Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : KALI KEDUA


__ADS_3

.


.


.


Satu tahun kemudian....


Said baru akan memasuki ruang Tata Usaha untuk mengurus daftar ulangnya di semester depan ketika tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggilnya dari kejauhan,


"SAID!!!"


Merasa mengenali suara yang meneriakkan nama depannya itu, Said pun langsung menoleh dengan antusias.


"Keiraaaaaa...!!!" Said langsung berlari menghampiri sahabatnya itu sambil merentangkan kedua tangan bermaksud untuk memeluk wanita yang telah menjadi seorang ibu itu.


Sayangnya, niat Said langsung pupus begitu tubuh besar Tyo yang notabene suami Keira menghadang lajunya secara tiba-tiba. Dan dengan sigap Tyo langsung menyembunyikan Keira di belakang punggungnya. Bagai di rem dengan pakem, kedua kaki Said otomatis berhenti beberapa senti dari hadapan Tyo yang menatapnya tajam.


"Bukannya udah pernah gue bilangin, lo boleh sahabatan sama Keira tapi NO PEGANG-PEGANG! Jadi jangan pura-pura amnesia karena gue bisa banget bikin lo amnesia beneran!" ujar Tyo sambil menoyor jidat Said agar menjauh dari hadapannya.


(Author's Note: Yang dimaksud Tyo itu adalah dialognya di episode #64 dengan judul REUNI 😉)


"Yaaelaahh, Bang! Dulu sebelum Keira kenal sama Bang Tyo juga duluan gue yang meluk-meluk dia."


Said merajuk dengan polosnya. Atau lebih tepat disebut 'dengan bodohnya' mengingat ucapannya itu justru makin memancing emosi Tyo untuk menjitak kepala pemuda itu sekuat tenaga.


"Kalo lo mau maen dulu-duluan...lo salah milih lawan, Man! Karena kalo gue orangnya perhitungan, gue bakalan nonjok muka lo sebanyak lo pernah megang istri gue!" ancam Tyo sambil memukul-mukulkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya sendiri.


Keira memutar bola matanya karena jengah dengan sikap kekanakan suaminya yang mendadak kumat. Ia geleng-geleng sambil memegang keningnya saat menyaksikan Tyo yang malah meladeni kebodohan Said dengan serius.


Melihat ekspresi Tyo yang tidak tampak sedang bergurau, Said pun langsung keder. Pukulan main-main dari Vynt saja bisa membuat badannya linu-linu, bagaimana dengan pukulan serius dari Tyo yang berbadan lebih kekar ketimbang sahabat blasteran Koreanya itu? Said langsung bergidik ngeri hanya dengan membayangkannya saja.


"Weiittss, kalem Bang, santaaiii...! Iye, iyeee, gue kapok deh. Nggak lagi-lagi pegang-pegang bini lo! Sueerr...!" janjinya sambil membentuk huruf V dengan kedua jarinya.


"Udah-udaah aahh...!" Keira yang muncul dari balik punggung Tyo pun menghentikan perdebatan antara suaminya dengan sahabatnya yang cuman bikin malu menurut Keira. "Sayang, kamu katanya mau nganterin aku daftar ulang, kenapa sekarang malah berantem sama Said sih?" protes Keira pada suaminya.

__ADS_1


"Maaf sayang, habisnya temen kamu yang satu ini mancing emosi aku sih!" Tyo melirik tajam ke arah Said dan sedetik kemudian tersenyum manis kala menghadapi istrinya.


"Ya udah lah, terserah kamu! Lanjutin aja sono berantemnya! Mending aku masuk sendiri aja, keburu siang!" Keira ngedumel sambil ngeloyor meninggalkan Tyo dan Said dengan wajah ditekuk.


"Lho...lho...lho...Kei! Jangan ngambek doonngg!" Tyo dengan panik langsung menyusul Keira yang sudah lebih dulu memasuki ruang Tata Usaha melewati Said yang refleks menyingkir untuk memberi jalan padanya.


Setelah Keira dan Tyo meninggalkannya sendirian dan masuk lebih dulu, Said seakan mendapatkan nyawanya kembali. Ia menghela nafas lega telah berhasil lolos dari terkaman harimau ganas bernama Tyo Pratama.


Sambil berjalan perlahan memasuki ruang Tata Usaha, Said mengosok-gosok kedua bahunya demi menghilangkan rasa merinding yang sempat menyergapnya tadi. Yang membangunkan bulu kuduknya. Namun, baru selangkah ia masuk ke ruangan itu, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping.


Untungnya di dalam ruang Tata Usaha sedang ramai, jadi suara benturan yang cukup keras dari tubuh Said dan tubuh orang itu tidak terlalu menarik perhatian. Beberapa kertas yang disinyalir milik si penabrak yang nampaknya seorang perempuan terlihat berhamburan di lantai.


"Maaf...maaff...saya tidak sengaja!" ucap seorang gadis yang kini tengah sibuk memunguti kertas-kertasnya di atas lantai.


"Hehee, No problem!" jawab Said santai meski kini ia nampak meringis sambil memegangi sebelah lengannya yang sedikit nyeri karena tertabrak. Hingga matanya tertuju pada selembar kertas yang terdampar di dekat kakinya.


Said membungkuk untuk memungut kertas itu. Melihat sekilas foto perempuan yang tertempel pada kertas yang nampaknya sebuah Data Diri Mahasiswa, Said tergoda untuk sekedar membaca huruf-huruf pada kolom nama yang ditulis tangan.


Mil..la..na..Ris..ty...—Said bermonolog dalam hati. Millana Risty?—ulangnya. Masih berupa gumaman batin.


"Milla!" tanpa sadar mulutnya menyebutkan nama gadis itu dengan suara yang cukup lantang. Padahal maksud Said hanya ingin menyebutkannya dalam hati. Entah kenapa mulutnya saat itu sedang tidak sinkron dengan kehendak hatinya.


"Iya, saya!" jawab gadis penabrak itu yang langsung sigap berdiri setelah mendengar namanya dipanggil. "Loh...Kak Said!" seru Milla tak kalah kagetnya begitu melihat siapa sosok pemuda yang memanggil namanya barusan.


Said terbengong sambil membandingkan wajah Milla di hadapannya dengan foto yang tertempel di kertas Data Diri Mahasiswa yang dipegangnya. Pemuda keturunan Arab itu menolehkan kepalanya dari wajah Milla lalu ke arah foto gadis itu lalu kembali lagi ke wajah asli Milla, begitu terus berkali-kali hingga Said akhirnya yakin jika gadis yang kini ada di depannya itu benar-benar gadis SMA yang dulu pernah di temuinya di pesta pernikahan Keira.


Kenyataan itu tiba-tiba memercikkan api harapan dalam diri Said. Harapan akan adanya jodoh, takdir, atau semacamnya yang mungkin terjadi antara dirinya dengan gadis manis itu—Millana Risty. Kalau boleh jujur, Said begitu gembira pada pertemuan keduanya dengan Milla saat ini.


Tak hanya tampak lebih dewasa, tapi Milla juga tampak lebih menawan dari setahun yang lalu. Rambutnya yang bergelombang kian memanjang, membuat gadis itu terlihat anggun sekaligus imut. Tubuhnya yang sintal, diimbangi tinggi badannya yang pas dengan proporsi tubuh Milla. Membuat Said memikirkan satu kata untuknya—Cantik.


"Mmm...Kak Said! Itu...boleh saya minta...kertas itu?" Milla menunjuk ke arah kertas yang masih dipegang Said dengan ragu-ragu dan hati-hati.


"Oh, iya boleh...boleh kok! Nih!" Said menyodorkan kertas itu pada Milla dengan kikuk dan tampak malu-malu karena merasa tercyduk sedang melamunkan harapan yang indah bersama gadis itu.


Milla meraih kertas Data Diri Mahasiswa miliknya sambil menahan senyum geli setelah melihat wajah Said yang merah padam. Meski tak mengetahui secara pasti apa yang tengah dipikirkan oleh pemuda itu, tapi wajah Said yang merona terlihat begitu menarik bagi Milla.

__ADS_1


Milla sendiri tak menyangka jika dirinya akan secepat ini bertemu dengan Said—pemuda yang diam-diam menjadi salah satu alasannya memilih meneruskan studinya di kampus Pariwisata ini. Milla yang sejak kecil selalu bercita-cita ingin bebas melanglang buana ke luar negeri, entah sebagai pramugari, pemandu wisata, ataupun sekedar sebagai Flight Operation Officer (FOO)*. Berharap dapat berkuliah di fakultas Pariwisata setelah dirinya lulus SMA.


Apalagi setelah mendengar sendiri dari Said ketika pemuda itu mengenalkan dirinya kepada pengawas panti, bahwa Said juga salah satu mahasiswa Pariwisata. Makin bertambahlah alasan Milla untuk berkuliah di kampus itu. Karena menurut Milla, dengan adanya pemuda sebaik Said yang juga berkuliah di sana, kehidupan perkuliahannya akan semakin menarik dan makin menambah motivasinya untuk mempelajari bidang itu.


"Kamu udah lulus SMA?" tanya Said yang merasa ingin langsung menampar mulutnya sendiri.


Lagi-lagi mulut Said tidak mampu menyesuaikan dengan perintah otaknya yang ingin melontarkan pertanyaan yang lebih keren. Lebih terkesan cerdas. Setidaknya di depan Milla—gadis yang baru saja ia masukkan ke dalam daftar gebetannya yang baru.


Mampuuss aja lo, Id! Pertanyaan konyol!!! Jelas aja dia udah lulus dari SMA kalo udah bisa daftar kuliah di sini. Otak lo di mana begoooo???—Said seakan ingin menggali lubang lalu menyembunyikan wajahnya sendiri di dalam sana saking malunya.


Namun, dengan polosnya Milla tetap menjawab pertanyaan Said yang receh itu, "Iya, Kak! Aku dah lulus makanya sekarang aku daftar kuliah di sini."


"Kalau boleh tahu...ambil jurusan apa?"


"UPW, Kak!" Milla tersenyum. Senyum yang nampak begitu menggiurkan di mata Said.


Sembilan puluh poin buat senyuman itu—batin Said. Gue kasih seratus poin deh kalo nih cewek mau sama gue. Said melipat bibirnya setelah menyadari kekonyolan isi pikirannya sendiri.


Masih dengan tawa yang tertahan, Said mengulurkan tangan untuk berjabat dengan gadis itu, "Selamat bergabung di Pariwisata, Mill! Semoga kamu betah dan sukses di sini!" ucapnya tulus.


Mata Milla berbinar mendengar ucapan selamat yang menyiratkan dukungan sekaligus harapan baik untuknya dari pemuda itu. Matanya hampir basah ketika ia akhirnya menerima uluran tangan Said dan menggenggamnya erat. Tanpa Said sadari, kalimat sederhananya itu, membuat Milla begitu terharu dan menghangatkan hati gadis itu.


.


.


.


To Be Continue...


*Flight Operation Officer (FOO)


atau bisa juga disebut sebagai Ground Staff adalah profesi yang memberikan pelayanan kepada penumpang yang melakukan penerbangan, baik sebelum keberangkatan maupun saat tiba di tempat tujuan. Pelayanan yang dimaksud adalah penanganan bagasi penumpang, check in, loading dan unloading bagasi ke dan dari pesawat, termasuk juga menjual tiket. 


Kalau kamu naik pesawat, pastinya akan ada mbak-mbak atau mas-mas yang akan menanyakan tiket, visa dan juga menimbang bagasimu untuk dimasukkan ke dalam bagasi, kan? Nah, mbak-mbak dan mas-mas yang kamu temui itulah yang disebut sebagai FOO/Ground Staff. Kenapa, sih, kok, mereka disebutnya Ground Staff? Karena mereka mengerjakan segala sesuatu yang berada di darat sebelum pesawat lepas landas.

__ADS_1


Sebagai Ground Staff, harus banget paham tentang dunia customer service dan juga paham tentang dunia penerbangan. Karena customer yang akan ditemui ialah orang-orang dari berbagai mancanegara, maka, penguasaan bahasa asing salah satunya bahasa Inggris menjadi syarat yang sangat penting. Untuk menjadi ground staff dibutuhkan pendidikan selama 1-4 tahun di sekolah pendidikan berbasis Kepariwisataan.


__ADS_2