
.
.
.
Sepulang dari kediaman Dae-Ho, Keira segera membantu ibu mertuanya untuk packing-packing karena kedua orang tua Tyo itu akan pulang sore itu juga.
"Mbak Ruka, aku titip Argha sebentar ya! Aku mau bantuin ibu beresin barang, ajakin dia main di kamar gih sana!" pinta Keira pada babysitternya Argha.
"Baik, Bu! Kaya'nya adek juga udah mulai ngantuk, palingan bentar lagi bobo ini!" jawab babysitter Argha itu sambil menimang-nimang bayi kecil Keira dalam gendongannya.
Keira nampak tersenyum sambil menatap wajah putranya yang memang nampak sudah hampir mengantuk, "Iya tadi memang makan banyak banget dia. Ya udah ajakin bobo siang aja kalau gitu, Mbak!"
Keira memberikan ciuman gemas di kedua pipi tembem Argha yang nampak ranum kemerahan.
Mbak Ruka lalu mengangguk mengiyakan perintah ibu dari bayi yang diasuhnya itu dan langsung menuju ke kamar di mana dirinya dan Argha kecil tidur selama di Korea ini.
Sementara Keira sendiri langsung menuju ke kamar tempat para mertuanya menginap. "Ibu, Keira masuk ya?" pinta Keira setelah mengetuk pintu kamar suite mertuanya.
"Masuk aja, Kei!" jawab Ny.Naina tanpa menoleh ke arah pintu.
Tampak wanita itu sedang sibuk melipat baju-bajunya di atas tempat tidur dan langsung menatanya ke dalam dua buah koper yang berjejer juga diatas tempat tidur berukuran king size itu.
"Belum beres packingnya, Bu?" tanya Keira sambil mendekat ke arah ibu mertuanya.
"Dikit lagi ini baju-bajunya!" jawab Ny.Naina. "Tapi printilan-printilannya Ayah yang belum di apa-apain." tambahnya lagi sambil menoleh ke arah meja panjang di dalam kamar itu.
Di mana tergeletak begitu banyak barang termasuk obat-obatan yang harus dikonsumsi Pak Ruslan secara rutin.
"Keira bantuin apa nih, Bu?" tanya Keira sambil memegang pundak ibu mertuanya. Ia mengintip aktivitas sang mertua dari balik pundak Ny.Naina.
"Mmmm...." Ny.Naina memiringkan kepalanya sambil berkacang pinggang. "Kamu terusin ini aja deh, biar ibu beresin yang di sana!" Ny.Naina menunjuk ke arah meja panjang yang berantakan tadi.
"Siap, Nyonya Bos!" sahut Keira dengan membuat pose hormat di hadapan sang ibu mertua.
"Iiishhhh, Tyo manggilnya 'Ibu Suri' kamunya malah manggil 'Nyonya Bos'. Dasar kalian berdua sama aja!" balas Ny.Naina sambil memencet hidung Keira dengan gemas.
Sementara Keira malah cengengesan karena sukses membuat ibu mertuanya itu gemas padanya.
__ADS_1
"Tapi masih mending lah ketimbang Ayah yang manggil 'Istri Gesrek-ku', iisshhhh apaan tuh!!! Buka kartu banget!!!" Ny.Naina mencebikkan bibirnya dengan sewot sementara Keira malah tertawa ngakak mendengar pengakuan sang mertua.
.
.
.
Karena waktu perjalanan dari Hotel ke Incheon International Airport Seoul cukup lama yaitu satu jam lebih sedikit, jadi Tyo tidak mengizinkan Keira untuk turut serta mengantar orang tua mereka dan orang tua Fady sampai ke Bandara.
Hanya Vynt dan Seo Kang Jun yang akan mengantar para orang tua itu sampai ke bandara dengan mobil besar mereka. Sedangkan Fady, sesuai rencana Tyo, akan menjaga Argha kecil bersama Mbak Ruka.
Tyo sendiri sudah lebih dulu mengungkapkan rencananya kepada kedua orang tuanya agar mereka maklum jika Keira dan dirinya tidak dapat mengantar mereka hingga ke bandara.
"Iya, Ayah ngerti! Baguslah kalau kamu punya rencana untuk memanjakan Keira! Istrimu itu memang kurang refreshing sejak Argha lahir. Pokoknya kamu jaga anak dan istrimu baik-baik!" ujar Pak Ruslan.
"Baik, Ayah!" jawab Tyo sambil mencium punggung tangan Pak Ruslan dengan santun sebelum Ayahnya itu masuk ke dalam mobil.
"Jangan sampai cucu dan mantu Ibu kenapa-kenapa lho, Tyo!" pesan sang Ibu dari dalam mobil.
"Iya, Bu! Tyo ngerti!" sahut Tyo sebelum menutup pintu mobil yang akan mengantar orang tuanya itu ke bandara.
"Udaahh laahh, Kei! Habis ini kita punya jadwal lain, Yukkk!" ajak Tyo sembari merangkul pundak istrinya itu untuk masuk ke dalam hotel.
Keira kebingungan tapi hanya bisa menurut saja dengan ucapan sang suami. Sebelum makan malam, Tyo mengajak Keira ke suatu tempat. Sementara Argha dan Mbak Ruka bersama Fady di hotel.
"Fady sama Mbak Ruka nanti pesan makan malam di hotel nggak apa-apa kan?" tanya Tyo.
"Enggak apa-apa, Tyo. Kamu santai aja. Soal itu gampang lah!" jawab Fady sambil mengedipkan sebelah matanya pada Mbak Ruka.
Dan babysitter Argha itu langsung mengangguk mengiyakan ucapan Fady karena sebelumnya Fady berjanji untuk memesankan ayam goreng khas Korea yang terkenal pedas sekaligus manis.
Rupanya dua wanita yang ternyata memiliki selera yang sama itu sudah berencana untuk makan malam dengan Yangyeom Tongdak yang sama-sama menjadi favorit mereka di Korea ini.
"Oke deh, kalau gitu, aku dan Keira pergi dulu!" balas Tyo.
"Titip anakku ya, Fa, Mbak Ruka...kalau ada apa-apa langsung telepon aja!" pinta Keira sambil mencium kedua pipi anak lelakinya.
"Bereesss, buk!" jawab Mbak Ruka sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Keira pun akhirnya pasrah mengikuti langkah sang suami yang menggandengnya dengan semangat.
"Kita mau kemana sih, Tyo!" tanya Keira.
"Pacaran!" jawab Tyo singkat dengan mengulas senyum pada istrinya.
Dan ternyata, malam itu, Tyo mengajak Keira ke Hongdae untuk berbelanja. Keira yang tadinya kebingungan sendiri perlahan menjadi begitu antusias dan bersemangat menyusuri setiap toko di sepanjang jalan di Hongdae bersama suaminya.
Hongdae yang merupakan salah satu daerah kecil di Korea Selatan itu menyediakan berbagai macam benda dan hal-hal lain yang tidak mereka temui di Indonesia. Berbagai produk kecantikan, baju, serta souvernir dijual di sana.
Suami istri itu berjalan berdua bagaikan dua anak muda yang masih pacaran. Secara kebetulan, daerah Hongdae juga terkenal sebagai tempatnya anak muda Korea.
Tak heran jika di sana banyak ditemukan pasangan-pasangan muda yang sedang berjalan-jalan dan berbelanja.
Karena lokasinya yang berdekatan dengan salah satu universitas seni Korea yaitu Hongik University. Hongdae juga menjadi salah satu pusat seni di Korea.
Banyak anak muda kreatif yang menjadikan daerah ini sebagai tempat publikasi karya-karya yang mereka ciptakan. Berbagai kreatifitas bisa dilihat di sana dari kesenian musik, dance, fashion, dan lain sebagainya.
Keira dan Tyo juga berkesempatan menyaksikan beberapa kreatifitas yang ditampilkan oleh anak-anak muda itu. Ada yang menyanyi sambil ngedance layaknya girlband di trotoar yang dilewati banyak orang, ada juga seniman yang bisa melukiskan apa yang mereka inginkan dalam waktu yang relatif singkat.
Keira tertarik untuk memakai jasa seniman lukis itu. Demi menuruti sang istri, Tyo akhirnya menyuruh seniman itu untuk melukis salah satu foto yang ada di gallery ponselnya.
"Could you please send the picture to this hotel after you're done with it? I'll give you an extra charge for the delivery!"
(Bisakah anda kirimkan hasil lukisan anda ke hotel ini? Saya akan berikan biaya ekstra untuk ongkos pengirimannya!)
Setelah mentransfer foto yang dimaksudnya ke dalam ponsel sang seniman, Tyo lalu memberikan sejumlah uang kepada seniman itu.
Sang seniman nampak puas dengan uang yang telah dibayarkan oleh Tyo, ia pun mengangguk-angguk dengan sedikit membungkuk di hadapan Tyo dan Keira sesaat sebelum mereka melanjutkan acara jalan-jalan malam itu.
Hampir tiga jam suami istri itu menghabiskan waktu di Hongdae. Tak hanya belanja dan mencari oleh-oleh, mereka juga makan malam di salah satu Asian resto yang ada di sana. Bahkan keduanya baru tiba di hotel menjelang tengah malam.
Sebelumnya Fady mengabari via chat jika ia meninggalkan hotel tak lama setelah si kecil Argha tertidur dan Vynt menjemputnya di sana sepulang dari Bandara bersama Seo Kang Jun.
Sesampainya di Hotel, Keira langsung memasuki kamar tempat anaknya dan Mbak Ruka menginap lewat pintu yang terhubung dari kamar mereka.
Begitu melihat sang anak yang sudah tertidur pulas, hati Keira langsung menjadi tenang. Perasaan tenangnya itu pun melengkapi rasa syukur Keira yang malam ini teramat senang telah berkesempatan menghabiskan waktu berdua dengan sang suami.
Dan tanpa Keira tahu bahwa esok hari masih ada rencana lain yang telah disiapkan Tyo untuknya.
__ADS_1
***