla hendak meraih troli koper milik Said, pria itu menepisnya pelan, "Biar aku bawa sendiri, Mill! Nggak apa-apa kok! Jadi di mana mobilnya?" tanya Said sambil mulai melenggang meninggalkan tempat itu.


Milla langsung mensejajarkan langkah mereka serta menunjukkan arah di mana ia memarkir mobilnya. "Di sebelah sana, Kak!"


Selama perjalanan menuju hotel, Said yang duduk di kursi penumpang terus menoleh ke arah Milla yang fokus menyetir. Ia senyum-senyum sendiri mengingat perdebatan kecil mereka sebelumnya ....


"Loh, supirmu mana?" Said terbengong ketika melihat mobil berlogo hotel milik Takhta Grup itu kosong melompong.


"Aku nggak pakai supir, Kak. Aku bawa mobil ini sendirian ke sini," jawab Milla santai sambil membuka pintu bagasi belakang.


"Berarti kamu berniat nyupirin aku?" tanya Said heboh sambil memasukkan kopernya ke dalam bagasi dan langsung menutupnya kembali.

__ADS_1


Milla mengangguk dengan yakin sambil meringis, "Memangnya siapa lagi?"


"Nggak bisa! Kalau gitu biar aku sini yang nyetir!" Said meminta kunci mobil yang dipegang Milla.


"Eits ...." elak Milla cepat, "Itu lebih nggak bisa diterima. Kak Said itu tamuku, klienku, mana ada tamu nyupirin tuan rumah. Nggak etis lah!"


"Aku kan udah bilang hentikan itu!" Said memojokkan Milla di body mobil. Tangan kirinya bertopang pada kap mobil sementara tangan kanannya bertengger di pinggangnya yang ramping.


Milla menelan salivanya ketika menyadari tubuh mereka sedekat itu. Ia mendongak dan melihat jakun Said yang begitu dekat dan naik turun.


"Sekali lagi aku minta perlakukan aku seperti biasa!" pinta Said dengan nada penuh penekanan.


Milla berusaha mengumpulkan akal sehat dan keberaniannya di tengah godaan yang menggiurkan. "Aku kan udah berusaha memperlakukan Kak Said seperti biasa. Cuman, soal menyetir aku tetep nggak bisa ngalah. Karena ini memang tugasku, dan Kak Said pasti terlalu capek untuk nyetir. Kalau terjadi apa-apa sama kita berdua emangnya Kak Said mau tanggung jawab?" balas Milla tegas.


Said terdiam. Setelah berpikir dengan logis, ia akhirnya harus rela mengalah disupiri oleh wanita pujaannya. Said tak mengira, perdebatan pertama sepanjang masa pertemanan mereka itu terjadi hanya karena berebut kemudi dengan Milla. Sungguh alasan yang sangat sepele dan konyol. Pikir Said geli.


***


Sesampainya di depan lobi utama Hotel milik Takhta Grup, Milla langsung turun dan menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet yang dengan sigap menghampiri. Tak ketinggalan petugas porter yang langsung mengambil dan membawakan koper milik Said.


"Silahkah, sebelah sini, Pak!" Milla kembali bersikap profesional.


Selama perjalanan tadi, wanita itu terus mewanti-wanti Said untuk mau bekerja sama dengannya. Mereka mungkin bisa saja bersikap biasa saat hanya berdua, tetapi di hadapan rekan kerja mereka atau di lingkungan hotel, Milla meminta Said untuk tetap bersikap profesional.


Said yang seolah tersihir oleh setiap kata-kata Milla hanya mengangguk menurut. Tanpa wanita itu ketahui, pikiran Said kembali dipenuhi rasa penasaran untuk merasakan bibir Milla yang tak henti-hentinya mengoceh tentang hubungan kerja di antara mereka yang harus tetap diprioritaskan.


Milla terus memandu langkah Said menuju penthouse yang telah dipersiapkan khusus untuk memfasilitasi SPV Tahanina Airlines cabang Indonesia yang baru, yaitu Said. Dengan langkah penuh percaya diri dan sikap tegapnya yang anggun, Milla terlihat begitu mempesona di mata lelaki itu.


Beberapa kali ia melihat para staff lain menganggukkan kepala dengan hormat untuk menyapa Milla, dan wanita itu memberikan respon yang tenang dan tidak berlebihan. Membuat Said menyadari betapa berbedanya Milla yang sekarang dengan Milla yang dikenalnya lima tahun lalu.


Nampaknya, selama kurun waktu yang cukup lama itu, Milla telah berhasil menempatkan dirinya pada posisi yang tidak akan lagi diremehkan orang lain. Said tersenyum penuh arti, merasa bangga sekaligus takjub pada wanita pujaannya itu.


Di lantai tertinggi gedung hotel, Milla membuka pintu penthouse yang akan ditempati Said dengan sebuah kartu akses masuk khusus. "Silahkan masuk, Pak!" ucapnya seraya membuka daun pintu lebar-lebar.


Petugas porter yang masih mengikuti mereka segera memasukkan koper yang dibawanya ke dalam ruangan itu dan segera undur diri. Ia menutup satu-satunya pintu yang ada di lantai itu tanpa menunggu diperintah.


"Wah, keren juga ya!" pujinya pada pemandangan sore kota itu yang dilihatnya dari balik jendela kaca. "Aku heran kenapa SPV terdahulu menolak penthouse ini," ucapnya tanpa berani menoleh ke arah Milla.


"Menurut info yang aku dengar dari atasanku, karena SPV terdahulu merasa penthouse ini kurang luas baginya," jawab Milla. Wanita itu lalu celingukan sambil menawarkan diri untuk menunjukkan kepada Said seluruh ruangan yang ada di dalam penthouse tersebut. "Mau aku antar keliling, Kak?"


Said terdiam sejenak. Dari pada berkeliling penthouse yang bisa ia lakukan lain waktu, ada satu hal yang lebih ingin ia lakukan saat ini, dan itu tentang Milla, juga tentang perasaanya terhadap Milla yang tak pernah mampu ia lupakan. Said pun berbalik untuk menatap wanita itu sambil masukkan kedua tangannya ke dalam saku.


Milla yang melihat tatapan Said kembali tajam dan serius seketika merasakan sesuatu akan terjadi saat itu juga, di tempat itu, dan di antara dirinya dengan lelaki itu. Tatapan Said membuat Milla berdiri dengan kaku dan gelisah.


"Dari pada itu, ada hal penting yang mau aku omongin ke kamu, Mill," tegas Said.


Jantung Milla berdebar. Tangannya merayap naik ke dadanya dan mengepal di sana. "A-apa?" tanyanya lirih.


"Tolong kamu dengerin baik-baik ya, Mill! Karena aku belum tentu bisa mengulang kata-kataku," jelas Said. Ia masih berdiri ditempatnya dengan tatapan lurus ke arah Milla.


Gemuruh di dada Milla makin kencang. Kepalan tangannya makin erat dan mulai berkeringat.


"Milla, sebenernya ... lima tahun lalu, waktu kamu berangkat ke Singapura untuk belajar. Aku ... pengen nembak kamu." Said memberi jeda untuk menguatkan hatinya. Tanpa Milla tahu, jantung Said pun berdebar tak kalah cepatnya. "Tapi ... saat itu, karena aku masih belum mapan, dan nggak punya kekuatan untuk melindungi kamu. Aku menahan diriku! Aku putuskan untuk menjadikan diriku pantas dulu, baru aku memberanikan diri menyatakan perasaanku," lanjutnya.


Milla mengerjap-ngerjapkan matanya cepat, "Be-benarkah?"


Said mengangguk dengan tegas, "Sekarang, dengan yakin aku ungkapkan, aku cinta kamu, Millana Risty!"


Kedua mata Milla mulai berkaca-kaca. Tangannya yang mengepal di dada kini naik untuk menutup mulutnya yang bergetar karena luapan emosi bahagia.


"Maaf, Milla! Maaf karena aku butuh waktu selama ini untuk bisa menyatakan perasaanku ke kamu." Said akhirnya dapat sedikit tersenyum setelah mengakhiri kalimatnya. Meski begitu ada rasa penyesalan yang tergurat dalam sorot matanya yang berkabut.


Air mata Milla akhirnya luruh setelah mendengar permintaan maaf Said yang diluar dugaannya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat sebelum mencoba menjawab, "Jangan minta maaf! Kak Said nggak salah!"

__ADS_1


"Lalu, bagaimana jawabanmu atas perasaanku?" Said melangkah mendekati Milla. Setelah cukup dekat dengan wanita itu, tangannya terulur untuk menghapus air mata Milla dengan ibu jarinya.


Milla makin terisak. Ia tak sanggup berkata-kata. Hanya anggukan kepala mewakili jawabannya atas pernyataan cinta Said yang terdengar begitu indah di telinganya.


Setelah sekian tahun lamanya, kedua sejoli itu akhirnya dapat saling menerima perasaan satu sama lain. Kini tidak ada lagi alasan yang dapat memisahkan mereka. Milla sudah berhasil mengubah hidupnya dari nothing menjadi something dengan kemampuannya. Sedangkan Said pun sudah mempersiapkan diri sebagai pria yang pantas dan mampu melindungi Milla.


Merasa tak ada lagi yang dapat menghalangi perasaan mereka untuk bersatu, Said mengulurkan lengannya untuk meraih pinggang Milla dan menarik tubuh wanita itu hingga menempel pada tubuhnya. Dan sebelum Milla dapat mencerna situasi berikutnya, bibir Said turun dengan cepat ke arah bibir Milla. Menyapu seluruh bagian dari bibir yang sensual dan menggiurkan itu hingga ke bagian dalam mulut Milla yang beraroma mint segar.


Seketika tangan Milla mencengkeram lengan pria yang memeluk dan menciumnya itu agar tetap berdiri tegak. Ciuman Said yang begitu agresif dan tiba-tiba membuat kedua kakinya berubah menjadi selembek jelly.


Ketika Said melepaskan tautan pada bibirnya untuk mengambil napas, Milla mengerjap pelan seolah baru kembali dari negeri kayangan. "Suka?" tanya Said dengan suara serak.


Dilihatnya Milla mengangguk malu-malu, membuat Said tersenyum penuh kemenangan. Senyumnya makin merekah saat melihat kedua manik mata Milla yang berkabut diliputi gairah. Merasa wanita itu masih menginginkannya, Said tanpa ragu menyatukan kembali bibir mereka dengan gerakan yang lebih lembut dan mendamba.


"Aku nggak akan menahan perasaanku lagi! Aku nggak akan ngelepasin kamu lagi! Aku janji!" bisik Said pada wanita dalam pelukannya itu.


Saat tengah asyik beradu mulut dengan Said, mendadak ponsel Milla berdering. Wanita itu mendorong dan menahan tubuh Said untuk memberi ruang agar dapat memeriksa siapa yang tengah meneleponnya.


"Ummi Bilqis telepon," seru Milla kepada Said.


"Hah, ngapain Ummiku telepon kamu?" Said keheranan.


Tanpa menjawab pertanyaan Said, Milla segera mengangkat telepon dari Ny. Bilqis.


📱MILLANA RISTY


Ya, Ummi.


📱BILQIS RAZAK


Mill, kamu udah tahu kalau Said pulang?


📱MILLANA RISTY


Mm, iya, Um. Milla udah tahu


📱BILQIS RAZAK


Berarti Said ngasih tahu kamu kapan dia mau pulang?


📱MILLANA RISTY


Anu, Um. Milla lagi ...


Said yang gemas langsung merebut ponsel itu dari tangan Milla dan menjawab sendiri pertanyaan Umminya. "Halo, Ummi. Ini Said. Aku udah pulang, barusan nyampe hotel dan baru aja nembak calon menantumu. Jadi minta waktunya dulu ya, nanti kita telepon balik, Um. Assalamu'alaikum."


Said menutup telepon itu begitu saja. Membuat Milla terbengong-bengong dalam dekapannya.


***


Di rumahnya, Ny. bilqis yang tak kalah shocknya dengan pemutusan sambungan telepon secara sepihak oleh Said, hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah sang putra.


"Kenapa, Um?" tanya Saghir—adik bungsu Said yang keheranan melihat Umminya geleng-geleng kepala sambil menatap ke layar ponsel.


"Kakakmu Said, pulang-pulang bukannya ngabarin Ummi malah langsung nembak cewek," jawab Ny. Bilqis sambil terkikik geli.


"Ya wajarlah, Um, kalo Kak Said kebelet kawin. Dia kan udah tua," ejek Saghir.


Ny. Bilqis tertawa sambil mengusap kepala putra bungsunya, "Bisa aja kamu."


.


.

__ADS_1


.


Said Story TAMAT


__ADS_2