
.
.
.
Tyo pulang ke rumahnya hanya berselisih beberapa menit setelah Beth pulang. Tyo langsung memutuskan untuk pulang saja setelah Rizzi meninggalkan kantornya. Moodnya untuk bekerja langsung hilang begitu melihat sahabat sedari kecilnya menunjukkan raut wajah mengenaskan.
Gini kali ya...yang dirasakan Rizzi waktu ngeliat gue kehilangan Argha dulu. Nyesek banget ngeliat tuh anak yang biasanya gesrek jadi sendu gitu. Tyo bergumam dalam hatinya.
Keira baru turun untuk mengisi termos persediaan air panas sang anak ketika dirinya berpapasan dengan suaminya yang baru masuk lewat pintu utama.
"Lho??!!" Keira melongo melihat Tyo yang nongol tiba-tiba di jam yang tak biasanya.
"Anakku mana???" tanya Tyo tiba-tiba sambil melangkah mendekat ke istrinya.
Keira memutar bola matanya dengan jengah, "Dateng-dateng langsung nanyain anak, nah istri di depan mata enggak di-sun dulu kek, dipeluk kek apa gituh!" sewot Keira.
Tyo langsung tersentak menerima protes Keira, "Uluuhh...uluhhh...istriku yang cantik bahenol ngegemesin juga ya kalau lagi ngambek gini!"
Tyo melingkarkan tangan kirinya yang menenteng tas kerja ke pinggang Keira sementara tangan kanannya yang bebas, memegang dagu sang istri.
Tapi dengan cepat Keira segera menepis segala pendekatan yang dilakukan suaminya itu, "TELAT!" hardiknya sambil ngeloyor pergi ke dapur.
Tyo terpaku sesaat, pikirannya langsung tertuju pada skenario terburuk bagi dirinya,
Mampus gue, kalau si cantik ngambek bisa-bisa enggak dapet jatah nih gue hari ini. Wah, gawat!!!
Tyo yang langsung tersadar seketika mengejar sang istri ke dapur. "Sayaaanngg, jangan ngambek doonngg!"
"Sapa juga yang ngambek, iihh GE-ER!!! Emang aku masih bocah pake ngambek-ngambekan segala???"
"Enggak ngambek tapi sewot gitu ama suaminya!" Tyo merajuk sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang. Beruntung kondisi dapur sedang sepi saat itu.
"Ya maklumlah, lagi PMS. Masa' kamu enggak hapal juga kebiasaan istrimu?" balas Keira.
Tyo lagi-lagi terpaku. Tubuhnya langsung membeku mendengar kata PMS yang terlontar dari bibir sang istri. Dalam otaknya langsung tergambar sebuah persamaan.
PMS \= Dapet alias menstruasi \= PUASA
"Aaarrgghhhh!!!" Tyo mengerang kala menyadari bahwa harapannya untuk mendapat jatah harian dari sang istri musnah sudah karena alasan hormonal yang dialami Keira setiap bulannya.
Ia lalu mengikuti langkah istrinya yang hendak kembali ke kamar mereka di atas dengan langkah gontai.
Sementara Keira hanya cekikikan melihat sang suami yang langsung lunglai setelah mendengar kata PMS. Padahal tadi dia iseng saja mengatakan itu, tapi diluar dugaan Tyo percaya seratus persen pada kebohongannya dan malah langsung menunjukkan reaksi yang membuatnya geli.
Setelah meletakkan termos air panas ke dalam kamar putranya dan memastikan bahwa si kecil Argha masih terlelap tidur dengan suhu tubuh yang berangsur normal. Keira lantas kembali ke kamarnya sendiri untuk menemui sang suami.
"Tadi Beth kesini!" ucap Keira seraya menutup kembali pintu kamarnya.
Tyo yang sedang melepaskan kancing kemejanya seketika berhenti dari aktivitasnya lalu melongo menatap sang istri. Kedua tangannya pindah nangkring ke pinggang sambil geleng-geleng kepala.
"Tadi Rizzi juga nyamperin aku di kantor! Curhat dia!" balas Tyo.
Keira mendekati sang suami lalu meneruskan aktivitas suaminya yang tertunda. Dibukanya kancing kemeja Tyo satu persatu.
"Sama! Beth juga tadi curhat kesini, dia bela-belain lho tetep kesini padahal habis jatoh dari motor pas perjalanan tadi!" ungkap Keira.
"Haaahh, serius???" Tyo kaget.
"Iya, kakinya sampe bengkak tadi pas di sini. Aku langsung panggilin dokter dari klinik di ujung jalan sana buat meriksa Beth. Untungnya cuman memar aja sih, enggak ada yang patah." lapor Keira pada suaminya.
Saat itu ia sudah selesai membuka semua kancing kemeja Tyo. Perlahan Keira lalu menarik kemeja itu kebelakang agar dapat terlepas dari tubuh maskulin sang suami.
"Trus pulangnya gimana dia?" Tyo heran.
__ADS_1
"Pulangnya aku suruh Pak Yusam anterin Beth sampe rumahnya pake mobil, trus motornya aku suruh Pak Hindarto yang bawa. Ngekor gitu ke mobilnya Pak Yusam. Nyampe rumah Beth, baru deh mereka pulang bareng." jelas Keira sambil menyampirkan kemeja suaminya pada sandaran kursi tanpa beranjak seinchi pun dari hadapan Tyo.
Sementara Tyo manggut-manggut setelah menerima laporan Keira. Pikirannya lalu tertuju pada Rizzi. Apakah Rizzi sudah tahu musibah apa yang telah dialami gadis kesayangan sahabatnya itu??? tanya Tyo dalam hati.
Tapi tiba-tiba, tangan Keira yang merayap di atas dada bidangnya mulai mengusiknya. Tyo mengernyit melihat Keira yang mulai menciumi lehernya sambil berjinjit. Tyo merinding. Bulu kuduk dan sesuatu di bawah sana mulai bereaksi pada ransangan yang diberikan sang istri pada tubuhnya.
"Bentar-bentar, Kei! Kamu jangan PHP aahh...katanya tadi lagi PMS, kok sekarang malah nyerang aku duluan gini sih?" Tyo merengut sambil mencengkeram kedua lengan Keira yang kini mengalung di lehernya.
"Tadi aku cuman becanda, hehee!" jawab Keira sambil menyeringai.
Tyo yang gemas akan tingkah laku istrinya itu langsung menunduk cepat untuk membopong Keira dan melemparnya ke atas tempat tidur mereka.
"Kamu diem di situ sebentar, aku mau telepon Vynt dulu!" perintahnya pada Keira.
Keira senyum-senyum saja melihat reaksi Tyo, tapi sesuai perintah suaminya, ia diam saja melihat Tyo yang masih berdiri di sisi ranjang dan sedang mengambil ponselnya dari dalam tas lalu mulai menelepon Vynt.
📱TYO PRATAMA
Halo, Vynt?!
📱VYNT DAE-HO
Ya, Tyo? Ada apa?
📱TYO PRATAMA
Keira bilang Beth tadi siang kesini. Ke rumah gue. Berarti dia pulang cepet itu mampir kesini dulu, curhat ama Keira.
📱VYNT DAE-HO
Oo, trus-trus...
📱TYO PRATAMA
📱VYNT DAE-HO
Haahhh, beneran??? Separah itu???
📱TYO PRATAMA
Kata Keira, menurut dokternya sih cuman bengkak memar aja, enggak ada yang patah. Tapi kayanya ini kesempatan buat Rizzi nunjukin perasaanya ke Beth deh. Lo ngerti kan maksud gue?
Vynt seperti terdiam sesaat. Pria itu sedang menalar maksud yang ingin disampaikan Tyo padanya.
📱VYNT DAE-HO
Oohh,, oke-oke gue ngerti. Trus tugas gue apaan?
📱TYO PRATAMA
Sekarang lo telepon Beth dulu, make sure gimana kondisinya! Abis itu lo kasih tau Rizzi, jelasin sejelas-jelasnya ke tuh anak tentang kondisi Beth sekarang ini. Oke?!
📱VYNT DAE-HO
Oke, gue paham.
📱TYO PRATAMA
Siipp, thank you banget bantuan lo!
📱VYNT DAE-HO
Anytime, bro!
__ADS_1
Setelah sambungan teleponnya dengan Vynt terputus, Tyo kembali fokus pada Keira.
"Udah, gitu doang?" tanya Keira tak percaya.
"Tenang aja, ini baru awalnya. Rizzi pasti tahu kok dia mesti ngapain untuk ngedapetin hatinya Beth. Rizzi kan bukan anak kecil lagi yang harus didikte, Sayaangg!" Tyo mulai mendekati istrinya secara perlahan.
"Iya bener jug sih. Setidaknya Rizzi harus berjuang dulu!" tambah Keira.
"Ya jelas lah dia harus berjuang! Kaya aku yang berjuang ngedapetin kamu dulu dengan susah payah!" Tyo menaik-naikkan alisnya dengan menggoda.
Dan sore itu pun keduanya habiskan di kamar, berdua saja, sebagai pasangan suami istri yang sedang dimabuk asmara tanpa ada yang menganggu.
***
Di sisi lain, Vynt langsung menelepon Beth sesuai instruksi dari Tyo.
Dan ternyata benar informasi yang didapatnya dari Tyo tadi, bahwa saat ini Beth sedang istirahat dirumahnya karena kakinya yang bengkak setelah terjatuh dari motor saat menghindari seorang anak kecil yang tiba-tiba meloncat ke jalan.
Vynt langsung ganti menelepon Rizzi tepat setelah sambungan teleponnya dengan Beth berakhir.
📱VYNT DAE-HO
Halo, bro! Lo posisi dimana?
📱RIZZI RIYANT
Gue di Teluse, Vynt. Kenapa?
📱VYNT DAE-HO
Gue mau ketemu ama lo. Ada yang mau gue omongin tentang Beth. Gue kesana sekarang!
📱RIZZI RIYANT
Oh, Okey!
Vynt segera menyambar tas tangan yang biasa dibawa Fady ketika keluar rumah beserta ponsel sang istri yang tergeletak di atas meja rias. Dimasukkannya ponsel Fady ke dalam tas tangan itu dalam perjalanannya menuju ke lantai bawah rumahnya.
Ia lalu bergegas turun ke dapur di rumahnya yang ia tempati lagi setelah menikah dengan Fady. Segera dicarinya sang istri di ruangan itu.
"Bebz....kita makan di luar aja yuk!" ajak Vynt setelah menemukan Fady di antara dua asisten rumah tangga yang sedang membantunya memasak untuk makan malam.
"Laaahh, kok dadakan gitu sih??? Udah separo jalan ini masaknya!" Fady terheran-heran.
"Udaahhh, biar dilanjutin ama Bu Mamik dan Mbak Nur aja!" lanjut Vynt sambil setengah menggeret tangan istrinya itu untuk segera keluar dari dapur.
"Lho..lho..lho..gimana sih ini??? Buuu, Mbaaak, tolong diterusin ya, nanggung, buat makan malam kalian sama yang lainnya aja!" pinta Fady sambil tergopoh mengikuti langkah suaminya.
Vynt terus menyeret tangan Fady hingga ke arah garasi rumahnya. Membukakan pintu penumpang depan untuk Fady lalu memasukkan istrinya itu beserta tas tangan yang tadi disambarnya ke dalam sana.
Setelah selesai memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Fady, Vynt menutup kembali pintu mobilnya lalu segera berlari ke sisi mobil yang satunya.
"Sebenernya kita mau kemana sih ini?" Fady kembali bertanya ketika Vynt sedang memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya sendiri.
"Kita mau ke Kafenya Rizzi, ada yang mau aku omongin empat mata sama dia. Tentang Beth!" jawab Vynt sambil mulai melajukan mobilnya keluar dari garasi rumah.
"Emangnya ada masalah apa sama Beth?" Fady kebingungan.
"Nanti ya, aku ceritain di sana sekalian! Entar juga kamu pasti tahu!" jawab Vynt tanpa menoleh ke arah istrinya dan tetap fokus pada kemudinya.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue...